
Menolak Hadiah
Di depan sebuah kota yang megah namun sebenarnya itu hanyalah sebuah desa. Pertempuran besar berdarah baru saja terjadi. Banyak berserakan mayat manusia yang sebagian sudah tidak memiliki bentuk yang utuh.
Tidak lebih dari 5ribu prajurit yang awal mulanya puluhan ribu menyerah setelah terbunuhnya jendral mereka. Pasukan Sabbia sudah tidak memiliki pemimpin yang memberi perintah kepada mereka.
Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, melepaskan segala senjata yang mereka bawa berlutut menyerah tanpa syarat kepada Vorgan.
Beberapa dari mereka adalah prajurit yang pernah melawan pasukan Vorgan sebelumnya. Mereka memilih menyerah dari pada mati.
"Hector aku mau kau mengurus mereka, setelah itu biarkan pasukanmu beristirahat. Hariric, Berthor, Grock, Trais bawa dan rawat binatang buas yang terluka. Vorgan 1 katakan kepada kepala desa, aku ingin menemuinya.'' Perintah Davin yang langsung dilaksanakan oleh mereka semua.
Di dalam desa.
Davin berjalan memasuki desa, semua mata yang mengenalnya langsung tertunduk memberikan hormat. Sedangkan untuk pasukan dan jendral Ragnar mereka
"Kepala desa bisa kau katakan padaku kejadian apa saja saat aku pergi selama 2 hari ini?'' Tanya Davin kepada Justus.
"Tuan Davin semua baik-baik saja sesuai yang anda perintahkan. Strategi yang Hecktor buat juga berjalan lancar, anda juga datang tepat waktu.
Namun kami kedatangan tamu dari kerajaan Dolham, mereka pasukan yang dikirim Dolham untuk menyelidiki soal pertempuran dua hari yang lalu dan mengamankan daerah sekitar.
Dari informasi yang saya dapatkan dari jendral pasukan, dia hanya mendapatkan perintah untuk melakukan hal tersebut. Dia tidak mengatakan hal yang lainnya.'' Kata Justus. Lalu Davin meminta Justus memanggil Jendral pasukan Dolham.
"Jendral Ragnar beliau adalah tuan Davin yang telah membangun desa ini.'' Kata Justus memperkenalkan Davin kepada Ragnar.
Jendral Ragnar tidak bisa untuk tidak terkejut. Di hadapannya Ragnar hanya melihat seorang anak."Maaf kan saya yang tidak mengenali anda tuan Davin.'' Lalu Ragnar tersadar dari tatapannya dan mulai memperkenalkan diri, dan juga tujuannya datang ke desa.
"Terimakasih atas bantuanmu Jendral Ragnar. Malam ini pasukanmu boleh bermalam didesa ini. Mulai besok pagi anda boleh meninggalkan desa. Kepala desa berikan mereka tempat dan juga makanan untuk malam ini.'' kata Davin lalu pergi meninggalkan mereka berdua diruang pertemuan balai desa.
Ragnar hanya bisa terdiam mendengar perkataan Davin. Kata-kata nya yang sangat mendominasi membuat Ragnar tak bisa berbuat apa-apa. Padahal dia masih ingin berada didesa untuk beberapa hari lagi.
***
Esok hari pasukan dari kerajaan Dolham sudah bersiap untuk meninggalkan desa. Tidak ada perpisahan, tidak ada ucapan selamat tinggal. Semua orang yang ada disana terlihat mengacuhkan mereka.
Hanya seorang prajurit yang bertugas untuk membuka gerbang saja yang mempersilahkan mereka untuk pergi.
***
__ADS_1
Sesampainya di istana kerajaan Dolham jendral Ragnar menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama berada didesa Vorgan.
Sontak sang raja yang mendengar hal itu sangat terkejut. Jendral Ragnar salah satu orang kepercayaan Raja tidak mungkin membual dihadapan rajanya.
Sang raja sangat senang dengan kejadian itu. Pasalnya tanpa harus melakukan peperangan besar dan mengalami kerugian yang tentunya juga tidak sedikit semua musuh yang datang sudah dapat di atasi.
"Siapa sebenarnya orang ini. Satu pasukan dengan puluhan ribu prajurit dapat di kalahkan dalam waktu kurang dari satu hari. Di tambah dia juga dapat mengendalikan binatang buas dari hutan Aldous. Hutan yang siapapun tidak dapat dengan mudah memasukinya. Aku tidak boleh memprovokasi orang ini.'' Gumam sang raja.
"Sediakan banyak hadiah yang berkualitas, emas, platinum, batu permata, kuda perang, tanaman obat. Jendral Ragnar kau yang akan bertugas mengantarkannya. Kirimkan juga surat, aku ingin mengundangnya ke istana!'' Perintah sang raja dengan penuh semangat.
***
Desa Vorgan.
Semua prajurit Sabbia yang menyerah mereka ditugaskan untuk membersihkan area peperangan. Makanan dan tempat tinggal serta pakaian yang layak diberikan secara cuma-cuma kepada mereka.
Sebagai tawanan perang tentunya mereka tidak menyangka tentang hal itu. Di balik kekejaman masih ada sikap kemanusiaan bagi mereka.
Setelah jalan sudah dapat dilewati dengan baik produksi peralatan sudah dapat dikirim kembali ke kota Alana. Davin juga berencana membuka pasar perdagangan sendiri di desa.
"Hector, setelah para tahanan itu selesai melakukan pekerjaan, mereka diperbolehkan kembali ke kerajaan tempat mereka berasal. Aku juga tidak melarang bagi mereka yang ingin tetap berada didesa atau mengambil beberapa pekerjaan untuk mereka.'' Kata Davin kepada Hector yang saat itu berada tepat di atas menara benteng.
Bagi mereka yang memiliki keahlian beladiri yang cukup tinggi Hecktor merekrutnya untuk dijadikan prajurit biasa yang hanya bertugas untuk berpratoli dan menjaga keamanan dalam desa.
***
Satu minggu pasca penyerangan.
Di siang hari yang cukup terik arak-arakan kereta kuda terlihat beriringan menuju desa Vorgan.
Turun dari kuda seorang dengan zirah seperti halnya seorang kesatria menghampiri Vorgan 2 dan sedikit membungkuk kepadanya. Begitu pula dengan prajurit lain yang mendampinginya juga melakukan hal yang sama.
Dari beberapa kusir yang melihat hal itu sedikit terkejut. Seorang yang memiliki status sebagai seorang jendral yang mereka ketahui hanya membungkuk kepada raja, kini membungkuk hanya kepada seorang prajuritnya penjaga gerbang
"Jendral Ragnar anda telah diperkenankan untuk meninggalkan desa.'' Kata Vorgan 2 kepada Ragnar.
"Maafkan saya. Kedatangan saya kedesa memiliki tujuan lain. Saya membawa banyak hadiah kepada tuan Davin.'' Kata Ragnar yang selalu menunjukam sikap hormatnya.
"Saya tidak membutuhkannya, bawa itu kembali.'' Kata Davin tiba-tiba muncul dan memotong perkataan Ragnar.
__ADS_1
"Maaf tuan Davin, namun semua barang yang kami bawa merupakan kualitas terbaik. Anda boleh melihatnya terlebih dahulu. Raja juga mengundang anda secara khusus ke dalam istana.'' Ragnar berkata untuk meyakinkan Davin agar dapat menerima hadiah dan memenuhi undangan.
"Saya akan menerima undangan ini. Untuk malam ini kalian boleh beristirahat didesa, besok bawa kembali semua barang-barang itu, aku tidak menginginkannya.'' Kata Davin kepada Ragnar. Dalam pikiranya memiliki tujuan lain. Seringai tipis muncul dari mulutnya.
Esok telah tiba. Semua kereta kuda yang membawa banyak barang-barang berharga berjalan beriringan meninggalkan desa.
Dengan kekecewaan penuh diwajah Ragnar mendampingi iringan kereta kuda itu.
"Barang yang raja berikan itu bukanlah apa-apa. Dia tidak akan bisa mengambil hatiku. Aku akan meminta sesuatu yang lebih dari itu.'' Gumam Davin menatap kepergian Ragnar bersama iringan kereta kuda.
"Kepala desa bisa kau persiapkan kereta kuda, aku akan pergi menuju istana. Tak perlu membawa banyak prajurit, aku hanya akan membawa para Vorgan!'' Pinta Davin kepada Justus.
"Baik tuan tapi aku memiliki satu permintaan. Bisakah anda mengajak Liyana. Dia selalu berada didalam desa dan ingin sekali melihat dunia luar?'' Pinta Justus.
"Tidak masalah kepala desa, katakan padanya untuk bersiap, besok pagi kita akan pergi. Dan aku ingin kereta kuda yang biasa saja jangan yang mewah, aku tidak ingin terlihat terlalu mencolok.'' Kata Davin menyetujui permintaan Justus.
Ke esokan harinya seorang gadis yang sangat anggun berjalan menghampiri Davin. Memiliki umur yang sama dengan Davin. Namun sikap dan penampilannya terlihat lebih dewasa.
Rambut pirang kuning keemasan kulit seputih salju dibalut gaun yang tidak terlalu mewah itu adalah pesan Davin untuk tampil biasa saja supaya tidak terlalu menarik perhatian.
Namun kecantikan gadis itu tidak akan mungkin bisa menyembunyikan dirinya dari pusat perhatian. Davin sepertinya terpana dengan kecantikan Liyana.
"Tuan Davin. Kapan kita akan berangkat. Tuan Davin?'' Tanya Liyana memanggil Davin.
"Oh Iya. Aku adalah Davin. Maksudku cukup panggil saja Davin. Ayo kita pergi. Maksudnya kita akan berangkat sekarang. Hahaha.'' Kata Davin dengan kesalah tingkahannya. Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Emm. Baiklah saya sudah siap. Apakah kita akan mengajak Trais kecil?'' Tanya Liyana kembali yang sudah mengetahui siapa sebenarnya Trais, namun sepertinya dia tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap menyukai Trais kecil.
"Sepertinya itu tidak bisa Liyana. Aku sedang memberikan tugas penting kepadanya. Lagi pula disini sudah ada aku yang bisa dibelai, ohh. maksudku menggantikannya, Ahh. maksudnya menjagamu, ya menjagamu. Hahaha.'' Kata Davin lagi-lagi tidak bisa mengontrol mulutnya untuk mencegah isi kepalanya keluar.
"Aduh mulut ini.'' Gumam Davin menutup mulut dengan tangan kirinya.
"xixixi.'' Liyana hanya tertawa kecil dan lirih namun sedikit terdengar yang membuat Davin agak malu.
Melihat hal itu Justus hanya tersenyum. "Sepertinya perjalanan akan membuat mereka lebih dekat.'' Gumamnya.
Bersambung
.
__ADS_1