Mengejar Cinta Istri Seksi

Mengejar Cinta Istri Seksi
Rumah Sakit


__ADS_3

Please dukungan nya. Like coment vote dan beri rating 5 ๐Ÿ™๐Ÿ™๐ŸŒน๐ŸŒน๐Ÿฅบ


Bantu karya ini masuk rangking karya baru dan rangking populer โค๏ธ๐Ÿ™


*


*


Desy tersenyum lembut seraya menyerahkan ponsel pada wanita paruh baya di sampingnya. Dia bersyukur atas kebaikan Tuhan yang masih memberinya waktu untuk hidup.


"Terima kasih, karena sudah mau merawat ku dengan tulus. Besok saat orang tua ku tiba, aku akan menggantikan seluruh biaya yang telah kamu keluarkan untuk merawat ku!" ujar Desy dengan suara parau pada wanita paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu tersenyum manis menanggapi ucapan Desy. Dia membelai puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih.


"Sama-sama. Jangan khawatirkan dengan biaya nya. Saat menolong mu dulu aku sudah pasrah, mau uang ku balik atau tidak. Yang jelas tugasku sebagai seorang dokter adalah menyelamatkan orang yang membutuhkan pertolongan medis!"


Wanita paruh baya itu membalasnya dengan lembut. Dia merasa bahagia, karena Desy telah bangun dari komanya. Padahal rekan-rekan kerjanya telah menyerah, menyuruhnya untuk mencabut semua alat medis yang membantu Desy bernafas. Tetapi, dia tetap kekeh dengan keyakinan nya bahwa Desy akan bangun suatu saat nanti.


Betul seperti yang ia yakini. Desy sadar dari komanya seminggu yang lalu. Sudah hampir setahun gadis itu koma. Dia di rawat di rumah sakit swasta (pelayanan nya standar, jauh dari VVIP).


"Sudah malam. Lebih baik kamu minum obat dan langsung tidur. Semoga saja besok orang tua mu sudah tiba di sini!" ujarnya seraya mengambil obat Desy.


Desy melakukan apa yang disuruh oleh wanita paruh baya itu. Setelah minum obat, dia menutup matanya perlahan dan wanita paruh baya itu menarik selimut hingga batas dadanya.


"Selamat malam, Desy," ujar wanita itu lembut.


"Selamat malam, Charlotte." Desy pun tidur pulas, karena efek obat yang diminumnya.


*

__ADS_1


*


Waktu berjalan begitu cepat. Malam berganti pagi, burung berkicau di atas udara. Demian dan Sissy sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Desy di rawat.


Rupanya lokasi Desy dan bandara sangatlah jauh. Harus masuk area pedesaan dekat gunung. Cuaca sangatlah sejuk, untung saja mereka memakai jaket juga syal. Sehingga tubuh keduanya tetap hangat.


"Berapa menit lagi kita sampai, Feng?" tanya Sissy pada pria paruh baya bermata sipit yang sedang mengemudi itu.


"Kita sudah sampai, Nyonya!" jawab pria paruh baya itu setelah mobilnya belok kanan masuk ke dalam pekarangan rumah sakit.


Demian dan Sissy memperhatikan rumah sakit itu. Tampak tak terawat dan biasa-biasa saja.


"Apa benar ini rumah sakitnya, Feng?" Demian bertanya dengan nada heran. Dahinya mengernyit penasaran.


"Benar, Tuan. Kabarnya rumah sakit ini hampir tutup di tahun 2010. Tapi, karena kebaikan 7 dokter yang bekerja di rumah sakit ini bisa bertahan sampai sekarang. Mereka rela bekerja tanpa di gaji dan menghabiskan harta pribadi demi membeli obat juga alat medis untuk merawat warga sekitar."


Feng menjelaskan panjang lebar membuat Demian semakin bingung.


"Tidak, Tuan. Para warga yang tinggal di sini rata-rata miskin. Mereka tidak mampu membayar obat-obatan. Itulah sebabnya pemerintah ingin menutup rumah sakit ini. Tapi, karena kebaikan 7 dokter yang rela mengeluarkan harta pribadi demi membeli rumah sakit ini dari pemerintah."


Demian dan Sissy mendengarnya dengan baik sebelum turun dari mobil. Feng membuka pintu untuk kedua majikannya itu.


"Ya Tuhan, bagaimana bisa pemerintah lalai dalam hal ini?" tanya Demian tak habis pikir membuat Feng tersenyum tipis.


"Begitulah cara kerja pemerintah, Tuan. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Rakyat jelata seperti mereka hanya dibutuhkan saat pemilu saja. Selebihnya, tidak!" balas Feng apa adanya membuat Demian mengangguk kepalanya setuju.


Demian dan Sissy melihat tukang bersih-bersih merupakan seorang pria tua. Mereka tersenyum ramah dan dibalas datar oleh pria itu. Keduanya pun tersenyum canggung saat tak mendapatkan respon baik.


"Sangat tidak ramah," ujar Demian pelan.

__ADS_1


"Bintang 1," tambah Sissy membuat Feng terkekeh kecil. Dia memimpin perjalanan, karena Feng lebih mengenal rumah sakit ini.


"Jangan kaget, Tuan. Di sini orang-orangnya akan ramah pada orang miskin, tapi, sinis bila bertemu dengan orang kaya. Sebab, kebanyakan dari mereka merupakan korban rasis dari orang kaya!" jelas Feng membuat Demian dan Sissy merasa bersalah.


Ternyata selama ini dunia tidak baik-baik saja. Banyak sekali kejahatan dan ketidakadilan yang dirasakan oleh orang miskin.


Feng bertanya pada resepsionis tentang keberadaan kamar Desy. Setelah itu, dia menuntun keduanya ke kamar Desy.


Jantung Demian dan Sissy berdetak kencang. Mereka tidak sabar bertemu dengan putri mereka. Pria itu mengetuk pintu dengan hati-hati.


"Masuk."


Demian dan Sissy pun membuka pintu. Gadis cantik yang sedang membaca koran itu menoleh ke arah pintu.


Degg.


Mata mereka bertiga berkaca-kaca. Rasa rindu yang tersimpan dalam hati langsung memberontak ingin keluar.


"Desy!"


"Mommy, Daddy โ€ฆ hiks."


*


*


Yukk komentar nya tembus 100 ๐ŸŒน๐ŸŒนโค๏ธ๐Ÿ™


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜


Salem Aneuk Nanggroe Aceh โค๏ธ๐Ÿ™


__ADS_2