
Diego beserta keluarganya telah tiba di rumah sakit. Mereka menunggu dengan sabar dokter keluar dari ruang UGD. Ada rasa bersalah dalam hati mereka semua sebab telah mencampakkan Abraham. Terlebih lagi Diego, dia yang ingin memberi pelajaran pada sang putra agar kelak tidak berbuat semena-mena pada orang yang tulus mencintai nya.
Kini dia menyesali perbuatannya, andaikata Diego mendukung Abraham dan percaya pada anaknya sendiri bahwa dia bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Pasti Abraham tidak akan tak terurus seperti ini.
Pintu ruang UGD terbuka menampilkan sosok dokter dan tiga perawat.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Diego cepat pada dokter.
Pria berpakaian putih itu menghela nafas panjang. Dia menatap lekat wajah tua Diego.
"Putra Anda mengalami hipotermia, untung saja dia segera di bawa ke rumah sakit. Namun, setelah kami periksa lagi, pasien mengalami stres berat, sehingga melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali dengan cara menyayat tangannya sendiri. Kami juga menemukan obat tidur dalam saku celananya, menurut perkiraan saya pasien telah mengkonsumsi obat tidur dalam jangka waktu yang lama. Stres berat dan batin yang tertekan membuat pasien tidak bisa tidur nyenyak, sehingga harus meminum obat tidur terlebih dahulu!"
"Dan juga pasien mengalami sakit maag, sepertinya pola makan dan pola tidur pasien sangat bermasalah. Saya harap Anda semua lebih memperhatikan gaya hidup pasien. Untuk sementara ini pasien harus di rawat inap agar kondisinya kembali stabil dan kami akan menjaga pola tidur dan pola makan pasien agar penyakit maag nya tidak semakin parah!"
Dokter menjelaskan dengan detail tentang keadaan Abraham sebenarnya. Juliet hampir pingsan mendengarnya, Diego segera merangkul pinggang ramping istrinya. Dia membawa Juliet ke dalam pelukannya, sang istri menangis sesenggukan penuh penyesalan.
Begitupun dengan Adam dan Aprilia. Tak terkecuali Diego yang merasa sangat sedih. Merasa bersalah pastinya.
Dia mengangguk kepalanya lemah. Sang dokter pun meminta izin pamit. Sementara itu Abraham segera dikeluarkan dari ruang UGD dan di bawa menuju ruang rawat.
Tatapan mereka semua kabur di halangi oleh air mata ketika melihat keadaan Abraham yang sangat memprihatinkan. Wajah pria itu pucat pasi dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Juliet jatuh lemah dalam pelukan suaminya.
"Putraku ya Tuhan, hiks …"
Juliet berkata dengan nada lirih, kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya ketika melihat keadaan putranya. Dia merasa sangat bersalah. Andai saja dia selama ini lebih memperhatikan Abraham, mengesampingkan amarahnya, pasti sang putra tidak seperti ini.
Menangisi juga tak ada gunanya.
"Kuat lah, Sayang. Saat ini Abraham butuh kita semua!" ujar Diego seraya merangkul pinggang Juliett. Menuntun sang istri berjalan menuju ke ruang rawat Abraham.
Pria itu di masukkan ke dalam ruang VVIP. Adam mendekati saudara kembarnya itu, dia merasa tak berguna. Seharusnya dia bisa menjadi tempat bersandar bagi Abraham, karena mereka adalah kembar. Bukan malah mengacuhkan dan menyalahkan Abraham atas semua yang terjadi. Sakit hatinya mengingat semua hal itu.
"I'm so sorry, My twins. Aku janji setelah kamu sadar, aku akan berubah dan menjadi tempat sandaran ternyaman mu. Seperti dulu," gumam Adam pelan tanpa sadar meneteskan air matanya.
Zara sebagai sang istri menyentuh bahu sang suami berusaha menguatkan Adam. Aprilia yang sedari tadi terdiam pun terkejut melihat pergelangan tangan sang kakak. Air mata yang sedari ia tahan langsung tumpah begitu saja tanpa bisa ia tahan. Dia menangis sesenggukan tanpa mampu ia tahan.
"Oh My God, kenapa bisa seperti ini? Hiks … maafkan aku, Kak. Andai aku tahu beban yang kamu pikul seberat ini, aku tidak akan mau menyalahkan mu atas kepergian, Desy!" Aprilia menekuk kedua kakinya di lantai seraya memeluk lengan sang kakak.
Di cium nya pergelangan sang kakak penuh kasih. Dia sebagai calon dokter paham betul apa arti dari goresan di tangan Abraham.
Barcode.
Sebuah kata yang menggambarkan suatu hal mengerikan. Di mana seseorang yang tak mampu menahan beban berat atau tekanan mental, akan memilih barcode atau menyakiti tubuhnya sendiri.
Setelah darah keluar dari tubuhnya, membuat orang itu merasa tenang. Seolah masalah keluar seiring dengan darah yang mengalir.
"Sekarang bukan saatnya menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Karena itu hanya sia-sia. Setelah Abraham sadar nanti, alangkah baiknya kita semua meminta maaf dan berbicara dari hati ke hati. Bagaimanapun, hampir setahun kita semua lost contact dengan Abraham. Kesampingkan rasa kecewa atas perilaku Abraham pada mendiang Desy!"
"Aku yakin kalau di banding kita semua, Abraham lah yang paling menderita. Dia telah kehilangan istrinya, wanita yang sangat mencintai nya. Kemudian, dia kehilangan cinta dari keluarganya. Semua orang menyalahkan nya atas kepergian, Desy. Bahkan, dirinya sendiri pun ikut menyalahkan diri sendiri. Seperti penjelasan dokter tadi, Abraham berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri."
"Orang yang mencoba bunuh diri biasanya karena masalah yang pikul nya sangat berat, bisa jadi depresi atau membenci dirinya sendiri! Tugas kita saat ini adalah meminta maaf, kemudian mendukung Abraham untuk move on. Juga meyakinkan dia kalau kepergian Desy bukan kesalahannya."
"Dengarkan juga penjelasan Abraham tentang malam sebelum Desy meninggal."
Zara selalu pendatang baru dalam keluarga Diego pun bersuara. Selama ini dia sudah mencoba berbicara pada sang suami agar memberikan perhatian pada Abraham, juga mendengarkan pria itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi, Adam tak mau. Dia juga menyayangi Desy seperti adik kandungnya sendiri. Merasa kehilangan adalah hal yang pasti ia rasakan.
Semua orang terdiam, mereka membenarkan dalam hati atas apa yang di katakan oleh Zara. Selama ini mereka semua terlalu egois, mementingkan perasaan pribadi tanpa mau memperdulikan perasaan Abraham.
Tentu saja pria itu lebih menderita daripada mereka semua.
Pintu ruangan terbuka menampilkan sosok Max, Alex dan Demian. Tak lupa bersama istri mereka, sedangkan Xander dan Emma tak ikut sebab mereka sedang berada di luar negeri.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Max khawatir seraya menatap Abraham yang terbaring lemah.
Mereka semua menatap miris keadaan Abraham. Terkecuali, Demian. Pria itu kasih menyimpan dendam pada Abraham, dia ke rumah sakit juga atas desakan sang istri. Bila tidak, dia lebih bermain dengan putrinya.
"Lebih parah dari yang kita lihat. Ternyata selama ini Abraham sudah melakukan percobaan bunuh diri berulang kali. Dia juga tidak peduli dengan pola makan dan pola tidurnya."
Diego menjelaskan nya dengan suara serak. Air matanya sedari tadi mengucur membasahi pipinya, dia tidak mampu lagi berlagak tegar. Alex pun menepuk pundak sahabatnya itu.
"Sabar yah! Setelah dia sadar nanti. Perbaiki hubungan kalian! Jangan sampai menambah penyesalan di kemudian hari."
Alex memberi nasehat membuat Diego menganggukkan kepalanya. Sedangkan Juliett sudah duduk bersandar di sofa. Dia tidak mampu berdiri, di temani oleh Sissy, Memey dan Eliza.
"Putraku, El! Hiks … putraku." Juliet menangis dalam pelukan Eliza. Wanita paruh baya itu merasa hancur ketika melihat keadaan putranya.
Tidak menyangka akan separah ini.
"Dia akan baik-baik saja. Percayalah."
Meymey ikut sedih melihat sahabatnya menangis seperti ini. Begitupun, Sissy. Wanita paruh baya itu juga memberikan dukungan pada sahabatnya.
"Sabar yah. Everything it's gonna be okay," ujar Sissy membuat Juliet menangis sesenggukan.
"Aku yang Abraham cuma terluka saja sudah merasa sangat hancur. Lalu bagaimana dengan mu dulu! Saat melihat putrimu hangus terbakar!" balas Juliet dengan suara serak membuat Sissy menelan ludahnya sendiri.
Dia ingin menceritakan kalau putrinya masih hidup. Tetapi, tidak diizinkan oleh Demian maupun Desy. Putrinya masih ingin mempersiapkan diri untuk tampil di publik.
Sissy juga merasa bersalah.
"Maafkan aku," ujarnya di dalam hati.
*
*
Di luar ruangan. Seseorang mengintip nya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap Abraham dengan tatapan sulit di artikan. Perasaan benci lebih mendominasi. Dia mengepalkan tangannya erat.
Orang itu menghapus air matanya kasar. Lalu pergi dari sana sebelum ada yang menyadarinya.
*
*
Abraham membuka matanya pelan. Pandangannya buram, karena nyawa belum terkumpul. Perlahan dia mengerjapkan matanya, hingga pandangannya yang buram menjadi jernih.
Pria itu merasa lengan nya berat. Seperti di tindih sesuatu. Dia melirik ke samping ternyata Adam tidur seraya memeluk lengannya. Dia melihat ke arah sofa, tampak sang ibu dan adik perempuannya tidur di sana.
"Ya, Tuhan. Kamu sudah sadar, Abra!" pekik Diego yang baru saja masuk setelah membeli makanan untuk anak-anaknya.
Abraham terkejut melihat kehadiran ayahnya. Ada rasa bahagia dalam hati, namun rasa sedih lebih dulu memenuhi hatinya. Teringat pertemuan terakhir nya dengan sang ayah sangatlah buruk.
Di mana kala itu ayahnya menghajar nya habis-habisan. Mencurahkan rasa kecewanya yang membara.
Mendengar suara Diego, membuat semua nya terjaga. Mereka melihat Abraham dengan tatapan bahagia. Bersyukur sang putra telah sadar, segera saja Juliet mendekati putranya.
Di hadiahkan nya kecupan singkat pada kening Abraham.
"Mommy senang kamu telah sadar, Sayang! Dad, tolong ambilkan minum!" titah Juliet membuat Adam yang lebih dekat dengan gelas air pun segera mengambilnya.
Ia berikan pada sang ibu.
Setelah minum, tenggorokan Abraham lebih segar.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Abraham dengan suara parau memasang ekspresi datar membuat semua orang membeku.
__ADS_1
"Abra."
"Bukannya, kalian membenciku? Kalian tidak mau peduli lagi padaku? Kalau kalian datang ke sini hanya untuk memojokkan ku lagi, lebih baik pergi dari sini. Beban ku sudah banyak, jadi tolong jangan tambah lagi!"
Abraham lebih dulu menyela nya. Pria itu tak ingin dikecewakan lagi. Sudah setahun dia hidup sendirian berteman alkohol. Hanya sekretaris Jo yang peduli padanya. Lainnya tidak.
Mendengar perkataan Abraham membuat mereka semua sedih dan sesak. Wajar saja pria itu marah, karena memang apa yang telah mereka lakukan dulu keterlaluan.
Juliet menggenggam tangan putranya. Dia tidak ingin Abraham kecewa lagi.
"Maafkan kami semua, Sayang. Kamu salah karena telah jahat padamu. Seharusnya, sebagai keluarga kita saling bahu membahu. Saling mendukung dan menguatkan satu sama lain! Maafkan, Mommy yah. Apa kamu mau memaafkan, Mommy?" tanya Juliet dengan lemah lembut.
Wanita paruh baya itu meneteskan air matanya membuat Abraham ikut meneteskan air matanya. Rasa sesak dalam hati sedikit terobati mendengar perkataan ibunya.
Sebagai seorang anak, dia sangat merindukan momen seperti ini. Bersama-sama lagi dengan keluarganya.
Abraham mengangguk kepalanya cepat. Ia menutup matanya dengan telapak tangan. Tak ingin tampak lemah di hadapan keluarga nya.
"Maafkan aku juga. Karena aku Desy pergi," lirih Abraham dengan suara terbata-bata.
Pria itu menangis sesenggukan menumpahkan segala rasa sakitnya selama ini. Andai dia bisa menjerit pastilah sedari tadi ia lakukan. Tetapi, dirinya terlalu malu.
"Hey, ini bukan salahmu. Desy meninggal karena kecelakaan! Bukan, karena mu. Maafkan kami karena dibutakan oleh amarah. Sehingga, kami melampiaskan amarah kamu padamu dengan cara menyalahkanmu atas kepergian Desy!" ujar Diego dengan nada tegas.
Dia ikut mengelus puncak kepala Abraham. Membuat pria itu semakin menangis. Bagai anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Kakak, maafkan aku juga karena sudah memaki mu dulu. Aku sayang kakak … hiks … aku tidak benci kakak! Maafkan aku!"
Aprilia ikut meminta maaf. Teringat kalau dulu dirinya pernah mengatakan hal jahat pada Abraham.
"Aku menyesal punya kakak sepertimu. Aku benci padamu … hiks … kenapa tidak kau saja yang mati? Kenapa harus gadis baik seperti, Desy? Aku benci padamu … akkk … kenapa Tuhan malah memberiku kakak tolol dan bejat seperti mu?!" maki Aprilia pada Abraham kala itu di pemakaman Desy.
Saat ini gadis berambut pirang itu merasa bersalah. Dia tidak ingin sang kakak marah padanya. Dia ingin hubungan mereka seperti dulu lagi.
Mendengar ucapan Aprilia, membuat hati Abraham menghangat dan lega. Seolah batu yang menghimpit nya setahun ini terangkat satu persatu.
"Aku juga minta maaf. Seharusnya, aku tidak ikut-ikutan menyalahkan mu. Karena aku saudara kembar mu, yang paling dekat dan mirip denganmu," imbuh Adam dengan perasaan penuh sesal.
Lega sudah perasaan Abraham. Pria itu merasa kalau beban yang di pikul nya selama ini satu persatu terangkat.
Pria itu menganggukkan kepalanya. Dia masih menangis, tak bisa menahan diri untuk berlagak baik-baik saja.
"Aku juga minta maaf," lirih Abraham tanpa suara.
Sekretaris Jo yang berdiri di luar sedari tadi pun mengurungkan niatnya. Dia tidak berani masuk ke dalam untuk memperlihatkan berita besar yang ia bawa.
"Apa yang akan dilakukan si Bos kalau tahu istrinya masih hidup?" tanya nya pada diri sendiri seraya menatap layar ponselnya.
*
*
Bersambung.
Maaf baru up lagi hehe 🤭🤭
Mohon doanya agar author di beri kelancaran ide. Biar bisa up setiap hari.
Insya Allah hari ini up lagi.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1
Mampir juga ke novel temen author 🥰