
Keyzia mulai cemas dengan keberadaan putra dan putrinya, sudah dua hari J dan Jessy tidak ada kabar beritanya.
Christian juga telah mengerahkan semua anak buahnya dibantu dengan orang-orang dari tuan Manuella.
"Bagaimana ini Rey, aku sudah tidak sanggup melihat istriku yang terus saja melamun dan menangis. Ia begitu terpukul dengan menghilangnya J dan Jessy," tutur Christian.
"Kami semua sudah melakukan pencarian tuan. Tapi sepertinya, penculik itu sangat hapal dan sangat dekat dengan J dan Jessy, sebab setau saya mereka tidak mudah jika di ajak oleh orang yang tidak mereka kenal," ungkap Reymond.
"Kamu benar Rey, tapi siapa mereka?" tanya Christian.
Saat Christian merenung memikirkan siapa dalang di balik penculikan kedua anaknya, tiba-tiba suara ponselnya berdering.
Ia pun segera menjawab panggilan telepon dari istrinya.
"Ya sayang," sapa Christian yang langsung memberi kode pada Reynold untuk keluar.
Tanpa dua kali, Reynold pun keluar dari ruangan boss nya.
"Bagaimana Chris, apa sudah ada perkembangan?" tanya Keyzia
"Belum sayang, tapi orang-orangku masih melakukan pencarian," jawab Christian.
"Kita harus bagaimana Chris," suara Keyzia mulai terisak.
"Kamu yang tenang ya sayang, aku akan terus mencari jejak penculik itu dan membawa kembali J dan Jessy," hibur Christian.
"Baiklah, aku akan menunggumu dirumah," tutup Keyzia.
"Baiklah sayang," Christian menutup telponnya.
Tapi pada saat ia akan menaruh kembali ponselnya, ia melihat sesuatu yang aneh pada ponselnya.
"Apa ini," gumam Christian kemudian membuka kembali ponselnya.
Senyum seketika terkembang diwajah Christian.
"Ini baru putraku," gumam Christian tersenyum, kemudian berteriak memanggil Reymond.
Tidak lama kemudian, Reymond masuk.
"Rey, panggil para ahli komputer dan sebagainya. Kumpulkan mereka, suruh mereka melacak ini," tunjuk Christian pada ponselnya.
"Baik tuan," jawab Reymond.
Christian pun segera menelpon Gustav untuk menyiapkan ruangan yang biasa digunakan oleh J, sebagai lab nya. Ia pun segera pulang ke rumah dan segera memberitahu berita gembira yang ia terima.
"Sayang, J kita memang cerdas. Aku tidak menyangka, jika yang ia lakukan selama ini bisa bermanfaat juga," seru Christian yang barui saja tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Keyzia.
"Ini," tunjuk Christian.
"Apa ini?" tanya Keyzia bingung.
__ADS_1
"Kamu ingat jam tangan digital yang aku berikan padanya sebagai oleh-oleh?" tanya Christian.
Keyzia menganggukan kepalanya.
"Jam tangan itu di lengkapi dengan GPS, tapi J menyempurnakannya kembali dengan memasang sesuatu didalamnya dan menghubungkannya langsung ke ponselku. Aku baru menyadarinya saat aku menelonmu," terang Christian.
"Jadi?" Keyzia kembali bertanya.
"Jadi, aku meminta bantuan mereka untuk membaca kode yang J kirimkan padaku dan mencaritahu keberadaannya," lanjut Christian.
"Benarkah," senyum terkembang di wajah Keyzia, saat ia mendengar berita baik dari putranya.
"Sekarang kita biarkan mereka bekerja dulu, kita menunggu hasilnya nanti setelah mereka selesai melakukan tugas mereka," lanjut Christian.
Keyzia menganggukan kepalanya mengerti.
Orang suruhan Christian pun mulai bekerja, tidak berapa lama kemudian mereka pun bisa memecahkan kode yang diberikan J. Senyum diwajah Christian dan Keyzia terkembang, Christian pun segera memeluk istrinya.
"Tuan, tuan muda saat ini berada disebuah gedung kosong," jelasnya.
"Rey, minta orang-orang kita untuk meluncur ke sana sekarang. Cukup awasi, jangan lakukan apapun, sampai kita tiba disana," jelas Christian.
"Baik tuan," Reymond pun segera menjalankan tugasnya, sedangkan yang lain kembali pada tugasnya.
"Tuan, tuan muda juga mengirimkan beberapa gambar. Apa ada yang anda kenal dengan salah satunya?" tanya salah satu anak buah Christian.
Christian dan Keyzia pun mendekt dan menatap monitor.
Mata Christian fokus ke salah satu pelaku, rahang Christian mengeras sembari mengepalkan tangannya.
"Brengsek, ternyata dia belum kapok juga," gerutu Christian geram.
"Kita harus bergegas Chris, aku tidak mau kalau sampai Ben melakukan sesuatu pada J dan Jessy," ucap Keyzia khawatir.
"Sayang, kamu tenang saja. Orang-orang ku akan mengurusnya," timpal Christian.
.....
"Uncle dimana mommy, kenapa sampai sekarang belum juga datang. Aku mau pulang dan bertemu mommy dan daddy," Jessy mulai merengek pada Ben.
Ben pun mulai jengah dengan rengekan Jessy, tapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia tidak mau kedua anak itu takut dan tidak mempercayainya. Ia berusaha terus mengambil simpati kedua anak itu dengan menghiburnya.
Tidak seperti Jessy yang terus saja merengek, J tampak teang mengikuti apa yang Ben katakan. Memang dari dulu J lebih mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh Ben. Kali ini J menggunakan sifat penurutnya. Tapi tanpa Ben sadari, sikap penurut yang di tunjukkan oleh J adalah untuk melindungi dirinya dan saudarinya. J tahu Ben mempunyai sikap yang kasar jika sudah marah.
"J, apa kau perlu sesuatu?" tanya Ben mengalihkan pembicaraan saat bingun harus menjawan rengekan dari Jessy.
"Tidak uncle," jawab J singkat.
"Lalu kenapa kau termenung?" lanjut Ben.
"Tidak apa-apa, aku hanya bosan," timpal J.
J kembali menatap lurus ke jendela kaca, ia berharap agar segera Daddynya membaca pesannya. J mulai muak dengan sikap kepura-puraan Ben didepannya.
__ADS_1
"Uncle, apa boleh aku ke kamar kecil? Aku pengen pup," ujar J beranjak.
"Baiklah, uncle akan mengantarkanmu," timpal Ben.
Sementara di depan gedung, orang suruhan Christian telah tiba disekitaran gedung tempat Ben menyekap J dan Jessy. Mereka mengintai dari jarak aman, dan menunggu hingga ada perintah dari bossnya.
....
J sedang berada di kamar mandi, ia kembali mengirimkan kode pada Daddynya.
Tiba-tiba, Ben masuk dan merampas jam tangan milik J dan menghancurkannya.
"Apa ini J?" tanya Ben.
Mata J melebar, ia bingung bagaimana ia menjelaskannya. J masih terdiam dan memutar otaknya untuk mencari alasan.
"J, uncle bertanya padamu. Apa ini?" ulang Ben.
"Itu hanya jam tangan biasa uncle, hadiah dari daddy saat ia pulang dari luar negeri," jawab J dengan gaya polosnya.
"Kamu yakin, ini hanya jam tangan biasa J?" tanya Ben tidak yakin.
"Ya, uncle. Itu hanya jam biasa, tapi memang harganya sedikit lebih mahal," jelas J sedikit sombong.
Ben tertawa, meskipun dalam hatinya ia tidak yakin dengan jawaban J. Ia pun mengabil jam tangan milik J dan membawanya bersamanya.
"Uncle, kembalikan jam tangan milikku," pinta J.
"Uncle menginginkannya, kamu bisa minta daddymu membelikanmu dengan yang lain," timpal Ben.
"Jangan uncle, aku akan memberikan yang lain dan lebih bagus. Aku punya koleksi jam tangan yang lebih mahal dari itu, seperti milik daddy," ungkap J.
"Maksudmu?" tanya Ben tidak mengerti.
"Setiap pulang dari luar negeri, daddy selalu membelikan aku jam tangan yang sama dengan miliknya. Ada beberapa yang tidak aku suka, uncle boleh memilikinya," bujuk J.
"Tapi aku menginginkan yang ini J," ucap Ben tegas dan penuh penekanan.
J terdiam, ia tidak mau sampai membuat Ben marah dan menyakitinya. Terutama menyakiti saudarinya, J pun kembali memutar otaknya untuk mencari alasan agar ia bisa kembali mengirimkan kode pada daddynya.
"Uncle, boleh aku meminjamnya sebentar?" pinta J sambil menadahkan tangannya.
"Untuk apa lagi?" tanya Ben.
"Aku akan mengatur ulang dan mengganti nama pemilik yang tertera di dalamnya," jelas J.
"Maksudmu?" Ben kembali bertanya.
"Coba uncle perhatikan nama yang tertera didalamnya, itu masih namaku, dan aku akan mengubahnya dengan nama uncle,' jelas J panjang lebar.
Ben pun menyerahkan kembali jam tangannya kepada J. J mulai mengotak atik jam tangannya, dan secepatnya ia mengirim koe pada daddynya. Ia juga memberitahu agar jangan membalas. Tidak lama kemudian, J menyerahkan kembali jam tangannya pada Ben kemudian menghampiri saudarinya yang sedang duduk sendirian.
Bersambung.
__ADS_1