Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 31


__ADS_3

Siapa Kalian


Sebuah kereta yang ditarik dengan 4 kuda berhenti di depan sebuah restoran. Pria yang terlihat seperti kesatria dengan pedang panjang dipinggang kirinya, tubuhnya dibalut mantel hitam berbulu menutupi seluruh badannya. Berdiri disamping kereta hendak membukakan pintu kereta.


Seorang laki-laki tampan turun dari kereta, tangan kanan laki-laki itu menengadah kearah pintu kereta.


Sebuah tangan putih halus dan mulus menggapai telapak tangan laki-laki itu.


Seorang gadis yang mengenakan mantel berbulu putih dan mengenakan cadar sebagai penutup hidung hingga mulutnya turun dari kereta menggandeng seorang tangan laki-laki.


Sebuah keindahan meskipun tertutup sebuah cadar terlihat dari mata biru indah kulit putih halus dan rambut yang terurai sangat cantik.


Seperti layaknya seorang bangsawan dengan para pengawalnya. Davin berjalan memasuki pintu restoran menggandeng Liyana yang berada disampingnya.


Sebuah koin emas dilemparkan oleh Vorgan 1. "Urus kereta dan kuda kami.'' Kata Vorgan 1 kepada seseorang yang berdiri disamping pintu masuk restoran.


Vorgan 4 dan Vorgan 5 sudah berdiri di depan pintu dan membukakan pintu untuk Davin dan Liyana.


Di dalam restoran Vorgan 2 sudah mendapatkan 2 meja yang bersebelahan.


Semua mata tertuju kepada pasangan muda yang baru saja memasuki restoran. Pasangan tampan dan cantik sungguh sangat serasi satu sama lain.


Di sebuah meja Davin duduk berhadapan dengan Liyana, disebelah mereka dimeja yang lain kelima prajurit Vorgan duduk disatu meja.


Ketampanan terpancar oleh 5 orang pemuda dari sebuah meja. Itu adalah kelima Vorgan melepas penutup kepala mereka bersiap untuk memesan makanan.


"Siapa mereka itu?''


"Apakah mereka bangsawan dari kota lain?''


"Sangat jarang seorang keturunan bangsawan hanya dilindungi oleh sedikit pengawalan.''


"Dari pakaian yang mereka kenakan sepertinya mereka hanya berasal dari kota kecil, sepertinya mereka hanya berasal dari bangsawan kecil.''


Pembicaraan dan tatapan mata tak hentinya terfokus kepada Gerombolan Davin.


"Tuan dan Nona ingin memesan apa?'' Seorang pelayan menghampiri mereka berdua. Dan pelayan lain menghampiri meja Prajurit Vorgan.


"Aku ingin makanan yang sering dipesan orang-orang di restoran ini. Bagaimana denganmu Liyana?'' Kata Davin


"Aku juga sama denganmu.'' Jawab Liyana

__ADS_1


Tak lama makanan yang mereka pesan sudah dihidangkan dimeja mereka.


"Makanan ditempat ini tidak buruk. Butuh perlakuan khusus pada bahan makanan mereka, mungkin cita rasa dari makanan ini akan lebih baik.'' Kata Davin


"Aku rasa makanan direstoran desa Vorgan masih yang terbaik.'' Kata Liyana, menyantab makanannya tanpa melepas cadar yang dia kenakan.


brak


Suara pintu yang terbuka sangat keras terdorong dari luar. Seorang pria bertubuh besar dan kekar memasuki restoran. Di belakangnya ada seorang pemuda juga berjalan masuk kedalam restoran di ikuti oleh beberapa pria yang sepertinya adalah pengawalnya.


Dengan sikap sombong pria itu berjalan menuju salah satu meja, diikuti oleh para pengawalnya. Pakaian yang mewah menunjukkan jika dirinya merupakan seorang dari keluarga bangsawan.


Terlihat beberapa pengunjung yang berada dekat di meja pemuda itu pergi menjauh. Seorang pelayan dengan gemetaran menghampiri pemuda tersebut.


Davin yang berada dimeja yang tidak jauh dari sana hanya melihat sekilas lalu mengabaikannya, lebih memilih untuk melanjutkan makan siangnya.


Namun tidak dengan pemuda sombong yang duduk dimeja lain dari sana. Pemuda itu menatap kemeja dimana Davin berada, namun tatapannya menuju kearah Liyana.


Air liur yang hampir menetes namun dengan cepat menyesapnya dan menelannya dengan kasar. Pemuda itu tidak dapat menahan diri untuk tidak menghampiri Liyana.


Meskipun tertutup dengan cadar pemuda itu masih dapat mengetahui aura kecantikan yang terlihat dari kulit halus dan mata indah Liyana.


"Selamat siang nona, perkenalkan, namaku Gordan putra dari pemilik kota megah ini.'' Kata pemuda yang bernama Gordan itu. Tubuhnya sedikit membungkuk tangan kirinya berada di belakang punggung, sedang tangan kanannya menengadah kearah Liyana.


Dengan cepat Vorgan 1 sudah berada dihadapan Gordan. "Maaf tuan Gordan, anda telah menggangu makan siang seseorang. Silahkan kembali ketempat duduk anda.'' Kata Vorgan 1 yang nenghadang Gordan.


"Pengawal kecil sepertimu beraninya menghadangku, apa kalian tidak tau siapa aku ini?'' Gordan menjentikkan jarinya. Ada sekitar 10 pengawal termasuk pria dengan tubuh besar dan kekar berdiri dari kursi mereka.


Merasa terprovokasi semua prajurit Vorgan juga berdiri dari tempat duduk mereka.


Masih ditempat duduknya Davin mengetuk-ngetukkan keempat jarinya diatas meja. Vorgan 1 kini sudah tau jelas jika tuannya Davin sudah sangat tidak nyaman dengan makan siangnya.


"Kalian ingin pertarungan? Mari kita selesaikan diluar.'' Kata Vorgan 1


"Kalian para pengawal kecil ingin melawan kami Hahaha.'' Pria kekar berkata diikuti gelak tawa dari para pengawal Gordan.


"Kalian semua lakukan dengan cepat aku sudah tidak sabar ingin mengajak pergi gadis mungil itu.'' Perintah Gordan kepada para pengawalnya.


Vorgan 1 memerintahkan keempat Vorgan untuk meladeni para pengawal Gordan diluar restoran. Gordan duduk sendiri disalah satu kursi yang mejanya terletak tidak jauh dari meja Davin.


Sedangkan untuk Vorgan 1 masih berdiri disamping meja Davin menjaga kenyamanan makan siang Davin dan Liyana.

__ADS_1


"Sepertinya bangsawan kecil itu akan bernasib buruk berani melawan tuan muda Gordan.'' Suara-suara kecil dan lirih bermunculan oleh pengunjung yang berada dari meja disudut-sudut restoran.


Tak selang beberapa lama keempat Vorgan sudah kembali memasuki restoran.


Keterkejutan terlihat dari wajah Gordan. "Lebih cepat dari dugaanku. tapi mereka tampak baik-baik saja, sepertinya mereka lebih memilih untuk menyerah dan meminta ampun, Hahaha. Kini saatnya membawa gadis itu.


"Maaf tuan Gordan anda tidak boleh mendekati meja tuan kami.'' Kata Vorgan 1 yang kembali mencegah Gordan untuk mendekati meja Davin.


"Apa kau tidak melihat para bawahanmu sudah sangat ketakutan sehingga lebih memilih menyerah dan kembali ketempat duduk mereka. Jadi menyingkirlah atau para pengawalku akan benar-benar membuat cacat kalian semua!'' Gordan tampak sangat marah.


"Lebih baik anda pergi untuk merawat para pengawal anda sebelum terlambat!'' Kata Vorgan 1.


Menyadari akan sesuatu hal Gordan merasa panik. Pengawal yang berada diluar tidak kunjung kembali. Dan melihat wajah para Vorgan tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.


Sontak Gordan langsung menuju pintu keluar restoran. Benar saja semua pengawalnya sudah tergeletak ditanah. Beberapa ada yang sudah tak sadarkan diri.


Gordan yang panik langsung memanggil para penjaga kota yang saat itu berpratoli melewati area restoran untuk mengurus para pengawalnya.


"Siapa mereka itu, aku belum pernah melihatnya. Bahkan para pengawal elitku dapat dihabisinya hanya dalam sekejap. Apa mereka bangsawan dari kerajaan yang sedang menyamar. Ah. tidak. tidak. tidak. itu tidak mungkin. Aku harus menyelidiki lebih lanjut. Jika itu memang benar aku hanya cukup melenyapkan mereka sebelum kerajaan mengetahuinya.''


Kata Gordan keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya. Kini dirinya sudah pergi membawa para pengawalnya yang sudah tekapar dengan rasa yang bercampur aduk didalam hatinya.


"Tuan Davin, nona Liyana silahkan melanjutkan makan siang anda.'' Kata Vorgan langsung kembali kemeja dimana Vorgan yang lain berada untuk melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda.


"Davin kita ingin melanjutkan perjalanan atau mungkin bermalam saja dikota ini dan melanjutkan perjalanan esok pagi?'' Tanya Liyana.


"Aku sudah berjanji untuk mengajakmu keliling kota ini, setelah itu kita bermalam saja dikota ini kita lanjutkan perjalanan esok saja. Kalau kau sudah selesai kita pergi saja sekarang.'' Kata Davin, Liyana langsung menganggukan kepalanya.


Satu Batang emas diletakkan diatas meja oleh Vorgan 1. Lagi-lagi keterkejutan terjadi dari para pengunjung yang lain karena sebuah batang emas diletakkan dimeja sebagai pembayaran makanan mereka.


Pasalnya satu batang emas dapat membayar semua makanan pengunjung selama satu hari disana. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berani menyentuh bahkan mengambil batang emas itu.


Davin Dan Liyana keluar dari restoran untuk mulai pergi berkeliling kota. Vorgan 1 bertugas penuh mengawal kenyamanan mereka.


Vorgan 2 bertugas mengurus penginapan. Sedangkan ketiga Vorgan yang lain menjaga jarak dari Davin dan Liyana dan memantau dari kejauhan agar kenyamanan mereka tidak terganggu.


Mereka menuju kepusat perdagangan yang berada tidak jauh dari restoran. Liyana tampak sangat senang dengan perjalanannya.


Banyak barang-barang yang Liyana suka dan inginkan. Namun mengingat itu akan membuat barang bawaan mereka menjadi lebih banyak Liyana mengurungkan niat. Dan hanya membeli barang-barang yang sekiranya benar-benar dia inginkan.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2