
Di atas benteng terlihat di sebelah timur desa puluhan ribu prajurit menuju kearah desa. Zirah gelap mereka seakan membawa mimpi buruk bagi desa.
Jendral dari pasukan Sabbia memerintahkan pasukan baris depan untuk maju terlebih dahulu. Dengan membawa perisai dan mendorong sebuah alat untuk mendobrak pintu gerbang mereka dengan sangat percaya diri menuju pintu gerbang desa Vorgan.
Telah berada di jangkauan pemanah Vorgan. Hecktor memerintahkan untuk melepaskan anak panah ke arah mereka.
Ribuan anak panah menghujani para pasukan berpedang tanpa kuda. Mengangkat perisai mereka menghalau serangan anak panah.
Sedikit dari ribuan anak panah yang dapat mengenai musuh. Tembakkan anak panah dihentikan, membiarkan musuh lebih dekat menuju gerbang.
boom.
Sebuah ledakan terjadi diantara pasukan penyerang. Anehnya ledakan tersebut melenyapkan apapun yang berada di radius 5meter dari ledakan.
Tidak hanya satu melainkan belasan ledakan yang lain membuat formasi musuh sudah tidak lagi terbentuk. Menghentikan sejenak tembakan meriam.
Serangan panah kembali dilancarkan, kini ribuan anak panah melewati celah perisai dan menancap keratusan tubuh musuh. Bahkan zirah yang mereka kenakan tidak dapat menahan mata anak panah karena pendeknya jangkauan pemanah.
Atas perintah Hecktor pemanah berhenti memanah, dan seratus prajurit diikuti oleh 5 prajurit Vorgan melompat dari atas benteng yang tingginya 7meter mendarat ketanah. Dengan pedang dan tombak mereka membunuh semua musuh yang lolos dari anak panah.
Tak lama prajurit Vorgan dan pasukan Hecktor sudah menghabisi seluruh barisan depan penyerang. Hecktor langsung memerintahkan mereka kembali memompat keatas benteng.
"Senjata apa yang mereka gunakan. Aku belum pernah melihat teknologi senjata seperti ini. Dan bawahan Hecktor, mereka kuat sangat kuat.'' Gumam Ragnar yang merasa takjub.
Jendral dari pasukan Sabbia juga tak habis fikir dengan pasukan baris utama mereka. Hanya dalam waktu kurang dari setengah hari semua pasukannya sudah tidak tersisa. Kini dia mulai mencerna apa yang telah dikatakan oleh jendral Rohan.
"Sepertinya apa yang dikatakan oleh Rohan bukanlah bualan belaka. Mereka benar-benar bisa menghancurkan seluruh pasukan baris pertama ku yang jumlahnya hampir 5000 prajurit dengan sangat mudah. Padahal pasukanku sama sekali belum mendekati benteng apa lagi menyentuh gerbang.'' Gumam jendral pasukan Sabbia.
Pasukan Sabbia kembali bergerak, kini mereka mendorong senjata pelontar batu yang cukup besar. Terdapat 5 pelontar disana.
Suara sangkakala musuh kembali berkumandang. Lontaran ketapel raksasa melemparkan sebuah batu besar diikuti dengan pelontar yang lain.
bomm.
Sebuah ledakan kala batu yang dilemparkan masih berada di udara jauh dari benteng. Serpihan batu terjatuh berhamburan ketanah disekitarnya. Begitu pula dengan batu yang lain juga mengalami hal yang sama.
__ADS_1
Itu adalah 5 prajurit Vorgan menggunakan sebuah katana memotong dan menghancurkan batu besar saat melayang menuju ke benteng desa.
Sepuluh batu besar kini kembali melayang diudara, namun batu itu mengarah ke pasukan Sabbia.
bom. bom. bom.
Beberapa batu langsung mengarah ke pelontar batu milik Pasukan Sabbia dan menghancurkannya. Sangat tepat sasaran, akurasi yang dibuat Davin sungguh sangat luar biasa.
Dengan pengaturan jarak dan titik dari luar desa yang sudah ditandai. Siapapun yang mengoperasikannya tidak akan kesulitan untuk mengenai target.
Kemarahan sang jendral kini semakin menjadi. Dia memerintahkan semua pasukan untuk langsung menyerang desa secara serempak.
Sangkakala kembali dibunyikan, sebuah nada yang mengisyaratkan perintah penyerangan penuh. Gemuruh kuda dan langkah kaki serempak melangkah kedepan semakin lama semakin cepat hingga kini tak lagi beraturan.
Empat lingkaran hitam raksasa muncul tepat di depan gerbang desa Vorgan. Disana muncul 4 binatang buas dengan tanduk dikepalanya. Harimau, Serigala, Buaya dan Beruang melangkah perlahan keluar dari keempat lubang hitam raksasa itu.
Di belakang keempat binatang terdapat ratusan binatang buas yang lain. Berjalan bersamaan keluar dari dalam lubang hitam. Suara raungan dari mulut para binatang membuat siapapun akan merinding mendengarnya. Air liur menetes dari taring mereka. Menambah kesan yang mengerikan.
Kemunculan para binatang buas itu menarik perhatian seluruh pasukan dari Sabbia maupun dari desa Vorgan. Para pasukan yang tadinya berlari dan menunggang kuda menghentikan langkah mereka.
Dari belakang para binatang buas itu muncul seorang anak berumur sekitar 12tahun dengan rambut hitam panjang berkibar, dan bermata hitam keunguan, mengenakan sepatu kulit runcingnya celana hitam dengan mantel merah darah gelap ala pakaian eropa abad pertengahan.
Semua binatang buas memberikan jalan kepada anak itu dan tertunduk dengan hormat.
"Siapa orang yang bertanggung jawab atas ini semua.'' Kata Davin yang menghampiri pasukan Sabbia melepaskan aura membunuhnya secara penuh menekan semua prajurit yang berada dihadapannya. Membuat beberapa dari mereka tersungkur berlutut bahkan ada yang batuk mengeluarkan seteguk darah.
"Siapa anak ini, auranya sungguh kuat?'' Gumam sang jendral, meskipun tekanan itu cukup kuat namun jendral dari pasukan Sabbia itu masih bisa menahannya, meskipun harus mengeluarkan seluruh kekuatannya.
"Aku jendral Judd pemimpin pasukan Sabbia. Siapa kau beraninya menghalangi pasukanku?'' Kata Jendral Judd yang tidak takut Sedikit pun dengan Davin.
"Bawa pergi pasukanmu dari desaku, atau kalian akan menjadi makan siang bagi para bawahanku!'' Kata Davin menatap tajam jendral Judd.
"Aku tidak akan menarik pasukanku. para anjingmu itu akan menjadi makan malam untuk puluhan ribu prajuritku. Jumlah kalian semua tidaklah sepadan dengan pasukanku. Aku akan meratakan desa ini!'' Kata Judd penuh kesombongan.
"Baiklah jika itu yang kalian inginkan, Vorgan 1 bawa semua prajuritmu dan bawahan Hecktor. Jangan sisakan satupun!'' Perintah Davin kepada Vorgan 1 lewat gelangnya.
__ADS_1
Davin mengeluarkan pedang besarnya yang sudah lama tidak digunakannya.
Serang!
Suara gemuruh kembali datang, peperangan tidak lagi terhindarkan.
Davin langsung menuju ketengah pasukan musuh, mengayunkan pedang dan menebas apapun yang berada disana.
Para binatang buas termasuk keempat pengikutnya langsung mencabik-cabik musuh. Tidak hanya itu mereka juga melepaskan sihir elemen mereka es, tanah, angin, dan petir menghiasi pertempuran.
Bahkan para penyihir dari pasukan Sabbia pun sangat kualahan menghadapi binatang yang memiliki kekuatan fisik dan dapat mengeluarkan sihir.
Tidak hanya para binatang buas Para prajurit Vorgan dan pasukan Hecktor juga nampak sangat menikmati pertempuran mereka.
Tidak ada musuh yang dapat menghentikan dan menandinginya kekuatan ataupun kecepatan mereka. Senjata merekapun dapat membelah dan menusuk zirah musuh dengan sangat mudahnya.
Pasukan yang di bawa oleh jendral Ragnar hanya memperhatikan pertempuran dari atas benteng. Ingin sekali bagi mereka ingin membantu, namun keluar ataupun turun dari benteng pun mereka tidak dapat melakukannya.
Hari hampir gelap, kelelahan sudah terlihat dari kedua belah pihak. Kini jumlah musuh yang tersisa hanya sekitar 5000 prajurit saja.
Namun dari pihak Davin beberapa binatang buas juga mengalami luka yang serius.
Jendral Judd memiliki raut wajah pucat pasi. Perasaan yang belum pernah dia rasakan, sebuah kejadian yang belum pernah dia alami sebelumnya, membuat dirinya sudah pasrah dengan akhir dari pasukannya.
Sebuah pemusnahan masal terjadi didepan matanya tanpa adanya perlawanan yang cukup berarti. Kakinya gemetar tak dapat lagi mampu menompa tubuhnya yang lemas tak berdaya berlutut ketanah, tidak ada lagi yang dapat dilakukan. semua telah terjadi sudah terlambat untuk menyadari.
"Ini adalah hukuman mati untukmu yang tak bisa belajar dari sebuah kesalahan.'' Kata Davin kepada jemdral Judd yang sudah tidak memiliki perlawanan.
Sebuah pedang besar siap diayunkan keleher jendral Judd. Davin tak lagi menahan dirinya.
Tuk.
Kepala Jendral Judd terjatuh ketanah yang menandakan berakhirnya pertempuran hari ini. Semua prajurit Sabbia yang masih tersisa melepaskan semua senjata mereka, dan langsung menyerah kepada pasukan desa Vorgan.
Bersambung
__ADS_1
.