
Kaki Desy luruh ke lantai. Ketika melihat Abraham membawa wanita itu pergi dari sana. Dia menatap punggung berdarah sang suami dengan tatapan benci. Sakit hatinya melihat pria yang berstatus suaminya melakukan hal kejam ini.
Perjuangan nya selama ini sia-sia, berujung pengkhianatan. Tak pernah dia mengira cinta sepihak akan sesakit ini.
Luka hatinya.
Berdarah tangannya.
Remuk jiwanya.
Ternodai ketulusannya.
Dia menyandarkan punggung nya di dinding kamar hotel. Menangis sesenggukan, meraung-raung seperti orang kesetanan.
Pada akhirnya, amarah yang selama ini ia pendam keluar juga. Perih hatinya, ya Tuhan … Ya Tuhan … kenapa sesakit ini? Menangis seorang diri, menahan sesak dalam hati sangatlah menyakitkan.
Desy memukul dadanya yang terasa sesak. Gadis itu menyakiti dirinya sendiri. Pada akhirnya, perjuangan yang ia lakukan selama ini telah sia-sia.
"Akkk … hiks … Ya Tuhan, sakit sekali! Aaa … kenapa harus sesakit ini?! Aku benci keadaan ku sekarang, Tuhan. Aku benci cinta ini, aku benci dia, Tuhan?! Akkk … apa yang harus aku lakukan sekarang, Tuhan?"
Sang gadis menangis meraung meratapi lukanya seorang diri. Berteman sepi dan sunyi, di tengah keheningan malam. Dia menangis tanpa siapapun yang menemani.
Terluka? Pasti.
Sakit? Tentu sakit.
Bayangkan saja bagaimana kerasnya Desy berjuang, memperjuangkan pernikahan mereka agar terus bertahan. Berusaha menjadi seperti yang di inginkan oleh suaminya.
"Tuhan, aku lelah! Hiks … lelah, Tuhan. Lelah!! Akkk … aku mencintainya, mencintai semua yang ada pada dirinya. Makanan yang ia suka, aku juga menyukainya. Tempat yang ia favorit kan, aku juga suka. Sampai-sampai dia melakukan kesalahan berulang kali aku pun menutup mata, karena cinta ku padanya begitu besar, Tuhan."
__ADS_1
"Tapi, kenapa Tuhan? Kenapa dia tidak melihat ku sekali saja? Kenapa yang ada di mata dan hatinya hanya wanita lain? Padahal, aku yang lebih berhak dari wanita manapun untuk memiliki jiwa dan raganya, karena aku istrinya, Tuhan."
"Akkk … Mommy, Daddy. Aku sakit! Dadaku sesak!"
Desy tidak mampu menahan kepedihan dalam hatinya lagi. Dia terluka! Tolong, siapapun tolong dia!
Hujan deras mengguyur apa yang ada di kota itu. Seolah langit paham apa yang sedang di rasakan oleh Desy.
Lima bulan pergi tanpa mau memberi kabar, lalu saat bertemu malam menjadi seperti ini? Bukankah tidak adil bagi Desy?
Akkk … Desy berteriak keras. Seraya memukul lantai marmer di dalam ruangannya. Dia bersujud dan membenturkan kepalanya ke lantai hingga berdarah-darah tanpa ia pedulikan.
Luka fisiknya tak ada apanya daripada rasa sakit di hatinya.
"Mommy, Daddy. Sakit … dia jahat, Daddy! Abra, jahat!"
Desy berulang kali memanggil dan ayahnya. Dia tidak sanggup menahan rasa sedih unu seorang diri.
Tertawa di hadapan sang suami, lalu menangis saat sendiri.
Berlagak semua baik-baik saja, nyatanya hatinya terluka.
Berpura-pura ceria, padahal hatinya di penuhi duka.
Pada akhirnya kisah cinta bertepuk sebelah tangan takkan pernah bisa membunyikan suara.
Tetap, sepi tanpa suara.
Satu tangan tetap melayang di udara berharap ada tangan lain yang menggenggam nya.
__ADS_1
Cinta sepihak tidak akan pernah menang.
Apa yang di katakan para penyair? Bila mencintai seseorang, maka biarkanlah dia pergi. Bila dia kembali maka dia jodohmu.
Lantas, bagaimana bila dia kembali saat rasa cinta ini pergi?
Tidak bisa menjawabnya, bukan?
"Aku kalah … aku kalah … hiks … aku kalah!" Desy membaringkan tubuhnya di lantai. Dia menatap langit-langit kamar hotel itu.
Membiarkan air matanya mengalir tanpa ia tahan. Dia sendiri saat ini! Tidak ada orang lain yang melihat dirinya menangis.
Hanya ada Tuhan dan Dirinya.
"Aku menyerah, Tuhan," lirihnya pelan nyaris tanpa suara.
*
*
Mau lagi? Kalau mau lagi ayo komentar tembus 150, maka author akan up lagi malam ini.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author 🌹
__ADS_1