
Sang komandan pergi mendatangi Desy. Tampak gadis itu sedang duduk bersandar pada dinding, sesekali dia menguap dan lama kelamaan Desy ketiduran. Dia belum sadar kalau ada seorang pria berdiri di luar jeruji besi melihatnya dengan sorot mata liar.
Sang Komandan melihat Desy dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Gaun yangbdi pakai Desy lumayan seksi, menampakkan paha mulusnya.
Nyamuk menggigit pipi Desy membuat gadis itu menampar pipinya sendiri. Alhasil, Desy terbangun.
"Ck, nyamuk sialan!" umpat Desy kesal.
Matanya tak sengaja melihat sepatu hitam milik seorang pria. Perlahan dia menaikkan pandangan nya mendongak melihat sang komandan yang menatapnya dengan tatapan liar.
Kurang ajar, berani sekali pria hidung belang itu menatap Desy seperti itu. Dia tersenyum penuh arti, Desy paham maksud dari tatapan pria itu.
Lalu sebuah ide terlintas dalam benak Desy.
"Ekhm … kenapa kau datang kemari?" tanya Desy santai seraya membelai kaki jenjang nya.
Jakun sang komandan naik turun. Dia menelan ludahnya kasar, sangat ingin menyentuh paha mulus Desy lalu perlahan tangannya masuk ke dalam gaun gadis itu. Meraba apa yang bisa di raba.
Auww … adik kecilnya bangkit dari tidurnya, cukup membayangkan saja sudah membuat kepala atas dan bawah pria itu berdenyut. Rasanya ingin segera ia lampiaskan begitu saja.
"Aku hanya ingin memastikan apakah tahanan ku kedinginan atau tidak!" balas pria itu dengan suara serak. Matanya seolah ingin menelanjangi Desy sekarang juga.
Desy dalam hati hanya mampu mengumpat kesal sedari tadi. Dia sangat murka sebenarnya, namun sebuah rencana terlintas dalam benaknya. Dia ingin memberi pelajaran pada pria yang telah berani memborgol tangannya tadi.
"Kau sangat perhatian, Komandan. Bohong kalau aku tidak keinginan dan saat ini aku butuh kehangatan."
Desy menjawab dengan suara menggoda, tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Dia menatap sang komandan dengan tatapan sayu, tatapan yang mampu membuat jiwa laki-laki komandan berkobar.
"Apa di luar dingin?" Desy bertanya lembut.
"Tidak."
"Ah … lalu kenapa aku bisa basah ya?" gumam Desy dengan suara yang masih terdengar oleh komandan.
Gila … gadis itu sangat pandai berakting, dia berlagak seperti seorang penggoda sekarang. Berhasil membuat seorang komandan hidung belang kepanasan.
"Mendekat lah, aku akan membuat mu semakin basah. Tapi, basah nya nikmat!" titah sang komandan membuat Desy tersenyum tipis.
Dia langsung bangkit berdiri lalu berjalan bak model. Tak lupa dia menyentuh tubuhnya sendiri. Dalam hati Desy mengumpat kesal, sangat marah dan muak dengan akting nya sendiri. Namun, untuk membuat rencana balas dendam nya berhasil terpaksa membuat dirinya berlagak seperti *******.
"Ouh, Baby. You're so gorgeous!" puji komandan itu mengerlingkan matanya sebelah membuat Desy ingin muntah rasanya.
Tahan … tahan … ayo Desy tahan. Jangan sampai muntah agar rencana mu berhasil.
Desy sudah berada di hadapan sang komamdan. Di antara mereka sudah ada jeruji besi sebagai pembatas.
Komandan itu membelai pipi Desy. Bodohnya kedua tangannya menangkup pipi Desy. Gadis itu tersenyum penuh arti.
"Aku sangat ingin melempar mu ke kasur ku saat ini," bisik sang komandan dengan suara serak.
Desy tersenyum jijik, lalu dengan gerak cepat tangannya mencengkram adik kecil sang komandan membuat pria itu berteriak kencang penuh kesakitan.
"Akkkkk!" teriak nya sakit.
Desy semakin keras mencengkram adik kecil pria itu. Sampai di rasanya sudah cukup barulah ia hentikan dan berjalan mundur menjauhi sang komandan.
"Rasakan itu! Berani-berani nya kau memborgol ku, padahal sudah jelas-jelas aku belum terbukti salah?!" bentak Desy lalu tertawa puas layaknya iblis wanita.
__ADS_1
Para polisi yang bertugas di sana sekuat mati menahan tawa mereka, ketika melihat komandan tersebut kesakitan. Sebagai laki-laki mereka tentunya tahu seberapa sakit bila adik kecil di sakiti. Rasanya lebih sakit daripada sakit gigi atau sakit hati di tinggal pacar.
"Kurang ajar kau yah!" umpat komandan itu menahan kesakitan nya. Dia langsung membuka gembok pintu. Lalu masuk ke dalam penjara.
Desy memasang wajah ketakutan.
"Ja-jangan sakiti aku!" Desy menggelengkan kepalanya cepat berlagak seperti orang ketakutan.
Plak.
Plak.
Plak.
Tiga tamparan berturut-turut menghampiri pipi Desy. Cairan kental berwarna merah keluar dari sudut bibir Desy. Dia diam-diam tersenyum samar, sangat samar.
Bugh.
Sang komandan juga menendang Desy hingga gadis itu terbentur dinding dan terjatuh ke lantai.
Sang komandan menginjak-injak tubuh Desy. Gadis itu langsung saja memeluk kedua lututnya. Posisi tidurnya seperti bayi dalam kandungan. Guna melindungi tubuhnya.
"Sialan, kau. Dasar ******* terkutuk?!" bentak komandan murka terus menyakiti Desy.
Para polisi yang melihatnya pun segera berlari ke sana. Untuk menghentikan kebrutalan sang komandan.
"Hentikan, Komandan. Anda bisa membunuhnya!"
"Komandan, jangan. Anda bisa di penjara!"
Empat orang polisi masuk ke sana guna menarik tubuh komandan. Berhasil membawa jauh pria itu dari Desy. Namun, mereka terkejut ketika melihat gadis itu pingsan dengan luka mengerikan di wajahnya.
Segera ia menggendong Desy membawa gadis itu ke rumah sakit. Tiga polisi lainnya ikut bersamanya. Sedangkan sang komandan tampak sangat murka. Dia mengepalkan tangannya erat. Sang adik masih terasa sakit. Niat hati malam ini dia ingin jajan enak bersama adik kecilnya, namun ternyata tak bisa.
Sebab dia sudah terlebih dahulu sakit. Kesal memang, namun harus bagaimana lagi. Dia tergoda dengan gadis licik seperti Desy.
"Sialan?! Akkk!" amuk nya menendang meja di hadapannya. Para polisi lainnya melanjutkan pekerjaan mereka. Sudah terbiasa melihat pemandangan tersebut.
*
*
Abraham masuk ke dalam kantor polisi. Dia sangat senang, sebab sudah mendapatkan saksi dan bukti. Meski media masih belum bisa terkontrol sebab terlalu banyak hacker yang ikut membela Rebecca Silver. Maklum saja, wanita itu adalah idola mereka.
Namun, tak apa. Setidaknya bukti sudah ia dapatkan dan istrinya bisa bebas dari tuduhan palsu itu.
"Aku ingin membesuk istriku!" ujar Abraham dengan nada tegas pada polisi.
Polisi tersebut memasang wajah tak enak. Dia sebenarnya takut sekali berhadapan dengan Abraham. Sebab, pria itu kaya dan berkuasa.
"Maaf, Tuan. Istri Anda saat ini berada di rumah sakit!" balas polisi itu membuat tubuh Abraham membeku. Wajahnya terkejut bukan main.
"Bagaimana bisa istriku masuk rumah sakit? Tadi dia baik-baik saja."
Abraham bertanya heran dengan amarah tertahan.
"Istri Anda pingsan lalu dilarikan ke rumah sakit FJ!" ujar sang polisi tak menjelaskan semuanya. Takut Abraham mengamuk.
__ADS_1
Pria itu langsung bergegas pergi dari sana menuju rumah sakit tempat istrinya di rawat. Dalam hati dia mengumpat kesal, merasa bersalah sebab tak bisa menjaga istrinya. Namun, dia heran dan penasaran. Mengapa istrinya tiba-tiba pingsan.
"Perasaan tadi Desy baik-baik saja. Lalu, kenapa dia bisa pingsan? Apa jangan-jangan makanan yang aku kasih tadi beracun?" gumam Abraham pelan.
Dia sangat takut hal buruk terjadi pada istrinya. Abraham menekan pedal gas, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
15 menit terlewati, Abraham berada di rumah sakit. Dia segera bertanya pada resepsionis tentang keberadaan istrinya.
"Suster, di mana istri saya di rawat? Namanya Desy Simanjuntak dan ada polisi yang membawa nya ke sini!"
Abraham bertanya serius. Suster pun segera menunjukkan ruangan tak jauh dari mereka.
"Di ruang rawat sebelah sana, Tuan!" tunjuk suster tersebut.
Abraham segera masuk ke dalam sana. Melihat banyak orang yang di rawat di sana. Dia membuka tirai yang ia lewati.
Tirai pertama, bukan.
Tirai kedua, bukan.
Tirai ketiga, bukan.
Tirai kelima baru, benar.
Dia melihat istrinya terbaring lemah di atas brankar. Dengan luka memar di pipi kanannya, bibirnya juga robek. Tangan Desy tetap di Borgol. Empat polisi yang berada di sana pun langsung berdiri menyambut kedatangan Abraham.
"Bagaimana Istriku bisa terluka?" tanya Abraham dengan suara pelan penuh penekanan, agar sang istri tidak terganggu dengan suaranya.
"Maafkan kelalaian kami, Tuan." Mereka berempat menundukkan wajah tak berani menatap wajah marah Abraham.
"Aku tanya sekali lagi, bagaimana ini bisa terjadi pada istriku?" ulang Abraham dengan suara dingin. Tangannya terkepal erat, ingin sekali dia memukul wajah empat polisi di hadapannya, namun tak bisa. Sebab tidak mau mengganggu ketenangan istrinya.
"Komandan kami lepas kendali, Tuan," ujar polisi yang menggendong Desy tadi. Abraham menganggukkan kepalanya pelan.
"Lebih baik sekarang kalian telepon komandan kalian, lalu katakan. Sepuluh menit lagi dia akan mendapatkan kejutan dari saya!" balas Abraham dingin seraya menggenggam tangan istrinya.
Mereka semua bingung. Tidak tahu maksud perkataan Abraham. Hingga sepuluh menit berlalu, ponsel mereka langsung berdering.
"Halo, ada apa?"
[Kau di mana? Cepat kembali ke kantor! Komandan sedang di periksa oleh jaksa, karena kabarnya Komandan terlibat organisasi penjualan organ tubuh dan perdagangan manusia. Imbasnya kantor kita juga ikut di geledah]
Tubuh mereka membeku mendengarnya. Abraham tersenyum penuh arti. Dia tidak melepas pandangan dari istrinya.
"Bagaimana? Apa kejutan ku sudah tiba?" tanya Abraham tersenyum penuh arti.
*
*
Kemarin nggak up. Ini 2 bab author gabungkan 😁🤗
Insya Allah nanti up lagi.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏