Mengejar Gadis Dingin

Mengejar Gadis Dingin
Dapat Orderan


__ADS_3

Sepulang dari pasar, lalu mamahku menyuruhku untuk mengupas buah-buahan seperti bengkuang,nanas,jambu biji, kedondong dan buah mangga muda untuk bahan asinan buah.


Karena hari ini ada yang transfer dp uang muka pesanan asinan buah  memesan untuk acara tujuh bulanan, jadi mamah pun belanja buahnya agak banyak dari biasanya.Aku pun menurut disuruh mamah untuk mengupas buah-buahan yang nanti setelah selesai mengupas bisa dimasukan ke dalam toples.Untuk kuahnya biar besok saja bikin dadakan supaya sugar.


“Alhamdulilah,usaha mamahku laris” gumamku dalam hati.


Aku pun terus mengupas buah-buahan yang telah disuruh mamahku tadi.Hingga akhirnya kupasan terakhir, mamahku menyuruhku untuk tidur karena besok harus kembali sekolah lagi.


Sebetulnya aku malas bersekolah disana, aku malas bertemu yang selalu membully aku.Tapi apa boleh buat sekolah itu yang paling terdekat menuju rumahku dan aku mendapatkan beasiswa 25% dari yayasan yang menaungi sekolahku itu.


Bisa meringankan beban orangtuaku sedikit, namun harus punya mental yang kuat.


Disaat aku mau tidur, tiba-tiba handphone mamahku berdering lagi.Rupanya ada pesan lewat aplikasi hijau.


"Alhamdulilah, dapat pesanan lagi." ucap mamahku sedikit teriak di ruang Televisi, karena mungkin kegirangan.


Aku pun yang mau tidur jadi melongo dibalik pintu kamar.


"Ada apa mah?" tanyaku.


"Ini nda, ada orderan lagi tapi minta besok saja dibikinnya dadakan." jawab mamahku.


"Syukurlah, untung belanja buahnya banyak ya mah."


"Iya nda, kamu kok belum tidur? katanya tadi mau tidur." tanya mamahku sambil menyernyitkan dahinya.


"Iya mah ini mau tidur kok, karena penasaran mamah tadi kegirangan jadi melek lagi."


"Ah kamu ini, ya sudah tidur aja biar mamah yang kerjain."


"Siap mah."


Aku pun merebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan tak lupa memakai selimut, karena meskipun telah memakai obat nyamuk, nyamuknya tetap saja ada ntah tadi ngumpet dimana waktu di semprot obat nyamuk.


Sekitar pukul setengah empat sebelum subuh, aku sudah bangun dari tidur.Aku langsung membantu mamahku dulu memasukan berbagai macam buah-buahan yang semalam telah aku kupas dan telah aku simpan dalam toples besar.Dan sekarang tinggal memotong buah-buahan itu kecil-kecil dan aku masukan potongan buah-buahan itu ke dalam cup satu-persatu hingga ada lima puluh cup jumlahnya.Dan juga ada sekitar tiga puluh cup pesanan susulan tadi malam ketika aku hendak akan tidur.

__ADS_1


Sedangkan pagi ini, mamahku yang bertugas membuat kuah pedas untuk asinan buahnya yang berbahan cabai merah, cabai rawit, garam dan juga gula merah.Tidak memerlukan waktu yang lama, kuah pedas itu sudah jadi.Sebelum dituangkan ke dalam plastik kuah pedas yang panas baru saja diangkat dari kompor itu didinginkan terlebih dahulu.


Setelah selesai memasukan potongan buah-buahan yang kecil-kecil itu ke dalam cup itu satu-persatu, giliran aku memasukan kuah pedas asinan buah itu kedalam ukuran plastik bening kecil.Karena takutnya para konsumen yang memesan asinan ke mamah ingin memesan asinan buah dalam keadaan utuh biar kuahnya disiram dadakan nanti oleh konsumennya sendiri sesuai selera.


"Mah,ini sudah selesai semua ya." ucapku sambil membawa handuk dari jemuran baju.


"Iya sudah sana mandi, kan nanti mau berangkat ke sekolah." suruh mamahku menyuruhku segera mandi.Aku pun segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dengan air yang mengalir dan juga sabun.Setelah selesai mandi, Adzan subuh pun berkumandang lalu bapakku mengajak aku, mamahku dan juga adikku yang masih balita untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim secara berjamaah.Keluargaku memang seperti ini dari dulu sehingga dirumah pun terasa hangat karena keharmonisannya.


Tak jarang juga ada para tetangga yang iri melihat keharmonisan keluargaku,tapi mamahku tidak ambil pusing ketika ditukang sayur mendapat cibiran dan nyinyiran para tetangga.Anggap saja radio rusak ketika mengadu ke suami atau bapakku,dan bapakku bilang begitu untuk menenangkan hati mamahku.


Setelah beres menunaikan kewajiban,lalu bapakku langsung berangkat menuju ke sebuah pabrik, karena bapakku ini merupakan seorang supervisor di dalam perusahaan itu.Dan tentu pekerjaan bapakku sangat banyak terlebih harus memimpin dan memberi arahan anak buah bawahannya bapakku itu.


Dan bapakku ini merupakan karyawan senior juga, jadi mau tidak mau harus memiliki tanggung jawab penuh untuk perusahaan tersebut dan harus memberikan contoh yang baik dan teladan bagi bawahannya dan para juniornya yang baru saja bergabung di perusahaan tersebut.


Mamahku pun menghampiri bapakku yang sudah diluar sedang menyalakan motornya dan sedang memakai sepatu.


"Pak, belum sarapan loh!sudah berangkat aja, mamah sibuk ngurus orderan pagi ini." ucap mamahku khawatir suaminya belum sarapan langsung berangkat.


"Tidak apa-apa mah,bapak bisa membeli bubur ayam di depan pabrik saja."


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati dijalan ya pak. " ucap mamahku sambil mencium tangan bapakku.


Setelah bapak berangkat dengan motornya, lalu mamahku pun masuk ke dalam rumah lagi, kembali menyiapkan pesanan itu ke dalam tas jinjing besar.


Karena pada tahun tersebut belum ada ojek online, lantas mamah menyuruhku untuk mengantarkan pesanan asinan buah yang telah selesai dikemas ini kepada pemesan di kelurahan sebelah.


Aku pun mengiyakan apa yang disuruh mamahku, karena kalau tidak nurut aku tidak akan dikasih uang jajan untuk berangkat ke sekolah.Meskipun keadaanku belum sarapan, aku pun telah siap mengantarkan pesanan asinan buah itu.


"Mah, aku berangkat dulu." ucapku sambil mencium tangan mamah.


"Iya nak, hati-hati dijalan." ucap mamahku.


Aku pun segera mengayuh sepedaku menuju kelurahan sebelah yang mungkin jaraknya dua kilo meter dari rumahku.


Setelah tiga puluh menit aku mengayuh sepeda kesayanganku, akhirnya aku telah sampai juga di kelurahan sebelah.

__ADS_1


Aku lupa bertanya tadi siapa nama pemesan itu, tapi mamah ngasih tahu patokan rumahnya ada di pinggir kelurahan katanya.


Setelah aku memastikan rumah itu, aku pun memanggil penghuni rumah itu.


"Asalamualaikum, permisi."


Nampak dari dalam rumah ada seorang ibu-ibu yang berjalan menuju ke luar rumah tepat aku dan sepedaku berada.Beliau pun sambil menjawab salamku yang sedikit agak teriak dari dalam rumah.


"Waalaikumsalam, tunggu sebentar."


Beberapa detik kemudian, penghuni rumah itu berada di luar.


Aku pun bertanya.


"Bu, apa benar Ibu yang memesan asinan buah?" tanyaku memastikan benar atau tidaknya.


Dan si ibu yang berada didepanku pun bertanya lagi.


"Iya neng benar, ini siapa? anaknya bu Ratnika bukan?"


Aku pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan ibu itu.


"Iya bu benar, dan ini pesanannya saya antar." ucapku sambil menyerahkan jinjingan besar yang dipenuhi asinan buah itu.


"Oh iya, sebentar ya ibu mau mengambil sisa uang yang belum dibayar."


"Iya bu silahkan."


Setelah si ibu itu kembali lagi dari dalam rumah lalu ibu itu memberikan dua lembar uang seratus ribuan.


"Ini neng,sisa pembayarannya."


"Terima kasih ya bu." ucapku sambil menerima uang seratus ribuan itu dari si ibu tadi.


"Kalau begitu saya pamit dulu bu,mari."

__ADS_1


Si ibu hanya Mengangguk sambil tersenyum, lalu aku berbalik arah menuju pulang ke rumahku si ibu itu masuk ke dalam rumah.


__ADS_2