Menembus Dunia Sihir

Menembus Dunia Sihir
BAB 39


__ADS_3

Staff Perpustakaan


Sebuah ruangan yang terlihat tampak sepi. Hanyalah sebuah meja dengan lampu meja yang menyinari sebuah buku.


Sebuah buku yang dibiarkan terbuka dengan tulisan tangan yang belum sepenuhnya memenuhi satu halaman.


krieek..


Seorang pemuda tampan berambut hitam dengan bola mata hitam keunguan melangkah masuk melalui satu-satunya pintu ruangan.


Seketika ruangan dipenuhi cahaya hingga kesetiap sudut, kala pemuda itu mempersilahkan cahaya matahari memasuki ruangan.


Membuka penuh sebuah tirai yang menghalangi datangnya cahaya. Pemuda tampan melebarkan tangan kearah sinar matahari dari balik kaca.


Seakan ingin memeluk cahaya itu, sejenak memejamkan matanya merasakan kehangatan yang menerpa tubuhnya.


***


Kota Alana ibu kota negara Dolham.


Hiruk pikuk segala kesibukan orang-orang dipagi hari. Lalu-lalang berbagai jenis kendaraan. Suara bising kenalpot dan klakson kendaraan.


Orang-orang ingin melakukan segala macam pekerjaan dengan cepat. Tidak ada yang ingin menyia-nyiakan waktu.


Seorang pemuda berjalan santai ditrotoar mengenakan celana jeans, sepatu sneakers dan atasan hoodie dengan tas selempang. Menandakan jika pemuda itu merupakan seorang mahasiswa.


tin..tin..


Suara klakson mobil berbunyi tepat disampingnya. Kaca mobil terbuka, tampak seorang pria dengan rambut pomade yang tertata sangat rapi.


Pemuda ditrotoar sontak berhenti menatap pria itu.


''Hei bocah kutu buku, apa kau butuh tumpangan? Oh aku lupa jika mobilku tidak bisa ditumpangi oleh orang miskin." Kata pria di mobil.


''Kau tau kenapa dia selalu berajalan kaki untuk pergi ke kampus? Itu karena angkutan umumpun bahkan tak layak baginya. Hahaha." Sahut seorang wanita berambut pirang dari dalam mobil.


Gelak tawa seketika memenuhi dari dalam mobil dan pergi begitu saja dari tempat itu.


Sedangkan pemuda ditrotoar hanya mengacuhkan mereka dan melanjutkan jalannya.


''Davin tunggu aku!"


Suara gadis terdengar dari sisi jalan lain berlari menuju ke arah pemuda itu.


''Mira ada apa? Aku ingin berjalan kaki ke kampus tidak membutuhkan tumpanganmu." Kata pemuda ditrotoar, itu adalah Davin.


''Kau salah paham, aku menghampirimu karena ingin berjalan bersama denganmu ke kampus." Sahut Mira.


''Baiklah, namun masih ada beberapa blok lagi untuk mencapai kampus itu masih terlalu jauh. Seharusnya sopirmu bisa mengantarmu." Kata Davin.


''Tidak apa, aku akan baik-baik saja." Kata Mira.


''Mira, apa kau tidak membawa para pengawalmu." Tanya Davin.

__ADS_1


''Mereka ada didalam mobil itu yang mengikuti kita. Kata papa aku tidak perlu membawa pengawal jika sedang bersamamu." Kata Mira menunjuk ke mobil maybach hitam di belakangnya.


''Oh iya Davin, papaku memintamu untuk menemuinya sore ini. Aku harap kamu bisa memenuhinya." Tanya Mira.


''Akan ada banyak pekerjaan di perpustakaan, aku tidak bisa berjanji. Namun setelah urusan di perpustakaan selesai aku akan segera menemui papamu.


Tolong bantu aku menyerahkan kertas ini ke papamu. Aku akan menghubunginya jika nanti aku tidak bisa menemuinya." Balas Davin menyodorkan sebuah tumpukan kertas.


Mira mengacung kan jari kanan disamping kepalanya. Sebuah kode dari jarinya mendatangkan seorang pria berjas dan berkacamata hitam.


Tanpa banyak ucapan, seakan pria berjas itu mengerti apa yang diinginkan nona mudanya. Membuka sebuah koper hitam nona mudanya meletakkan tumpukan kertas didalamnya.


Menutup koper dan membawanya dengan sangat hati-hati pria berjas itu sudah beranjak dari tempat itu.


''Davin, kenapa kau lebih memilih kehidupan yang sulit seperti ini. Maksudku kamu bisa tinggal di sebuah vila yang mahal, mengendarai mobil sport dan menikmati kehidupan yang mewah." Tanya Mira.


''Aku tidak suka." Kata Davin yang seketika memotong kalimat Mira.


''Kamu sangat kaya, tapi lihat dirimu sama sekali tidak terlihat seperti orang kaya. Jika terus seperti itu tidak akan ada gadis yang mau mendekatimu." Kata Mira dengan penuh rasa heran.


''Tidak masalah. Bukankah sudah ada satu gadis yang selalu mendekatiku." Davin menghentikan langkahnya dan menatap tajam gadis yang berada disampingnya.


Seakan tersihir dengan tatapan itu, Mira tidak sanggup untuk mengalihkan pandangannya.


Namun seketika seringai dan wajah konyol menjadi boom di tengah indahnya kembang api.


Kekecewaan bercampur dengan kepala yang mendidih di wajah Mira.


dugg


''Jangan harap." Mira memalingkan wajah memutar kepalanya dan pergi meninggalkan Davin setelah memberikan serangan balik.


''Aduh.duh. Mira tunggu aku. Kau bilang ingin jalan bersama kenapa malah meninggalkanku dan malah memberi kesakitan ini." Kata Davin yang segera menghampiri Mira.


''Hmph. Itu salahmu. Aku harus bergegas. Kelasku akan dimulai pagi ini. Sampai jumpa." Kata Mira yang terus mempercepat langkah kekesalannya meninggalkan Davin yang masih mengendalikan langkahnya.


***


Kelas telah usai. Dan seperti biasa, Davin langsung bergegas menuju perpustakaan Kampus.


Gedung perpustakaan dibuat terpisah dengan gedung universitas. Letaknya tepat berada di pinggir taman yang tak jauh dari sana.


Taman didekat gedung perpustakaan didesain sedemikian rupa agar para siswa merasa lebih nyaman untuk membaca maupun belajar.


Davin sangat senang berada diperpustakaan. Namun itu bukan karena dia benar-benar suka. Melainkan menurutnya perpustakaan adalah sumber dari segala pengetahuan didunia ini.


Banyak kontribusi dan upaya yang Davin berikan untuk mengembangkan dan menambah koleksi untuk perpustakaan.


Hanya kepala perpustakaan dan beberapa staff saja yang mengetahui hal itu. Davin sengaja memintanya untuk tidak mengekspos tentang keterlibatannya dalam pembangunan perpustakaan.


Melainkan Davin hanya meminta untuk memasukkan dirinya sebagai salah satu staff di perpustakaan.


***

__ADS_1


Seorang pria tampan membawa beberapa buku yang di bawa dengan troli. Meletakkannya secara terpisah di beberapa rak buku disekitarnya. Seketika seorang gadis mendekatinya.


"Teori Ruang dan Waktu ini diletakkan dimana?''. Tanya gadis itu.


"Mira kenapa kau ada disini?'' Kata sang pria.


"Aku akan membantumu, agar pekerjaanmu cepat selesai dan bisa segera menemui papa. Apakah boleh?'' Tanya Mira kembali.


"Tentu saja, siapa yang akan menolak bantuan dari seorang gadis cantik dan manis sepertimu.'' Kata pria itu.


"Davin, jangan coba-coba menggodaku. Aku belum memperhitungkan tentang kejadian tadi pagi.'' Kata Mira.


"Aku tidak melakukan apapun padamu. Malah kamu yang tiba-tiba menginjak kakiku.'' Sanggah Davin.


"Di kepalamu hanya berisi buku. Lupakan, ayo kita segera selesaikan pekerjaan ini.'' Ucap Mira yang masih menunjukkan kekesalannya.


Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sore telah tiba. Mereka berdua berjalan pergi meninggalkan gedung perpustakaan.


Dengan mobil yang menjemput Mira mereka berdua pergi meninggalkan kampus.


Davin hanya meminta untuk mengantarkannya kekediamannya. Yaitu sebuah kamar penginapan yang tidak jauh dari Universitas.


"Terimakasih Mira, kamu duluan saja tak perlu menungguku.'' Pinta Davin.


"Aku akan memberi tahu papa soal kedatanganmu. Dah.. sampai ketemu besok Davin.'' Kata Mira disertai lambaian tangan dan kedipan mata.


"Hmm.. Imutnya.'' Pikir Davin yang masih melambaikan tangannya meskipun mobil Mira telah pergi.


Tersadar disaat sebuah sepeda lewat didepannya yang seketika membuyarkan lamunannya.


Tak lama kemudian Davin telah keluar dari kamarnya menuju jalanan untuk menghentikan taxi.


Di salah satu gedung tinggi pencakar langit di pusat kota Alana. Berdiri seorang pria paruh baya tepat diambang pintu utama, dibelakangnya berjejer rapi para staff yang sepertinya mereka semua adalah para petinggi perusahaan.


Seakan menunggu seorang yang sangat penting, mereka sudah bersiap dengan kondisi terbaiknya.


Davin turun dari mobil taxi. Mengenakan pakaian yang sama dengan apa yang dia kenakan dari pagi.


"Tunggu nak kau ingin pergi kemana, ini bukan jalan umum?'' Seketika seorang petugas keamanan menghentikan langkahnya kala Davin melewati pos keamaman.


Petugas keamanan menerima kabar jika akan ada seseorang yang sangat penting ingin datang kegedung perusahaan.


Tentu saja dia harus bekerja sebaik mungkin dan mencegah berbagai hal yang mungkin akan membuat citra perusahaan menjadi buruk.


"Pak Rio meminta saya datang untuk menemuinya. Apa boleh saya masuk kedalam gedung?'' Tanya Davin.


"Maaf nak, sebentar lagi perusahaan akan kedatangan tamu penting. Mohon kerjasamanya, jangan mempersulit pekerjaanku. Jika ada kepentingan, silahkan datang lain hari.


Untuk saat ini Pak Rio benar-benar tidak bisa diganggu.'' Kata petugas itu lantas memperhatikan apa yang dikenakan Davin dari ujung kepala hingga kaki.


"Anak muda ini pasti hanya ingin masuk kedalam mengambil beberapa foto selfie dan memostingnya ke media sosial.


Aku sudah sering menemui hal seperti ini. Ingin bertemu dengan Pak Rio, memang siapa dia? Sungguh alasan yang konyol.'' Pikir Sang petugas keamanan.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2