
Serangan Bandit 2
Hari Sudah hampir gelap.
Di depan sebuah desa sedang menunggu empat ekor binatang buas dengan ukuran yang tidak wajar berdiri tepat di belakang seorang bocah berumur sekitar 9 tahun.
Davin Dan para pengikutnya tidak bersuara sedikitpun hanya berdiri menunggu akan datangnya para bandit yang sebentar lagi tiba di desa.(disebut pengikut karena mengikuti Davin)
Dari Kejauhan Davin sudah melihat beberapa orang yang menaiki kuda dengan cepat menuju desa. Sesampainya di depan Davin semua penunggang kuda menghentikan kudanya.
"Bocah kecil apa kau yang membuat teman kami babak belur? Aku akan mengampuni mu, asalkan kau mau ikut denganku'' Seorang bandit berotot berada paling depan yang sepertinya memiliki kelainan terhadap sebuah kesukaan bertanya kepada Davin.
roarr.
Raungan Trais sangat keras menjawab pertanyaan bandit berotot itu, hingga membuat kuda tunggangan para bandit hilang kendali, beberapa kuda menjatuhkan para bandit.
"Tuan bolehkan aku menelan kepala orang gila ini?'' Tanya Trais.
"Lakukan sesuka kalian jangan biarkan ada yang hidup.'' Davin memberi perintah.
Tak banyak basa-basi Davin mengambil pedang besarnya langsung melesat bersama para pengikutnya menuju para bandit.
slash. slash. slash.
Melihat tubuh manusia terpotong oleh pedangnya, Davin sudah tidak merasakan mual. Meskipun ini kali pertamanya Davin membunuh manusia, namun ini jauh lebih baik dari pada membunuh monster yang berbau sangat busuk dan berlendir.
tuss.
Seperti yang Trais katakan, dia langsung melahap rakus kepala orang yang tadi berbicara. Terdengar suara kepala pecah didalam mulut Trais.
Grock mencabik-cabik tubuh bandit dan mempontang-pantingkannya sehingga potongan tubuh manusia terlempar hingga kemana-mana. Ekornya menyabet semua yang berada di dekatnya. Meskipun pergerakannya tidak secepat binatang buas yang lain tubuhnya sangat keras, tombak dan pedang tidak ada yang mampu menembus kulitnya.
Hariric dan Berthor juga tak jauh berbeda. Mereka mencabik menggigit para bandit dengan sangat brutal. Potongan tubuh para bandit melayang ke berbagai tempat.
Hanya satu kata yang dapat menggambarkan mereka berlima, Monster. Ya layaknya monster yang tanpa belas kasihan membunuh tiada ampun, tanpa membiarkan ada yang terlewatkan.
__ADS_1
Davin melarang para pengikutnya untuk menggunakan sihir, hingga mereka menemukan lawan yang kuat dan saat mereka terdesak saja.
Di depan desa, tanah dan jalanan berubah menjadi lautan darah. Cahaya bulan menerangi tempat itu membuat warna merah terlihat mengerikan menutupi tanah di sana.
Dari kejauhan meskipun hanya di terangi cahaya bulan, Masih terlihat jelas oleh Bos bandit dan bawahannya yang masih tersisa, mereka merasa ngeri melihat teman bandit yang lain terpotong-potong dan di cabik-cabik tubuhnya.
Bahkan beberapa potongan tubuh dan sebagian organ dalam terlempar ke arah mereka. Meskipun mereka sudah banyak membunuh namun melihat pembantaian didepan matanya membuat mereka bergidik ngeri.
Sebuah kabut merah pekat muncul tidak jauh dari pertempuran. Memunculkan seorang penyihir dengan pakaian bertudung serba hitam tongkat di tangan kirinya.
Penyihir itu mengangkat tinggi tongkatnya, sebuah pusaran angin yang kecil perlahan membesar muncul di antara pertempuran. Tornado besar setinggi langit dengan ujungnya menyentuh tanah menyebabkan segala yang ada di sekitarnya terhisap masuk oleh angin tersebut.
Potongan mayat, pepohonan, bahkan para bandit yang mencoba lari tak dapat luput dari tornado itu. Para pengikut Davin menjauh dari pusaran angin tornado.
"Pusaran tornado ya, cukup jenius. Mari kita lihat apa dia bisa menangani ini.'' Gumam Davin membuat tornado yang sama besar dengan milik penyihir itu.
Namun bedanya tornado milik Davin berwarna gelap dengan petir yang menyambar-nyambar membakar menghanguskan segala sesuatu yang terhisap kedalam tornado.
Davin juga menambahkan bongkahan es pipih didalam tornadonya yang dapat memotong apapun yang masuk.
Tornado milik penyihir bertabrakan dengan tornado Davin. Tornado menjadi satu namun warnanya tetap hitam yang menandakan tornado penyihir terhisap kedalamnya.
Penyihir itu kehilangan kendali atas tirnado miliknya, tidak bisa tidak terkejut. Dalam pikirannya belum ada penyihir yang bisa menandingi tornado merah miliknya.
Tornado Davin terus melesat di arahkan ke penyihir itu. Tepat waktu sang penyihir sudah tidak ada di sana. Tidak menghentikan tornadonya Davin dengan cepat mengarahkan ke bos bandit dan para bandit yang masih tersisa.
Tidak ada suara teriakan yang tedengar, hanya gemuruh angin dengan petir yang menyabar-nyambar melenyapkan segala yang dilewatinya.
60 menit lamanya Davin sudah mengeluarkan angin Tornadonya. Menghentikan aliran mana yang dia keluarkan, perlahan tornado mengecil dan lenyap. Tidak ada yang tersisa seakan semua yang terhisap tidak menyisakan apapun.
Hari sudah tengah malam suasana kini menjadi sunyi, Cahaya bulan menyinari jalan dan tanah sekitar tidak ada yang tersisa disana. semua tempat menjadi rata. tidak ada lagi pepohonan, potongan tubuh manusia, tidak ada lagi darah yang mengenang. Hanya ada tanah lapang yang seluas 5 kali lapangan bola, itu hampir seluas desa Vorgan.
Setelah para pengikutnya memastikan tidak ada lagi bandit yang masih tersisa, Davin dan para pengikutnya meninggalkan tempat pertempuran.
"Bersihkan diri kalian, darah di tubuh kalian akan membuat warga semakin ketakutan jika melihat kalian. Setelah itu tetaplah di luar desa. Segera temui aku jika mengetahui keberadaan penyihir itu. Hanya dia yang berhasil lolos.'' Perintah Davin.
__ADS_1
"Baik tuan'' Jawab serempak mereka berempat.
Davin berteleportasi ke sebuah sungai yang berada tak jauh dari desa untuk membersihkan diri karena bermandikan darah.
Usai membersihkan diri Davin memeriksa setiap sudut dalam desa, tidak ada lagi pergerakan dari penyihir itu. Sepertinya dia sudah benar-benar pergi.
Davin harus perlu berjaga-jaga, penyihir itu masih hidup, tidak terluka sedikitpun. Dia bisa kembali kapanpun.
Hari hampir menjelang fajar. Davin berteleportasi menuju kediaman Justus.
Lingkaran hitam muncul di hadapan para warga yang masih berjaga di halaman kediaman Justus. Mereka yang melihat sebuah lingkaran dengan gemetaran langsung bersiaga memegang masing-masing alat pertanian yang menjadikannya senjata.
Davin keluar dari lingkaran hitam itu, mereka yang mengetahui itu adalah Davin langsung meletakkan senjata dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Davin anda telah kembali.'' Salah seorang warga berbicara. Mereka mengetahui pertempuran dahsyat dari kediaman Justus. Meskipun jaraknya jauh dan hanya diterangi oleh cahaya bulan, namun masih terlihat jelas angin tornado gelap yang menjulang tinggi ke langit.
Hanya satu di dalam pikiran mereka, jika Davin dan pengikutnya tak kunjung kembali maka hanya kehancuran dan maut yang menanti di depan mereka.
Namun seorang anak laki-laki muncul dihadapan mereka, membuat kelegaan untuk seluruh warga. Mereka berharap penyerangan dapat dipatahkan dan mengusir para bandit.
Justus lekas menghampiri Davin. "Emm. Tuan, apa semua baik-baik saja.'' Tanya Justus dengan hati-hati.
"Bangkitlah kalian semua, aku bukan orang tua kalian yang tak seharusanya kalian berlutut kepadaku. Aku sudah menepati janjiku untuk bertanggung jawab atas perbuatanku. Kalian sudah aman, tidak akan lagi ada bandit yang mengganggu kalian. Ayo bangkitlah aku tak ingin kalian berlutut kepadaku.'' Kata Davin memegang kedua pundak salah seorang pria tengah baya mengangkat pundaknya untuk berdiri.
"Aku berjanji akan membuat kemakmuran bagi desa ini. Tidak akan ada lagi kelaparan kemiskinan dan siksaan untuk kalian.'' Kata Davin menatap para pria lain yang masih berlutut.
Sebuah air mata menetes kepipi pria di hadapan Davin. Di ikuti oleh semua pria yang ada disana. Bukannya bangkit berdiri, semua pria yang ada disana malah menjatuhkan kepalanya ketanah bersujud kepada Davin.
Davin membangkitkan kembali pria didepannya kemudian memeluknya. "Bangkitlah semua mendekatlah kemari.'' Kata Davin mengadahkan pelukan dan semua yang di sana membuat pelukan besar mengelilingi Davin.
Penderitaan yang selama ini mereka alami akhirnya menghilang. Bayang-bayang kehidupan dari para bandit akhirnya telah usai. Kini mereka bisa menghidupi keluarga dengan lebih layak.
Bersambung
.
__ADS_1