Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 2


__ADS_3

Davin Lancaster


“Hai Davin apa yang sedang kau kerjakan?” Tanya lelaki tua Kepada seorang anak usia sekitar 12 tahunan. Nampak mata lelaki tua itu mengintip dari kaca mata tebalnya dan rambut yang telah memutih. Mengenakan setelan jas putih, dan pena di saku dada kirinya.


“ah. Itu anda professor Finnian. Ini hanyalah rancangan sebuah alat penyimpan energy.” Jawab seorang anak yang bernama Davin, mendongakkan kepalanya dan kemudian menatap kembali ke layar komputer, untuk melanjutkan pekerjaanya.


“Terobosan apalagi yang akan di temukan oleh Davin, aku sudah tidak sabar menunggunya..hehehe?” gumam professor Finnian tertawa lirih, beranjak pergi meninggalkan Davin.


Selama dirinya berada di sekolah dasar, Davin sudah mendapatkan banyak penghargaan karena penemuannya.


Bahkan sekolah juga memberikan beasiswa secara khusus kepada Davin.


Namun kehidupan sosial Davin kecil tak seindah yang dibayangkan kebanyakan orang. Sebagai seorang yang berprestasi sosialnya sangatlah buruk.


Itu dikarenakan Davin hanya terfokus kepada penelitiannya tanpa menghiraukan kehidupan sosialnya.


Hanya Profesor Finnian dan beberapa guru yang sekiranya Davin hormati yang memiliki kedekatan dengannya.


***


3 tahun kemudian


Hari telah menjelang sore. Seorang anak usia 15 tahunan berdiri di papan selancar yang melayang di atas tanah, berbelok menuju gang-gang sempit, kemudian melayang jauh melalui jalan setapak meninggalkan area pemukiman. Nampak berhenti di sebuah rumah yang tampak jauh dari pemukiman.


Anak itu adalah Davin Lancaster. Seorang anak dengan bakat luar biasa. Dengan kecerdasan melebihi manusia biasa. Yang kebanyakan anak seusianya masih bermain belajar bahkan ada yang masih di asuh. Tapi davin sudah menceburkan dirinya ke dunia ilmu pengetahuan.

__ADS_1


Di sebuah rumah yang lebih tepatnya adalah laboratorium pribadi. Davin sedang duduk mengamati bola Kristal berdiameter 1 meter.


“Dengan alat ini aku dapat menyimpan energy sebanyak yang aku inginkan, namun benda ini masihlah telalu besar. Aku harus mengembangkan komponen yang lebih kompatibel untuk mencapai efisiensi.” Ucap Davin dalam pikiranya.


Davin melihat benda lain seperti sebuah kapsul di tempat yang sama. Kapsul waktu yang berhasil di temukan ayah Davin dan di sempurnakan kembali olehanya.


”Ayah aku akan melanjutkan impian mu.” Gumamnya, terlihat air mata mengalir perlahan ke pipi dan menetes kelantai melalui janggutnya.


Ayah Davin pernah mencoba mengaktifkan mesin waktu tersebut. Namun terjadi kebocoran energy yang merambat hingga ke tubuhnya. Hal itu membuat ayah Davin tidak dapat bertahan lama karena sengatan energy, hingga membuat ayah Davin kehilangan nyawanya.


Masih teringat oleh Davin 5 tahun yang lalu, tepatnya saat dirinya berumur 7 tahun. Davin berdiri menatap kapsul dengan ayahnya yang berada didalamnya. Di sampingnya terdapat profesor Finnian yang mengamati layar komputer. Terlihat jelas di depan mata Davin sebuah kejadian yang sangat membuat dirinya sangat terpukul kala itu.


Sedangkan ibu Davin sudah pergi meninggalkannya saat dia melahirkan Davin.


Kini Davin hanya tinggal sendiri di sebuah rumah sekaligus laboratorium peninggalan ayahnya. Meskipun ada profesor Finnian yang mengangkat dirinya sebagai keluarganya. namun Davin tidak tinggal bersamanya. Dan lebih memilih untuk berada di laboratorium peninggalan ayahnya.


Bermacam beasiswa juga sudah menunggunya di berbagai perguruan tinggi yang berlomba merebutkan dirinya. Jadi Davin pun tidak perlu khawatir tentang masa depannya.


***


*15 tahun telah berlalu


Di sebuah kota yang besar terlihat banyak kerumunan pers memenuhi halaman sebuah gedung yang paling tinggi dan paling mewah di kota itu. Seorang lelaki tampan dan berwibawa berjalan keluar dengan di jaga oleh belasan pengawal mengenakan setelan jas hitam dan kaca mata hitam. Tampak memberi jalan kepada lelaki tampan tersebut.


“Tuan Davin! Apakah benar anda akan pergi mengasingkan diri” Tanya seorang wartawan.

__ADS_1


“Tuan Davin! Apakah pengasingan diri anda ini karena desakan dari pihak lain atau keinginan anda sendiri.” Sahut seorang wartawan yang lain.


Suara dan hiruk pikuk memenuhi halaman gedung. Para wartawan rela saling dorong dan berdesakan hanya untuk mengetahui jawaban dari alasan pengasingan diri sang penyihir sains yaitu Davin.


Julukan yang di buat oleh masyarakat karena hasil penemuannya yang di luar pemahaman manusia seperti halnya sebuah sihir.


Namun para wartawaan itu harus berakhir dengan kekecewaan. Karena tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Davin.


Ini merupakan sebuah berita yang menggemparkan seluruh negeri bahkan duniapun ikut menyorotinya.


Davin hanya mengacuhkan pertanyaan itu dan pergi memasuki mobilnya tanpa mempedulikan para wartawan tersebut.


Dan akhirnya para wartawan sudah meninggalkan halaman gedung. Dan kondisi halaman gedung pun sudah kembali normal seperti biasa.


Di sebuah kediaman yang cukup mewah di pinggir kota. Davin duduk termenung di sebuah meja kerja miliknya.


Pikirannya tertuju kepada sebuah laboratorium yang terletak tak jauh dari kota.


Menghembuskan nafas panjang berusaha menenangkan pikirannya Davin siap memantapkan dirinya untuk melanjutkan apa yang selama ini dicita-citakanya.


Bersiap untuk melepaskan segala sesuatu yang telah diraihnya selama ini.


Melanjutkan apa yang telah menjadi keinginan ayahnya di masa kelam.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2