Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 24


__ADS_3

Pasukan Padang Pasir Kerajaan Sabbia


Hari esok pagi-pagi sekali. Di sebuah padang rumput yang sangat luas di kelilingi hutan, sebuah pasukan berbaris sejajar memanjang kesamping di sebelah timur desa Vorgan. Zirah berwarna emas dan silver metalik berkilau diterpa cahaya matahari pagi, menutupi seluruh bagian tubuh. Sebuah kristal mana tertanam didada masing-masing zirah.


Menunggangi 100 kuda yang juga mengenakan zirah sama berkilaunya dengan penunggangnya. Kuda-kuda terbaik yang dilatih khusus untuk sebuah pertempuran.


Pasukan desa Vorgan.


Di atas kuda menggenggam sebuah tombak panjang menyetuh tanah. Sebuah pedang dipinggang kirinya. Busur silang yang dapat menembakkan 50 anak panah secara beruntun Di letakkan didekat pelana kuda di sebelah kanan.


Tanpa bergerak, tanpa bersuara, desiran angin dan suara burung terdengar jelas dari kejauhan.


Jauh dibelakang para pasukan, Davin bersama Devina, Hector, 3 binatang buas tidak termasuk Grock yang masih memantau pergerakan musuh, dan para prajurit Vorgan mengamati pasukan desa Vorgan.


Sedangkan untuk Justus masih tetap berada didesa, dia tidak begitu tertarik dengan pertempuran dan lebih memilih mengurus desa.


Seekor alligator berlari melesat diantara rerumputan menuju pasukan dari desa Vorgan. Mengetahui itu adalah Grock beberapa prajurit memberi jalan.


Grock melewati pasukan dan terus berlari ketempat Davin. Menghirup udara dan melepaskannya. "Tuan Davin mereka akan segera tiba.'' Grock melapor kepada Davin.


"Hector bersiaplah, mereka hampir tiba. Mari kita semua juga menuju kesana.'' Perintah Davin.


Menggunakan masing-masing kuda mereka menuju tidak jauh dibelakang barisan pasukan.


Sebuah gemuruh suara terdengar dari kejauhan. Ribuan pasukan berkuda mulai terlihat menuju kearah padang rumput.


"Lapor Jendral, tepat didepan sana terdapat pasukan yang sedang menghadang kita. Seprtinya itu merupakan pasukan sebuah kota dari kerajaan Dolham.'' Kata seorang prajurit yang melapor ke seorang jendral.


"Dari peta dan informasi yang kita dapatkan, didepan sana hanyalah ada sebuah desa yang miskin. Apakah penyerbuan kita sudah di ketahui. Berapa banyak jumlah mereka, kita harus segera membuka jalan dan menduduki desa miskin itu untuk pasukan utama kita yang sebentar lagi akan menyusul kita.'' Kata sang jendral.


"Sepertinya mereka tidak tahu jika kita membawa pasukan dengan ribuan prajurit. Dari hasil pengamatan kami mereka mencegat kita hanya dengan 1 pasukan yang terdiri dari 100 prajurit saja.'' Kata prajurit itu.


"Kirim pembawa pesan. Jika mereka tidak mau menyerah maka bunuh mereka semua, jangan ada yang lolos. Lakukan dengan cepat.'' Perintah sang Jendral.


Sebuah kuda dengan seorang tanpa zirah menuju pasukan desa dari arah musuh.


"Saya adalah pembawa pesan dari Jendral pasukan padang pasir kerajaan Sabbia. Memerintahkan kalian untuk tunduk atau kematian akan menuju kalian.'' Kata pembawa pesan itu. seorang prajurit desa Vorgan langsung pergi menyampaikan pesan itu kepada Davin.


"Tuan Davin mereka mengirim pembawa pesan, jika kita tidak ingin menyerah maka kita tidak akan dibiarkan hidup.'' Kata salah seorang prajurit.

__ADS_1


"Katakan kepada pembawa pesan itu. Jauhi desa atau kehancuran menanti mereka.'' Perintah Davin.


"Beraninya mereka menentang kita. Kirimkan sebuah pasukan secara langsung hancurkan mereka jangan ada yang tersisa.'' Perintah sang jendral.


"Tuan mereka mulai bergerak. 500 prajurit sudah mengambil posisi.'' Hector memberi laporan menggunakan komunikasi jarak jauh dari helemnya.


"Tunjukkan kemampuan pasukanmu kapten Hector! Kata Davin.


Pasukan Hektor tetap diam berdiri di tempatnya, dengan Hector berada di belakang mereka.


seraaaang!!


Kapten pasukan kerajaan Sabbia memberikan perintah. 500 prajurit berkuda langsung menyerang pasukan Hector.


suut. suut. suut. jleb.jleb.jleb.


Pasukan Hector menembakkan panah secara beruntun menembus zirah musuh dengan mudah. Membunuh banyak dari mereka. Menyadari hal itu pasukan Sabbia langsung menjauh dari jangkauan panah.


Namun hal itu tidak cukup berarti. Busur di arahkan ke atas dan jangkauan menjadi lebih jauh. Alhasil separuh dari 500 prajurit Sabbia dapat dikalahkan. Namun untuk prajurit paling belakang masih bisa selamat dari anak panah.


Kapten memberikan perintah dari prajurit Sabbia yang tersisa untuk tidak bergerak dari tempat mereka.


Kini pasukan Sabbia menyerang kembali, namun kali ini mereka menggunakan penyihir untuk menghalau tepatnya membuat pelindung seperti tameng raksasa yang menghalau serangan dari udara.


"Mereka hanya bisa memanah, tak akan mungkin bisa melawan pasukan kavaleri. Tamatlah kalian.'' Gumam kapten pasukan Sabbia.


Menyadari serangan panah tidak mempan bagi musuh, Hecktor memerintahkan pasukannya menggunakan tombak. Membawa kuda perlahan kedepan para prajurit Hector mengacungkan tombaknya bersiap menusuk lawan.


Sedangkan musuh sudah mulai mendekat. Pelindung kini sudah dihilangkan. Bentrok antara dua pasukan sudah tak terhindarkan.


Menusuk badan, menusuk kepala, menusuk kuda. Para prajurit Hector dengan mudahnya menusukkan tombak ke musuh.


Para prajurit Sabbia tidak dapat melakukan perlawanan. Serangan prajurit Hector sangat cepat dan akurat. Penyihir mereka juga sudah berada jauh dari jangkauan sihirnya sehingga sudah tidak dapat membantu pasukannya.


Dengan sekejap Pasukan Hektor sudah mengalahkan semua musuh yang menyerang. Bahkan kapten mereka belum sempat mundur namun sudah tertusuk tombak yang melayang kearahnya. Kini pasukan Hector sudah kembali ketempat semula.


"Strategi yang Hector buat sudah semakin kuat. Setelah ini pertempuran sebenarnya akan segera di mulai. Gadisku untuk yang selanjutnya kamu bisa sedikit ikut campur. Bergabunglah dengan mereka. Bawa mereka juga untuk melindungi mu. Dan untuk kalian, jangan biarkan mereka mendekati gadisku.'' Kata Davin kepada Devina, dan juga memerintahkan ke empat pengikutnya untuk melindungi Devina.


"Siapa yang kau sebut dengan gadismu itu! Hariric, Trais, Berthor, Grock. Ayo kita pergi.'' Kata Devina. Dengan seekor kuda yang ditunggangi mereka berlima kini sudah berada di belakang barisan pasukan.

__ADS_1


"Vorgan 1, bawa prajuritmu bantulah Hector. Kita belum tau kekuatan penyihir mereka.


"Trik apa yang mereka gunakan, mana mungkin 500 prajuritku dikalahkan dengan mudah hanya oleh 100 prajurit desa itu. Bawa seluruh pasukan dan juga semua ketapel kita. Kita hancurkan mereka semua. Panggil juga para penyihir.'' Perintah Jendral pasukan Sabbia merasa geram sangat dipermalukan oleh sebuah desa miskin.


"Apakah mereka benar-benar berasal dari desa miskin?'' Pikir Sang jendral.


Sebuah pasukan dengan ribuan prajurit berbaris rapi di sebuah padang rumput luas yang sebagian sudah menjadi tanah tandus karena sudah menjadi arena pertempuran.


Setelah mayat musuh sudah dibereskan dari area. Mereka sudah bersiap melakukan sebuah serangan susulan.


Hari sudah menjelang siang, matahari sangat terik berada tepat di atas kepala mereka. Namun bagi pasukan desa Vorgan itu tidaklah sebuah masalah bagi mereka.


Kedua pasukan berada di kedua sisi siap dengan senjata mereka masing-masing. 3 buah ketapel besar yang di seret menggunakan banyak kuda sudah mulai disiapkan diisi menggunakan batu bulat yang besar masih berada jauh dari musuh.


wuung.wuung.wuung.


Ketiga ketapel melemparkan 3 batu besar kearah pasukan Vorgan. Pasukan Vorgan tidak bergeming sama sekali. Mereka masih berada pada posisinya.


Tiga batu besar melayang di udara salah satunya jatuh di depan pasukan Vorgan. Namun tidak berhenti disana, karena bentuknya yang bulat batu itu menggelinding cepat ke arah pasukan Vorgan.


boom.


Batu yang menggelinding itu hancur sebelum sampai ke barisan pasukan.


boom. boom.


Kedua batu yang masih melayang hancur di udara sebelum jatuh ketanah.


Itu adalah para prajurit Vorgan. Menghancurkan batu dengan katana mereka.


Semua pasukan musuh termasuk Jendral merasa ada penyihir yang dapat menghalau serangan mereka. Merasa itu hal yang tidak berguna. Mereka mulai melakukan pergerakan dengan mengirimkan pemanah mereka menuju kejangkauan panah.


Belum sampai ke jangkauan mereka. Para pemanah dari pasukan Sabbia sudah di hujani oleh panah dari langit. Dengan sigap penyihir memberikan perlindungan dari udara. Panah yang menghujani para pemanah itu mengenai pelindung dan jatuh ketanah.


"Anak panah yang mereka gunakan sama seperti pada umumnya. Sepertinya itu adalah busur yang mereka gunakan. Sangat menakjubkan, hanya dengan 100 pemanah mereka dapat memunculkan ratusan anak panah dalam sekali serang. Jangkauannya pun cukup jauh.


Tak hanya memanah, bahkan mereka juga pengguna tombak, apa mereka bisa menggunakan semua jenis senjata? Jika semua pasukan dari kerajaan Dolham seperti mereka, tidak akan mungkin Kerajaan Sabbia bisa menaklukkan Kerajaan Dolham.'' Gumam sang jendral yang takjub dengan pemanah dari pasukan musuh. Dan mulai merasa bimbang dengan penyerangan yang mereka lakukan.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2