Mengejar Cinta Sang Asisten

Mengejar Cinta Sang Asisten
43.


__ADS_3

Keyzia membuka matanya, ia duduk di kursi dengan tubuh terikat di sana, mulutnya juga ditutupi lakban.


"Kamu sudah bangun?" sebuah suara yang begitu familiar, menyadarkan dan mengingatkan Keyzia dengan cerita sebelumnya.


Keyzia menatap pemilik suara dengan tatapan tajam penuh kebencian. Keyzia berusaha melepaskan diri dari ikatannya, tapi ikatan itu terlalu kuat.


"Kamu mau aku lepaskan?" tanya Ben dengan nada mengejek. Ben melepas penutup mulut Keyzia.


"Lepasin aku Ben." seru Keyzia saat penutup mulutnya terbuka.


"Tidak akan, kamu sudah berada di tanganku. Aku tidak akan melepasmu dengan mudah." tutur Ben.


"Dasar gila, kau akan menerima akibatnya jika Christian tau kalian menculik ku." seru Keyzia.


"Itu kalau dia bisa menemukanmu, kalau tidak kau akan jadi milikmu, dan laki-laki arogan yang kamu katakan pria yang kau cintai itu, akan gila." Ben tertawa terbahak.


Keyzia menggelengkan kepalanya, ia kini sangat membenci Ben, rasa simpatinya yang dulu kini berubah jadi kebencian yang teramat dalam.


"Apa dia sudah bangun?" tanya seseorang yang baru saja datang dan masuk kedalam.


Keyzia menatap Jean dengan pandangan tidak suka.


"Ah ... Nyonya Christian Manuella sudah bangun rupanya." ucap Jean memberikan kotak makanan pada Keyzia.


"Bagaimana caranya aku makan, jika tangan ku terikat begini?" protes Keyzia.


"Kenapa apa kau pikir aku bodoh." Ben mendekati Keyzia, membuka kotak makanan. Kemudian menyuapinya. "Buka mulutmu."


"Aku bisa makan sendiri." seru Kanayah.


"Diam ... aku bilang aku yang akan menyuapimu." sanggah Ben.


Keyzia menekuk wajahnya. "Cuci tanganmu." titah Keyzia.


"Dasar cerewet ... aku akan mencuci tanganku." Ben beranjak dan mencuci tangannya.


Ben tahu Keyzia sangat menjaga kebersihan.


Ben mulai menyuapinya, Ben tampak meniup makanan yang ternyata masih panas.


"Buka mulutmu." titah Ben.


Keyzia mulai membuka mulutnya dan makanan dari tangan Ben pun masuk kedalam mulutnya.


Setelah selesai memberi Keyzia makan, Ben mencuci tangannya dan membersihkannya.


"Apa langkah kita selanjutnya Ben?" tanya Jean.


"Aku akan membawanya jauh dari negara ini, hingga Christian tidak akan bisa menemukan keberadaannya." ujar Ben.


"Baiklah, terserah padamu." jawab Jean cuek. Ia pun berlalu meninggalkan Ben yang masih memandang ke arah Keyzia.


....


Sudah satu minggu Keyzia menghilang tanpa kabar, Christian telah mengerahkan semua anak buahnya yang ada di Belanda. Tuan Manuella juga mengutus orang suruhannya untuk mencari Keyzia.


Si kembar mulai menanyakan keberadaan Mommy nya, sebab hingga kini Mommy mereka belum menelpon.

__ADS_1


"Opa, Jessy mau telpon Mommy." celetuk Jessy pada Tuan Manuella.


"Iya sayang, nanti kita telpon Mommy." hibur Tuan Manuella.


Christian kembali kerumah dengan wajah kesal, ia kecewa sampai saat ini satupun anak buahnya belum bisa menemukan istrinya.


"Bagaimana Chris?" tanya Tuan Manuella.


"Belum, satupun dari mereka yang berhasil menemukannya." gerutu Christian kesal.


"Gustav juga telah menyuruh anak buahnya menyisir seluruh pelosok kota itu, tapi belum juga menemui titik terang." jelas Tuan Manuella.


"Orang suruhanku juga sudah aku kerahkan, tapi tidak satupun dari mereka yang menemukannya." jawab Christian dengan nada kecewa.


Tuan Manuella menatap pilu pada putranya, ia bisa merasakan perasaan Chtistian saat ini. Itu pernah terjadi padanya, saat kehilangan Ibu Christian. Ia mencari keseluruh penjuru negeri, Tuan Manuella memang seorang ********, ia kasar, suka berjudi, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya. Tapi untuk urusan cinta, ia hanya mencintai satu wanita, yaitu Ibunya Christian.


Pada saat ditinggal oleh istri dan anaknya, Tuan Manuella seperti orang gila. Ia memutuskan untuk menikah, itu hanya untuk memperkaya dirinya.


Tapi walaupun dia hidup bergemilang harta, tapi ia selalu hampa. Tidak ada kebahagian didalam hatinya selalu hampa.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang sekarang, aku tidak tau lagi harus mencarinya kemana." keluh Christian.


"Bersabarlah Chris, jangan kamu berputus asa. Aku yakin dia ada disuatu tempat, dan dia baik-baik saja." hibur Tuan Manuella.


"Tapi sampai kapan? Aku sudah bingung menjawab pertanyaan anak-anakku." Chirstian mengusap wajah fruztasi.


"Kau benar Chris ... aku juga melihat J lebih banyak diam dan merenung." kenang Tuan Manuella.


"Aku akan terbang ke Belanda malam ini." cetus Christian.


"Aku akan mencari sendiri, aku yakin aku akan menemukannya." putus Chriatian kemudian berjalan menuju kamarnya.


Tuan Manuella menatap nanar putranya, "Aku yakin kau akan menemukannya Chris, rasa cinta kalianlah yang akan mempertemukan kalian."


"Aku harap perempuan itu tidak pernah ditemukan, aku muak dengan keberadaan dia dan anak-anaknya dirumah ini. Gara-gara mereka Simon tidak lagi menjadi kesayangan Tuan Manuella." Marina tersenyum puas.


****


Di kamarnya, Christian kembali merenung, ia mencoba menjernihkan pikirannya.


"Key ... kamu dimana sayang, aku harap dimanapun kamu berada, kamu baik-baik saja." gum Christian sembari menatap wajah Keyzia yang menghiasi layar ponselnya.


Christian sejenak memejamkan matanya, pikirannya menerawang jauh. Ia masih memikirkan keberadaan istrinya, ia juga memikirkan mengapa nasib pernikahannya seperti ini. Baru saja ia mereguk kebahagian bersama keluarga kecilnya. Tapi lagi-lagi mereka terpisah, Christian mencoba menutup mata dan beristirahat.


****


Sebuah panggilan akhirnya menyadarkan Christian dari tidurnya. Ia pun beringsut turun dari tempat tidur dan segera keluar dari kamarnya.


"Ada apa Chris, mengapa kau terburu-buru." tanya Tuan Manuella saat melihat putranya berlari menuruni tangga.


"Salah satu anak buah ku melihat Keyzia dibawa oleh dua orang, satu laki-laki, dan seorang perempuan." jawab Christian.


"Dimana?" lanjut Tuan Manuella.


"Di kantornya, aku curiga pada bos dan rekan kerjanya." sahut Christian.


"Kenapa dengan mereka?"

__ADS_1


"Rekan kerjanya sangat menyukai Keyzia, dan bosnya tergila-gila padaku." Christian menyeringai.


Tuan Manuella menggelengkan kepalanya.


"Hati-hatilah Chris, karena cinta orang bisa berbuat apa saja." ucap Tuan Manuella memperingatkan.


"Aku tau, tapi karena cinta pada istrinya. Seorang suami juga bisa menjadi gila dan nekat melakukan apapun.


Christian berjalan keluar, tapi langkahnya terhenti saat melihat putrinya Jessy berdiri didepan pintu. Christian mendekati dan berjongkok.


"Ada apa sayang?" tanya Christian lembut.


"Daddy, apa Mommy akan kembali?" tanya nya polos.


"Mommy pasti kembali sayang, Daddy akan menjemputnya sekarang." jawab Christian menghiburnya.


"Aku janji jika Daddy bisa pulang bersama Daddy, aku akan jadi anak baik dan tidak manja lagi." lanjutnya.


Christian menarik putrinya kedalam pelukannya, mata Christian berkaca, butiran bening tanpa sadar menganak dipelupuk matanya.


"Daddy janji, sekarang Jessy tinggal bersama Opa. Jangan nakal, ingat bila ingin sesuatu bilang pada Kakek Gustav, atau Papa Remond." Christian mengecup puncak kepala putrinya.


Ia melanjutkan langkahnya, tapi lagi-lagi ia berhenti saat melihat J, putranya.


J diam menatap Chtristian, tidak lama kemudian ia berjalan menghampiri Christian.


"Uncle ... apa kau akan mencari Mommy?" untuk pertama kalinya J berbicara pad Christian. Selama ini ia hanya diam saat berhadapan bahkan ia enggan menjawab setia Christian berbicara padanya.


"Ya, J ... aku akan mencari Mommy kalian, istriku." sahut Christian.


"Bawa dia pulang, jika kau berhasil membawanya pulang. Aku berjanji aku akan memanggilmu Daddy." ucap J dengan penuh keyakinan.


Mata Christian terbelalak sat mendengar penuturan J, apa ini artinya J sudah mau menerimanya.


"Aku janji J, aku tidak akan pulang sebelum menemukannya." jawab Christian menatap mata J.


J tersenyum, tampak wajah tampan serta dingin yang ia warisi dari Ayahnya.


"Aku harap kau segera menemukannya ... Daddy." lanjut J.


Mata Christian kembali terbelalak, ia berjalan mendekati J.


"Aku janji, aku harap kau juga berjanji untuk menjaga Jessy selama jau pergi." pinta Christian.


"Tentu saja, itu tugasku." jawab nya yakin.


"Baiklah ... apa aku boleh dapat pelukan?" tanya Christian penuh harap.


J tersenyum, kemudian memeluk Christian. Disini Christian tidak mampu lagi menahan keharuanya, ia benar-benar bersyukur. Dibalik kejadian ini, terselit kebahagian yang begitu besar bagi Christian.


"Aku akan membawanya pulang, ini janji antara laki-laki." Christian mengaitkan kelingkingnya dikelingking putranya.


J tersenyum tampan, Christian pun melanjutkan langkahnya.


Dengan kepercayaan yang ia dapat dari putra dan putrinya, membuat Chriatian yakin ia pasti bisa menemukan istrinya, kemudian membawanya pulang dan berkumpul bersama.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2