
"Aku berangkat dulu ya!" ucap Christian memeluk istrinya mesra.
Keyzia pun menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Christian. "Cepat pulang ya." pinta Keyzia.
"Kenapa?" tanya Christian heran.
"Gak boleh? ya udah gak usah pulang sana" rajuk Keyzia.
Merasa istrinya merajuk ia pun segera menarik kembali tangan istrinya dan kembali memeluknya. "Jangan marah, akan aku usahakan pulang secepatnya."
Christian ******* bibir Keyzia lembut dan memainkan lidahnya di mulut Keyzia.
"Sudah... pergilah, aku akan menunggu mu pulang." ujar Keyzia tersenyum.
Christian kembali mengecup kening istrinya. "Baiklah, hati-hati dirumah."
Selepas kepergian Christian, Keyzia kembali berkutat dengan pekerjaan rumahnya. Layaknya ibu rumah tangga, Keyzia mengerjakan semuanya sendiri.
Ditengah kesibukannya, terdengar suara bel pintu berbunyi.
"Kenapa dia balik lagi?" gumam Keyzia.
Ia pun segera bergegas membuka pintu.
"Kok kamu balik lagi......" mata Keyzia membulat saat melihat siapa yang datang.
"Anda...." ucap Keyzia terkejut.
"Hallo.... boleh saya masuk?" ucap orang itu.
.......
Di kantor Christian disibukan dengan kedatangan Marina dan Ayahnya, yang menuntut agar mereka segera menikah.
"Chris, kita bertunangan sudah sangat lama. Kapan kau akan menikahi aku." tanya Marina.
"Aku masih sibuk sekarang, dan aku masih belum memikirkan masalah itu." jawab Christian datar.
"Tapi Chris, ini sudah terlalu lama dari perjanjian kemarin. Ayah mu sendiri yang menjamin kalian akan menikah secepatnya." tambah Tuan Santibanez.
"Dia yang berjanji bukan aku.. kalian seharusnya mendatanginya, bukan aku." jawab Christian.
Marina berjalan mendekati Christian, ia duduk disamping pria itu dan bermaksud merayu nya. Tanpa rasa malu Marina mengelus dada Christian dan mencium pipinya, Christian hanya diam tanpa merespon ulah Marina.
Hingga Christian mendorong tubuh Marina saat gadis itu akan mencium bibirnya.
Christian langsung berdiri dan menjauh dari Marina.
"Berani sekali kau mendorong putri ku." seru Tuan Santibanez berang.
"Seharusnya kau menyalahkan putrimu, bukan aku." jawab Christian tidak kalah sengit.
"Chris.... aku hanya ingin mencium mu, apa aku salah kalau aku ingin mencium tunanganku?" tanya Marina membujuk.
"Tidak salah jika itu bukan aku..... tapi kalau pun itu aku, aku tidak suka dengan ulahmu barusan. Sangat tidak sopan, apa lagi itu didepan orang tua mu." jelas Christian.
"Chris orang tuaku sangat modern, mereka sangat pengertian dengan pergaulan anak jaman sekarang." jelas Marina tersenyum.
"Itu orang tua mu, bukan aku." jawab Christian singkat.
"Tapi Chris, selama kita bertunangan kamu sama sekali tidak pernah mau memcium ku. Hanya aku yang selalu berinisiatif mencium mu, tapi kamu selalu menolaknya." ucap Marina lirih.
"Aku tidak suka hubungan yang mementingkan hubungan pisik." jawab Christian.
"Sudah janga dibahas lagi, kalian lanjutkan urusan kalian. Aku akan kembali ke kantor." Tuan Santibanez beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.
Christian pun beranjak dari posisinya, ia kembali duduk dikursi kebesarannya.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan lagi, lebih baik kamu keluar. Aku sangat sibuk saat ini." usir Christian halus.
"Tapi Chris, aku masih ingin bersama mu." rengek Marina."
"Aku sibuk." jawab Christian singkat dan matanya kembali menatap layar didepannya, dan berpura-pura mengetik. Padahal saat ini Christian sedang menatap wajah istrinya yang sedang tersenyum.
Christian menjadikan photo Keyzia sebagai layar utama baik ponsel maupun laptopnya.
__ADS_1
Dengan perasaan kesal karena tidak di perdulikan oleh Christian, akhirnya Marina pergi meninggalkan Christian yang berpura-pura sibuk."
Christian tersenyum tipis setelah kepergian Marina, dan melanjutkan pekerjaannya.
.....
"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?" tanya Tuan Manuela pada Keyzia.
"Aah.... ya, silahkan Tuan." Keyzia membuka pintunya lebih lebar.
Tuan Manuela melangkah masuk, dan memperhatikan setiap sudut ruangan apartemen milik putranya.
"Silahkan Tuan..." Keyzia mempersilahkan tamunya duduk.
Setelah Tuan Manuela duduk, ia kembali menatap Keyzia lekat.
"Ah ya, aku lupa.... anda ingin minum sesuatu? Teh, atau kopi?" tanya Keyzia menawari tamunya minum.
"Baiklah, aku ingin kopi buatan mu. Christian selalu bercerita bahwa kopi buatanmu sangat nikmat." cerita Tuan Manuela.
"Terima kasih..." jawab Keyzia tersenyum. "Baiklah, tunggu sebentar."
Keyzia pun masuk segera menuju dapur mini miliknya. Tidak lama kemudian ia pun kembali dengan membawa nampan berisi kopi dan cemilan.
"Silahkan Tuan." ucap Keyzia setelah meletakan kopi diatas meja.
Tuan Manuela pun mulai meminum kopinya.
"Hemmm.... benar apa yang dikatakan Christian, kopi buatan mu sangat enak.
"Terima kasih." jawab Keyzia tersenyum.
Lalu mata Tuan Manuela melihat toples berisi kue jahe, pria tua itu lalu membukanya dan mencicipi nya.
Ia terdiam sejenak saat mengunyah, kemudian ia kembali menatap ke arah Keyzia.
"Ini kau yang membuatnya?" tanya Tuan Manuela.
"Ya... aku membuat nya kemarin, Christian sangat menyukainya." jawab Keyzia bahagia.
"Dimana kau belajar membuatnya." tanyanya lagi.
Wajah Tuan Manuela tampak terkejut, kemudian ia kembali menetralkan wajahnya agar terlihat lebuh santai.
"Ini sangat enak." ucapnya.
"Terima kasih." jawab Keyzia tersenyum.
Tuan Manuela kembali menyeruput kopinya, ia benar-benar menikmati waktunya bersama Keyzia. Ia pun berpikir wajar saja putranya sangat mencintainya, Keyzia tidak hanya cantik tapi juga sangat sopan padanya.
"Sebenarnya aku kesini mempunyai tujuan untuk berbicara empat mata padamu." ucap Tuan Manuela.
"Baiklah, aku akan mendengarkan." Keyzia pun mulai duduk dan mendengarkan.
"Sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu dan Christian putraku."
"Terima kasih." jawab Keyzia tersenyum.
"Aku ingin menawarkan mu satu keuntungan." tawarnya.
"Tawaran?" Keyzia memicingkan matanya.
"Aku akan memberikan mu sebagian harta ku dan beberapa perusahaan atas nama mu, jika..." Tuan Manuela menjeda ucapannya.
"Jika...." sambung Keyzia.
"Jika kau mau meninggalkan Christian."
Deg....
Keyzia terkejut, namun ia segera mengubah ekspresi wajahnya dengan tersenyum.
"Boleh aku tau maksud dan tujuannya?" tanya Keyzia.
"Kau tau kan kalau Christian telah bertunangan dengan Marina putri dari keluarga Santibanez?"
__ADS_1
Keyzia mengangguk dan masih bersikap tenang.
"Aku akan menikahkannya, tapi Christian menolak dengan alasan kalau dia telah menikah dengan mu, dan dia tidak mungkin menceraikanmu kalau kau mengizinkan nya menikahi Marina, dia juga pasti akan menolak."
"Jadi..."
"Jadi, aku ingin kau sendiri yang pergi dari hidupnya, buat dia agar membenci mu dan mau menerima Marina menjadi istrinya."
Keyzia tampak berpikir sejenak, ada rasa sakit dalam relung hatinya. Tapi ia masih mencoba untuk bersikap tenang, dan menahan semuanya. Jika ia turutkan mungkin ia sudah menangis sedari tadi.
Tidak lama kemudian Keyzia mengangakat wajahnya dan kembali tersenyum.
"Aku mengerti.... baiklah, tapi sebelumnya aku juga akan meminta sesuatu padamu." ujar Keyzia.
"Baiklah, selama kau tidak meminta Christian untuk tetap bersama mu." ucap Tuan Manuela.
"Aku bisa pergi jauh.. bahkan sangat jauh dari putra mu Christian." Keyzia menjeda ucapannya, menahan sebak di dadanya.
"Tapi apa kau bisa mengabulkan satu permintaanku." Keyzia memejamkan matanya dengan napas tersengal.
"Katakan." ujar Tuan Manuela.
"Kau tau, Christian memiliki banyak mata-mata. Dulu aku sudah mencoba menghindar dan menghilang untuk menjauh darinya. Tapi tetap saja dia dengan mudah menemukan aku."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk mu?" tanya Tuan Manuela.
"Aku mau kau pesankan aku tiket pesawat untuk pergi ke sebuah negara yang tidak akan bisa dijangkau oleh nya."
"Kau mau kemana?" tanya Tuan Manuela lagi.
"Terserah.... yang penting bagiku, putramu tidak bisa menemukan aku."
"Apa kau mau ke Swiss?"
"Tidak, disana ada banyak teman-temannya Christian."
Tuan Manuela pun menyebut satu persatu negara, tapi Keyzia menggelengkan kepalanya.
"Aku mau ke Yunani.." ucap Keyzia tersenyum.
"Apa.... kau mau kemana?" tanya Tuan Manuela terkejut.
"Yunani....... aku akan kesana, kau bisa kan membantuku Papa mertua?" ucap Keyzia tersenyum.
Tuan Manuela terkekeh. "Baiklah, aku akan mengurus keberangkatan mu kesana."
"Dan aku punya satu permintaan lagi." ujar Keyzia tersenyum.
"Kau banyak mau nya juga ya..."
Keyzia terkekeh. "Aku kau memberiku pekerjaan disana, setidaknya untuk bekal ku selama disana. Jadi kau tidak perlu menanggung hidup ku kan, aku takut kalau kau terus mengirimiku uang, suatu saat Christian pasti akan curiga. Dan dia pasti akan menyelidikinya, dan dia pun menemukan aku."
Tuan Manuela memicingkan matanya. "Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu.
"Berikan aku waktu tiga hari untuk berpamitan pada putra mu, aku tidak mungkin kan langsung pergi. Dia pasti akan curiga."
"Baiklah, aku setuju. Sekarang kau tanda tangani surat ini." Tuan Manuela menyerahkan surat cerai.
Dengan tangan bergetar Keyzia pun menandatangani nya.
"Baiklah.... aku akan mengabarimu jika semuanya sudah siap." Tuan Manuela pun beranjak dari duduknya dan akan segera pergi.
"Tuan...." panggil Keyzia.
Tuan Manuela menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Keyzia.
"Boleh kau memeluk mu?" pinta Keyzia.
Tuan Manuela terkejut dengan permintaan Keyzia.
Ia pun mengangguk dan merentangkan tangannya, Keyzia pun tersenyum dan memeluk nya.
"Terima kasih..." ucap Keyzia tersenyum.
Tuan Manuela pun melenggang keluar meninggalkan Keyzia di dalam apartemennya.
__ADS_1
Keyzia pun luruh kelantai sepeninggalan Tuan Manuela, sungai dimatanya pun akhirnya menganak dan mengalir di pipinya.
Bersambung