
Setelah Lina pulang dan dia menjinjing kresek berwarna hitam yang berisi tiga cup asinan buahnya, Lalu mamahku pun menghampiri aku yang sedang sibuk mengunyah makan siangku walaupun makan siangnya sudah agak mepet menuju pukul setengah tiga.
Dan mamahku pun bertanya, "Nda, tumben Lina membeli asinan buah banyak dan pedas, memang buat siapa sih?"
Aku pun yang masih mengunyah makanan tidak langsung buru-buru jawab pertanyaan mamahku itu tapi aku minum dulu supaya sisa kunyahannya masuk kerongkongan dan tidak tersedak.
"Oh itu, buat ibunya Lina mah, kan katanya ibunya lagi ngidam." ucapku sambil membereskan piring.
"Memang ibunya lagi isi?" tanya mamahku jadi penasaran.
"Iya mah isi lagi."
"Memang Lina berapa bersaudara gitu?"
"Setahu nda sih ya, Lina anak tunggal, kalau sekarang ibunya isi lagi ya berarti jadi anak sulung mah."
Aku dan mamahku sedang mengobrol di ruang makan lalu bapakku pulang kerja, kerja di pabrik sepatu dekat dengan rumah hanya berjarak satu setengah kilometer.
"Bapak pulang ngucapin salam di depan rumah tidak ada yang menyahut, lagi pada ngumpul disini rupanya?"
"Eh pak sudah pulang ya, maaf mamah gak dengar jadi gak tahu kalau bapak sudah pulang."
"Tumben pak sudah pulang masih siang, apa tidak ada lemburan?" lanjut mamahku sambil bertanya kepada bapakku.
"Tidak mah, hari ini bapak pulang cepat karena bosnya bapak akan ada acara keluarga katanya, jadi semua karyawan boleh pulang cepat."
"Oh, ya sudah kalau gitu, makan dulu pak, sudah makan belum?"
"Mamah masak apa hari ini?"
"Ada sayur sop,ada tongkol balado dan juga semur telur."
"Ya sudah bapak makan dulu ya mah."
"Iya pak, itu nasi di magiccom nya cabut saja kabelnya, nanti mamah nanak nasi lagi buat sore."
Setelah mendapat intruksi dari istrinya itu, lalu bapaknya Amanda pun mencabut kabel magiccom lalu mengeluarkan wadah yang terdapat di dalam magiccom itu. Dituangkan nasinya ke dalam piring setelah itu wadahnya dimasukan air supaya gampang nanti ketika dibersihkan lagi.
Beberapa menit kemudian, setelah bapaknya Amanda beres makan dan membersihkan tubuhnya dengan air, lalu bapaknya Amanda pun memasuki kamar.Di kamar itu terdapat mamahnya Amanda yang sedang menjahit baju yang sobek.
Lalu bapaknya Amanda pun mendekat sambil bertanya.
"Mah, tadi waktu sore sedang membicarakan apa sih di ruang makan?"
"Oh itu, tadi ada temannya Amanda kesini terus membeli jualan asinan buahnya mamah."
__ADS_1
"Ya bagus dong, terus masalahnya dimana?" tanya bapaknya Amanda lagi.
"Ya begitu ditanya sama mamah katanya bukan buat dia, begitu ditanyakan ke Amanda katanya ibunya lagi ngidam berarti lagi isi lagi dong pak?"
"Jadi ceritanya mamah ngiri ya sama ibunya teman Amanda." goda bapaknya Amanda.
"Engga ngiri juga pak, ah udah jangan ngomongin orang dosa tahu."
"Yee...mamah sendiri yang keceplosan."
"Kalau mau bikin lagi ayo." lanjut bapaknya Amanda lagi sambil menggoda istrinya.
Mamahnya Amanda yang tak tahan dengan godaan bapaknya Amanda pun langsung memukul-mukul dengan bantal.
"Nanti lagi lah pak, adik Amanda ini masih kecil sebentar lagi masuk Tk perlu biaya juga."
"Ya sudah kalau gitu, tapi sekarang si dedenya mana mah?"
"Lagi ngaji di mushola belakang rumah."
"Ya syukurlah kalau gitu, semoga anak bapak nih sholeh ya mah."
"Iya pak Aamiin."
Ketika mamahnya Amanda dan bapaknya Amanda sedang di dalam kamar, lalu ada handphone berdering rupanya ada pesan masuk melalui aplikasi hijau.Waktu mamahnya Amanda sedang asyik berbalas chatingan, bapaknya lalu keluar kamar lalu menuju dapur untuk menyeduh segelas kopi.
+62821xxx
+628572xxx
[Iya, waalaikumsalam ini dengan siapa?]
+62821xxx
[Saya Reni, bisa pesan asinan buahnya tidak ceu untuk acara tujuh bulanan anakku?]
+628572xxx
[Tentu boleh, mau pesan berapa cup? Tapi kalau pesanan begini harus setor dulu dp 50% gak apa-apa?]
+62821xxx
[ Pesan sekitar 50 cup ya, yang ukuran 8000an jadi total berapa?]
+628572xxx
__ADS_1
[ Siap, sebentar saya hitung dulu 8000x50 jadi totalnya 400ribu ceu, bayar dulu dp 200ribu nanti sisanya kalau sudah jadi dan akan dikirim ke rumah ibu gimana?]
+62821xxx
[Saya transfer sekarang ya, minta No rekeningnya ceu, oiya ini alamat rumah saya jl merpati gg pepaya no. 5 buat besok siang ya.]
+628572xxx
[Ini no rekeningnya Berri 254857416 a/n Ratnika, siap nanti kalau sudah masuk transferannya saya langsung belanja.]
Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya transferan pun masuk juga.Lalu mamahnya Amanda pun berjalan ke teras depan dimana bapaknya sedang duduk dikursi sambil ngopi dan menghisap sebatang rokok ditangannya.Mamah Amanda pun menghampiri suaminya tersebut yang kelihatan sedang duduk santai.
"Pak lagi santai kan?" tanya mamahnya Amanda.
"Iya mah, memang kenapa?ada yang mesti bapak bantu kerjakan?" bapaknya Amanda pun bertanya balik.
"Antar ke pasar yuk, mamah dapat orderan asinan buah borongan lumayan banyak buat acara syukuran tujuh bulanan."
"Boleh mah, bapak akan antar dengan senang hati, tapi nanti ya habis magrib, tanggung ini sebentar lagi adzan."
"Iya pak."
"Ya sudah, bapak habiskan dulu ini kopinya lalu bapak akan ke mesjid dulu buat sholat berjamaah ya."
"Iya bapak, jangan lama-lama tapi ya."
"Iya, ya sudah mamah saja duluan yang wudhu, nanti bapak nyusul kopinya dikit lagi habis kok."
"Iya."
Mamahnya Amanda pun lalu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu yang mengalir langsung dari keran.Air disini memang masih air dari sumur yang ditampung didalam sebuah tempat penampungan air yang sangat besar di simpan diatas genteng rumahnya.Lalu airnya disedot memakai alat pompa listrik. Tapi meskipun masih air sumur, airnya tetap bening dan tidak berbau.
Setelah semua penghuni rumah mengambil air wudhu lalu menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, lalu mamahnya Amanda dan bapaknya Amanda pun pamit akan pergi ke pasar dulu untuk membeli segala bahan-bahan buat jualan asinan buah besok serta untuk bahan pesanan borongan tetangganya yang mengadakan syukuran tujuh bulanan itu.
Adiknya Amanda yang masih balita umur lima tahunan itu lalu dititipkan ke Amanda.Karena kalau ikut akan sangat tidak mungkin, selain jalanan gelap juga kondisi pasar yang becek karena sudah turun hujan waktu pukul tujuh belas atau pukul lima sore tadi.
Setelah mamahnya dan bapaknya siap-siap menuju pasar lalu mereka berdua pun pamit.
"Amanda, tolong jaga dulu adikmu, jangan kemana-mana ya, mamah sama bapak mau pergi belanja ke pasar dulu." ucap mamahnya Amanda ketika sedang akan memakai helm.
"Iya mah, Amanda akan jaga adik dan gak akan kemana-mana cuma disini aja nonton acara televisi."
"Kalau begitu, mamah dan bapak pergi dulu ya sayang, dedek jangan nakal harus nurut sama kakak ya."
"Asalamualaikum." lanjut mamahnya Amanda lagi.
__ADS_1
"Iya mah, waalaikumsalam."