
Kemenangan Vorgan
2500 prajurit bersama 5 penyihir tingkat menengah menyerang bersama jendral mereka. Menunggangi kuda berjalan perlahan ke arah musuh. Pasukan kerajaan Sabbia mengerahkan seluruh kekuatannya menyerang pasukan yang ada didepan mereka yang jumlahnya hanya 100 prajurit.
Jendral Rohan, salah satu jendral yang dipercaya memimpin pasukan untuk membuka jalan pasukan utama. Tidak pernah menyangka jika mereka melewati jalur yang seharusnya itu akan sangat mudah untuk dihadapi, namun kenyataannya mereka harus kehilangan 500 prajurit tanpa perlawanan.
Cukup terpukul dengan kerugian yang cukup besar, Jendral Rohan lantas mengerahkan seluruh pasukan yang tersisa secara langsung.
Sebuah kubah transparan raksasa namun masih terlihat jika ada pelindung disana melindungi seluruh pasukan Sabbia dari serangan panah musuh. Meskipun tidak ada lagi panah yang menghujani pasukan mereka, penyihir itu tidak mengendurkan perlindungannya.
Dari kubu pasukan Vorgan 100 prajurit masih duduk tenang di masing-masing kuda mereka. Menunggu perintah dari Hector kapten mereka.
Di belakang pasukan Vorgan Hector bersama dengan para prajurit Vorgan dan juga Devina masih tetap tenang. Belum melakukan pergerakan apapun.
Pasukan Sabbia semakin mendekat. Kini Hector memerintahkan pasukannya turun dari kuda.
Menancapkan ujung tombaknya ke tanah, pasukan Hector bersiap untuk menggunakan pedang mereka. Berjalan perlahan serempak menuju pertempuran. Tidak ada yang dapat menghentikan kedua belah pihak.
Devina masih dengan kudanya juga mengikuti pasukan bersama prajurit Vorgan dari belakang. Prajurit Vorgan pun meninggalkan kuda mereka.
Sebuah bola api besar melayang ke arah pasukan Vorgan.
boom.
Suara ledakan membakar sekitar kala bola api itu menyentuh tanah. Tidak ada satu pun dari para pasukan yang terkena imbasnya. Itu karena jumlah dari pasukan Vorgan dan kelimpahan mereka. Sehingga membidik dengan bola api besar merupakan hal yang sia-sia.
Pelindung yang penyihir pasukan Sabbia buat telah dihilangkan. Kini mereka memacu kudanya dengan cepat menuju pasukan Vorgan.
Tak mau kalah. Para pasukan Vorgan menyebar di kedua sisi kanan dan kiri. Kristal mana mulai aktif dari dada zirah mereka. Membuat pergerakan mereka lebih cepat.
Sedangkan prajurit Vorgan bersama Devina mengurus bagian tengah.
serang.
Teriakan dari masing-masing prajurit menghiasi derap kaki kuda yang berlari.
Devina langsung memunculkan Lumpur dan menenggelamkan banyak prajurit, dan langsung menghilangkan unsur air dari lumpurnya. Sehingga banyak prajurit dari musuh yang terjebak.
Bekerjasama dengan Vorgan 4 yang memiliki akurasi penuh dan kecepatan dalam menebas. Tidak membuang banyak waktu Vorgan 4 bergegas menebas puluhan prajurit yang terjebak didalam tanah.
__ADS_1
Sedangkan bagi penyihir pasukan Sabbia tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Jumlah musuh yang sedikit dan berada di antara prajurit lainnya membuat mereka sulit untuk membidik.
Pasalnya penyihir hanya dapat mengeluarkan sihir besar yang dampaknya luas. Sehingga didalam pertempuran seperti ini mereka tidak dapat berbuat banyak.
Para prajurit Vorgan dan pasukan Hecktor menjatuhkan banyak musuh. Memotong mereka dengan sangat brutal seperti tahu. Bahkan tebalnya zirah yang para prajurit Sabbia kenakan bukanlah sebuah masalah besar.
Satu dari mereka dapat mengalahkan puluhan prajurit Sabbia dengan sekejap. Tidak ada mata pedang atau pun ujung tombak yang dapat menembus zirah prajurit dari Vorgan.
Sang Jendral dari pasukan Sabbia yaitu jendral Rohan juga begitu kualahan yang hanya menghadapi satu prajurit pasukan Hecktor. Meskipun mengepung dengan puluhan prajuritnya, tetap saja mereka yang mengepepung akan berakhir dengan kematian.
Dari kejauhan 2 penyihir melihat seorang penyihir dari pasukan Vorgan yang sendirian tanpa perlindungan apapun. Seperti sebuah kesempatan emas.
Sebuah angin yang membentuk pusaran dari debu muncul dihadapan Devina. Memunculkan seorang penyihir wanita, mahkota yang terbuat dari kristal bening bertengger di kepalanya. Di belakang Devina sudah berdiri penyihir lain yang membawa bola kristal hitam transparan melayang dari telapak tangan kirinya.
Memberi isarat kepada beberapa prajurit yang lain. 2 Penyihir dan beberapa prajurit itu mengepepung Devina.
Sebuah petir menyambar dari penyihir yang membawa bola kristal. Sebuah tembok memblokir serangan petir. Devina sudah membentuk tanah menjadi tameng dibelakangnya.
Kini Devina memunculkan empat tembok tanah yang cukup besar mengelilinginya, bersamaan dengan itu Devina juga mengubah tanah yang di pijak mereka menjadi lumpur menenggelamkan kaki mereka.
Bersamaan dengan mengerasnya lumpur di kaki mereka Devina menjatuhkan keempat tembok besar ke para prajurit Sabbia.
bang.
Begitu pula dengan kedua penyihir yang menggunakan sihir mereka untuk melepaskan diri.
Badai pasir tiba-tiba muncul dan menuju ke arah Devina. Tidak sempat untuk mengelak Devina sudah terpojok. Devina hanya bisa menutup mata karena pasir yang terbawa angin mulai mendekat.
Roar.
Teriakan yang cukup keras membuat tornado besar menarik semua pasir. Trais kembali kewujud aslinya menciptakan sebuah tornado besar, berbenturan dengan badai pasir. Sesaat badai dan tornado menghilang membuat hujan pasir diarea itu.
Tidak hanya Trais ketiga binatang buas yang lain juga kembali kewujud asli mereka. Ini membuat keterkejutan kesemua prajurit Sabbia yang melihatnya.
"Bagaimana bisa binatang buas dari hutan Aldous berada disini? Kita akan sulit untuk melawan mereka. Lebih baik kita kembali ke pasukan yang lain.'' Kata seorang penyihir yang membawa bola kristal.
"Kalian tidak akan pergi kemana-mana.'' Kata Grock.
Sekejap tanah yang di pijak oleh penyihir yang membawa bola kristal berubah menjadi lantai es. Tidak hanya itu, dinding es muncul keempat sisinya dan atapnya mengurungnya.
__ADS_1
Mencoba mengeluarkan sihir petirnya, namun itu tidaklah berguna. Grock berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Menangkupkan kedua kaki depannya yang dipenuhi kuku-kuku yang tajam.
krak.tuss.
Suara tulang dan sesuatu yang pecah terdengar dari dalam kubus es yang semakin lama mengecil menghimpit penyihir itu. Perlahan kubus es yang mencair bercampur dengan darah membasahi tanah disana.
Begitu pula dengan penyihir badai pasir itu mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dari rekannya karena perlakuan Berthor.
Para binatang buas hanya berada disisi Devina untuk melindunginya.
Separuh lebih pasukan yang dipimpin oleh jendral Rohan telah dikalahkan. Dia menarik kembali pasukan, prajurit yang tersisa mundur dari pertempuran.
Davin memerintahkan pasukan Vorgan tidak mengejar mereka yang mundur, melainkan membiarkan mereka pergi.
Davin muncul tepat di hadapan jendral Rohan, membuat sang jendral bersiaga dan langsung menghunuskan pedangnya kearah Davin.
tang.
"Aku menemuimu hanya untuk berterimakasih karena telah memberikan pelatihan untuk para pasukanku. Untuk kali ini aku akan melepaskan kalian. Dan beri tahu kepada pasukan kalian yang belum datang. Jangan pernah mengusik desa Vorgan! Satu hal lagi bawa para prajuritmu yang gugur dimedan perang.'' Kata Davin melepaskan aura membunuhnya menangkap pedang Rohan dengan kedua jarinya dan mematahkannya.
Rohan merasa sangat ketakutan. Seperti melihat malaikat kematian didepan matanya.
Lubang hitam muncul dari tempat Davin berpijak. Membuat Davin terhisap kelubang dan menghilang dari hadapan Rohan.
"Siapa sebenarnya orang itu, aku telah menyinggung orang yang salah.'' Kata Rohan dalam pikirannya.
Rohan berlutut tertunduk ditanah, keringat dingin bercucuran dari dahinya. Selama dia menjadi prajurit kerajaan dan di angkat menjadi jendral, dia belum pernah mengalami hal segila ini.
Rohan lantas melakukan apa yang diperintahkan oleh Davin. Kemudian kembali ketempat awal mereka mendirikan kamp.
Rohan mengurus prajurit yang gugur di pertempuran dan menguburkan mereka dengan layak.
***
Hari sudah mulai gelap.
Pasukan Vorgan telah kembali ke desa. Tidak ada luka ataupun cidera yang mereka alami.
Untuk malam ini Davin membiarkan semua prajurit untuk beristirahat. Sedangkan untuk tugas penjagaan desa Davin serahkan kepada para pengikutnya.
__ADS_1
Bersambung
.