Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 37


__ADS_3

Hutan Eragon


Kali ini Davin tidak langsung masuk menuju desa, melainkan dia memiliki tujuan lain.


Setelah Liyana dan para prajurit Vorgan mulai memasuki desa, Davin sudah pergi dari tempat itu dengan lingkaran teleportasi.


Di jalan yang tak jauh dari sebuah kota besar yaitu kota Alana muncul sebuah lingkaran hitam. Davin sengaja berteleportasi jauh dari kota agar tak ada yang mengetahuinya.


Akan membuat ketakutan jika Davin tiba-tiba muncul dari sebuah lingkaran hitam.


Lagi pula tujuan Davin bukan untuk kembali ke kota Alana, melainkan hutan yang berada dibalik kota Alana, yaitu hutan Eragon.


"Permisi paman, apa kau tau kearah mana jika aku ingin pergi ke hutan Eragon.'' Davin mencoba bertanya kepada salah seorang yang kebetulan berada tak jauh dari sana.


"Anak muda hutan Eragon berada sebelah barat tepat dibelakang kota Alana. Hutan itu membentang jauh ke arah utara. Kamu bisa melewati selatan kota dan lurus kebarat.


Jika ingin langsung menuju ketengah hutan kamu bisa pergi dari utara kota dan lurus ke barat. Hutan Eragon sangat berbahaya aku harap kamu jangan pernah memasukinya.'' Kata lelaki paruh baya itu.


"Terimakasih paman aku hanya ingin menanyakannya saja. Ini untukmu terimalah.'' Kata Davin yang kemudian memberikan sebuah kantong kain yang sepertinya berisi beberapa koin kepada laki-laki itu.


"Terimakasih anak muda kau tidak perlu.'' Sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya Davin sudah tidak lagi berada disana.


Laki-laki itu membuka kantong kain dan menemukan ada puluhan koin emas didalamnya. Merasa kebingungan dan merasa tidak nyaman dengan apa yang diterimanya, namun tidak ada lagi yang dapat dia lakukan karena Davin telah pergi darisana.


Laki-laki itu menyimpan kantong kain dengan koin emas didalamnya dan lekas pergi dari tempat itu.


Davin sudah mulai melakukan perjalanannya menuju hutan Eragon. Tujuannya adalah hutan bagian dalam jadi dia akan melewati arah sebelah utara dari kota Alana.


Langkahnya sangat ringan, hanya dengan beberapa langkah Davin sudah berjalan sejauh ratusan meter.


Kota Alana memiliki luas 3 hingga 4 kali luas dari kota-kota lain dibawah kemimpinan kerajaan Dolham.

__ADS_1


Maka dari itu Davin membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk melewati kota dan hanya mencapai bagian luar hutan Eragon.


Jika itu orang biasa dengan memacu kudanya mungkin akan membutuhkan waktu setidaknya setengah hari untuk mencapai hutan.


Namun tidak bagi Davin. Sebagai seorang yang dapat mengolah mana dan mengubahnya menjadi energi lain berjalan ribuan kilometer pun dapat dilakukan dengan mudah dan lebih cepat tanpa merasakan lelah sama sekali.


"Aku sangat penasaran dengan hutan ini. Jika apa yang dikatakan orang kerajaan itu benar bahwa tongkat sihir ini berasal dari tempat ini seharusnya ada sesuatu hal yang lain.


Tongkat ini bisa merasakan mana milikku, aku juga merasa hutan ini tidak biasa. Aku akan coba masuk lebih dalam.'' Kata Davin yang sudah mengeluarkan tongkat sihir pemberian dari raja Adalbert.


Hutan Eragon seperti hal hutan pada umumnya. Semakin Davin masuk kedalam energy yang dia rasakan semakin pekat.


Itu sebabnya tidak ada orang yang ingin masuk kedalam hutan. Energynya luar hutan saja sudah sangat mengerikan.


"Sebagai seorang yang bisa mengendalikan mana aku masih merasa tertekan dengan energy mengerikan yang ada didalam hutan ini.'' Davin berusaha untuk tetap bertahan dengan tekanan energy yang dikeluarkan dari dalam hutan.


Merasakan hal yang sia-sia Davin tidak lagi menggunakan mana untuk bertahan. Karena energy mana yang Davin keluarkan sama sekali tidak berpengaruh terhadap tekanan energy di hutan.


Guak!


Tongkat yang ada ditangan Davin seperti merespon sesuatu. Seluruh bagian tongkat terselimuti oleh aura gelap sama seperti energy yang ada didalam hutan.


"Aku merasakannya.'' Gumam Davin mencoba menyerap energy yang keluar dari dalam tongkat sihir.


Dengan bantuan mana yang dia gunakan untuk mengunci energy gelap itu. Davin berhasil menyerap dan membentuknya menjadi energy inti didalam tubuhnya.


"Entah apa kegunaan dari energy gelap ini. Namun dengan adanya energy ini aku sudah merasa terbiasa dengan tekanan dari energy yang dipancarkan hutan ini.'' Kata Davin yang sudah mulai bangkit.


Davin beranjak memasuki hutan lebih dalam, sedikit mengeluarkan energi gelap yang telah daliri mana hingga menyelimuti seluruh tubuhnya Davin tidak merasakan lagi tekanan dari dalam hutan.


"Aku sudah terlalu banyak mengeluarkan mana untuk memperkuat tubuhku hingga menghabiskan hampir 2 kelereng mana. Jika aku tau tongkat ini dapat membantu mungkin aku tidak akan mengalami banyak kerugian.

__ADS_1


Tidak tau bagaimana caranya aku mengisi energy mana ini lagi. Akan sangat merepotkan jika ini benar-benar habis tak tersisa.'' Kata Davin yang melihat kalau kelereng mana dalam tubuhnya tinggal tersisa 8 kelereng mana dengan satu kelereng yang hampir habis.


Jika energy mana dalam tubuhnya itu telah habis maka Davin harus menggunakan sebuah benda yang dapat menyimpan mana dari luar tubuhnya untuk mentransfernya kedalam tubuh dan mengaktifkan energi inti untuk membuat sihir yang dia inginkan.


Sayangnya energy mana yang ada di alam sangatlah minim dan itu sangat mempengaruhi kualitas sihir yang Davin keluarkan.


Masuk lebih dalam kedalam hutan tongkat sihir yang ada ditangan Davin menuntunnya kesebuah reruntuhan kuno. Davin melihat diarea sekitar tidak ada bangunan yang utuh sama sekali.


Tetap berjalan menyusuri reruntuhan, dan tepat ditengah reruntuhan ada sebuah batu besar. Permukaan batu itu datar ada empat patung berbentuk naga di keempat sisinya yang masing-masing mengarah ke arah titik tengah batu.


"Mungkin ini sebuah altar pengorbanan. Tidak ada petunjuk apapun disini.'' Gumam Davin penasaran.


Karena penasaran Davin menuju keatas batu itu, entah hasrat apa yang membawanya hingga dia ingin pergi kesana.


Mata dari keempat patung naga itu bercahaya dari mulut keluar cahaya putih terang terarah ke tengah batu tepatnya cahaya dari masing-masing patung munuju ke tubuh Davin.


Tubuh Davin melayang kakinya tak lagi menyentuh permukaan batu. Davin yang kebingungan mencoba untuk mengontrol tubuhnya. Namun sayang sekali itu adalah hal yang sia-sia.


Perlahan kaki dan tangannya mulai memudar hingga itu merambat ketubuhnya. Hingga pada akhirnya Davin sudah tidak melihat apapun.


"Aaaa... Huh. huh. huh. Hah. Dimana aku? Apa yang terjadi?'' Davin sangat terkejut karena kejadian yang baru saja menimpanya.


Namun saat terbangun dirinya sudah berada di sebuah tempat asing. Davin terbangun dan duduk ditempat dimana tadinya dirinya terbaring.


Davin berada disebuah ruangan dimana dindingnya merupakan tumpukan batu yang disusun sedemikian rupa agar dapat mencengkeram dan mengait satu sama lain.


Sedangkan tempatnya berbaring hanya berupa tumpukan jerami di atas tanah. Atap ruangan itu juga tertutup oleh tumpukan batu yang disusun seperti kubah.


Pintu dan dinding ruangan itu hanya tertutup oleh dedaunan panjang dari atas hingga hampir menyentuh tanah yang telah dibiarkan mengering.


Dari arah luar seorang gadis ingin memasuki ruangan itu hingga akhirnya tertegun saat melihat seseorang yang ada didalam ruangan itu telah terbangun. Namun seketika gadis itu lekas pergi seperti terburu-buru.

__ADS_1


Bersambung


.


__ADS_2