Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 30


__ADS_3

Memulai Perjalanan


Sebuah kereta kuda yang terlihat sederhana, namun berbeda didalamnya memiliki kemewahan layaknya kereta kuda istana, ditarik dengan empat kuda. Vorgan 5 yang bertugas menjadi kusir mengendarai kereta. Vorgan 3 berada disampingnya yang siap menggantikan saat Vorgan 5 kelelahan.


Sedangkan Vorgan 1, Vorgan 2, dan Vorgan 4, mereka menunggang kuda masing-masing. Mengelilingi dan bersiap menjaga kereta dari segala sisi.


Semua tugas prajurit Vorgan yang ada didesa telah diserahkan kepada prajurit Hecktor.


Tanpa melepas zirah yang melekat ketubuh mereka para prajurit Vorgan mengenakan mantel berbulu berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.


Kereta kuda yang ditumpangi Davin bersama dengan Liyana sudah mulai meninggalkan desa. Banyak dari warga desa dan prajurit disana yang mengantar kepergian Davin. Ucapan selamat jalan, selamat tinggal, sampai jumpa, bahkan tangisan kepergian menghiasi gerbang desa.


"Apa-apaan mereka itu, aku hanyalah pergi untuk sementara, tapi sikap mereka seperti aku tidak akan pernah kembali saja.'' Gumam Davin namum terdengar oleh Liyana.


"Itu karena warga desa sudah sangat menyayangi anda.'' Kata Liyana.


"Karena kau juga warga desa itu artinya kau juga?'' Kata Davin menghetikan perkataannya.


"Ya karena aku termasuk warga desa aku juga memiliki rasa yang sama seperti mereka.'' Kata Liyana memotong perkataan Davin.


"Jadi apakah kau?'' Tanya Davin penuh harap.


"Tentu saja aku juga menyayangi anda tuan Davin. Anda adalah seseorang yang bisa melepaskan kami dari kesengsaraan, keterpurukan, kemudian menyelamatkan kami, memberikan harapan kembali kepada kami, membangun kembali diri kami sehingga kami bisa bangkit kembali.


Tidak hanya itu, bahkan anda telah membuat kami menjadi lebih layak untuk dapat menjalani hidup, membangun sebuah desa yang sangat miskin menjadi sebuah istana bukanklah hal yang mudah. Dan itu hanya dapat dilakukan oleh anda Tuan Davin.


Kami tidak akan bisa membalas apapun dari apa yang anda berikan. Hanya satu yang dapat kami berikan kepada anda yaitu rasa sayang dan cinta kami kepada anda.


Tidak hanya sebagai seorang pahlawan, namun juga dewa pelindung bagi kami. Terimakasih banyak Tuan Davin.'' Kata Liyana yang kini sudah turun dari tempat duduk berlutut tertunduk di hadapan Davin, air matanya menetes membasahi lantai kereta.


Davin memegang kedua bahu lengan Liyana dan membantunya bangkit untuk duduk kembali dikursinya. Davin meletakkan kedua telapak tangan ke pipi kanan dan kiri Liyana, mengusap kedua pipinya yang telah dibasahi oleh air mata dengan kedua ibu jari Davin.


"Aku telah berjanji didalam hidupku. Akan membuat desa Vorgan menjadi lebih dari sebuah desa, menjaga warga desa lebih dari apa yang aku miliki.'' Kata Davin penuh tekad.


Kini Liyana sudah terdiam dari isak tangisnya dan perjalanan kembali dilanjutkan.

__ADS_1


Dari apa yang Vorgan 5 katakan, terdapat 3 jalur perjalanan untuk menuju ke istana Dolham.


Jalur pertama memakan waktu sekitar 3 hari. Namun itu adalah jalur yang paling aman. Jalur yang akan melewati beberapa kota dibawah kekuasaan Dolham.


Yang kedua jalur perdagangan yang akan memakan waktu 2 hari. Jalur ini yang sering di lewati oleh para pedagang selain cepat juga lebih efektif karena akan langsung menuju kota Alana. Karena Istana kerajaan Dolham terletak setelah melewati kota Alana. Namun terdapat beberapa bandit tanpa kelompok yang sering mencegat dan merampas barang bawaan para pedagang yang memiliki pengawalan lemah.


Yang ketiga adalah jalur yang sangat mematikan. Pasalnya harus melewati hutan Eragon sebuah hutan yang sangat beracun. Bahkan pasukan kerajaanpun menghindari hutan itu. Di ceritakan disana terdapat seekor naga racun yang menghuni dan menjaga hutan itu.


Namun waktu dan jarak tempuh jika melewati jalur ini hanya membutuhkan waktu kurang dari sehari. Karena letak Kerajaan Dolham berada tepat setelah melewati hutan Eragon. Karena letak hutan berada di bagian belakang istana, jadi hanya perlu memutari Istana untuk meunuju gerbang depan.


Karena Davin tidak terlalu terburu-buru lagi pula dia juga membawa seorang gadis. Davin memutuskan untuk melewati jalur pertama yang memakan waktu 3 hari dan melewati beberapa kota.


Davin tidak dapat berteleportasi dengan lubang dimensi ruang dan waktunya ketempat yang belum pernah dia kunjungi.


Musim dingin akan segera tiba, Liyana sudah bersiap dengan mantel putih dari bulu domba.


"Liyana kau ingin minuman hangat, aku sengaja membawa ini untuk kita berdua.?'' Tanya Davin menuang minuman kedalam gelas dan memberikannya kepada Liyana. Dan langsung diterimanya.


sruup.


Kereta kuda milik Davin sudah dibekali suspensi yang sangat nyaman. Kondisi jalanan bergelombang di luar tidak akan banyak berpengaruh besar saat berada di dalamnya.


Sehingga akan sangat nyaman dan goncangan akan teredam dengan baik, membuat Liyana dan Davin tidak kesulitan untuk memegang gelas cangkir mereka.


"Teh ini aku temukan didaerah pegunungan dibelakang desa Vorgan, dengan peracikan yang sesuai maka akan menjadi minuman teh seperti yang kau nikmati ini. Sepertinya pegunungan itu sangat cocok untuk tanaman teh. Aku juga berencana menjadikan tempat itu perkebunan teh. Bagaimana menurutmu Liyana?'' Kata Davin.


Liyana menyentuh dagu dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Davin tidak berhentinya memandangi Liyana.


"Saat pertama aku bertemu dengannya, dia masih terlihat seperti anak-anak. Dia tumbuh dengan sangat cepat.'' Pikir Davin


"Davin apa ada yang salah denganku, anda memandangiku seakan tidak berkedip.'' Liyana merasa ada sesuatu yang salah dari pandangan Davin kepadanya.


"Ahh. itu tidak ada. Aku hanya memandangimu karena untuk ukuran gadis seumuran mu kau tampak lebih dewasa dan juga cantik.'' Kata Davin.


"Jika hanya itu berhentilah untuk memandangiku. Pandangan anda membuatku tidak nyaman.'' Kata Liyana yang sedikit menyampingkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ahh. Maafkan aku. Aku hanya sedikit kagum saja, tidak memiliki maksud apapun.'' Kata Davin yang kini memalingkan pandangannya ketempat lain.


"Soal kebun teh yang anda maksud tadi itu sangat baik. Anda bisa membicarakannya dengan ayah.'' Kata Liyana yang kembali membicarakan tentang rencana Davin.


"Tak perlu terlalu formal kepadaku, anggap saja aku seperti temanmu, itu akan membuat perjalanan kita menjadi lebih nyaman.'' Kata Davin.


Hari sudah menjelang siang, jika dihitung dari keberangkatan mereka kini perjalanan Davin sudah setengah hari.


tok.tok.


"Tuan Davin, didepan kita akan melewati sebuah kota. Kita akan masuk atau melewatinya saja?'' Tanya Vorgan 1 kepada Davin.


"Liyana apa kau ingin makan sesuatu?'' Tanya Davin kepada Liyana.


"Ya.'' Jawab Liyana.


"Kit akan mampir dulu sebentar, cari juga sebuah restoran, kita makan siang disana!'' Perintah Davin kepada Vorgan 1.


Tak lama mereka telah tiba disebuah gerbang yang merupakan pintu masuk kota. Vorgan 1 yang mengurus semua keperluan untuk masuk ke kota itu.


"Tuan Davin, akan ada pemeriksaan petugas penjagaan kedalam kereta.'' Kata Vorgan 2.


"Liyana gunakan cadar ini, itu akan menutupi sedikit kecantikanmu. Aku takut akan ada banyak mata yang tidak akan bisa menahan pandangan mereka.'' Kata Davin memberikan penutup mulut berupa cadar berwarna putih. Namun kecantikan masih sedikit terekspose dari halusnya kulit Liyana.


Vorgan 2 membuka pintu kereta dan seorang pria melihat dari luar kereta. Memastikan tidak ada hal mencurigakan, pria yang sepertinya seorang penjaga gerbang mempersilahkan mereka memasuki kota.


Davin mengintip sebentar melalui jendela dari pintu keretanya. Terdapat antrian panjang yang sepertinya mereka juga ingin memasuki kota.


Karena Vorgan 1 menggunakan jalur khusus dengan biaya masuk yang sedikit mahal sehingga tidak perlu mengambil antrian panjang. Namun bagi Vorgan 1 keuangan bukan masalah besar baginya.


Dengan perlahan kereta Davin memasuki gerbang kota. Davin sudah kembali ketempat duduknya. Namun kini giliran Liyana yang membuka sedikit tirai jendela kaca dan mengintip keluar kereta. Liyana sangat tertarik dengan kondisi luar kota itu.


"Setelah makan siang nanti aku akan berjalan-jalan sebentar dikota ini apa kau ingin ikut?'' Kata Davin. Dengan wajah senang Liyana langsung mengangguk-anggukkan kepalanya seperti ayam yang sedang mematuk makanannya.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2