Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 21


__ADS_3

Mendapatkan Pasukan


100 pasukan berkuda mengenakan Zirah berkilau memantulkan cahaya matahari, tampak jelas terlihat dari kejauhan sedang menuju ke arah desa Vorgan.


Membuat beberapa bekerja berhenti sejenak melakukan kegiatan karena seratus pasukan menarik perhatian mereka. Namun tak lama para pekerja sudah melakukan pekerjaan mereka kembali tak menghiraukan lagi para pasukan yang datang.


Tepat di depan gerbang desa yang seluruh gerbangnya sudah selesai dibangun, namun untuk kanan dan kiri tembok masih dalam tahap pembangunan. Seorang prajurit menghampiri seorang penjaga, itu adalah Vorgan 2. Prajurit Vorgan yang bertugas untuk menjaga gerbang.


Seorang Prajurit turun dari kudanya menghampiri Vorgan 2.


"Saya Hector Kami pasukan dari kota Helior diperintahkan oleh walikota Elderick untuk melindungi desa Vorgan dari serangan para bandit.'' Kata seorang prajurit yang merupakan kapten pasukan.


"Mohon maaf, saya diperintahkan hanya mengijinkan mereka yang membawa material dan persediaan bahan makanan yang di perbolehkan memasuki desa. Untuk alasan tersebut saya tidak dapat mengijinkan pasukanmu masuk.'' Kata Vorgan 2 tetap berdiri tegak pada posisinya.


"Kapten, orang ini sangat sombong sekali. Hanyalah prajurit rendahan tidak menyambut pasukan kota dengan layak. Sudahlah kita masuk saja tak perlu hiraukan orang ini.'' 5 orang prajurit tampak kesal dengan sikap Vorgan, turun dari kuda mereka dan menghampiri gerbang desa bermaksud untuk membukanya sendiri.


Belum sempat mereka menyentuh gerbang, tubuh mereka berlima sudah terhempas jauh dari gerbang kembali ke kawanan pasukan mereka.


Hector tampak kebingungan dengan kejadian tersebut. Pasalnya Vorgan 2 yang berada didepannya sangat cepat sudah berada di gerbang dan menghempaskan beberapa prajuritnya. Lalu Vorgan 2 dengan cepat pula sudah kembali Keposisi awalnya.


Hector tercengan dengan kecepatan dan kekuatan prajurit yang menjaga gerbang.


Sontak Hector mundur kebelakang, semua pasukan bersiap ke posisi menyerang.


"Melawan dan menyerang pasukan kota sama saja dengan perbuatan kriminal, kamu bisa dianggap sebagai pemberontak.'' Kata Hector memberi isyarat kepada pasukanya untuk bersiap menyerang.


Tombak dan pedang para prajurit mengacung ke arah Vorgan 2. Semua prajurit kota tampak waspada, orang yang ada didepan mereka bukan prajurit biasa.


bom.bom.bom.bom.


4 prajurit dengan zirah yang sama mendarat dari lompatan tinggi melewati gerbang kota, berdiri di samping Vorgan 2.


"Cukup tunjukkan kemampuan kita jangan membunuh, tuan Davin membutuhkan mereka.'' Kata Vorgan 1 kepada prajurit Vorgan yang lain.


"Kalian benar-benar ingin memberontak kepada walikota. Pemanah tembak.'' Kapten pasukan kota memberikan perintah kepada pasukan pemanah.


ting.ting.ting.


Puluhan anak panah menghujani para prajurit Vorgan. Namun tak satupun dari kelima Prajurit Vorgan beranjak dari tempat mereka.

__ADS_1


Tak satu pun anak panah yang mampu menembus dan bersarang pada zirah mereka.


Merasa anak panah tidak berguna Hector memerintahkan melakukan serangan fisik. Puluhan prajurit barisan depan menuju kearah prajurit Vorgan mengacungkan tombak berencana menusukkan mata tombaknya.


bom. bom. bom.


Namun lagi-lagi mereka terlempar jauh bersama kuda tunggangan mereka. Padahal Para prajurit Vorgan hanya menggunakan tinju dan kakinya untuk menghadang mereka.


Kini kelima Vorgan sudah beranjak dari tempatnya menjatuhkan semua prajurit kota dengan sangat cepat.


Tidak ada yang terlewati dari para prajurit kota termasuk kapten mereka yang sudah tersungkur ketanah, dengan luka lebam di muka mereka beberapa juga memiliki patah tulang.


Sebuah lingkaran sihir muncul dari tanah memunculkan seorang gadis cantik berambut hitam dengan tongkat sihir sepanjang 50 cm terdapat kristal berwarna coklat di ujungnya, tongkat itu digenggam erat ditangan kanannya.


Bongkahan tanah seperti lumpur menangkap 3 dari 5 prajurit Vorgan menahan pergerakan mereka. Perlahan lumpur dari kaki merayap menumpuk menutupi setengah tubuh ketiga Prajurit Vorgan dan mulai mengeras.


Kini mereka tertahan sepenuhnya tidak dapat bergerak. Tidak panik sama sekali, ketiga Vorgan tetap tenang berada di tempat mereka.


Gadis itu beralih ke prajurit Vorgan yang lain. Kini mereka berlima tidak dapat bergerak hanya terdiam seakan mematung terselimuti tanah di seluruh tubuh mereka hanya menyisakan kepala mereka.


Hector merasa lebih tenang penyihir mereka dapat menangani prajurit Vorgan tepat waktu sebelum jatuh korban.


"Gadis ini cukup jenius, kombinasi tanah dan air untuk membuat lumpur. Hmm. Sihir yang hebat. Kalian tak perlu melawan gadis itu diam saja aku ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.'' Kata Davin berkomunikasi dengan para prajurit Vorgan melewati gelang galaksinya.


Tentunya zirah yang digunakan prajurit Vorgan juga dapat berkomunikasi jarak jauh antara prajurit satu dengan yang lainnya, begitu pula dengan Davin.


Pasukan kota semuanya telah tumbang. Mereka yang bisa berdiri memapah rekannya yang tak lagi sanggup berdiri. Mereka merasa lega tak ada rekan mereka yang gugur.


Sebuah lingkaran hitam muncul di antara mereka tepat beberapa meter di depan gadis penyihir. Gadis itu langsung bersiap untuk melakukan serangan. Benar saja, saat Davin sudah berada di luar lingkaran teleportasi dari tempatnya berpijak muncul lumpur.


Namun Davin sudah mengetahui hal itu, dia sudah melapisi tanah dengan es seluas 3 meter persegi. Kemana kakinya berpijak maka lapisan es akan mengikutinya.


Lumpur yang dikeluarkan gadis itu hanya bergerak-gerak dibawah lapisan es yang Davin buat.


Gadis itu tidak dapat memunculkan lumpur menembus es. Dikarenakan lumpur bukan benda keras yang dapat memecah es.


Davin mendekati gadis itu yang jika dilihat dari tumbuhnya sepertinya berumur sekitar 15 tahun. Gadis itu dengan panik memunculkan air dari udara yang dilemparkan ke arah davin.


pyuk.pyuk.pyuk.

__ADS_1


Air yang ditembakkan hanya membasahi tubuh Davin tidak ada efek yang lain. Gadis itu juga memunculkan gumpalan tanah di sekitarnya dan melemparkannya ke arah Davin. Namun itu juga hanya mengotori tubuh dan tidak berpengaruh pada Davin. Gadis itu tampak sangat panik, tubuhnya gemetaran. Tidak ada prajurit yang melindungi gadis itu. Salah satu kelemahan mutlak seorang penyihir.


"Gadis cantik perkenalkan aku adalah Davin. Aku sangat menyukai sihir kombinasimu tapi itu masihlah sangat lemah. Apa kau ingin belajar dariku?'' Tanya Davin yang memunculkan sebuah lumpur dari tanah dan terus naik hingga setinggi 5 meter kemudian membentuk sebuah golem besar dari tanah.


Hanya menggerakkan jari telunjuk kekanan dan kekiri golem itu bergerak mengikuti telunjuk Davin. Gadis itu sangat terkejut melihat itu.


"It. Itu sihir penciptaan. Sihir tingkat tinggi di lakukan oleh seorang anak. Dan berapa umurnya, dia masih terlihat jauh lebih muda dariku.'' Gumam gadis itu.


"Ak. Aku Devina memberi hormat kepada guru.'' Kata Devina sang gadis penyihir yang berlutut dihadapan Davin.


"Devina? Davin. Hmm. Dilihat dari namanya saja sepertinya ada sedikit kecocokan di antara kita. Bangkitlah aku pernah memiliki beberapa murid, tapi Mereka tak berlutut padaku. Jadi kau juga tak perlu melakukannya. Itu membuatku agak sedikit canggung.'' Kata Davin mengulurkan tangannya dan di sambut oleh tangan Devina yang kemudian bangkit berdiri.


Prajurit Vorgan kalian bisa melepaskan diri.


krak.krak.krak.bug. Bug. Bug.


Tanah yang menyelimuti para prajurit Vorgan sudah mereka hancurkan dengan mudah. Kini mereka berlima sudah terbebas.


Melihat hal itu prajurit kota yang tersisa mulai bersiaga kembali.


"Apakah kalian tidak kapok dihajar habis-habisan oleh prajuritku. Bagaimana jika kalian mengikuti ku saja. Kemakmuran serta segala sumber daya akan tersedia melimpah bagi kalian. Dan juga kekuatan seperti para prajuritku bukanlah hal mustahil bagi kalian.


Aku beri 2 pilihan untuk kalian pertama pulanglah dan kembali kesini menjemput kematian kalian, yang kedua pulanglah dan jemput keluarga kalian bawa ke desa ini.


Keputusan ada ditangan kalian. Satu hal yang perlu kalian ingat kesempatan tak akan datang untuk yang ke dua kali.'' Davin berkata kepada seluruh pasukan dari kota dengan sikap penuh wibawa dan sedikit aura intimidasi.


Hector yang diikuti semua pasukannya berlutut di hadapan Davin. Mereka melihat kekuatan prajurit Davin, kemakmuran desa Vorgan, dan pula para pekerja yang sangat menyayangi pekerjaannya, bahkan pertempuran di depan mereka pun tak mereka hiraukan, seakan mereka sudah mengetahui hasilnya.


Davin memerintahkan prajurit Vorgan untuk membawa mereka masuk dan memanggil tabib untuk merawat mereka yang terluka.


Perawatan sangat baik dilakukan oleh beberapa tabib terbaik yang Justus bawa dari kota Alana. Dan juga beberapa tanaman yang Davin berikan kepada para tabib sangat mujarab untuk dijadikan sebuah ramuan herbal.


Davin yang tidak begitu mengerti soal tumbuhan hanya menyerahkannya kepada para tabib. Hal itu membuat para tabib seperti menemukan sebuah harta yang tak ternilai harganya.


Semua tumbuhan yang Davin berikan merupakan tumbuhan pengobatan yang sangat langka. Dalam waktu seminggu saja para prajurit kota yang terluka sudah seperti siap untuk bertarung lagi. Bahkan mereka yang patah tulangpun sudah dapat melakukan pergerakan kecil.


Para prajurit kota yang ingin tinggal dipersilahkan dan mereka yang ingin kembali Davin juga tidak melarangnya. Di karenakan para prajurit juga memiliki keluarga yang tentunya ingin mereka lindungi. Membawa keluarga ke desa Vorgan merupakan keputusan yang baik bagi mereka.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2