
"OMG … ternyata lebih besar dari dugaan ku," gumam Abraham dengan air liur yang hampir keluar dari mulutnya.
"Apanya yang besar?" tanya Desy gugup seraya menggigit bibirnya. Sontak saja hal itu memancing hasrat terpendam dalam tubuh Abraham. Selama dua tahun dia tak pernah mendapatkan pelepasan sempurna. Sebab semenjak menikah dengan Desy dia tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita lain.
Bahkan, setelah kepergian Desy dia juga tak mau menyentuh wanita lain.
"Eumm … nothing! Can i kiss you, Babe?" tanya Abraham lembut berusaha menahan hasratnya agar tak liar.
Desy malu-malu menganggukkan kepalanya. Meski rasa gugup kian mendominasi dalam hati.
"Haduh, jantung … mohon kerjasamanya lah! Jangan deg degan seperti ini. Bikin malu aja," batin Desy menggerutu kesal.
Abraham segera menarik tengkuk Desy. Perlahan di depan pintu kamar mandi, pria itu mendekatkan bibirnya dengan bibir sang istri.
"I love you," bisik Abraham pelan.
"I love you too."
Abraham langsung mencium lembut bibir istrinya. Awak yang lembut, namun semakin lama semakin intens dan mendalam.
Pria itu menggiring istrinya perlahan dan lembut menuju ranjang. Ia merebahkan tubuh Desy atas ranjang dengan perlahan. Tidak akan dia biarkan istrinya merasakan kekasaran nya lagi. Cukup di masa lalu dia menjadi pribadi yang jahat dan suami durhaka.
Sekarang label suami durhaka tak akan lagi melekat pada dirinya. Perlahan, namun pasti kedua insan yang di mabuk cinta itu berhubungan di atas ranjang. Derita ranjang terdengar memalukan bagi para jomblo yang mendengar nya.
"Akk sakit," jerit Desy dengan suara tertahan.
Abraham langsung menghentikan nya sesaat. Dia membiarkan istrinya rileks terlebih dahulu agar burung kenari milik Abraham bisa terbang dengan leluasa. Namun, sebelum terbang burung kenari milik Abraham harus mendapatkan izin terbang dari sang pemilik cakrawala.
"Awalnya memang sakit, tapi lama kelamaan kamu akan suka," bisik Abraham pelan.
Desy menganggukkan kepalanya. Dia mempercayakan urusan ranjang pada Abraham yang punya pengalaman banyak.
Perlahan, namun pasti sang burung kenari berhasil mendapatkan izin dari sang pemilik cakrawala. Berbagai rayuan dan sentuhan ia berikan dan berhasil.
__ADS_1
Malam mendebarkan dan penuh keringat bercampur darah itu berhasil keduanya lewati. Senyuman manis terbingkai dari wajah keduanya. Meski tak ayal rasa sesak menyelimuti hati Abraham, karena pria itu bukan yang pertama untuk istrinya.
Tubuhnya lebih dulu ia berikan pada wanita bayaran. Berbeda dengan Desy bisa menjaga dirinya sendiri.
"Sorry," bisik Abraham setelah berbagi keringat dengan istrinya.
"Why?" tanya Desy lembut seraya menghapus keringat di leher suaminya.
"Nothing." Abraham menggelengkan kepalanya. Dia langsung menarik istrinya ke dalam pelukan. Keduanya perlahan terlelap menuju alam mimpi.
Pada malam itu, banyak harapan indah keduanya untuk masa depan. Janji ingin menua bersama pun mereka harapkan terwujud.
*
*
Desy dan Abraham jalan-jalan bersama mencari udara segar dan melihat pemandangan kota Paris. Banyak sekali turis yang membawa anak mereka, dari balita sampai yang sudah dewasa.
Desy tersenyum manis melihatnya. Dia menggenggam tangan sang suami erat.
"Haisss … kenapa bisa barengan yah?" gumam Abraham pada dirinya sendiri seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Desy pun membuang wajahnya ke arah lain. Pipi wanita itu bersemu merah. Mereka persis seperti anak remaja yang baru saja pacaran. Menggemaskan dan malu-malu kucing.
"M-mau anak berapa?" tanya Desy malu-malu, berhasil membuat telinga Abraham memerah.
"Ekhm … itu terserah kamu saja. Karena kamu yang punya tubuh, kamu yang hamil dan melahirkan," jawab Abraham mantap mampu menghangatkan hati Desy.
Wanita itu tersenyum penuh arti. Dia bahagia dengan sikap suaminya sekarang, sangat mementingkan apa yang ia rasakan. Berbeda saat dulu. Tak pernah mau peduli kepada dan perasaan Desy.
"Jujur aku suka punya banyak anak selama aku sanggup dan tidak membahayakan nyawa ku! Karena kalau punya anak 1 atau 2 rumah akan sepi. Sebagai anak tunggal aku sering kesepian di rumah dan suka iri melihat teman-teman ku punya banyak saudara!" Jelas Desy mengeluarkan opini nya.
Wanita itu merupakan anak tunggal. Kerap kali merasakan kesepian saat di tinggal orang tuanya sendirian di rumah. Itulah sebabnya dia sering bermain ke rumah Abraham.
__ADS_1
Sang suami mendengarkan pendapat istri
nya dengan baik. Abraham mengerti keadaan istrinya.
"Baiklah kalau begitu! Pulang dari sini kita akan ikut program hamil! Kita juga konsultasi ke dokter, agar kehamilan mu nanti aman-aman saja. Kamu sehat dan calon anak kita sehat."
Abraham tersenyum manis. Dia menarik pinggang istrinya, merangkul mesra. Mereka berdua menikmati pemandangan indah di hadapan mereka.
Melihat banyak orang tua yang bermain dengan anak kecil membuat mereka tak sabar untuk punya anak.
Umur Abraham sudah kepala tiga. Sedangkan Desy menuju kepala tiga. Keduanya tak sabar jadi orang tua.
"One day, kita akan bahagia bersama anak-anak kita!" ujar Abraham menatap dalam bola mata istrinya.
"He'um … i hope so!" Desy memberanikan diri untuk mencium bibir suaminya. Keduanya berciuman mesra di sana di temani oleh matahari terbenam.
Perjuangan Abraham tidak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan apa yang ia perjuangkan.
Begitulah kisah rumah tangga. Tidak selalu manis dan tak selalu pahit. Ada kalanya sebuah pernikahan di uji saat awal-awal, adapun yang di uji di pertengahan.
Tidak mulu-mulu cerai berai untuk mengakhiri masalah. Bisa sama-sama berjuang memperbaiki hubungan dan sikap. Membuang ego dan berlapang dada menerima kenyataan, bahwa hidup tidak selamanya tentang keindahan. Namun, juga tentang perjuangan.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Ini author lagi ngetik untuk 2 bab selanjutnya. Adakah kopi buat author semangat nulis nya? Hehe 🤗
__ADS_1
Terima kasih udah sabar menunggu update 🌹.