Mengejar Cinta Istri Seksi

Mengejar Cinta Istri Seksi
Kepanikan Diego & Family


__ADS_3

"Sepertinya benar, kalau aku ikut mati. Pasti mereka akan senang," gumam Abraham pelan dengan nada lirih.


Tiba-tiba hujan turun deras. Guntur menyambar ke mana-mana tak muat Abraham berteduh. Pria itu masih setia berada di pemakaman umum. Dia melihat gundukan tanah di hadapannya, di terpa hujan.


Pria itu langsung tersadar akan apa yang telah ia katakan. Dia merasa sangat bersalah, seolah Desy tak ingin Abraham mati. Pria itu sadar kalau perkataannya tadi salah. Dia pun tersenyum miris.


"Kamu dingin yah? Tenang saja, Des. Aku ada di sini buat temenin kamu. Meski aku tidak bisa memeluk mu lagi, tapi aku bisa menemani mu saat hujan."


Abraham tersenyum lembut. Dia kembali mengusap batu nisan Desy. Pria itu berada di sana selama enam jam. Hingga waktu malam hari tiba, dia pun beranjak dari sana.


"Sayang, aku pulang dulu yah! Mungkin Minggu depan aku akan kemari lagi. Doakan saja semoga Tuhan memanggil ku dengan cepat. Agar kita bisa bersama lagi di alam sana!" Abraham melabuhkan ciumannya pada batu nisan Desy.


Pria itu bangkit berdiri, saat dia berjalan. Tubuh Abraham hampir tumbang, dia memegang kening nya yang berdenyut nyeri. Dia merasa kedinginan dan menggigil.


Berusaha tegar dan kuat. Pria itu berjalan meninggalkan area pemakaman. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rasa pusing menyerang kepalanya. Tubuh Abraham menggigil kedinginan.


Pria itu memutuskan untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dia tidak mampu lagi menyetir, tepat saat mobilnya berhasil berhenti. Abraham jatuh pingsan. Tidak ada yang menyadari hal itu.


Hingga saat polisi berpatroli melewati mobil Abraham. Mereka merasa ada yang tidak beres, sebab sudah dua kali mereka mengitari jalanan itu, mobil Abraham masih ada di sana. Segera mereka turun dari mobil.


Berjalan mendekati mobil Abraham. Lalu mengetuk kaca jendela.


"Selamat malam, Sir!"


"Sir, are you okay?"


Sudah sepuluh menit polisi itu mengetuk jendela mobil Abraham. Alhasil, mereka memutuskan untuk menghancurkan kaca jendela mobil Abraham. Takutnya pria itu terluka atau jangan-jangan mayat yang berada dalam mobil.


Prang.


Kaca mobil di bagian kursi sebelah supir Abraham berhasil di pecahkan. Mereka terkejut saat melihat wajah pucat pasi Abraham. Segera saja membuka tombol kunci jendela. Berhasil ke duanya masuk ke dalam mobil.


Salah satu polisi meletakkan jarinya di bawah hidung Abraham. Dia dapat merasakan nafas pria itu dari sana. Lalu ia meletakkan punggung tangannya di kening Abraham.


"Oh God, pria ini mengalami hipotermia. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" ujar sang polisi pada rekan nya.


"Baik, kau bawa dia ke rumah sakit menggunakan mobil ini. Aku akan menggunakan mobil patroli untuk mengikuti mu dari belakang."


"Baik."


Keduanya pun segera menjalankan tugas masing-masing. Sirine mobil polisi dihidupkan, guna memberi jalan bagi rekannya. Abraham berhasil dilarikan ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Salah satu dari rekannya, berhasil mengamankan ponsel dan dompet Abraham. Mereka membaca nama pada kartu identitas Abraham. Ternyata pria itu merupakan pengusaha sukses di negaranya.


"Oh my God, kita baru saja menolong orang kaya Eropa. Semoga saja nanti kita mendapatkan hadiah," ujar polisi yang membawa Abraham ke rumah sakit.


Rekan nya langsung memukul kepala bagian belakang temannya itu.


"Ingat! Kita ini polisi, bukan pengemis. Lebih baik sekarang kamu hubungi keluarganya!" balas rekan nya lagi membuat pria itu menganggukkan kepalanya.


*


*


Di kediaman Diego dan Juliet.


Mereka sedang berbahagia mendengar kabar baik dari Adam. Menantunya Zara telah hamil, tak lama lagi akan ada suara anak kecil di rumah mereka.


Suara dering ponsel Diego sedari tadi berbunyi. Membuat pria itu malas menerima panggilan dari putranya. Dia masih tak bisa terima kelakuan Abraham selama menikah dengan Desy.


Namun, ponselnya tidak berhenti berdering sedari tadi membuat pria itu mau tak mau menerima panggilan tersebut.


"Ada apa kau menghubungi ku?" tanya Diego dengan nada dingin.


"Apa benar ini dengan, Tuan Diego?" Suara asing terdengar oleh pria paruh baya itu membuat dia terkejut.


"Saya ingin melaporkan kalau putra Anda, Tuan Abraham dilarikan ke rumah sakit. Setelah pingsan dalam mobilnya di pinggir jalan. Beliau mengalami hipotermia dan saat ini sedang di tangani oleh dokter!"


Jantung pria paruh baya itu terkejut mendengar kabar bahwa putra nya masuk rumah sakit. Apalagi sampai pingsan di pinggir jalan.


Rasa khawatir menyerang dada nya. Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya.


"Baik, saya akan segera ke sana sekarang. Kirimkan alamatnya ke pada saya!" ujar Diego dengan serius lalu mengakhiri panggilan tersebut.


Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Sang istri yang sedari tadi menyimak pun merasa heran. Begitu pula dengan Adam, Zara dan Aprilia.


"Apa yang terjadi, Dad?" tanya Adam penasaran.


"Adikmu, dia pingsan di pinggir jalan dalam mobilnya. Kata polisi yang menemukan nya, Abraham mengalami hipotermia dan saat ini sedang di tangani oleh dokter!" ujarnya dengan suara bergetar menahan panik.


Mereka pun terkejut bukan main mendengarnya. Bagaimanapun Abraham adalah keluarga mereka, walau akhir-akhir ini hubungan mereka tak baik.


Juliet memegang dadanya yang terasa sesak. Wanita paruh baya itu meneteskan cairan bening membasahi pipinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, putraku," gumam nya pelan.


"Sabar, Mom. Lebih baik kita segera pergi ke rumah sakit!" ajak Adam cepat di setujui oleh mereka semua.


*


*


Di hari yang sama, Desy beserta orang tuanya tiba di Eropa. Gadis itu menghirup rakus udara di bawah hidung nya. Dia merasa sangat senang bisa kembali lagi ke tanah air nya.


"Semuanya tidak berubah ya, Mom! Masih tetap sama," ujar Desy tersenyum manis melihat taman bunga di rumahnya.


Meong.


Meong.


Suara menggemaskan itu membuat Desy menoleh ke samping dan ternyata dua kucing nya berlari ke arahnya.


"Pipi, Mimi!" pekik Desy bahagia langsung memeluk erat tubuh mungil kedua hewan berbulu itu.


Raut wajah Damian yang tadinya bahagia pun berubah masam saat melihat layar ponselnya. Dia baru saja membuka grup anggota Bastard yang anggotanya : Diego, Alex, Max dan dirinya. Berbeda dengan grup Family Bastard (semua anak-anak mereka ikut bergabung).


"Ada apa, Sayang?" tanya Sissy yang menyadari perubahan wajah sang suami. Sedangkan Desy asik bermain dengan kucing tercintanya.


"Abraham masuk rumah sakit," bisiknya pelan membuat Sissy terkejut.


"Ayo ke sana! Kita bawa Desy juga," ajak Sissy cepat membuat Demian menatap tajam istrinya.


"Ke mana, Ma?" tanya Desy polos membuat tubuh Demian menegang.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


Baca juga novel temen baik author yang tidak kalah serunya 🌹🌹

__ADS_1



__ADS_2