
Siang itu elma dan bramasta suaminya berangkat menuju surabaya dengan penerbangan dari jakarta menggunakan jetpri.
" Lama ya Pa kita gak main main ke surabaya." Suara elma memecah keheningan saat keduanya sudah berada di dalam mobil setelah beberapa waktu yang lalu sampai di bandara juanda, sambil melihat lihat pemandangan kota surabaya yang sama padatnya seperti jakarta. Cuma bedanya jakarta rawan macet sedangkan surabaya tidak.
" Iya, sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali kita meninggalkan surabaya waktu itu." Jawab suaminya.
" Jelas banyak yang berubah dong Pa, kita kan meninggalkan kota surabaya sejak el masih dalam kandungan. Lihat sekarang el sudah sebesar itu." Sahut elma
Mobil yang mereka tumpangi melaju cepat membawa mereka membelah padatnya kota surabaya. Tak butuh waktu lama mobil mereka pun akhirnya sampai juga di tujuan, memang jarak antara rumah dan bandara juanda tidak terlalu jauh sehingga mereka bisa cepat sampai apalagi jalanan saat itu juga tidak terlalu ramai karena bukan akhir pekan. Mobil memasuki pekarangan rumah kediaman Abu yamin sahabatnya yang sudah di anggap seperti saudara sendiri baginya.
" Assalamualaikum." Suara lantang bramasta saat dirinya menginjakan kakinya di depan pintu rumah sahabatnya itu.
" Walaikumsalam." Terdengar sahutan dari dalam rumah, yang di sambut sorak sorai dan gelak tawa keduanya saat sudah bertatap muka.
Kedua sahabat karib itu berpelukan dengan erat karena bersyukur bisa di pertemukan kembali oleh takdir di usia mereka yang memang sudah tidak muda lagi, di susul dengan istri keduanya yang juga saling menyapa dan berpelukan sembari melepas rindu.
Mereka memang teman satu sekolah dulu, sebelum tinggal dan menetap di jakarta bramasta yang masih kecil tinggal di surabaya dengan kedua orang tuanya dan menikah dengan elma yang asli orang jakarta, setelah menikah keduanya masih tinggal di surabaya sampai akhirnya kedua orang tua bramasta meninggal.
Saat itu elma sedang mengandung anak pertama mereka, karena kurangnya pengalaman mengurus anak akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pindah dan menetap di jakarta dekat dengan orang tua dan saudara saudara dari keluarga elma. Hingga sampai saat ini terhitung sudah sekitar kurang lebih 35 sampai 40 tahunan mereka tinggal dan menetap di jakarta.
Abu dan bramasta berteman sejak keduannya masih duduk di bangku sekolah dasar jadi wajar saja kalau kedua keluarga mereka sangatlah akrab layaknya saudara sendiri.
" Wah, jadi ustad sekarang kamu Bu? Salut aku sama kamu."
" Halah, biasa aja?! Kamu juga hebat sekarang jadi pengusaha sukses di kota besar, bangga aku punya teman seperti kamu."
" Gimana sehat terus kan?"
" Alhamdulillah, barakallah aku sekeluarga sehat wal'afiat. Kamu gimana sehat? Awet muda kamu bram, liat aku wes tua kayak gini banyak ubannya."
" Jangan gitu dong bu, umur boleh tua tapi jiwa dan pemikiran jangan mau kalah sama yang masih muda."
Keduanya pun tertawa terbahak bahak hingga suaranya terdengar ke suluruh sudut ruang tamu yang kini menjadi seperti gedung acara reoni.
" Mana? Mana dia gadis kecilku yang cantik?" Tanya bramasta sambil celingukan mencari satu sosok.
" Dia belum pulang, mungkin sebentar lagi akan pulang."
" Lalu kemana jagoan kalian kenapa tidak di ajak??" Tanya abu pada sahabatnya.
" Ada, saat ini dia belom bisa ikut karena masih banyak pekerjaan yang harus dia urus dulu. Tapi besok dia pasti akan menyusul kesini." Terangnya.
Lama perbincangan di antara keduanya berlangsung akhirnya mereka pun melanjutkan obrolan di meja makan yang disana sudah tertara rapi jamuan makan siang dengan lauk sederhana yang sangat lengkap dan menggugah nafsu makan, bahkan air liur pun hampir menetes saat melihat hidangan yang di sajikan. Menu makanan yang di sajikan memang bukan makanan yang mahal dan terkenal seperti di restoran berbintang, tapi kalau soal rasa jangan di tanya pasti ini juaranya apalagi untuk lidah indonesia. Karena lamanya tak berjumpa sehingga ada saja yang mereka bahas seperti pembicaraan itu tidak akan pernah habis walau di bahas tujuh hari tujuh malam. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu di buka.
" Assalamualaikum, Ummi alma pulang." Alma yang mendengar suara dari arah meja makan pun segera melangkahkan kakinya kesana.
" Walaikunsalam, Nduk."
" Eh.. Ada tamu? Maaf ummi abah, alma gak tau kalau ada tamu." Alma tersenyum sambil menundukan wajah manisnya.
Perlahan dia melangkahkan kaki mendekat kearah kedua orang tuanya untuk menyalami mereka, Alma mencium satu persatu punggung tangan abah dan umminya tak lupa ia juga menyalami kedua tamu orang tuannya dengan melakukan hal yang sama kepada bramasta dan elma. Saat ia akan mencium punggung tangan elma wanita beda generasi itu malah menarik alma kedalam pelukannya. Kamu sudah besar sayang, sekarang tambah cantik banget sampai pangling tante. Gak nyangka kalau kamu tumbuh jadi wanita yang anggun dan cantik." Puji elma tak henti henti saat melihat paras ayu nan teduh alma membuatnya ingin memiliki anak gadis juga tapi apalah daya umurnya yang memang tak lagi muda menjadi penghalang mimpinya.
Alma yang masih dengan tatapan bingung memilih diam dan mengambil duduk di sebelah umminya, mendengarkan para orang tua itu bercerita sembari bernostalgia tentang masa muda mereka dahulu saat kedua keluarga itu masih sama sama tinggal di surabaya.
" Alma sekarang sibuk apa?" Tanya elma yang dari tadi pandangannya tak lepas dari wajah ayu gadis itu.
" Alma cuma bantu Abah ngurus panti tante sekalian ngajar ngaji anak anak yang ada di panti, terkadang alma juga ngater anak anak panti yang sudah waktunya sekolah untuk di titipkan di pondok pesantren biar jadi santri yang hebat kata Abah." elma hanya menganggukkan kepalanya pelan menannggapi penjelasan alma.
__ADS_1
" Om bramasta ini sahabat Abahmu saat masih duduk di bangku sekolah dulu Nduk." Terang umminya yang menyadari wajah bingung Alma. " Dan tante yang cantik ini namanya tante Elma istrinya Om bram." Tambah Umminya lagi.
Alma yang sedikit mendapat pencerahan itupun hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya pelan tanda mengerti dengan apa yang di jelaskan umminya. Alma tetap duduk disana menemani tamu kedua orang tuanya dan sesekali menjawab pertanyaan yang di lontarkan Elma.
.
.
.
Kini alma sudah berada di dalam kamarnya memilih untuk merebahkan tubuhnya yang terasa berat karena lelah seharian beraktifitas. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya, terlihat ada notif pesan masuk dari Abhi yang belum sempat di bacanya.
" Nduk, Sudah selesai ngajarnya?"
Alma tersenyum sambil membaca pesan singkat yang di kirim Abhi padanya.
"Sudah Mas, balas alma."
" Kok baru di balas Nduk? Dari mana saja?"
Abhi memang rajin mengirimi alma pesan singkat semenjak alma lulus dari pondok, maklum setelah kepulangannya dari kairo laki laki itu hanya bisa sebentar saja menikmati waktu bersama alma di pondok pesantren milik keluarganya, mengingat alma yang akan lulus dari sana dan kembali ke kota asalnya yaitu surabaya seperti sekarang alma sudah berada di surabaya bersama keluarganya.
" Nggeh Mas, Kebetulan hari ini di rumah lagi ada tamu Abah sama Ummi dari jakarta jadinya Alma ikut nemenin."
" Oh, yawes Nduk. Buruan mandi pean bau asem ini lo.. Jangan lupa sholat ya doa'in Mas."
" Doa?? Mas kan bisa minta sendiri sama Allah."
" Beda kalau kamu yang doa'in Nduk."
" Wes, Pokoknya doakan Mas, Semoga apa yang Mas impikan selama ini bisa Mas dapatkan sebentar lagi."
" Iya wes, Tak doakan semoga Mas Abhi mendapatkan apa yang Mas impikan, Amin."
" Amin." Balas Abhi singkat.
Alma pun bergegas mandi dan mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat isya setelah itu dia lanjut dengan kembali menderas mushaf'nya.
.
.
.
Sedangkan di lain tempat terlihat el tengah bersiap terbang ke surabaya malam ini juga dengan menggunakan jetpri setelah menyelesaikan semua pekerjaannya dan menyerahkan sisanya pada asisten tito, el terlihat sedikit panik karena tadi siang dirinya dapat telfon dari mamanya untuk segera ke surabaya. El khawatir kalau terjadi apa apa terhadap kedua orang tuannya saat perjalanan menuju surabaya.
Karena saat telfon Mama elma yang tidak memberi penjelasan pasti kenapa El harus terbang ke surabaya malam ini juga justru mematikan sambungan telfon saat el belum selesai bicara, hal itu lantas membuat el sedikit gelisah. El yang baru saja lepas landas meninggalkan kota jakarta dan menuju kota surabaya hanya di temani dengan pilot dan co pilot sebagai awak kabin, dan satu pramugari yang menyiapkan segala keperluan el selama berada di dalam jet pribadinya itu.
Setelah sampai di bandara juanda el melanjutkan menempuh perjalanan dengan di jemput oleh sopir menggunakan mobil yang sudah di siapkan oleh papanya, kali ini el melakukan perjalanannya sendiri tanpa di temani sang asisten karena ini urusan di luar pekerjaan. Mobil yang menjemputnya kini memasuki sebuah pekarangan yang cukup luas dengan beberapa pohon mangga tertanam di sana, pohon yang cukup tinggi dan berbuah sangat lebat. Karena hari memang sudah larut malam saat dirinya sampai sehingga beberapa penghuni rumah sudah tertidur. El langsung masuk kamar tamu yang sudah di siapkan setelah memberi salam kepada kedua orang tuanya.
***
Pagi itu alma yang terlambat bangun karna semalam harus mempersiapkan segala dokumen yang di butuhkan anak anak panti yang akan di pondokan. Alma kaget sekaligus bingung karena melihat Abah dan Umminya sudah rapi seperti mau pergi, begitupun dengan kedua tamu Abah dan Ummi yang juga terlihat sama rapinya.
" Abah sama Ummi mau kemana?"
" Abah sama Ummi mau ada perlu sebentar sekalian ngajak Om sama tante jalan jalan mumpung ada di surabaya." Jelas umminya.
__ADS_1
" Pak bagio nganter Abah sama Ummi nanti, Jadi kamu perginya di anter sama anaknya tante elma. Orangnya masih di dalam kamar sebentar lagi juga keluar, kamu tunggu aja di sini."
Alma yang masih terheran heran dengan penjelasan Umminya tak sempat bertanya ataupun protes karena Umminya seperti tak memberikan dia waktu untuk mengajukan keberatannya.
" Hmmm... Terpaksa deh nunggu." Ucap alma sambil memeriksa kembali berkas yang dia bawa.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya yang di tunggu keluar juga, betapa terkejutnya alma melihat siapa yang keluar dari kamar tamu.
" Astaghfirullah, Ummik." Ucapnya lirih. Kok bisa bisanya aku di suruh bareng sama laki laki yang gak aku kenal mana bukan muhrim lagi.
Sedangkan El yang melihat Alma di depannya sedikit terkejut dan heran dengan wanita di depannya.
" Apa dia gak kepanasan pakai baju begitu?" El menatap alma dengan tatapan tajam menilai cara berpakaian alma yang saat itu menggunakan jubah panjang, tatapan merendahkan jelas tersirat dari matanya hingga membuat Alma sedikit menunduk.
El maju beberapa langkah mendekati Alma, membuat Alma sedikit melangkahkan kakinya mundur.
" Kamu yang namanya Alma??" Tanya El dengan tatapan datar.
Alma hanya menganggukan kepalanya pelan, karena merasa tidak nyaman dengan pandangan el terhadapnya.
" Mama nyuruh aku nganter kamu, memangnya kamu mau kemana?"
" Jogja." Jawab Alma lirih.
" Whatts .... Jogja??" Teriak El yang terkejut mendengar jawaban alma. "Kamu gak salah mau ke jogja, Ngapain?? Mau jalan jalan" Tanya el sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Nganter anak panti ke pondok Mas."
" Anak panti, Ke pondok? Yang bener aja." Seketika el menelfon mama nya. Pada dering pertama panggilan telfon darinya sudah dijawab.
" Hallo, mam ini yang bener aja dong ma masak el harus nganterin nih cewek ke jogja sih ma? Emang gak ada kerja'an yang lain yang lebih penting apa mam."
" El, Udah jangan banyak komplain ya nanti mama jelasin." Seketika panggilan telfon darinya langsung di putus oleh mama Elma.
" Shttt..." Umpat El yang terlihat kesal.
Alma yang merasa dirinyalah penyebab kekesalan pria itu memilih untuk diam tanpa banyak bicara. Dengan langkah berat el menuju ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya, Sedangkan alma di belakangnya mengikuti langkah el dan masuk ke dalam mobil. El mengendarai mobil menuju ke arah yang di instrupsi oleh alma untuk menjemput anak panti.
Setelah menjemput anak anak panti perjalanan pun dilanjutkan, Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam tanpa ada obrolan. Alma melihat anak anak panti yang duduk di kursi penumpang tengah tertidur pulas karena capek melakukan perjalanan jauh. Alma memilih untuk membuka lagi mushaf di tangannya dan menderasnya dengan suara lirih, el yang berada di sampingnya hanya diam dan tetap fokus mengemudi tanpa memperdulikan wanita di sampingnya.
Perjalanan yang jauh dan melelahkan itu hanya berhenti sebentar di rest area untuk makan dan minum. Setelahnya perjalanan kembali di lanjutkan agar tidak banyak memakan waktu di perjalanan. Mobil melaju cepat melewati kota demi kota sampai akhirnya tibalah mereka di tempat yang di tujuh yaitu Pondok pesantren milik Kyai Jabar. Tempat yang mempunyai banyak arti untuk Alma, karena disana alma banyak belajar.
Alma yang rindu suasana pondok sedikit bernostalgia dengan tempat itu, menghambur bersama Bu Nyai yang juga merindukan alma. Bagaimana tidak sosok alma lah yang selama ini paling dekat dengan Bu Nyai, Alma juga yang paling telaten nyiapin semua kebutuhan Bu Nyai selama dipondok meskipun ada mbak dalem yang bertugas mengurus semua keperluan bu Nyai, namun bu Nyai lebih suka kalau alma yang menyiapkan semua keperluan beliau. Dari makan, wedang sampai obat Bu Nyai pun alma hafal kapan kapan saja waktunya minum obat.
Bu Nyai memang punya keinginan untuk menjadikan alma sebagai mantunya. Ya tentu saja untuk bersanding dengan putra semata wayangnya yaitu abhi. Jadi saat melihat alma datang dengan di antar oleh pria lain Bu Nyai seperti sedikit kecewa.
" Nduk siapa laki-laki yang datang bersamamu?" Tanya Bu Nyai.
" Itu anak teman abah Nyai, Alma juga baru ketemu hari ini. Karena Abah sama Ummi pergi jadi Pak Bagio yang nyupirin, terus alma jadinya di anter sama anak teman Abah." Jelas alma kikuk karena Nyai yang terus memandang wajah alma mencari kebenaran di setiap kata katanya.
" Lain kali sebisa mungkin jangan cuma jalan berdua sama laki laki yang bukan muhrim kamu nanti timbul fitnah."
" Nggeh Nyai."
Setelah mengobrol dan menyelesaikan urusan anak panti akhirnya mereka pun pamit pulang karena takut kemalaman di perjalanan. Perjalanan yang panjang mereka habiskan dengan sibuk pada aktifitas masing masing. Alma yang menyibukkan kembali dirinya dengan mushafnya, sedangkan El yang sibuk dengan kemudinya.
Sesampainya dirumah setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan mereka berdua memutuskan kembali ke kamar masing masing karena penghuni rumah yang lain juga sudah terlelap tidur.
__ADS_1