
Di Luar Pemahaman
Beberapa saat kemudian. Seorang lelaki tua datang memasuki ruangan bersama dengan gadis kecil.
"Aku kira kau takkan pernah bangun.'' Kata lelaki tua.
"Maaf kakek apa yang sebenarnya terjadi?'' Tanya Davin.
"Aku menemukanmu tak sadarkan diri disebuah batu kuno ditengah reruntuhan lalu membawamu kekediamanku. Sudah hampir seminggu berlalu akhirnya kau tersadar.
Sepertinya kau bukan anak biasa hingga dapat bertahan berhari-hari tanpa makanan apapun yang masuk kedalam perutmu.'' Kata lelaki tua.
"Terimakasih kakek atas bantuanmu, namaku Davin saya datang dari kota Alana.'' Davin menundukan kepala dengan tulus.
"Aku Paul dan ini cucuku Niela selamat datang dikediamanku yang sederhana ini. Beristirahatlah dulu disini. Aku serta membawa tongkat yang sepertinya itu milikmu.'' Kata Kakek Paul.
Setelah sehari berlalu Davin benar-benar merasa sudah pulih.
"Pemulihan tubuhku terasa lebih lambat dari biasanya. Dari energy mana yang aku gunakan juga tidak berpengaruh penuh.'' Gumam Davin.
Pagi-pagi Davin menuju ketempat dimana dirinya sebelumnya pinsan.
Davin merasa tidak ada tekanan energy gelap seperti sebelumnya. Tidak memiliki firasat apapun Davin tetap menghampiri batu dengan 4 patung naga disetiap sudutnya.
Davin memeriksa disetiap sisi dari tempat dan patung itu seharian penuh. Namun tidak menemukan hal aneh apapun.
Dengan penuh tekad dan keberanian Davin meneguhkan hatinya untuk melakukan hal yang sama seperti sebelumnya dia datang ketempat itu. Naik keatas batu yang membentuk seperti altar.
Namun jantung Davin yang tadinya berdebar kencang kini perlahan mulai teratur. Sungguh diluar dugaan tidak ada hal apapun yang terjadi.
Memang sungguh aneh ditempat yang awalnya memiliki tekanan energy gelap yang bahkan dirinya pun tidak mampu untuk menahannya Davin masih bertemu dengan kakek Paul dan cucunya yang menolongnya.
Bahkan sejak Davin berada direruntuhan itu sudah ada banyak perubahan. Seperti jalan setapak disekitar reruntuhan yang membuktikan jika tempat itu sudah sering dikunjungi orang.
Dan beberapa bangunan yang sepertinya sudah dibentuk ulang. Bahkan hutan disekitar reruntuhan juga terlihat lebih terang dan sepertinya sudah diatur sedemikian rupa.
Davin berencana pergi dari hutan Eragon menuju ke kota Alana. Hanya setelah beberapa saat melakukan perjalan biasa Davin menemukan sebuah benda yang sangat familiar.
"Bola Golf?'' Gumam Davin.
__ADS_1
Dengan jantung yang berdetup kencang Davin sesegera mempercepat langkahnya.
Rumput jenis bermuda grass yang membentang luas ada didepan matanya. Sebuah tempat yang membuat dirinya mengenali suatu hal.
"Lapangan Golf. Apakah mungkin?'' Kalimatnya terhenti Davin tidak berani berspekulasi terlalu jauh.
Langkahnya gemetar tubuhnya melemah Davin merasa dirinya sungguh sangat lemah. Bahkan energy mana lagi-lagi sama sekali tidak dapat membantunya.
Davin membuka matanya, disekujur tubuhnya terasa kaku dan pegal. Melihat sekelilingnya dia merasa berada disebuah ruangan perawatan.
Seperti halnya rumah sakit, tapi segala peralatan masih sangatlah jadul atau ketinggalan jaman.
Terdengar suara percakapan dari luar ruangan. Davin mencoba memfokuskan pendengarannya.
"Bagaimana dok, apakah anak itu sudah siuman, aku harus segera menanyakan beberapa hal mengenai identitasnya untuk mempermudah menghubungi keluarganya.'' Kata seorang lelaki.
"Anak itu hanya kelelahan, Seharusnya beberapa saat lagi dia sudah tersadar dan baik-baik saja.'' Kata seseorang lagi yang sepertinya itu adalah sang dokter.
Beberapa saat kemudian dua orang yang mengenakan pakaian seperti halnya penegak hukum menghampiri Davin.
"Selamat siang nak, apakah kamu baik-baik saja. Aku ingin menanyakan beberapa hal?'' Kata seorang petugas laki-laki yang memiliki perut agak buncit.
"Baiklah jangan terlalu memaksakan diri, beristirahatlah saja. Aku akan sebisa mungkin membantu menemukan keluargamu.'' Kata petugas buncit.
"Maaf pak petugas sebenarnya aku ini sedang berada dimana, maksudku rumah sakit ini berada dan tahun berapakah ini?'' Tanya Davin.
"Nak kamu berada di ibu kota Negara Dolham yaitu kota Alana. Dan ini Tahun 2022 tepatnya tanggal 23 Desember. Beristirahatlah aku tidak akan mengganggumu lagi.'' Kata petugas buncit dan kemudian pergi menuju pintu keluar ruangan bersama rekannya.
"Aku takut anak itu pingsan bukan karena hanya kelelahan. Sebaiknya kita segera memberitahukan hal ini kedokter.'' Kata seorang laki-laki rekan dari petugas buncit.
"Sebenarnya aku ini berada dimana? ini sungguh benar-benar berada diluar pemahamanku, bahkan energy mana juga tidak dapat aku gunakan dengan baik. Sihir menjadi sangat lemah.'' Kata Davin.
Setelah beberapa hari dokter tidak menemukan gejala yang aneh pada tubuh Davin akhirnya dirinya dinyatakan sembuh.
Dari keamanan setempat pun memberikannya kartu identitas sementara hingga bisa bertemu dengan keluarganya.
Davin kini dititipkan kesebuah panti asuhan dikarenakan umurnya masih dibawah 18 tahun.
Setelah melakukan begitu banyak tes dan ujian akhirnya Davin diterima disebuah universitas yang cukup bergengsi dikota Alana dengan usia baru 15 tahun.
__ADS_1
Sungguh sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Hal itu membuat dirinya seakan kembali kekehidupan lamanya.
Namun ada suatu hal yang membuat Davin berbeda dari kehidupan lamanya. Kali ini Davin tidak terjelumus kedalam sebuah penelitian.
Melainkan Davin lebih memilih bergaul dan berinteraksi dengan teman-temannya. Bahkan dirinya lebih tertarik mempelajari tentang ilmu sejarah.
Kegiatan sehari-harinya lebih suka dihabiskan berada didalam perpustakaan.
***
Dua tahun telah berlalu. Pengetahuan sejarah yang Davin pelajari tidak dapat menjelaskan apapun. Sama halnya dikehidupan masa lalu nya.
Tidak ada para ahli maupun ilmuan yang dapat menjelaskan dengan gamblang awal mula terbentuknya kehidupan didunia tempat Davin berada saat ini.
Dunia tempat Davin berada saat ini tidak jauh berbeda dengan bumi. Susunan tatasurya dan galaksi menurut yang Davin pelajari pun juga sama.
Hal ini membuat Davin mengalami titik kebuntuan tentang dunia saat ini.
Sihir sama sekali tidak berguna didunia ini. Tongkat sihir tak lagi memancarkan auranya, bahkan pedang Aldous hanya berupa pedang logam biasa yang beratnya hanya berkisar 200 kilogram bagi manusia biasa. Namun masih sangat mudah bagi Davin untuk menggunakannya.
Anehnya semua nama tempat yang ada didunia sebelumnya sama persis dengan dunia ini. Bahkan Vorgan bukan merupakan sebuah desa. Melainkan sebuah kota yang sangat makmur.
"Sepertinya aku akan berhenti mempelajari sejarah yang hanya memberikan sedikit petunjuk ini. Aku merasa kota Vorgan akan memberikan lebih banyak petunjuk untukku.'' Kata Davin.
Davin mulai merasakan kejanggalan. Dimana kota Vorgan yang awalnya merupakan sebuah desa kecil dalam waktu beberapa tahun sudah menjadi sebuah kota besar.
Kejadian dan jangka waktunya sungguh sama persis dengan yang dialami Davin di dunia sebelumnya.
Hal itu menunjukkan suatu hal, jika dunia ini berhubungan erat dengan dunia sebelumnya.
Davin mulai mengolah pikirannya kembali, segala perhitungan yang cermat dari segala kejadian dan jangka waktu dari didunia sebelumnya dan mengaitkannya dengan dunia ini.
Semua kejadian itu merupakan semua hal yang berhubungan dengan Davin. Yaitu perkembangan kota Vorgan, kekalahan penyerangan dari kerajaan Padang pasir Sabbia, dan lain sebagainya.
"Akhirnya aku mengerti.'' Senyum lebar dari mulut Davin terpancar diwajahnya.
Bersambung
.
__ADS_1