
Alma mempertegas pengelihatannya dengan mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, Alma tersentak menyadari siapa lelaki tampan yang sedari tadi ada di depannya itu dan tengah menatapnya tanpa ekspresi. Dengan tergopoh-gopoh dan dengan gerakan cepat Alma mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
" Mas el..?? Kenapa mas ada di rumah??"
" Menurutmu?"
" Em, itu??"
" Kamu belum sadar Al?"
" Eh, Su-sudah mas."
" Terus?"
" Hah?? Terus apa Mas?" Jawab Alma sembari mengerutkan dahinya.
El hanya diam tak menjawab pertanyaan Alma, dirinya justru menepuk dahinya sambil mengusap wajahnya kasar.
" Jam berapa ini??" Tanya El yang kali ini terlihat sedikit geram. " Bukannya kamu janji akan ikut denganku menemui Sandra??" Tanya'nya sembari mengingatkan Alma.
" Oh, iya?? Maaf mas Alma lupa, maaf juga kalau alma ketiduran."
Alma merasa sangat bersalah pada El, bagaimana bisa dia melupakan janjinya pada suaminya itu. Meskipun janjinya kali ini begitu menyakiti perasaannya namun Alma tetap saja merasa tak enak hati karena membuat suaminya menunggu lama karena dirinya yang tertidur.
" Bodoh kamu Al, bodoh. Sekarang kamu bahkan tidak ada waktu untuk bersiap-siap tampil yang terbaik di depan suamimu dan wanitanya, belom lagi mata ini pasti masih bengkak karena tangisku tadi." Alma merutuki kebodohannya sendiri yang bisa-bisanya tertidur di waktu penting seperti ini.
Segera dirinya bangun dan bersiap, dengan cepat Alma masuk ke kamar mandinya dan menyelesaikan mandinya dengan gerakan cepat, mencuci wajahnya hingga terlihat jauh lebih segar. Alma memilih baju yang sekiranya nyaman di pakai dan tidak terlalu mencolok tapi masih bisa membuat dirinya terlihat anggun. Alma memutuskan memakai baju gamis bermodel simpel tapi elegan berwarna peach dengan di padu padankan dengan pashmina berwarna hitam.
__ADS_1
Alma yang bingung harus menggunakan heels atau sepatu teplek yang memang menjadi icon dirinya, heels membuat semua wanita terlihat berkelas dan anggun tapi justru membuat alma kikuk bila harus memakainnya terlalu lama, maklum saja alma memang jarang sekali memakai heels bahkan dapat di katakan hampir tidak pernah kecuali saat ada acara hajatan atau kondangan. akhirnya Alma memutuskan untuk menggunakan sesuatu yang nyaman untuknya. Sedangkan untuk tas Alma memang bukan tipe wanita yang suka dengan tas yang ukurannya terlalu besar, sehingga dirinya hanya melengkapi penampilannya dengan mengunakan tas selempang samping dengan ukuran kecil yang cukup untuk tempatnya menyimpan dompet dan ponselnya.
Alma keluar dari kamar dan menghampiri el yang sedang menunggunya di ruang keluarga. El yang hanya meliriknya sekilas ke arah alma tanpa berkomentar, begitu saja mengajak alma langsung berangkat. Sepertinya suaminya itu sudah benar-benar tidak sabar untuk bertemu wanita pujaannya itu. Alma mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan, kali ini dia tidak boleh kalah dengan hatinya, air matanya tidak boleh keluar begitu saja tanpa seizinnya.
" Semangat Al,semangat!!" Ucapnya dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, menuju ke tempat yang sudah di tentukan. Sebuah cafe yang terletak di salah satu mall terbesar di jakarta.
El memarkir mobil dan berjalan masuk ke dalam mall, tanpa menghiraukan alma. Sedangkan alma mengikuti el dari belakang seperti itulah mereka berjalan alma tidak pernah berjalan di samping el karna el selalu melebarkan langkah kakinya setiap kali alma berjalan di sampingnya tapi el akan berjalan normal saat alma berjalan di belakangnya. Sejak saat itu alma sadar bahwa suaminya tidak mau jalan beriringan dengannya.
Langkah kaki el berhenti di sebuah meja membuat alma juga menghentikan langkahnya. El yang langsung duduk seperti tidak memperdulikan alma yang sedari tadi hanya menunggu.
Akhirnya el melihat ke arah alma dan memberi kode supaya alma duduk. El memperkenalkan kedua wanita yang sekarang tengah duduk berhadapan.
.
.
" Almahyra." Balas Alma sembari menjabat tangan sandra.
Keduanya beradu pandang, saling menilai satu sama lain dalam diam. Lama keduannya saling melempar pandangan mengamati dengan jeli lawan di depannya.
Jadi si alma ini wanita berhijab. Benar-benar jauh dari bayangan aku, aku kira dia menggunakan hijabnya hanya saat hari akad waktu itu, hari yang menghancurkan semua impianku. Kalau ini sih aku yakin bukan selera el. Ucap sandra dalam hati menilai sekilas penampilan Alma. Tapi walaupun berkerudung dan di balut gamis panjang dia masih tetap terlihat cantik dan menarik bahkan dia terlihat sangat anggun dengan pilihan warna yang pas. Dia juga terlihat sangat lembut dan baik. Meskipun El gak ada perasaan sama Alma dan masih tetap menjaga perasaannya terhadapku tapi aku tetap gak boleh biarin mereka terus bareng-bareng setiap waktu, aku gak mau El punya perasaan lebih ke Alma nantinya.
Tak jauh beda dengan Sandra, Alma juga sibuk menilai Sandra yang kini ada di hadapannya.
Mbak Sandra ini Cantik,putih,tinggi,modis,badannya juga langsing di tambah rambut hitamnya yang panjang terurai. Sungguh gambaran wanita ideal yang sempurna, dia juga terlihat sangat baik dan berpendidikan. Pantas saja Mas El begitu mencintai mbak Sandra dan gak rela melepaskan mbak Sandra begitu saja dari hidupnya. jangankan laki-laki aku saja yang sesama perempuan, menatapnya takjup apalagi mata pria. Mana bisa aku memenangkan hati mas El kalau harus bersaing dengan wanita secantik ini, aku bahkan gak ada seujung kuku mbak Sandra.
__ADS_1
Pantas kalau mas El begitu memperjuangkan mbak Sandra, itu karena mbak Sandra memang patut untuk di perjuangkan, tidak akan ada lelaki satupun yang akan rela melepas bidadari seindah ini. Sedangkan aku??? Tidak ada kelebihan yang bisa aku tonjolkan, tidak ada hal istimewa yang bisa di banggakan. Aku tidak layak untuk di bandingkan dengan wanita sempurna sepertinya. Alma menilai dirinya sendiri. Alma begitu insecure, dirinya tak mampu lagi menatap Sandra yang kini mengalihkan pandangannya kepada El.
.
.
El memecah keheningan dengan menawarkan memesan sesuatu untuk di makan.
Mereka makan siang bersama dengan sesekali melakukan obrolan yang terlihat sangat canggung. Tidak ada perselisihan di antara kedua wanita itu mereka hanya sibuk menilai diri masing-masing.
Karena sandra tidak membawa mobil mereka berniat pulang bersama dalam satu mobil dan akan mengantarkan sandra terlebih dulu ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Alma yang merasa seperti pengganggu di antara mereka mencari-cari alasan agar bisa pulang sendiri tanpa harus satu mobil dengan mereka.
" Mas, Alma boleh gak pulang sendiri? alma masih perlu beli beberapa bahan makanan untuk persediaan di rumah." Tanya alma meminta ijin kepada suaminya.
" Tapi, aku harus nganterin Sandra ke rumah sakit Al."
" Alma bisa belanja sendiri mas. Nanti pulangnya alma bisa memesan taksi online. Alma janji tidak akan lama, alma cuma mau beli beberapa kebutuhan terus pulang." Alma berusaha meyakinkan el agar dirinya di beri ijin untuk pulang sendiri.
El tidak ingin mengulur waktu karena di liatnya sandra sudah mulai merubah ekspresi wajahnya melihat perdebatan kecil di antara dirinya dan alma.
" Oke.. Terserah kamu saja?!" Jawab datar.
Akhirnya el dan sandra pun pergi meninggalkan alma yang masih duduk di cafe itu.
Sebenarnya alma tidak berniat membeli sesuatu dia hanya tidak mau menjadi penggangu antara suaminya dan Sandra.
__ADS_1