
Perlahan Desy bangkit duduk bersandar di dinding. Dia merogoh dompetnya saat ponsel berdering. Gadis itu melihat nama My Husband tertera di layar. Dia pun memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
[Aku tidak bisa pulang cepat, karena Dokter belum selesai menangani, Jihan]
Abraham berkata di seberang sana membuat hati Desy kembali terluka. Persis seperti menabur garam di atas luka. Gadis cantik itu mengepalkan tangannya erat.
"Pulang sekarang juga?!" tegas Desy dengan suara tertahan. Gadis itu berusaha untuk tidak berteriak pada suaminya.
[Aku akan pulang, tapi bukan sekarang. Setelah memastikan Jihan baik-baik saja, barulah aku bisa pulang!]
Memang benar apa yang di katakan oleh Abraham, kalau Jihan masih di tangani oleh dokter. Tidak ada sanak saudara dari pihak Jihan yang datang. Dia hanya menunggu teman Jihan tiba lalu dia bisa pulang ke rumah untuk menyelesaikan permasalahannya.
"Brengsek kau memang! Iblis kau. Tidak punya hati! Kau memastikan wanita lain baik-baik saja, di saat istrimu sedang tidak baik-baik saja. Aku butuh kamu saat ini, Sialan! Pulang kau sekarang juga. Kalau sampai kau tidak pulang?! Jangan pernah harap bisa melihat ku lagi di dunia ini!"
Desy meninggikan suaranya. Dia tidak bisa berkata lembut saat ini. Amarahnya membara, bak api besar yang sulit untuk di padamkan.
Mendengar ucapan sang istri membuat hati Abraham kesal dan marah.
[Desy?!]
"F*ck you … i hate you, Bastard."
Desy segera mematikan telepon nya. Nafasnya naik turun, air mata nya tak berhenti turun. Gadis cantik itu segera menghapus air matanya, darah yang keluar dari telapak tangannya mengenai pipi.
Tetapi, dia tidak peduli meski darahnya tak berhenti keluar.
"Sudah cukup! Aku tidak akan mau terluka lagi karena kau, Abra. Let's move on, Desy. You're beauty. Masih banyak pria yang rela mengantri untuk menjadi menantu Demian Simanjuntak!" ujar nya dengan suara serak.
Meski hatinya sakit tak berdarah. Jiwanya remuk oleh keadaan, raga nya lemah di sebabkan kenyataan.
Desy tetap berusaha untuk tegar dan kuat menghadapi semuanya. Pada akhirnya dia kalah, dan dia tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan kebahagiaan nya.
Gadis cantik itu segera melangkah pergi dari sana. Setiap langkahnya terdapat darah di lantai, sebab luka di tangan Desy yang belum terobati. Orang-orang melihat Desy pun merasa takut juga khawatir.
__ADS_1
"Are you okay, Miss?"
"I'm okay," balas Desy tersenyum manis dengan air mata membasahi pipinya. Semua orang tahu kalau senyuman Desy itu seperti perban yang menutupi luka.
Mereka tak bertanya banyak hal. Desy melangkah gontai keluar dari hotel mewah itu. Gadis cantik itu mengabaikan tatapan heran orang asing. Berkali-kali dia hampir terjatuh, tetapi dia kembali berdiri tegak seperti tak terjadi apa-apa.
Desy menaiki taksi yang berada di depan hotel. Entah ke mana tujuan gadis itu saat ini, penampilan nya seksi juga anggun. Tetapi, terlihat menyedihkan seperti orang yang putus cinta.
"Ke mana, Miss?" tanya supir taksi itu menatap Desy dengan tatapan penuh arti.
"Ke kota Y." Desy hanya menjawab singkat lalu menatap lurus ke luar jendela melihat hujan deras.
*
*
Abraham merasa tak enak hati ketika mendengar kalimat Desy. Hatinya resah dan gundah. Dia tidak ingin kesalahpahaman ini semakin berlanjut. Sumpah demi apapun, pria itu tidak pernah selingkuh. Dia mungkin tidak mencintai Desy, dia juga bukan pria baik. Tetapi, dia bukan tukang selingkuh.
Dia nakal, tetapi tidak senakal itu sampai mengkhianati istrinya. Jihan adalah rekan bisnis nya, bisa di katakan teman.kuliah dulu. Dia tidak menyangka kalau klien nya yang berasal dari Turki adalah Jihan.
"Ozan, syukurlah kau datang cepat! Aku harus kembali ke hotel ku sekarang juga!" ujar Abraham menghela nafas lega sebab kekasih Jihan telah datang.
"Bagaimana dia bisa terluka? Aku hanya pergi sebentar saja dan menitipkannya padamu!"
Ozan berkata dengan suara tinggi. Dia sangat murka mengetahui tunangannya terluka saat bersama dengan Abraham.
"Maafkan aku, saat ini aku sedang buru-buru kembali ke hotel ku. Nanti aku akan menjelaskan semua yang terjadi padamu!"
Abraham segera pergi dari sana. Dia merasa khawatir saat mendengar ancaman Desy. Pria itu takut kalau Desy melakukan hal yang membahayakan. Sebab, dirinya tahu betul bagaimana karakter istrinya. Nekat dan keras kepala.
"Aku harap kau masih di sana, Desy!" gumam Abraham mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Pria itu takut sesuatu yang buruk terjadi. Entah mengapa hatinya gelisah, dia tidak sabar bertemu dengan istrinya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Abraham mengumpat kesal saat melihat kerumunan orang di depannya. Banyak mobil berjejeran di tengah jalan. Kemacetan tak dapat di hindari. Suara sirine polisi dan ambulan terdengar bersahut-sahutan.
"Apa yang terjadi di depan sana?" tanyanya pada diri sendiri.
Tak lama kemudian seorang polisi menghampiri mobil Abraham. Mengetuk kaca jendela mobilnya membuat pria itu langsung menurunkan kaca jendela.
"Selamat malam, Sir."
"Malam."
"Mohon maaf, Anda bisa melewati jalur lain, Sir. Karena di depan terjadi kecelakaan maut. Truk yang membawa minyak menabrak mobil taksi. Kemacetan dan kebakaran tidak bisa dihindari, demi keselamatan pengemudi lainnya. Kami dari pihak polisi memohon agar pengendara lainnya untuk melewati jalur lain!" jelas polisi tersebut ramah membuat Abraham menghela nafas berat.
Terdapat dua jalur menuju hotelnya, tetapi jalur yang satu lagi lebih jauh 10 menit. Dia pun tersenyum samar lalu memutar kembali arah kemudinya menempuh jalur lain.
Saat sedang mengemudi, suara dering ponsel Abraham berbunyi. Pria itu berharap Desy yang menghubungi, tetapi salah. Ternyata ayah mertuanya yang menelepon nya.
"Halo, Dad," sapa Abraham.
Degg
"Apa??" teriak Abraham terkejut seraya mengerem mendadak.
*
*
Maaf baru up, semalam kirain nggak tembus jadi ketiduran nungguin komentar tembus hehe 🤣😂
Sekarang cus tembus 100 komentar biar author up lagi 🤭🤭
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏