Mengejar Cinta Istri Seksi

Mengejar Cinta Istri Seksi
Membalikkan Kata-kata


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Abraham menabrak trotoar jalan XX. Keadaan pasangan gaje itu baik-baik saja, hanya saja keadaan sekretaris Jo yang tidak baik-baik saja. Pria itu harus di larikan ke rumah sakit.


Lehernya di pasang kan alat penyangga. Keingin pria itu di perban, lukanya tidak terlalu parah. Hanya luka luar saja.


Desy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ria kerasa bersalah pada sekretaris Jo sebab karena pertengkaran tak jelas antara dirinya dan Abraham membuat mereka mengalami kecelakaan dan sekretaris Jo yang tidak tahu apa-apa tentang masalah mereka malah terluka.


Begitu pula dengan Abraham yang merasa tak enak hati pada bawahannya. Dia dan Desy yang salah sebab berkelahi dalam mobil, sehingga membuat Sekretaris Jo tak fokus mengemudi.


Baru saja Abraham ingin membuka suaranya, sekretaris Jo lebih dulu menyela nya.


"Saya baik-baik saja, Tuan," ujar Jo cepat sebab sudah bosan menjawab pertanyaan Abraham sedari tadi bertanya tentang keadaan nya.


Giliran Desy yang ingin bersuara tetapi lebih dulu si potong oleh sekretaris Jo.


"Saya sudah memaafkan Anda, Nona," tambah Jo cepat.


Faktanya sedari tadi Desy sudah meminta maaf pada sekretaris Jo. Dan terus meminta maaf sampai sekretaris Jo bosan menjawabnya.


Abraham mengerucutkan bibirnya melihat wajah Sekretaris Jo yang tampak kesal.


"Kamu marah ya, Jo?" tanya Abraham mengganti pertanyaan nya.


"Tidak, Tuan." Jo membalas datar.


"Serius, Jo. Kamu marah tidak pada ku?" tanya Abraham lagi membuat sekretaris Jo mengepalkan tangannya erat.


"Tidak, Tuan."


"Bohong, itu buktinya kamu mengepalkan tangan mu. Tandanya kamu sedang marah. Ayo ngaku, Jo. Kamu marah sama aku yah?"


Abraham bertanya lagi pada sekretaris Jo membuat pria itu menghela nafas berat. Entah apa salahnya di masa lalu sehingga memiliki majikan yang sangat menyebalkan seperti Abraham.


Mau resign dari perusahaan tapi sayang, sebab gaji nya sangat tinggi. Tidak resign juga pusing menghadapi bos yang cerewet seperti Abraham.


Sungguh sekretaris Jo serba salah menghadapi dua makhluk hidup di hadapannya ini.


"Jo, kok kamu diam saja? Kamu benar-benar marah padaku, 'kan? Tidak apa-apa kalau kamu marah, aku mengerti posisi mu sekarang!" tanya Abraham lagi membuat Jo hilang kesabaran.


"Iya, Tuan. Saya marah pada Anda!" balas Jo mengalah membuat Abraham melebarkan bola matanya.


"Sialan kamu, Jo. Berani marah padaku! Anah buat macam apa kamu ini, huh?" teriak Abraham keras membuat perawat yang sedang membersihkan sampah perban pun menoleh ke arahnya.


"Suttt …jangan ribut, Tuan. Ini rumah sakit, kalau Anda mau ribut, silahkan ke rumah sakit jiwa! Di sana Anda bebas ribut bersama orang gila!" tegur perawat itu membuat sekretaris Jo dan Desy mencoba menahan tawa mereka.

__ADS_1


Melihat bagaimana raut wajah kesal Abraham saat ini sangatlah menyenangkan. Pria itu tampak sangat kesal, dia memelototkan matanya ke arah perawat itu.


"Kau tidak tahu nama ku siapa?" tanya Abraham dengan nada dingin membuat perawat itu memutar bola matanya malas. Dia terlalu lelah bekerja di tambah bertemu dengan pria sedeng seperti Abraham.


"Kenapa? Anda tidak tahu siapa nama Anda? Apa Anda lupa ingatan? Biar saya panggilkan dokter sekarang!" balas perawat itu savage membuat Desy tersedak ludahnya menahan tawa.


Sedangkan sekretaris Jo memilih mengambil majalah di atas meja lalu pura-pura membacanya guna menutupi wajahnya.


"K-kau!" Abraham mengepalkan tangannya erat merasa sangat geram dengan perawat tersebut.


"Dasar sedeng," gumam perawat itu lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut membuat Desy tertawa tertahan.


"Dasar perawat sialan. Tidak tahu dia siapa aku! Jo, cepatlah sembuh. Setelah itu beli rumah sakit ini agar perawat gila itu tahu siapa aku sebenarnya."


Abraham mengomel tak jelas membuat sekretaris Jo memutar bola matanya malas.


"Cih, si Bos. Main beli-beli aja," gumam Sekretaris Jo pelan.


Abraham yang melihat Jo membaca majalah pun berdecak kesal.


"Jo, majalah nya terbalik!" ujar Abraham membuat sekretaris Jo terhenyak lalu segera membalikkan majalahnya.


"Ekhm … saya minta maaf, Tuan. Mungkin selama sebulan saya akan cuti. Tidak mungkin saya bekerja dalam kondisi sakit."


Sakitnya pun harus masuk rumah sakit dulu. Bila cuma sakit kepala dan demam biasa, Abraham tak mengizinkan nya.


Kejam nya lagi Abraham sudah menyiapkan obat tablet sakit kepala untuk sekretaris Jo agar pria itu tidak memiliki alasan untuk cuti bekerja.


Abraham menghela nafas berat. Sangat sulit dia mengizinkan sekretaris Jo berhenti kerja. Namun apa boleh buat? Ini juga salahnya.


"Baiklah, aku izinkan. Tapi, kalau nanti kau pulih sebelum sebulan, kau harus kembali bekerja!" tegas Abraham membuat sekretaris Jo berdehem pelan.


"Tidak sopan kau, Jo? Biasanya kau selalu menganggukkan kepala mu saat mengiyakan perkataan ku!" cetus Abraham membuat sekretaris Jo menghela nafas berat.


"Leher saya cedera, Tuan."


Jo membalas singkat membuat Abraham tersadar.


"Ah iya. Kalau begitu aku pamit dulu!"


"Aku juga, Jo. Maafkan aku!" ujar Desy segera pergi mengikuti Abraham keluar dari ruangan Jo.


Setelah memastikan Abraham dan Desy pergi. Barulah sekretaris Jo tersenyum senang dan langsung turun dari brankar guna mengunci pintu.

__ADS_1


Krak


Krak.


Sekretaris Jo meregangkan otot lehernya. Dia ternyata pura-pura cedera leher sebab sengaja ingin libur karena jenuh bekerja.


"Hah … saatnya menonton One piece. Episode berapa kemarin yah?" gumamnya pada diri sendiri seraya meng-scroll layar ponselnya.


*


*


Suasana di rumah berubah menjadi hening. Abraham duduk di sofa tunggal, sedangkan Desy berdiri di hadapannya seraya menundukkan kepalanya. Pria itu saat ini sedang mencoba mengintrogasi sang istri.


"Kenapa kamu tidak membangunkan ku? Tidak menyiapkan air hangat untukku? Tidak menyiapkan seragam kantor? Juga tidak menyiapkan kopi untukku? Kenapa juga kamu pergi tanpa izin ku?"


Abraham mengeluarkan semua uneg-uneg dalam hatinya. Segala pertanyaan di dalam benaknya ia tanyakan pada Desy.


Gadis itu menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap Abraham. Tadinya dia ingin kabur ke rumah makan selama seharian, tapi baru setengah hari dia langsung bertemu dengan Abrahams lagi di rumah makan.


Padahal dia tidak membagikan lokasinya pada Abraham.


"Jawab, Desy? Kenapa dari tadi kamu diam saja?" tanya Abraham dengan nada kesal membuat Desy menatap suaminya.


"Aku sedang belajar menjadi istri tak berguna sesuai perkataan mu semalam," balas Desy datar membalikkan perkataan Abraham semalam.


Degg.


*


*


Mau lagi? Komentar yang banyak biar author crazy up dan bab nya panjang seperti kemarin.


Vote dan segelas kopi jangan lupa 🌹🌹❤️🥰


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


Mampir juga ke novel temen author 🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2