
Flashback on.
Desy menatap lurus keluar jendela. Gadis itu hanya menyuruh sang supir untuk membawanya ke kota L tempat rumah kakak sepupu ibunya berada. Dia ingin mengistirahatkan tubuh dan jiwanya di sana. Sengaja Desy memilih tempat tinggal kota L. Sebab di sana merupakan tempat indah dekat kebun teh.
Gadis itu mengernyitkan dahinya di kala sang sopir membawanya ke daerah sepi. Dia sendiri tidak tahu keberadaan mereka di mana sekarang. Segera gadis itu memasang sikap waspada. Dia menelan ludahnya kasar, tangannya terkepal erat.
"Sepertinya kita salah jalan, Pak." Desy berkata dengan suara yang dibuatnya tenang.
Sang supir pun menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Perasaan Desy sudah tak karuan, gadis itu mengambil ancang-ancang untuk lari. Melawan pun tak ada gunanya, di karenakan ruang geraknya sempit.
Klek.
Desy berhasil membuka pintu mobil dan berlari kencang sejauh mungkin. Tetapi, seseorang lebih dulu mencekal tangan Desy membuat gadis itu menoleh dan ternyata seorang wanita berbadan kekar menahannya.
"Mau lari ke mana hmm? Oh ya ampun … sepertinya kau sangat kaya. Di lihat dari pakaian mu yang bermerek ini!" Wanita itu berkata dengan nada santai membuat Desy geram. Di liriknya supir taksi tadi ternyata berjalan mendekat ke arahnya membuat Desy kelabakan.
"Lepaskan aku sialan!" Desy menendang kaki wanita itu, namun sang wanita menghindar dan malah memutar pergelangan Desy membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Akk." Tak tinggal diam Desy melemaskan tubuhnya lalu membenturkan kepala belakang nya mengenai hidung wanita itu hingga berdarah.
Bugh.
"Akk … hidung mancung ku!" jerit wanita itu melepaskan tangan Desy dan meraba hidung mancungnya.
"Sial hidung ku berdarah," umpatnya dengan nada kesal membuat Desy tersenyum sinis.
Untung saja dirinya pandai ilmu bela diri, hingga bisa menghajar orang-orang yang menyakiti fisiknya. Desy tidak sadar kalau supir taksi sudah berdiri di belakang nya.
"Halo, Miss," sapa nya lagi dengan suara ramah membuat Desy menoleh ke belakang.
Mata Desy melebar sempurna saat benda tajam menusuk dada kanannya. Tanpa sadar cairan bening keluar dari pelupuk matanya membasahi pipi. Dia menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang ia derita.
Wanita tadi tersenyum penuh kemenangan saat melihat Desy berhasil dilukai oleh pacarnya. Begitu Pula supir taksi itu langsung merebut ponsel dan tas kecil Desy.
Kaki istri Abraham itu luruh ke aspal. Pandangannya buram, rasa sakit yang ia derita saat ini sebanding dengan rasa sakit batinnya. Gadis itu tersenyum getir, apakah ajalnya segera tiba! Apa Tuhan merindukan nya?
Supir taksi itu membuka dompet Desy dan terdapat banyak sekali uang cash juga kartu black card ada tiga. Keduanya tersenyum senang, merasa seperti mendapatkan durian runtuh.
"Oh God … mimpi apa semalam aku mendapatkan mangsa yang sangat kaya raya! Haha!" pekik pria itu bahagia memeluk dan mencium kekasihnya.
Mereka berdua sebenarnya merupakan buronan polisi. Berhasil kabur dari penjara dan kembali melakukan kejahatan. Menyamar sebagai supir taksi dan supir pemilik taksi yang Desy tumpangi telah mati mereka bunuh.
"Ya ampun, dengan uang ini kita bisa mengurus paspor untuk pergi dari negara ini!" ujar wanita itu semangat.
Desy memandang benci keduanya. Dia tidak rela orang-orang hina itu mencuri tasnya, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak dikarenakan keadaan nya saat ini sangat tak memungkinkan.
"Dasar manusia hina," lirih Desy dengan suara tertahan membuat keduanya langsung menatap tajam Desy.
Plak.
Wanita itu menampar pipi Desy hingga merah. Tak berhenti di situ, dia juga mencabut pisau yang tertancap di dada kanan Desy membuat gadis itu melebarkan bola matanya, karena rasa sakit yang ia rasakan semakin bertambah.
Uhuk.
__ADS_1
Cairan kental berwarna merah keluar dari mulutnya. Nafasnya tercekat di tenggorokan dan dadanya terasa sesak. Dunianya seolah berputar, gadis itu tak mampu lagi melihat dengan jelas. Pandangannya buram, nafasnya terhentak-hentak.
"Pergilah ke neraka, sialan!" umpat nya kasar.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum ada orang yang melihat kita," ajak pria itu pada wanitanya.
"Tunggu dulu, Sayang." Wanita itu berjalan mendekati Desy yang sedang sekarat. Ia memeluk satu kakinya dan melepaskan dengan paksa cincin pernikahan Desy. Gadis cantik itu menangis tanpa suara. Dia menggelengkan kepalanya menatap wanita itu dengan penuh harap.
Seolah memberi kode untuk tidak mengambil cincin pernikahan nya. Teringat tentang pernikahan nya dengan Abraham, bagaimanapun cincin itu sangatlah berharga baginya.
"Jangan," lirih Desy nyaris tak bersuara membuat wanita itu tersenyum sinis. Lalu memakai cincin itu ke jadi manisnya.
"Ini milikku sekarang!" desis wanita itu lalu pergi dengan kekasihnya masuk ke dalam mobil.
Mobil taksi itu melaju meninggalkan Desy sendirian. Gadis cantik itu menangis lirih, dia menatap langit dengan tatapan sendu. Tersenyum miris penuh luka membingkai wajahnya.
Wajah Abraham terlintas dalam benaknya. Ingatan masa lalu yang ia habiskan untuk mengejar cinta seorang Abraham berputar layaknya sebuah film. Rasa sakit yang diberikan oleh Abraham belum juga pulih, tetapi dia telah mendapatkan luka baru.
"Abra, jika aku diberi umur panjang atau aku hidup di kehidupan selanjutnya. Maka, aku berdoa pada Tuhan agar menghilangkan rasa cinta ini. Aku bermohon pada Tuhan agar kau lah yang mengejar ku. Agar kau tahu bagaimana rasa sakit diabaikan, rasa sakit tak dianggap dan rasa sakit tidak dicintai."
Desy berdoa dalam hati. Setelahnya, Desy tak mengetahui apapun yang terjadi lagi. Dia tak sadarkan diri, mengira kehidupannya telah berakhir.
Flashback off.
Demian mengepalkan tangannya erat. Dia merasa sangat bersalah dan tak bisa menjadi ayah Desy. Karena kelalaiannya, sang putri di celakakan orang asing. Untung saja kedua manusia yang melukai Desy telah tewas.
Sissy menangis sesenggukan mendengar cerita putrinya. Dia memeluk erat tubuh Desy.
Sissy berkata dengan suara parau membuat Desy merasa hangat. Dia merasa sangat beruntung memiliki orang tua seperti Demian dan Sissy. Meski gagal dalam percintaan, tak gagal dalam keluarga.
"Apa yang mommy katakan? Aku sangat bahagia punya orang tua seperti kalian. Bahkan, kalau aku dimatikan lalu dihidupkan lagi, aku akan memilih kalian untuk menjadi orang tua ku. Karena menjadi anak kalian berdua adalah keberuntungan terbesar yang Tuhan berikan untukku."
Desy membalas pelukan ibunya. Dia ikut menangis haru sebab bertemu lagi dengan keluarganya. Sejenak suasana di dalam ruangan kecil itu mengharu biru. Mereka merasa bahagia bisa berkumpul lagi. Demian tak hentinya mencium puncak kepala putri tercintanya.
"Lalu, siapa yang menolong mu, Princess?" tanya Demian membuat Desy tersenyum manis.
"Charlotte yang menolongku, Dad. Saat itu dia ingin ke kota untuk mencarikan pasokan obat scabies, karena warga disini terserang wabah scabies. Dia melihat ku sedang sekarat di pinggir jalan dan langsung memberikan ku pertolongan pertama dan membawa ku ke rumah sakit ini! Dia dan dokter lainnya di sini merawatku dengan sangat baik. Meski tidak tahu asal usul ku, mereka rela merogoh saku untuk membelikan peralatan lengkap medis agar bisa merawatku yang koma!"
Desy menjelaskan dengan semangat kebaikan para dokter yang bekerja di rumah sakit ini. Mendengar hal itu membuat Demian dan Sissy terharu. Keduanya bersyukur sebab Desy bertemu dengan orang baik.
Pintu ruangan terbuka dan tampak Charlotte menenteng nampan makanan untuk Desy.
"Oh, sorry!" Charlotte tersenyum canggung melihat kedua orang tua Desy. Wanita paruh baya itu datang membawa sarapan Desy. Gadis itu harus minum obat lagi agar kondisi fisiknya semakin membaik.
Desy belum bisa berjalan dengan sempurna. Tenaganya belum sepenuhnya kembali, hampir setahun dia terbaring lemah atas ranjang. Tentu saja Desy tidak bisa berjalan seperti biasanya.
"Itu dia Charlotte, Mom, Dad. Dia yang aku ceritakan pada kalian!" ujar Desy tersenyum manis melihat kedatangan Charlotte.
Segera Sissy menangis haru dan memeluk erat tubuh Charlotte setelah wanita itu meletakkan nampan makanan di atas meja.
"Terima kasih sudah menolong putriku."
Sissy berulang kali berterima kasih pada Charlotte membuat wanita paruh baya itu tersenyum canggung.
__ADS_1
"Sudah menjadi tugas kamu sebagai dokter untuk menyelamatkan orang yang membutuhkan pertolongan medis."
Demian tersenyum tulus. Dia dapat menilai karakter Charlotte yang tulus.
"Sebagai ucapan terima kasihku pada kalian semua, aku akan menjadi donatur tetap rumah sakit ini. Aku juga akan merenovasi rumah sakit ini agar pembangunan nya lebih baik dan lebih nyaman ditempati oleh pasien. Tenang saja, kalian juga akan mendapatkan gaji bulanan dariku. Dan berobat di sini nantinya tetap gratis!"
Demian berkata dengan nada tegas. Dia memberikan kartu namanya pada Charlotte. Wanita paruh baya itu terkejut saat melihat nama panjang Demian. Ternyata pria itu adalah pengusaha kaya raya dari Eropa. Dia juga memiliki saham di rumah sakit besar Amerika. Tentu saja dia tahu siapa Demian.
"Terima kasih, Tuan," ujar Charlotte dengan suara bergetar menahan tangis. Dia sangat terharu dengan kebaikan Demian. Selama ini dia dan rekan kerjanya tidak menikah, karena sibuk mengabdikan dirinya pada orang-orang yang membutuhkan.
Sekarang, Tuhan telah mengabulkan doa mereka selama ini melalui perantara Desy. Ternyata benar apa yang di ajarkan oleh agama : saat kita membantu orang lain dengan tulus. Maka Tuhan pun akan membantu kita lewat orang lain dengan bantuan yang tidak pernah kita sangka sangka.
Mereka pun kembali mengobrol. Kerinduan di dalam Hati Demian dan Sissy terobati ketika melihat tawa dan senyum di wajah putrinya.
Tidak ada yang membicarakan Abraham. Meski dalam hati Desy sedari tadi dia ingin bertanya kabar pria itu. Tetapi, lidahnya kelu.
Hatinya rindu, tetapi logikanya menepis rasa rindu itu.
"Ingat apa yang telah dia lakukan padamu, Desy," ujar logikanya untuk menyadarkan gadis itu.
Demian mengelus puncak kepala putrinya.
"Setelah sembuh apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Demian dengan lembut.
"Aku ingin meneruskan bisnis, Daddy. Aku ingin jadi CEO dan pemegang saham terbesar Daddy!" ujar Desy mantap penuh ambisi membuat Sissy dan Demian terkejut.
Selama ini putrinya paling anti dengan bisnis. Dia terlalu sibuk mengejar cinta Abraham, sampai-sampai tidak peduli dengan bisnis orang tuanya.
"Kamu serius?" tanya Demian menatap lekat wajah pucat putrinya.
"Aku serius, Dad. Sudah saatnya aku menjadi pewaris tahta, Daddy. Cukup di masa lalu aku menjadi budak pria yang tidak mencintai ku. Sekarang, aku akan menjadi ratu di perusahaan ayahku sendiri. Tidak ada yang boleh menjadikan ku budak lagi, apalagi dijadikan budak cinta oleh pria yang sama!" tegas Desy penuh keyakinan membuat Demian dan Sissy tersenyum bahagia.
Putrinya telah berhasil move on.
Desy tersenyum penuh arti.
"Sudah saatnya aku kembali," gumam Desy tersenyum sinis.
*
*
Uhuyyyy Abraham ketar ketir woii, 🤣🤣
Ini 2 bab author gabungkan loh 😪😪 kemarin nggak up karena bad mood.
Ayo kasih kopi dan vote 🙏🙏😎😎 biar author semangat lagi.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1