
Acara perayaan perusahaan D.M.S telah selesai. Semua tamu undangan telah pulang, terkecuali anggota keluarga Bastard. Mereka semua berkumpul di ruang tamu rumah Demian. Tatapan semua orang tertuju pada Desy yang duduk tegak tanpa senyuman di wajahnya.
Semua orang terkejut dengan kehadiran Desy yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Mereka tidak menyangka kalau Desy masih hidup. Gadis itu tampak sehat-sehat saja. Padahal mereka semua sedang dalam proses mengikhlaskan kepergian Desy.
"Kenapa tidak memberitahukan kami terlebih dahulu kalau Desy masih hidup? Kalau saja kami tidak datang ke sini malam ini, pasti kami tidak akan tahu kalau Desy masih hidup!"
Diego membuka suara. Dia menyesalkan tindakan Demian yang terkesan menganggap mereka semua sama seperti orang asing. Tidak penting sama sekali, sehingga kembalinya Desy pun mereka tidak mendapatkan kabar saat itu juga (pertama kali Desy kembali).
Desy menundukkan wajahnya. Dia merasa bersalah pada semua orang.
"Maafkan aku. Ini semua atas permintaan ku, aku yang melarang Daddy dan Mommy untuk memberitahukan kalian. Karena aku ingin memberi kejutan!"
Desy berkata dengan nada tegas, namun sorot matanya menunjukkan penyesalan yang amat dalam.
Mereka semua menghela nafas berat terkecuali Demian, Sissy dan Desy.
"Aku sengaja mengumpulkan kalian di sini, karena aku ingin membicarakan sesuatu yang penting!" ujar Demian dengan raut wajah datar. Pria itu menatap Abraham sekilas seolah sedang menilai menantunya.
Entah mengapa Abraham resah dan gelisah. Pria itu mengepalkan tangannya erat, berusaha menormalkan getaran dalam hatinya. Tatapan Demian dan Desy tertuju ke arahnya membuat pria itu mati kutu.
"Seperti yang sudah kita tahu sebelumnya, pernikahan Desy dan Abraham tidaklah baik-baik saja. Putriku kerap kali terluka hatinya, karena ulah Abraham. Desy juga telah memutuskan untuk bercerai dengan Abraham!"
Demian berkata dengan nada tegas. Raut wajah tenang tanpa ekspresi terpasang di wajahnya. Pria itu tidak terkecoh dengan keterkejutan orang-orang. Diego sebagai ayah Abraham pun hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
Pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia mau membantah dan menolak, namun tak mampu. Sebab sadar kalau putranya lah yang bersalah. Tak layak baginya untuk menolak keputusan Demian.
Berbeda dengan Abraham yang langsung berdiri. Dia menatap sangar Desy dan Demian. Pria itu tidak mau bercerai sampai kapanpun.
"Aku tidak mau bercerai apapun ceritanya!" kata Demian terus terang.
Desy mengalihkan atensi nya pada Abraham. Terlihat kemarahan dari ekspresi suaminya. Gadis itu geram, dia lelah dengan sikap egois Abraham.
"Apapun ceritanya aku pun tidak mau bersama mu lagi. Aku mau cerai!" sentak Desy tetap kekeh pada keinginan nya.
Sett.
Tatapan mereka berdua bertemu. Seolah ada magnet seperti kutub Utara dan kutub selatan. Saling bertolak belakang, dulu Desy yang mengejar cinta Abraham. Sekarang kebalikannya.
Benar kata orang, roda dunia berputar. Ada kalanya kita yang mengejar lalu berganti di kejar.
"Lebih baik kita pisah ranjang saja untuk saat ini. Pokoknya aku tidak mau bercerai denganmu?!" tukas Abraham lalu pergi dari sana.
Pria itu melonggarkan dasinya. Keringat dingin membasahi keningnya, Abraham ingin marah rasanya. Tetapi, tidak bisa, karena semua orang telah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Abraham, jangan pergi dulu?! Kita selesaikan semuanya saat ini juga!" panggil Diego pada putranya tak di gubris sedikitpun.
Mereka menatap punggung Abraham yang perlahan menjauh dari sana. Tampaknya pemuda itu sedang marah besar. Desy pun memejamkan matanya, dia mengelus dada nya yang bergemuruh.
__ADS_1
"Tolong maafkan keegoisan Abraham, Nak. Beri dia waktu untuk menerima kenyataan. Selama ini dia hidup dalam penyesalan, biarkan dia tenang terlebih dahulu. Pembicaraan tentang perceraian ini cukup sampai di sini dahulu. Kasihan dia, kami takut kalau sampai Abraham kembali depresi dan mencoba bunuh diri!" pinta Diego sebagai seorang ayah yang tak rela anaknya terluka.
Pria paruh baya itu menatap Desy dengan tampang memelas membuat gadis itu iba. Terpaksa dia urungkan niatnya untuk menggugat cerai Abraham.
"Baiklah, Dad," lirihnya pelan tetap memanggil Diego ayah guna menghormati nya sebagai ayah mertua.
*
*
Spoiler for the next episode.
"Aakkk … pelan kan ritmenya, Abra. Ah … aku merasa sakit!" lirih Desy dengan keringat dingin membasahi nya.
Abraham tersenyum manis dan menggoda.
"Tahan sebentar, Sweetie. Ini hanya akan sakit sebentar," bisik Abraham pelan.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏