
Di Eropa.
Demian tidak bisa tidur pulas, dia merasa hatinya resah dan gelisah. Terlintas bayangan putri kecilnya sedang menangis, karena terluka. Sedari tadi dia mencoba tidur menyusul sang istri ke alam mimpi. Tetapi, tak bisa. Sangat sulit untuk sekedar memejamkan matanya saja.
Demian pun bangkit, dia memilih keluar dari kamar untuk menghubungi putri kecilnya. Berulang kali Demian mencoba, tetap tidak terhubung. Perasaan nya semakin risau.
"Ada apa denganmu, Princess? Kenapa tidak bisa Daddy hubungi?" Demian berjalan mondar-mandir. Terakhir kali dia mendapat pesan dari sang putri yang telah sampai di hotel menantunya.
Setelah itu dia tidak mendapatkan pesan apapun. Sebagai seorang ayah yang sangat menyambut putrinya juga dekat bak seorang sahabat mampu tercipta ikatan batin yang kuat. Seperti di masa lalu, Desy di bully oleh anak-anak langsung dia tahu.
Demian tidak bisa membiarkan rasa ini bersemayam terlalu lama. Segera dia menghubungi teman nya yang merupakan seorang detektif di Amerika.
"Halo, Sam. Aku butuh bantuan ku!" ujar Demian tanpa basa-basi.
[Bangunan apa, Bung?]
"Tolong lacak keberadaan putriku saat ini di mana. Aku akan kirimkan fotonya padamu!"
[Baik, aku tunggu sekarang]
Panggilan terputus, Demian segera mengirimkan foto putri nya yang sudah kurus. Tidak apa-apa, sebab Desy juga sudah membuat kartu identitas baru memakai foto nya yang sekarang.
Demian memilih masuk ke dalam kamar putrinya untuk mengobati rasa rindu dalam hatinya. Dia memandangi foto masa kecil sang putri yang kala itu gemuk dan menggemaskan.
Sejenak hatinya terasa hangat dan bahagia. Teringat masa lalu, dulu Demian merasa lelah menggendong putrinya yang berbadan gemuk. Kadang pinggang nya sakit saat menunggangi putrinya di kala main kuda-kudaan.
__ADS_1
"Ha ha … ayo Daddy, lali Daddy lali yang kenceng! Ha ha … aku jadi Koboy juniol. Daddy jadi kuda nya!" Desy kecil tertawa girang seraya mengambang rambut sang ayah menyuruh ayahnya bak kuda asli yang harus lari cepat.
Demian kala itu hanya bisa menahan kekesalan nya. Namun, tak menampik rasa bahagia tersirat dalam hatinya. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa punya putri yang gemuk tapi Barbar juga berani.
"Hais, rasanya baru kemarin kamu kencing dalam gendongan, Daddy. Sekarang kamu sudah dewasa dan kencing sendiri," ujar Demian pelan seraya mencium foto Desy memakai kostum karate.
Demian adalah pria yang berpikir kritis. Dia tahu kalau putrinya hanya seorang diri tanpa saudara. Dia mendidik putrinya agar menjadi sosok yang bisa menjaga dirinya sendiri, terlebih lagi dari kecil sering kali dia mendapatkan bullyan karena tubuhnya yang gemuk.
Lalu Demian beralih memandangi foto Desy saat sedang bermain masak-masak bersama dirinya. Lagi dan lagi Demian hanya terkekeh geli mengingat masa itu.
Dia adalah pria tulen dan garang juga tampan. Tak pernah ia bayangkan akan mau bermain masak-masak dengan putri kecilnya.
"Kamu dan Mommy mu benar-benar sudah mengubah Daddy. Kalian adalah segalanya bagi Daddy," gumam Demian tanpa sadar meneteskan air matanya haru.
Setengah jam berlalu, suara dering ponsel milik nya kembali berbunyi. Dia tersenyum senang saat sahabatnya menelpon dan tak sabar mendengar kabar putrinya.
"Halo, Sam. Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan kabar tentang putriku?"
Demian bertanya lebih harap membuat pria di seberang sana serba salah. Dia baru saja mendapatkan kabar buruk tentang putri sahabatnya.
[Demian, kau harus tenang dan ikhlas, okay! Jangan panik]
Demian mengernyitkan dahinya di kala mendengar ucapan sahabat nya. Jantungnya berdegup kencang, dia merasa sesuatu yang buruk telah terjadi pada putrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang atau panik kalau kamu tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Demian dengan suara keras.
__ADS_1
[Tadi, aku baru saja mendapatkan kabar dari pusat kalau terjadi kecelakaan maut di jalan XX. Saat aku tiba di sana, mobil Taksi dan truk pembawa minyak meledak akibat kecelakaan itu, menyebabkan 3 orang tewas, salah satu di antaranya setelah kami selidiki adalah putrimu. Terdapat kartu identitas nya yang terbakar setengah tetapi, foto nya masih jelas kalau persis seperti foto putrimu!]
Demian merasa dunianya berputar. Kakinya luruh ke lantai, dadanya terasa sesak dan matanya berair.
"My princess, putri kecilku, tidak-tidak mungkin. Katakan kalau kamu salah, Sam?! Yang tewas itu bukan putriku, 'kan. Katakan?!" teriak Demian keras tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Putri kita tewas?"
Demian menoleh ke arah pintu, sudah berdiri istrinya di sana dengan mata berair.
"Sa-sayang," gumam Demian terbata-bata.
*
*
Ayo tembus komentar 100, nanti jam 9 malam author cek lagi kalau tembus author gas up lagi 🌹🌹🌹🌹🌹🔥🔥🔥
Bantu karya ini masuk rangking 1.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1