Mengejar Cinta Istri Seksi

Mengejar Cinta Istri Seksi
Aib Rumah Tangga


__ADS_3

Delapan hari kemudian.


Jantung Desy berdegup kencang saat melihat Jimmy menyuruhnya naik timbangan. Gadis itu takut kalau berat tubuhnya tidak kunjung turun, padahal dia sudah berusaha sekeras mungkin agar terus semangat berolahraga. Menjaga pola makan sangatlah sulit, karena gadis itu pada dasarnya gemar makan. Namun, perkataan Jimmy terus terngiang-ngiang di telinga nya. Dia ingin membuat Abraham pangling saat pulang nanti.


"Ayo naik," suruh Jimmy kesal karena Dedy sedari tadi hanya diam saja.


"Lain kali saja, Jimmy. Aku takut kecewa nanti," ujar Desy takut-takut membuat Jimmy mebheka nafas pendek.


"Tidak apa-apa, coba saja dulu. Kita lihat apakah ada kemajuan atau tidak. Masalah turun atau naik itu tidak akan menjadi sebuah problem. Ingat! Olahraga itu harus, punya body goals itu bonus."


Jimmy berkata tegas berusaha menenangkan hati Desy yang gelisah. Pada akhirnya gadis cantik itu menganggukkan kepalanya. Dia setuju naik timbangan, dalam hati tak berhenti dia berdoa berharap berat badannya turun.


Perlahan Desy melangkahkan kakinya naik ke atas timbangan. Dia memejamkan matanya tak ingin melihat ke bawah.


Jimmy tersenyum lebar, melihat hasil timbangan Desy.


"Buka matamu sekarang dan lihat apa hasilnya!"


"Aku tidak berani."


"Buka dan hadapi kenyataan."


Perlahan Desy membuka matanya, memberanikan diri untuk melihat kenyataan. Gadis itu menundukkan wajahnya melihat ke bawah, tak menyangka dengan hasilnya.


"Akkk … 83 Kg … aku turun 9 Kg, Jimmy. Ya Tuhan, aku tidak percaya ini … hiks … ya Tuhan, hiks … Mommy, Daddy … aku berhasil!"


Desy menangis terharu melihatnya, baru dekapan hari melakukan diet dan olahraga sudah menunjukkan hasilnya. Tak pernah menyangka akan benar-benar turun, padahal selama ini dia pesimis.


Tak lupa Desy mengabadikan momen itu. Dia memfoto hasil timbangan nya dan mengirimkan gambar tersebut kepada ibu dan ayahnya.


Tak perlu menunggu lama, sang ayah segera menghubungi nya. Mereka melakukan video call.


Jimmy mengungkit dari sana, memberikan waktu pada Desy untuk menikmati momen berharga itu.


"Mommy, Daddy … hiks … aku berhasil melakukan nya!" ujar Desy di sela-sela tangisnya.


Wajah kedua orang tuanya memenuhi layar ponselnya. Rupanya sang ayah tidak bekerja hari ini, dia merasa sangat bahagia sekarang.


"Ya Tuhan, My princess Daddy. Kamu hebat, Nak. Sangat hebat … Daddy bangga padamu!" Demian ikut terharu, tanpa sadar dia meneteskan air matanya. Begitu Pula dengan Sissy — ibu Desy.


"Kamu juga harus istirahat yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri sendiri, kalau lelah maka istirahat. Jangan di paksa berolahraga keras."


Sissy memberikan nasehat pada putri tunggal nya. Desy mengangguk kepalanya. Dia mendengar dan akan melakukan perintah orang tuanya. Selama ini ada Jimmy yang selalu memberinya semangat dan menyuruhnya istirahat saat sudah lelah.

__ADS_1


Pria itu sangat pintar membuat Desy nyaman dengan olahraga.


"Iya, Mom. Apa kalian tahu? Aku tidak menyangka akan turun 8 kg. Pantas saja aku merasa tubuhku lebih ringan sekarang."


Desy bercerita dengan semangat, kedua orang tuanya merespon dengan baik. Jimmy yang melihatnya pun tersenyum miris. Dia sudah tidak memiliki orang tua dan keluarga, sama seperti Desy. Dirinya anak tunggal.


"Haiss … air mata sialan ini kenapa keluar sekarang!" umpat Jimmy segera menghapus air matanya dengan cepat. Agar tidak ada orang yang melihatnya.


Namun, sayang. Orang tua Desy sudah melihatnya. Posisi Desy saat ini membelakangi Jimmy. Sehingga, kamera ponselnya mengarah ke arah Jimmy.


"Yang di belakang mu siapa, Sayang?"


"Ah … dia adalah teman yang aku ceritakan, Mom. Dia yang mendukung ku selama ini!" Desy berjalan mendekati Jimmy.


Dia merangkul pundak sahabatnya, menampakkan wajah Jimmy agar kedua orang tuanya bisa melihat.


"Halo, uncle, Aunty," sapa Jimmy seraya tersenyum canggung.


"Hai anak muda, terima kasih karena sudah mendukung dan menjaga putriku di sana," ujar Demian tersenyum tulus.


"Lain kali kalau kamu punya waktu, mainlah ke rumah kami. Aku akan menghidangkan makanan enak untukmu,* tambah Sissy membuat hati Jimmy berubah hangat.


"Baik." Jimmy mengangguk kepalanya.


Mereka kembali lanjut bercerita, hingga satu jam lamanya barulah Desy mengakhiri panggilan tersebut.


*


*


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan. Seorang gadis cantik berbadan seksi meski tubuhnya sedikit berisi duduk termenung.


Dia melihat layar ponselnya sedari tadi membuat pria yang sedang bersamanya pun heran.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti orang sedih? Apa ada masalah?" tanya Jimmy lembut seraya menghempaskan bokongnya duduk di sebelah Desy.


"Sudah 5 bulan dia pergi, Jimmy. Tapi, hanya menghubungi ku sekali yaitu 3 bulan yang lalu dan mengatakan kalau dia tidak bisa pulang ke Eropa. Karena harus pergi ke Amerika untuk mengatasi permasalah di perusahaan anak cabang Daddy Diego di sana! Setelah itu dia tidak memberi kabar apapun."


Desy menceritakan nya dengan suara pelan. Wajahnya lesu tak bersemangat membuat Jimmy merasa kasihan.


"Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menghubungi nya?" tanya Jimmy penasaran.


"Setiap kau menghubungi nya dia selalu bilang sibuk dan tanpa basa-basi langsung di matikan."

__ADS_1


Desy menceritakan permasalahan rumah tangganya pada Jimmy. Untuk pertama kalinya dia membuka aib rumah tangganya sendiri pada orang lain, dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit itu sendirian.


Tak sedikit air mata yang turun membasahi pipinya. Jimmy mengepalkan tangannya erat, dia merasa sangat geram dengan tingkah laku Abraham. Pria itu benar-benar keterlaluan memperlakukan istrinya dengan buruk.


Jimmy segera memeluk erat tubuh Desy. Memberikan kekuatan pada sang sahabat, tanpa sadar dia melabuhkan ciuman di puncak kepala Desy berkali-kali.


Seperti seorang ayah yang menenangkan anak gadisnya ketika menangis.


"Aku harus apa sekarang, Jimm? Aku bimbang, aku lelah berusaha. Aku juga ingin di perjuangkan, Jimmy! Hiks … aku harus apa sekarang, Jimmy? Katakan padaku!" tangis Desy pecah dalam pelukan Jimmy.


Untung saja Desy dan Jimmy berada di ruangan VVIP. Hanya ada mereka berdua di dalam sana. Namun, mereka tak sadar kalau seseorang mengambil potret mereka dari jauh.


"Jangan perjuangkan orang yang tidak ingin diperjuangkan, Desy. Sejatinya, wanitalah yang di perjuangkan, bukan laki-laki. Kalau kamu lelah, maka berhenti sekarang juga. Kamu cantik, baik, kaya dan pintar. Di luar sana banyak laki-laki yang mau denganmu. Menerima mu apa adanya, mencintaimu setulus hati. Memperlakukan mu seperti permata."


"Tinggalkan semua orang yang membuat mu sedih. Raih kebahagiaan mu sendiri!"


Jimmy terus memberikan nasehat pada sahabatnya. Dia ingin sang sahabat hidup bahagia. Bukan malah menderita seperti ini.


*


*


Seorang gadis berdiri di depan pintu kamar hotel suaminya. Dua menghela nafas berat, berusaha mempersiapkan mentalnya agar tak terluka nantinya.


Tok tok tok.


Perlahan pintu kamar itu terbuka menampilkan sosok wanita cantik dengan rambut basah memakai kimono.


"Ada yang bisa saya bantu, Miss?" tanya wanita itu ramah membuat tubuh Desy membeku.


"Siapa yang datang, Jihan?" Suara bariton pria yang berstatus suaminya terdengar membuat jantungnya berdegup kencang dan darahnya mendidih.


"Bangs@t kalian … binatang!" Desy menendang dada wanita itu membuat tubuhnya terjungkal ke belakang dan mulutnya berbentuk huruf O. Tendangan Desy sangat mematikan membuat wanita itu tak mampu berbicara.


Bugh.


*


*


Kalau banyak komentar, author bakal up lagi! 😘😘


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


__ADS_2