
"Mommy!" Suara orang yang paling dirindukan terdengar oleh Sissy. Kakinya luruh ke lantai seraya memegang gagang telepon. Dia tidak bisa menahan tangisnya lagi, hingga terdengar suara Isak tangisnya ke telinga Demian.
Pria itu segera keluar dari kamar putrinya, terkejut melihat sang istri duduk bersandar di meja panjang seraya menggenggam gagang telepon.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Demian setelah menghapus air matanya. Pria itu berlagak baik-baik saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Desy, Desy … apa benar itu kamu, Nak?" tanya wanita paruh baya itu dengan suara tertahan. Dia menghiraukan sang suami, fokus mendengarkan orang yang menghubungi nya.
Tubuh Demian membeku saat mendengar ucapan istrinya. Dia menatap dalam wajah istrinya yang tampak pucat dan sendu.
"Mommy … ini aku Desy! Maafkan aku, Mom. Baru bisa memberimu kabar!"
Sissy menyentuh dadanya yang berdetak kencang. Dia melepaskan tangisnya saat mendengar suara putrinya kembali. Putri kesayangan nya masih hidup, dia tidak pergi meninggalkan dirinya.
Demian langsung merampas gagang telepon, karena terlalu penasaran sekaligus berharap kalau istrinya tidak salah sangka.
"Halo!" ujar Demian dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Daddy."
Degg.
Mata Demian terbelalak kaget. Pria tampan itu tidak mampu menahan keterkejutan nya saat mendengar suara putrinya. Dia mengenal betul suara putrinya. Siang malam dia memutar rekaman video putrinya kala kecil dulu.
"My princess," balas Demian dengan suara parau nyaris tak terdengar.
*
*
Di tempat lain.
Seorang gadis sedang menahan tangisnya saat mendengar suara orang tua tercintanya. Dia adalah Desy, gadis itu masih hidup.
Cuaca mendung, semendung hati Desy. Gadis cantik itu merasa kacau setelah mendengar suara orang tua nya. Rindu bercampur dengan rasa sedih. Dia sangat ingin bertemu kembali bersama orang tuanya. Dia ingin bermanja-manja pada sang ayah maupun sang ibu.
Desy ingin menangis dalam pelukan Demian. Dia ingin mengadu pada Desy. Gadis cantik itu merindukan keluarganya. Sudah setahun dia tidak bertukar kabar dengan ibu dan ayahnya.
"Dad, aku rindu kalian berdua!" ujar nya dengan suara parau.
Dia menangis sesenggukan. Gadis cantik itu tidak tahu harus berbuat apa lagi, ingin pulang ke negara asal tetapi tak memiliki cukup banyak uang.
[Kamu di mana sekarang, Sayang? Katakan pada Daddy agar Daddy bisa menjemput mu!]
Demian bertanya pada putri kecilnya. Suara pria itu terdengar tegas meski parau. Desy tahu betul kalau saat ini dan ayah sedang menangis di seberang sana. Terdengar nya tangisan sang ibu membuat hatinya seperti tersayat. Ingin rasanya dia memeluk sang ibu dan mengatakan semuanya baik-baik saja, tetapi tidak bisa.
__ADS_1
"Aku ada di rumah sakit XX, kota Y, Amerika, Dad!" ujar nya dengan suara parau membuat Demian segera mencatat lokasi keberadaan putrinya.
[Tunggu di situ, Sayang. Sekarang juga Daddy akan terbang ke Amerika. Mungkin besok pagi-pagi buta Daddy dan mommy akan tiba di sana! Apa ini benar nomor ponselmu, Sayang?]
Demian bertanya dengan suara serius. Pria itu merasa sangat bahagia dan bersyukur, karena putri kecilnya masih selamat. Bagaikan mendapatkan cahaya kehidupan lagi, membuat wajah pria itu berubah cerah. Dia memiliki tujuan hidup sekarang.
Putri kecilnya kasih bernafas. Dia bisa bertemu dan memeluk putrinya lagi.
"Bukan, Dad. Ini nomor ponsel orang yang menolong ku!" ujar Desy parau membuat Demian mengerti.
Dia mengangguk kepalanya semangat.
"Dad, sudah dulu ya. Baterai ponselnya hampir habis. Besok pagi aku akan menghubungi Daddy lagi."
Gadis cantik itu dengan berat hati harus mengakhiri panggilan tersebut. Maklum saja ponsel yang ia gunakan merupakan ponsel jaman dulu.
[Baik, Sayang. Terima kasih karena masih hidup! Jaga kesehatan mu, ya. Jangan takut lagi! Besok Daddy dan Mommy sudah tiba di sana untuk menjaga mu!]
Demian memeluk erat tubuh istrinya. Berulang kali dia mencium pipi istrinya. Meluapkan kasih sayang dan rasa cinta pada sang istri. Juga dia merasa sangat bersyukur dan bahagia, sebab putrinya masih hidup.
"I love you, Daddy, Mommy!"
[We love you to, Princess]
*
*
Keduanya menangis sesenggukan sambil berpelukan. Mereka merasa bahagia mendengar kabar dari Desy. Tak menyangka kalau kesabaran mereka selama ini berbuah hasil. Selalu berdoa agar putri mereka di hidupkan kembali. Menolak kenyataan kalau putri mereka telah mati.
Tuhan, memang tahu apa yang mereka butuhkan. Desy merupakan semangat hidup keduanya. Bila tidak ada Desy, maka mereka hidup hanya untuk menunggu kematian tiba.
Tidak ada semangat dan tujuan.
"Putri kita masih hidup, Sayang! Hiks … ya Tuhan … akk … aku sangat bahagia!" Demian memeluk erat tubuh istrinya, dia melepaskan tangisnya di pelukan sang istri..
Tidak peduli lagi dengan imagenya. Mereka berdua menumpahkan rasa sesak yang mencekik dada mereka selama ini.
"He'um, Sayang. Putri kita masih hidup! Tuhan memberikan kesempatan kedua untuk kita agar bisa menjaganya dengan baik."
Sissy berkata dengan nada serak. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan putri kecilnya.
Sejenak keduanya berbahagia bersama. Setelahnya Demian langsung menghubungi pilot pribadinya. Karena dia tidak bisa memesan tiket saat itu juga dikarenakan sudah tengah malam.
"Siapkan pesawat, kita akan terbang ke Amerika sekarang juga!" tegas Demian dengan suara datarnya.
__ADS_1
Pria itu lalu menutup telponnya.
"Sayang, apakah kita harus memberitahukan kepada yang lainnya kalau Desy masih hidup?" tanya Sissy teringat Anggita Bastard dan Abraham. Mereka semua juga terpukul atas kepergian Desy. Pastinya mereka akan merasa bahagia saat tahu Desy masih hidup.
Demian menggelengkan kepalanya cepat. Pria itu belum ingin memberitahukan orang lain.
"Jangan dulu! Kita bertemu dengan Desy terlebih dahulu. Setelahnya, baru ambil keputusan untuk memberitahukan mereka atau tidak. Yang pastinya aku tidak Sudi memberitahukan kabar ini kepada Abraham!" balas Demian dengan suara dinginnya.
Matanya berubah gelap. Dia mengepalkan tangan nya erat di kala teringat bagaimana kebejatan Abraham. Pria itu belum bisa memaafkan apa yang telah dilakukan Abraham pada putrinya dulu.
Diabaikan dan tak dianggap sebagai istri oleh pria itu.
Sangat menyakitkan pastinya.
Sissy menghela nafas berat. Suaminya masih belum memaafkan menantunya.
"Lebih baik sekarang kita berangkat, Sayang. Pakai jaket, topi dan syal agar tidak kedinginan. Tidak usah bawa pakaian, di sana kita akan membelinya! Bawa apa yang harus di bawa saja!" ajak Demian dengan tegas membuat Sissy mengangguk kepalanya cepat.
Dia tersenyum manis, semangat berangkat ke Amerika untuk bertemu dengan putrinya. Sebelum itu Demian mengambil coffee kaleng untuk dirinya dan Sissy agar tidak mengantuk.
Setelah bersiap-siap, keduanya langsung naik ke atap gedung rumah mereka menggunakan lift. Terdapat tempat landing atau area parkir untuk jet pribadi di rumah mereka.
Suara jet pribadi mendarat. Keduanya sudah berada di sana, mereka langsung masuk ke dalam pesawat.
"Ready?" tanya pilot pada Demian dan Sissy.
"Ready!" balas keduanya dengan wajah ramah.
"Okay, let's go!"
*
*
Catatan: Di Eropa, orang-orang kaya di sana rata-rata memiliki pesawat pribadi dan area parkir untuk helikopter juga pesawat jet di rumah mereka. Kekayaan para konglomerat di Barat berbeda dengan Indonesia.
Insya Allah nanti malam, author up lagi walau telat nantinya. Yuk komentarnya 100 biar author semangat nulisnya.
Vote nya juga jangan pelit 🌚🌚 mumpung hari ini Senin.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
__ADS_1