Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 32


__ADS_3

Kota Mirion


Davin melakukan perjalanan setelah mendapatkan undangan oleh raja dari kerajaan Dolham, bersama Liyana putri dari kepala desa, dan didampingi oleh kelima Prajurit Vorgan,


"Bagaimana menurutmu, apakah ini bagus? Aku ingin memberikannya kepada kekasihku didesa.'' Kata Vorgan 4 menyentuh sebuah gaun.


"Aku tidak tau kau memiliki seorang kekasih, aku kira dengan wajahmu yang pas-pasan itu tidak ada yang mau melirikmu. Hahaha. Benarkan Rion?'' Kata Vorgan 3 mengejek.


"Apa kau lupa untuk tidak memanggil nama asliku saat sedang bertugas. Lagi pula Vorgan 4 masih lebih baik daripada dirimu yang selalu saja menjomblo.'' Kata Vorgan 5 menimpali Vorgan 3.


ting.


Suara logam bertemu dengan logam kala kedua kepalan tangan Vorgan 4 dan Vorgan 5 saling melakukan tos. Gelak tawa terjadi antara ketiga kesatria itu.


"Emm, Liyana pilih saja apa yang kau suka. Untuk masalah penyimpanan kau tidak perlu khawatir, aku akan menyimpankannya untukmu.'' Kata Davin yang mengetahui kesulitan yang dihadapi Liyana.


"Benarkah itu? Terimakasih Davin.'' Kata Liyana, matanya berbinar menunjukkan kebahagiaannya.


Liyana mengambil apapun yang dia suka. Gelang, gaun, kalung, penutup kepala, makanan ringan dan langsung menyantapnya. Davin sempat menggelengkan kepala melihat Liyana yang sepertinya tidak pernah melihat barang-barang tersebut.


Semua barang belanjaan milik Liyana di letakkan didalam sebuah kotak kayu yang ukurannya cukup besar. Lalu Davin memasukkannya kedalam gelang galaksi.


Hari sudah hampir gelap, Davin memutuskan untuk menuju kepenginapan yang telah diurus oleh Vorgan 2. Penginapan yang letaknya tidak jauh dari restoran saat Davin makan siang.


Vorgan 2 memesan 4 kamar yang saling bersebelahan dengan kamar mandi didalam masing-masing kamar. Dua kamar dengan satu tempat tidur untuk Davin dan Liyana, dan dua kamar dengan dua tempat tidur untuk para prajurit Vorgan. Sedangkan satu prajurit Vorgan akan berjaga didepan koridor kamar secara bergantian.


Setelah mereka semua pergi membersihkan diri, Davin berencana untuk makan malam direstoran yang sama saat makan siang tadi.


Davin Dan Liyana mengenakan pakaian yang baru saja mereka beli dari pusat perdagangan kota. Sebuah gaun berwarna merah cerah indah dipadu dengan mantel merah dan topi renda merah dengan sebuah bulu merak menancap ditopinya Liyana.


Davin juga mengenakan pakaian serba merah dari sepatu celana jas merah hingga sarung tangan merah. Tampak serasi dengan gaun yang dikenakan Liyana.


Pemandangan kota sangatlah indah pada waktu malam hari. Lampion dengan berbagai bentuk dinyalakan disepanjang jalan.


Saat memasuki restoran berbeda dengan siang tadi. Batu kristal yang memancarkan cahaya digantung disetiap sudut restoran menambah semakin eleganan restoran itu.


Tidak ada kejadian yang mengganggu makan malam mereka, semua berjalan baik-baik saja. Setelah itu mereka pergi dari restoran dan menikmati indahnya malam dikota itu.


Malam sudah begitu larut, Davin memutuskan untuk kembali kepenginapan dan beristirahat. Tidak ada hal buruk yang terjadi dimalam itu.

__ADS_1


Hanya saja para prajurit Vorgan merasakan ada yang mengawasi mereka sejak pergi dan kembali dari penginapan. Asalkan itu tidak mengganggu kenyamanan tuan mereka tidaklah menjadi masalah besar bagi mereka.


Esok pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kini Vorgan 3 menambah jumlah kuda untuk menarik kereta Davin menjadi 6 kuda. Hal itu dia lakukan untuk mempermudah perjalanan, dikarenakan medan yang akan di tempuh selanjutnya akan menaiki perbukitan.


Setelah melewati gerbang kota tidak jauh dari sana beberapa kelompok yang berjumlah puluhan orang menghadang mereka.


"Berhenti kalian, serahkan semua barang bawaan kalian, atau nyawa kalian sebagai gantinya!'' Seorang pria mengenakan topeng diwajahnya menghentikan perjalanan kelompok Davin.


"Tuan Gordan hentikan sandiwaramu itu, bagaimana kabar para pengawalmu tempo hari.'' Kata Vorgan 1 yang mengenali Gordan dengan mudah.


"Hahaha. Sepertinya aku sudah ketahuan. Kalian telah mempermalukanku di depan restoran kota Mirion, akan aku balas kalian disini. Aku beri dua pilihan. Serahkan gadis itu dan harta kalian. mungkin aku akan mengampuni nyawa kalian dan hanya membuat sedikit cacat pada tubuh kalian.


Atau serahkan semua nyawa kalian, tentunya aku akan tetap membawa gadis itu dan harta kalian. Bagaimana, bukankah itu pilihan yang tidak terlalu buruk untuk kalian? Hahaha.'' Kata Gordan membuka topengnya.


"Inikah sikap putra dari walikota Mirion? Sungguh tindakan yang sangat tidak terpuji.'' Kata Vorgan 1.


"Davin Ada apa diluar sana, kenapa kereta tiba-tiba berhenti?'' Tanya Liyana.


"Selesaikan dengan cepat. Jangan buat Liyana menunggu terlalu lama!'' Kata Davin kepada Vorgan 1 lewat gelang galaksinya.


"Baik tuan mohon tunggu sebentar.'' Jawab Vorgan 1.


"Tidak perlu khawatir Liyana kita akan segera melanjutkan perjalanan kekota selanjutnya.'' Kata Davin kepada Liyana.


Suara pukulan terdengar dari dalam kereta.


Setelah beberapa saat.


tok, tok


Suara ketukan pintu kereta.


"Tuan Davin mari kita lanjutkan perjalanan.'' Kata Vorgan 1 melapor. Kini Davin sudah bersiap kembali melanjutkan perjalanan.


Seorang pria berlari kearah orang-orang yang tergeletak ditanah. Setelah tiba, dengan terengah-engah pria itu mencoba perlahan mengatur nafasnya.


"hah.huh.hah. Ga. Gawat tuan muda. Orang yang akan anda cegat bukan orang biasa. Dia adalah penguasa desa Vorgan, orang yang telah berhasil menghadang pasukan dari Kerajaan Sabbia. Anda harus segera pergi sebelum semua terlambat.'' Kata pria itu yang telah berhasil mencari informasi dari Davin.


"Apa kau bilang! Sial! Sangat ceroboh! Jika mereka serius mungkin tidak akan ada yang tersisa dari kita. Lain kali aku harus lebih berhati-hati. Sekarang kau bantu mereka semua gunakan karavan yang ada dibalik bukit itu untuk membawa mereka kembali ke kota!'' Perintah Gordan.

__ADS_1


"Maksud anda? Jadi anda sudah terlanjur mencegat mereka. Dan aku pikir kalian sedang menunggu kedatangan mereka.'' Kata pria itu yang baru tersadar jika Gordan dan orang-orang yang ada disana bukan sedang menunggu, melainkan sudah tergeletak babak belur dengan beberapa ada yang memiliki patah tulang.


"Cepat lakukan perintahku! Rahangku sudah hampir hancur.'' Kata Gordan sambil menahan rasa sakit dirahangnya.


"Ba. Baik tuan muda.'' Pria itu langsung pergi untuk melaksanakan perintah.


***


Berita tentang sebuah desa yang mampu menahan dan bahkan mengalahkan pasukan penyerang kerajaan Sabbia menyebar dengan cepat, terutama dikota-kota besar kerjaan Dolham.


Itu berpengaruh besar pada sektor perdagangan. Semua jenis produk yang dibuat oleh desa Vorgan selalu diburu oleh pedagang maupun pembeli.


Padahal dari desa Vorgan sudah mematok harga yang cukup tinggi, namun itu sama sekali tidak menyurutkan para pembeli untuk mendapatkan barang mereka.


Para pengerajin dan penempa tidak meningkatkan jumlah produk yang mereka buat. Hal itu mereka lakukan agar produk yang mereka buat selalu dalam kualitas terbaik.


Stok dan produk yang dibuat selalu terbatas menjadi alasan tertentu bagi para pembeli untuk selalu lebih cepat dalam mendapatkannya.


Kerjasama dari berbagai pedagang selalu melalui seleksi yang ketat oleh Staff yang mengurus perdagangan dari desa Vorgan. Hal itu dilakukan agar bahan yang dikirim para pedagang dari luar selalu yang terbaik.


Dalam 2 hari saja produk yang tadinya belum sempat mereka kirim kepedagang, langsung habis setelah tiba dikota Alana.


Mereka yang berasal dari desa Vorgan akan dihargai dan dihormati dimanapun mereka berada, layaknya seorang pahlawan.


Davin sudah mengetahui jika sesuatu yang besar akan terjadi setelah Davin berhasil mengalahkan pasukan Sabbia. Namun dia meminta kepada seluruh prajurit Vorgan untuk tidak menunjukkan darimana mereka berasal.


Davin melakukan hal itu agar perjalanannya tetap nyaman dan bebas dari para pejabat maupun bangsawan yang nantinya dapat menghambat perjalanan mereka.


Perjalanan Davin menuju kota selanjutnya tidak memiliki kendala apapun. Hanya melewati perbukitan dan turunan tajam yang tidak menjadi masalah serius.


Hari sudah siang, namun perjalanan masih jauh dari kota berikutnya. Davin memutuskan berhenti sejenak untuk memakan bekal yang mereka bawa dari kota Mirion.


Di bawah pohon yang cukup rindang.


"Hmm. Roti ini masih harum dan hangat, padahal kita sudah membawanya sejak semalam. Kamu memiliki sihir penyimpanan yang bisa menjaganya tetap pada kondisi semula.'' Kata Liyana.


"Ahh. Itu bukan apa-apa, aku bisa melakukan sihir yang lebih hebat dari pada ini.'' Kata Davin menyombongkan diri.


"Benarkah itu, apa aku juga bisa melakukan sihir.'Tanya Liyana.

__ADS_1


Bersambung


.


__ADS_2