
Serangan Bandit Gunung
Davin medengarkan dan mencermati segala yang di katakan Justus, itu sebabnya kenapa warga desa tampak sangat kurus dan kemiskinan. Banyak anak-anak yang kekurangan gizi karena tidak ada makanan layak yang dapat mereka makan.
Kepala desa sudah memsubsidi pajak untuk warganya, namun sebagai gantinya dia merelakan gajinya sebagai kepala desa untuk membayar pajak dari kerajaan. Namun itu tidak sebanding dengan keamanan dari pihak kerajaan, karena warga masih di usik oleh para bandit. Justus menduga semua itu ada hubungannya dengan walikota mereka.
Sebenarnya lahan pertanian di desa Vorgan sangatlah subur, namun itu tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan para warga, karena mereka harus membagi hasil dengan para bandit yang selalu datang tiap bulannya untuk mengambil jatah mereka.
Walikota juga memberi aturan untuk tidak melakukan perpindahan penduduk. Hal itu membuat warga desa sangat tertekan.
Tak heran Justus mengubah rumah dinas kepala desa sekaligus menjadi penginapan demi untuk memenuhi kebutuhannya.
Kini hari sudah menjelang siang. Justus masih mondar-mandir belum bisa tenang. Sambil memegang berlian yang kemarin Davin berikan.
"Bagaimana ini mereka pasti akan menuntut balas. Aku akan mencoba bernegoisasi dengan mereka.'' Gumam Justus.
wush.
Se ekor anjing setinggi lutut orang dewasa berbulu abu seperti serigala muncul tepat di samping Davin.
"Tuan, saya telah mengikuti bandit botak itu, dia menuju ke markas yang ada di atas gunung jumlah mereka di perkirakan 50 orang lebih. Mereka semua sedang bersiap untuk turun gunung dan merampok desa ini.'' Kata Hariric dengan lirih tepat di telinga Davin yang sedang duduk untuk melaporkan hasil pengintaiannya.
"Bagus sesuai dengan rencanaku, Hariric panggil Trais kita akan bersiap.'' Perintah Davin kembali.
"Baik tuan.'' Kata Hariric menghilang dari hadapan Davin.
"Pak kepala desa cepat umumkan kepada seluruh warga sekarang juga untuk berlindung di tempat ini! Sebentar lagi akan ada pertempuran besar. Para bandit itu akan menyerang desa. Aku akan menahan mereka'' Kata Davin kepada Justus.
"Apa? Secepat ini mereka bergerak, Apakah anda yakin untuk menahannya sendiri?'' Meski dia sudah melihat kekuatan Davin, tapi untuk menahan para bandit yang di perkirakan jumlahnya puluhan orang tidak mungkin bagi Justus untuk bisa mempercayainya.
Kini Davin sudah berada di halaman rumah Justus bersama 4 pengikutnya. Davin tidak bisa untuk menahan tawa saat melihat Trais yang di dandani mengenakan pakaian layaknya pelayan dengan make up di wajahnya.
"Hahaha. Sepertinya Liyana merawatmu dengan sangat baik.'' Kata Davin mengejek Trais.
"Sudahlah tuan aku ingin segera mendapatkan tugas.'' Kata Trais tidak ingin membahasnya
__ADS_1
"Percayalah padaku, aku tidaklah sendiri. Sekarang cepat kumpulkan semua orang.'' Kata Davin kepada Justus yang masih kebingungan keluar masuk pintu rumahnya.
Justus lekas berlari menuju menara lonceng yang berada di tengah-tengah desa tidak jauh dari rumahnya.
teng.. teng.. teng..
Suara lonceng berbunyi nyaring hingga ke perkebunan milik warga. Semua warga nampak panik karena suara lonceng yang di bunyikan menandakan adanya sebuah bencana.
Warga yang mendengar suara lonceng lekas mengakhiri segala aktivitas mereka dan segera menuju ke tengah desa.
Semua warga yang sudah berkumpul kini di arahkan menuju rumah Justus. Mereka sudah di beri tahu apa yang terjadi oleh Justus. Dan mempersiapkan segala sesuatunya.
Beberapa dari mereka sudah bersiap dengan beberapa makanan jikalau pertempuran akan memakan waktu lama. Namun para laki-laki dan pemuda malah membawa peralatan berkebun mereka dan sudah berada di halaman rumah Justus.
"Kami tidak akan tinggal diam saja menunggu nasib kami disini, kami juga akan berjuang mempertahankan desa.'' Teriak seorang pemuda.
"Bagus aku sangat menghargai niat kalian. Namun kalian tidak perlu mengikutiku ke medan peperangan. Jagalah keluarga kalian disini biarkan aku yang akan membereskan mereka.'' Kata Davin kepada para warga yang hendak mengikutinya.
"Siapa dia, hanya anak-anak''.
"Hei Kepala desa kemana pria kuat yang kau katakan akan membantu kita melawan para bandit. '' Para warga tidak mengetahui siapa Davin.
"emm, ini adalah Tuan Davin yang akan membantu kita.'' Justus memperkenalkan Davin kepada para warga.
Namun para warga tidak dapat mempercayainya. Karena dari fisiknya yang masih anak 9 atau 10 tahun dapat mengalahkan puluhan Bandit.
"Ahh. baiklah. apakah kalian bisa kembali ke wujud asli kalian.'' Tanya Davin kepada para pengikutnya.
"Tentu bisa tuan. Tapi kami membutuhkan waktu setidaknya satu bulan untuk dapat membuat tubuh kami menjadi kecil kembali.'' Kata Berthor. Yang berada tepat di belakang Davin.
"Tidak masalah lakukan saja.'' Perintah Davin kepada para pengikutnya.
wush.wush.wush.wush.
Tepat di belakang Davin sebuah pusaran angin besar muncul secara tiba-tiba dan membentuk Seekor Harimau sebesar tiga kali lipat ukuran tubuh sapi dewasa.
__ADS_1
Sebuah petir besar menyambar ketanah yang membentuk seekor serigala yang tak jauh berbeda dengan besar harimau itu.
Gumpalan tanah menjulang keatas membentuk seekor beruang setinggi hampir 5 meter.
Dan sebuah pusaran air besar yang kemudian membeku dan pecah memunculkan seekor buaya besar dengan panjang 15 meter.
Empat binatang buas muncul di belakang Davin. Aura mengintimidasi yang mengerikan menekan para warga.
Sontak semua warga yang ada di sana sangat ketakutan. Ada yang gemetaran, ada yang langsung menjatuhkan alat penggaruk kotoran ternak yang menimpa kakinya namun tidak mempedulikan rasa sakitnya lagi. Ada yang terkencing di celana, ada pula yang langsung pingsan.
"Tak perlu takut, mereka semua adalah bawahanku. Jadi saat ini kalian cukup di sini lindungi keluarga kalian. Pak kepala desa aku serahkan yang di sini kepadamu.'' Kata Davin menepuk bahu Justus yang kala itu langsung menyadarkannya dari keterkejutannya.
Davin bersama para pengikutnya berjalan santai meninggalkan kediaman Justus menuju ke jalan utama pintu masuk desa.
Sore hari telah tiba.
"Bos di depan desa ada empat binatang buas yang sepertinya menjaga desa.'' Kata seorang pria sujud dengan kaki di tekuk satu kepada pria berbadan besar dengan satu matanya di tambal, ada luka dari dalam tambalan mata itu memanjang hingga pipinya. Pria itu duduk menunggang kuda, yang sepertinya merupakan bos bandit.
"Sudah banyak binatang buas yang kita bunuh untuk di jadikan makanan, apa hanya dengan 4 binatang buas saja kau harus melapor padaku!'' Kata bos bandit mengeluarkan aura membunuhnya menekan bawahannya.
"Ti.tidak bos maksudku para binatang buas itu ukurannya tidak wajar.'' Kata bawahannya menahan tekanan dari Bosnya.
"Enyah dari hadapanku. Ayo kita ratakan desa itu dan malam ini kita akan bersenang-senang. Hahaha.'' Teriak sang bos menendang bawahan yang melapor dan memberikan semangat pada seluruh bawahanya.
Mendengar kata bersenang-senang pikiran mesum muncul dari kepala para bandit hingga beberapa ada yang meneteskan air liur.
"Sudah aku peringatkan untuk menurutiku tapi malah memprovokasiku. Kini akan aku ambil semua yang kalian miliki. Tak apa aku kehilangan satu desa, masih ada lumbung padi ku yang lain.
Kau ambil wanita manapun yang kau suka untuk eksperimen gila mu itu.'' Kata bos bandit kepada seseorang dengan pakaian seperti mantel serba hitam menutupi kepala hingga kakinya yang ada di samping bos bandit. Orang itu membawa tongkat sepanjang 2 meter terbuat dari kayu yang melilit sebuah kristal berbentuk segi 8 berwarna merah tepat di ujung atas tongkatnya. Sedang sisi lain tongkatnya berbentuk lancip menyentuh tanah.
Kristal tongkat itu menyala merah dan orang yang terlihat seperti penyihir itu terselimuti kabut merah, kemudian kabut merah yang menyelimuti orang itu hilang seperti tertiup angin, bersamaan dengan hilangnya kabut merah orang itu juga sudah tidak berada ditempatnya.
Bersambung.
.
__ADS_1