Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 35


__ADS_3

Raja Kerajaan Dolham Raja Adalbert


Davin beserta rombongannya berjalan menyusuri ruangan. Berhenti tepat didepan singgasana raja kerajaan Dolham.


Raja Adalbert .


Semua rombongan Davin berlutut ke arah sang raja kala mencapai singgasana.


Namun tidak dengan Davin yang hanya sedikit membungkuk untuk menunjukkan sikap hormatnya.


Hal ini membuat sang raja sedikit memicingkan matanya ke arah Davin.


"Sungguh sangat sombong dan angkuh, tidak menghormati raja artinya adalah kematian.'' Sesaat seorang kesatria dengan zirah lengkap dan berat meluncur cepat kearah Davin.


Menghunuskan pedang panjangnya langsung ingin menebas kepala Davin.


Tang.


Suara logam bertemu dengan logam terdengar memenuhi ruangan.


Dengan gerakan cepat Vorgan 1 sudah berada tepat disamping Davin untuk menghalau serangan yang ditunjukkan kepada tuannya itu.


Mendorong pedang kesatria dengan katananya Vorgan 1 hanya menggunakan sedikit tenaga namun sudah dapat membuat kesatria itu mundur beberapa langkah.


"Sangat kuat.'' Gumam sang kesatria.


Pengalaman bertempur yang cukup lama, tentu saja hanya pertemuan fisik antara pedang sang kesatria dapat dengan mudah mengukur kekuatan lawannya.


"Logan cukup!''. Perintah sang raja.


"Maaf baginda raja, saya tidak dapat menahan diri.'' Kata sang kesatria dengan sikap berlututnya. Kemudian bangkit dan kembali ketempat semula.


"Maafkan atas kelancancangan dari kesatria ku. Temperamennya memang sangat buruk. Namun dia memiliki kesetiaan yang tinggi.'' Kata sang Raja Adalbert.


"Tidak masalah, kesatriamu tidak akan dapat melukaiku. Perkenalkan baginda raja, namaku Davin dan ini Liyana putri dari kepala desa Vorgan.


Sedangkan 5 orang ini adalah prajurit dari desa Vorgan yang bertugas sebagai pengawal kami.'' Kata Davin memperkenalkan dengan santai.


"Anak ini benar-benar tidak menghormatiku. Aku ingin tau sejauh mana kemampuannya dan bagaimana caranya bisa melawan dan mengalahkan pasukan Sabbia.'' Gumam sang raja.

__ADS_1


"Baiklah kalau seperti itu. Selamat datang di istana kerajaan Dolham. Aku ingin tau kekuatan militer milikmu dan taktik apa yang kamu gunakan saat melawan pasukan kerajaan Sabbia. Kamu bisa menceritakan secara detail?'' Tanya sang raja tanpa basa-basi.


Tentu saja raja Adalbert ingin mengetahui apapun yang ada pada desa Vorgan. Ini dapat dia terapkan kepada prajuritnya.


"Aku akan menceritakan semuanya secara detail. Sebelum itu aku dan para bawahanku ini baru saja melakukan perjalanan jauh. Setidaknya biarkan kami beristirahat sejenak.'' Jawab Davin.


"Anak ini!'' Gumam raja Adalbert merasa tak sabaran.


"Baiklah kalo begitu. Pelayanku akan menghantar kalian. Aku akan memanggilmu saat makan malam tiba. Sekarang pergilah beristirahat.'' Kata raja Adalbert.


Setelah itu Davin dan Liyana dibawa kedalam kamar tamu yang berbeda, sedangkan prajurit Vorgan dibawa ke kamar yang disediakan khusus untuk para pengawal maupun prajurit atau kamar pelayan yang berada tidak jauh dari kamar tamu.


Makan malam telah tiba. Liyana mengenakan gaun putih yang sangat indah serasi dengan wajah dan kulit putihnya.


Dan Davin mengenakan kemeja putih dengan setelan celana hitam dan sepatu kulit runcing kesukaannya.


Sedangkan para prajurit Vorgan tetap mengenakan zirah mereka namun hanya melepaskan helm yang ada dikepala mereka.


Meskipun mereka tidak ikut makan malam karena makan malam akan diantar kekamar mereka masing-masing, namun para prajurit Vorgan tetap berada disudut ruang makan untuk menjaga tuan mereka.


Raja Adalbert tidak ingin menyinggung pertanyaan sebelumnya kepada Davin. Melainkan akan menanyakannya kembali esok hari.


Setelah makan malam selesai Davin, Liyana dan para prajurit Vorgan kembali menuju kekamar masing-masing.


Pagi telah tiba, sarapan dibawa kekamar Davin oleh pelayan. Davin juga mendapatkan pesan dari raja Adalbert untuk segera menemuinya setelah sarapan.


Sesampainya diruang singgasana Davin ditemani oleh Liyana dan para prajurit Vorgan segera menghadap sang raja.


"Davin aku ingin menagih janji tentang pertanyaanku kemarin. Aku harap kamu bisa memenuhinya sekarang.'' Kata raja Adalbert.


"Baiklah ceritanya akan sangat panjang. Jadi Vorgan 1 tolong ceritakan kepada baginda raja bagaimana kita mencegah penyerangan dan melawan pasukan kerajaan Sabbia.'' Davin meminta Vorgan 1 hanya untuk menceritakan tentang perlawanan desa Vorgan dari serangan pasukan Sabbia.


"Baik tuan sebuah kehormatan bagi saya.'' Kata Vorgan 1 yang mulai menceritakan semua yang dia ketahui perihal penyerangan pasukan Sabbia.


Sang raja, para mentri dan petinggi kerajaan yang hadir di ruangan itu sangat antusias mendengarkan cerita dari Vorgan 1 tak terlewatkan sedikitpun.


Dari senjata dan perlengkapan perang yang para pasukan Vorgan gunakan hingga taktik peperangan, semua dikatakan tanpa ada yang ditutupi.


"Zirah dan senjata ini salah satu perlengkapan perang yang kami gunakan. Meskipun terlihat sama dengan zirah yang lain namun tuan kami membuatnya dengan sangat cermat. Bahkan bahan dan materialnyapun tidak bisa didapatkan dengan mudah.

__ADS_1


Hanya para pengerajin, penempa dan pembuat persenjataan dari desa kami yang dapat membuat perlengkapan perang ini.'' Kata Vorgan 1 dengan bersemangat.


"Davin dari apa yang telah pengawalmu ini ceritakan aku merasa ada bagian yang tidak aku mengerti. Di dunia ini belum ada yang memiliki terobosan seperti apa yang telah pengawalmu ini ceritakan. Aku merasa zirah yang dia kenakan itu terlihat biasa saja. Apa aku boleh mngetesnya?'' Kata salah satu menteri yang bertugas di bidang pembuatan zirah, senjata dan perlengkapan perang.


Yang sepertinya meragukan kemampuan yang ada pada zirah yang dikenakan Vorgan 1.


"Kau boleh melakukan apapun padanya. Vorgan 1 Terima saja apa yang dilakukan padamu tidak perlu memberikan perlawanan.'' Kata Davin.


Seorang pria bertubuh besar dengan zirah terbuka yang hanya menutupi bagian vital seperti kepala dada dan bagian bawahnya.


Berjalan memasuki ruang singgasana. Setiap langkah kakinya mebuat getaran dilantai tempatnya berpijak.


Tangan kanannya memegang senjata sejenis morning star yang cukup besar dan panjang.


"Davin apakah ini akan baik-baik saja?'' Liyana bertanya dengan ketakutan diwajahnya.


"Dia akan baik-baik saja, tenanglah.'' Davin menenangkan Liyana.


"Jangan mengecewakanku!'' Bisik sang menteri kepada pria besar.


Pria besar itu berada tepat didepan Vorgan 1. Memegang senjatanya dengan kedua tangan tepat berada dibelakang tubuhnya.


Dengan gerakan 180derajat pria besar mengayunkan senjatanya tepat kearah tubuh kiri Vorgan 1.


Suara dentuman keras hingga gelombangnya pun memenuhi ruangan. Pria besar sangat yakin dengan serangan penuh miliknya itu.


Namun sungguh diluar dugaan, Vorgan 1 sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berada.


Semua orang yang ada disana tidak bisa untuk tidak terkejut. Bahkan sang raja Adalbert pun sontak berdiri dari singgasananya.


Vorgan 1 meletakkan telapak tangan kebagian perut pria besar. Dengan sedikit dorongan, pria besar itu sudah terlempar melayang lebih dari sepuluh meter kebelakang. Hampir mengenai seseorang disana.


Tubuhnya tersungkur cukup jauh dari tempat awal dirinya berada.


Lagi-lagi semua orang dibuat terkejut dengan kejadian itu. Seketika ruanganpun sunyi tak ada suara dari seorangpun.


Hal ini membuktikan untuk semua orang yang ada disana, bahwa kekuatan prajurit Vorgan benar-benar adanya. Satu orang dapat dengan mudah menjatuhkan salah satu orang terkuat dikerajaan.


Tidak hanya itu, bahkan masih ada 100 prajurit didesa Vorgan yang memiliki kemampuan yang tak jauh berbeda dengan prajurit yang ada didepannya.

__ADS_1


__ADS_2