Mengejar Cinta Istri Seksi

Mengejar Cinta Istri Seksi
Apa Aku Harus Mati Juga?


__ADS_3

Desy melakukan perawatan dengan baik, dia telah belajar berjalan kembali. Awalnya gadis itu kesusahan, tetapi karena dukungan orang tuanya membuat Desy terus berusaha agar bisa berjalan normal seperti dulu. Selama satu bulan belajar, akhirnya Desy menuai hasil. Gadis itu berhasil berjalan seperti biasanya.


Meski terkadang tubuhnya merasa sangat lelah dan keringat dingin banyak keluar membasahi tubuhnya. Hari ini adalah hari terakhir Desy berada di rumah sakit Charlotte. Selama itu juga telah banyak perubahan pembangunan rumah sakit tersebut.


Demian benar-benar membuktikan perkataan nya. Rumah sakit yang awalnya tak terawat dan bangunan nya hampir roboh kini menjadi lebih bagus. Tatanan nya seperti rumah sakit VVIP di kota. Para warga sekitar sangat bersyukur atas kebaikan Demian.


Mereka sangat bahagia. Selama di sana Demian belajar banyak hal. Dia yang hidup berkecukupan selama ini, merasa lebih bersyukur atas apa yang telah dia dapatkan. Ternyata sangat banyak orang yang hidup menderita karena krisis ekonomi. Dan kesenjangan sosial.


"Charlotte, terima kasih banyak sudah merawatku selama ini. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan dokter berbudi luhur seperti mu!" Desy peluk erat tubuh tua Charlotte. Dia sudah sangat dekat dengan Charlotte, bagaikan ibu dan anak. Wanita tua itu merawatnya seperti merawat anaknya sendiri. Tidak ada kekasaran atau semacamnya.


Charlotte meneteskan air matanya. Dia juga merasakan hal yang sama seperti Desy. Selama ini mereka telah menjadi dekat dan tak jarang tertawa juga bercanda bersamamu.


"Aku lebih bersyukur bisa membantumu. Setidaknya, gelar ku sebagai dokter tidak gagal, karena menolong mu. Terlebih lagi kebaikan Daddy mu yang mau membangun kembali rumah sakit ini juga mau menjadi donatur tetap merupakan suatu anugerah bagi kami semua!"


Desy tersenyum hangat. Dia melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah tua Charlotte. Dia baru tahu kalau di dunia ini ada dokter setulus Charlotte dan teman-temannya. Rela miskin demi menjadi dokter bagi kaum miskin. Rela melajang seumur hidup demi bisa membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan mereka.


"Jaga dirimu baik-baik, kelak aku akan kembali ke sini untuk menjenguk kalian. Terima kasih semuanya!" Desy tersenyum manis melihat teman-teman Charlotte. Mereka semua tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya.


Desy, Damian dan Sissy pun pergi dari sana dijemput oleh Feng.


Tujuan mereka saat ini adalah pulang ke Eropa. Demian tak sabar mengumumkan akan turun tahta dan Desy menggantikan posisi nya.


Pria itu tak henti-hentinya mencium kening putrinya. Merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan putrinya.


*


*


Di Eropa.


Abraham memeriksa semua data laporan keuangan perusahaan nya. Beberapa bulan terakhir, bisnis heli taksi nya mengalami kemajuan pesat. Telah merambah sampai ke Dubai, banyak sekali orang-orang kaya memilih menggunakan heli taksi agar cepat sampai tujuan juga menikmati rasa baru.


Tidak ada senyuman di wajahnya, meski melihat laba bersih dari Heli Taksi sangatlah banyak. Umumnya pengusaha lainnya pasti akan merasa bahagia, tertawa sampai berjingkrak-jingkrak kesenangan.

__ADS_1


Berbeda dengan Abraham. Semenjak istrinya dinyatakan meninggal. Sangat langka senyuman di wajahnya. Dia jarang tersenyum.


Alarm ponselnya berdering. Membuat Abraham teringat kalau hari ini tepat satu tahun kepergian istrinya.


Dia menghela nafas berat. Bahunya yang tadinya tegak, kini turun. Dia melihat bingkai foto pernikahan nya dan Desy.


"Sudah setahun lamanya kamu tinggalkan aku, Desy. Tapi, sampai sekarang tidak ada penggantimu. Selama ini cuma kamu yang mencintaiku dengan tulus."


Abraham berbicara dengan bingkai foto pernikahan nya. Seolah-olah istrinya masih hidup dan berada di dekatnya. Hatinya rindu berat.


Dia pun beranjak dari kursi kebesaran nya. Pria itu keluar ruangan tak sengaja bertemu dengan sekretaris Jo.


"Tuan, Anda mau ke mana? Sebentar lagi ada rapat dengan klien kita dari Philipina!" ujar Sekretaris Jo menahan kepergian Abraham. Pria tampan itu menatap datar sekretaris Jo.


"Kau yang handle semuanya. Aku harus pergi ke suatu tempat hari ini, jangan ganggu aku."


Setelah berkata itu, dia pergi meninggalkan sekretaris Jo yang terdiam. Pria itu melihat jam tangannya lalu menghela nafas berat.


*


*


Abraham tiba di pemakaman umum. Dia berjalan menuju kuburan istrinya. Ia letakkan bunga di samping batu nisan sang istri. Tanpa takut kotor, Abraham duduk di rumput dekat gundukan tanah.


Dia mengusap nama Desy yang tertera di batu nisan.


"Hey, istriku. Apa kabar? Aku datang lagi. Apa kamu senang atau muak melihat aku di sini?"


Abraham tersenyum getir. Apa yang ia harapkan dari gundukan tanah di hadapannya? Tidak mungkin Desy bangkit dari kubur lalu membalas perkataan nya.


"Andai ya, Des. Waktu itu aku tidak pergi ke rumah sakit untuk membawa Jihan! Andai waktu itu aku tetap di sana dan memeluk kamu, menjelaskannya apa yang sebenarnya terjadi. Pasti kamu masih bersamaku. Menjadi istriku!"


Abraham berandai-andai. Dia membayangkan sang istri masih ad di dekatnya. Pria itu meneteskan air matanya tanpa sadar. Lagi dan lagi dia merasa sesak dalam dada. Dia merasa bersalah atas kepergian istrinya.

__ADS_1


Pria itu tidak mampu menahan tangisnya lagi. Dia menutup matanya. Punggungnya bergetar hebat, menunjukkan kalau dirinya benar-benar tak sanggup akan apa yang dia alami selama ini.


"Aku rindu, Des. Aku sangat rindu! Aku rindu perhatian mu, aku rindu cerewet mu, aku rindu pelayanan mu, aku rindu masakan mu. Aku rindu cemburu mu, aku rindu wajah cemberut mu. Aku rindu suara mu, Des. Aku rindu semua yang ada padamu!"


Abraham menangis sesenggukan. Perhatian yang diberikan oleh Desy selama dia hidup. Sangatlah membekas dalam hati Abraham. Selama ini dia menampik rasa itu. Tetapi, setelah kepergian Desy. Dirinya sadar kalau selama ini Desy sangat berperan penting dalam kehidupan nya.


"Aku sudah coba berkali-kali untuk melupakan mu. Aku sudah melakukan banyak hal, aku juga sudah berkali-kali mencari pengganti mu . Tapi, tidak ada yang seperti kamu, Des. Mereka semua palsu, cinta mereka padaku tidak sebesar cintamu padaku!"


Abraham bercerita pada gundukan tanah di hadapannya. Mencurahkan semua rasa sakit dalam hatinya. Sangat sering Abraham datang berziarah ke makam Desy.


Tidak ada yang mau peduli lagi dengan keadaan nya. Pria itu seperti hidup sebatang kara. Keluarganya sendiri mencampakkan dirinya, dia di salahkan atas apa yang telah terjadi.


Kepergian Desy menjadi pukulan telak. Hidupnya seperti jungkir balik.


"Des, tidak ada yang mendukungku lagi setelah kamu pergi. Kerja semua jahat padaku. Tidak ada yang mau mendengarkanku. Aku benar-benar sendiri, Des! Apa aku harus ikut mati juga? Agar mereka semua puas."


Abraham menatap kosong lurus ke depan. Bayangan wajah murka seluruh keluarganya membuat Abraham muak dan sesak.


"Sepertinya benar, kalau aku ikut mati. Pasti mereka akan senang," gumam Abraham pelan dengan nada lirih.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏


Baca juga novel temen baik author yang tidak kalah serunya 🌹🌹


__ADS_1


__ADS_2