Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Di Boyong Suami


__ADS_3

Tok...tok...tok...


" Nduk, ummi boleh masuk??"


" Boleh ummi masuk aja." Aku yang berada di dalam kamar bersama dengan aruna sahabatku, tengah membantuku berkemas beberapa pakaian.


Ummi yang langsung duduk di kasur ikut membantu memasukan beberapa baju yang akan ku bawa ke jakarta.


" Nduk.. ummi boleh berpesan??" Tanya ummi padaku yang sibuk mengambil baju di lemari. Mendengar ummi akan bicara hal serius aku memutuskan menghentikan kegiatanku mengepak baju dan duduk disebelah ummi.


" Nduk, sekarang kamu bukan hanya anak abah dan ummi saja tapi kamu juga istri dari seseorang. Kamu harus selalu patuh apa kata suamimu jangan mbantah,kalau mau pergi kemanapun harus seijin suamimu kalau suamimu tidak memberikan kamu ijin jangan pernah berani melangkah keluar dari rumah dan kalau nanti kamu ada masalah di rumah tanggamu jangan pernah kamu bawa keluar rumah selesaikan di dalam rumah. Nanti kalau kamu kangen sama abah dan ummi kamu boleh kesini mengunjungi kami dengan di antar oleh suamimu, kamu tidak boleh pulang ke sini sendiri tanpa suami menemanimu." Tegas ummi.


" Nggeh ummi. Tapi alma masih ingin tinggal disini sama abah sama ummi, alma bisa minta ijin ke mas el untuk tinggal disini menemani ummi beliau pasti memberi ijin."


" Ummi percaya kalau suamimu itu orang baik, dia pasti mengijinkan kamu tinggal di sini sama ummi. Tapi Nduk tugas seorang istri itu ya di samping suaminya, menemani kemanapun suaminya pergi bagaimanapun keadaannya."

__ADS_1


" Nggeh mik."


" Jaga diri kamu baik baik ya Nduk. Jangan menyusahkan suami dan jaga martabat suamimu."


Setelah selesai berkemas alma, aruna dan ummi keluar menuju ruang tamu. Alma duduk di samping el karena el yang menyuruhnya entah kenapa sikap pria itu selalu baik di saat saat tertentu tapi bisa sangat dingin ketika hanya berdua saja dengan alma.


Setelah pembicaraan antar keluarga itu selesai, mereka pun pamit dan berangkat ke jakarta dengan menggunakan jetpri. Sesampainya di jakarta el memutuskan untuk mengajak alma tinggal di apartemen miliknya, ia membeli apartement itu sudah lama sebenarnya dia membelinya untuk ia tinggalin bersama dengan sandra ketika mereka sudah menikah nanti tapi takdir berkata lain, dirinya justru tinggal di apartement itu bersama dengan wanita lain yang kini berstatus sebagai istrinya dan menghadiahkan apartement itu sebagai mas kawin untuknya.


El dan alma sampai di sebuah unit apartemen, el membuka apartemen dengan menekan beberapa kombinasi angka sehingga pintu apartement itu pun terbuka. El menunjukkan kamar yang akan menjadi kamar alma kedepannya dan tepat di sebelah kamarnya adalah kamar yang akan di pakai el, el memilih untuk mereka tidur terpisah karena el yang memang tidak mengingikan kehadiran alma dalam hidupnya.


" Kamu tidur disini dan aku tidur di kamar sebelah sana, masalah ini cukup kita yang tau. Aku harap kamu gak cerita ini ke siapapun kalau kita tidur di kamar yang terpisah." Ucapnya padaku dengan wajah datar sembari berdiri sambil bersedekap dada.


" Istirahatlah, ada yang ingin aku bicarakan padamu nanti malam." Ucapnya sambil berlalu pergi tanpa menoleh kearah ku.


Dengan ogah aku menarik koperku masuk kedalam kamar, rumah tangga macam apa ini yang akan ku jalani. Menikah tanpa cinta, hidup seatap tapi beda kamar, balada rumah tangga, menikah tapi tak seranjang?? Ini hidup atau judul sinetron?

__ADS_1


****


Meskipun aku tidak suka dengan orang yang memiliki apartement ini namun harus ku akui bahwa aku menyukai dapurnya yang luas, ini adalah surga untuk para wanita. Memiliki dapur yang luas dan bersih dengan peralatan memasak yang lengkap membuatku sedikit terhibur berada di sini, ini juga membuatku bersemangat dalam menyajikan makanan untuk di hidangkan. Setelah selesai memasak dan menata masakanku di meja makan aku bergegas memanggil sang pemilik rumah dengan mengetuk kamarnya. Setelah beberapa kali ketukan akhirnya pintu pun terbuka dan sang pemilik hunian pun kini sudah duduk di meja makan bersiap untuk makan.


" Ada yang ingin aku sampaikan."


" Iya mas."


" Langsung saja, aku menikah denganmu karena permintaan kedua orang tuaku." Itulah kata kata yang dia pilih sebagai bahan obrolan pertama kami.


" Perjodohan seperti ini tidak ada dalam kamus hidupku. Aku tidak ingin siapapun mengatur hidupku, tapi aku tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku." Mendengarnya mengatakan hal seperti itu membuatku menghentikan aktifitas makan malamku, aku menundukkan kepalaku hingga menghadap ke meja makan.


" Ya, aku tau ini juga bukan salahmu. Aku tau kamu juga terpaksa harus mengikuti perintah abahmu. Tapi malam ini juga ada yang ingin aku sampaikan dan kamu wajib tau, aku tidak mencintaimu atau lebih tepatnya lagi aku tidak bisa mencintaimu dan memperlakukanmu selayaknya istriku, di luar sana ada seseorang wanita yang mencintaiku dan yang sangat aku cintai dia adalah kekasihku yang selama ini menemaniku, kami sudah menjalin hubungan ini selama kami masih sama sama duduk di bangku kuliah. Impian kami adalah membangun bahtera rumah tangga yang bahagia, tapi karena ada kamu semuanya hancur aku harus menyakiti orang yang paling aku kasihi. Sekarang kamu mengerti kenapa kita tidak bisa bersatu dan tidak mungkin tidur satu kamar."


Kata demi kata yang ia ucapkan mengandung belati yang menyayatku begitu saja tanpa ampun. Itulah kata kata yang mas el ucapkan sebelum dia pergi.

__ADS_1


Satu persatu air mataku jatuh ke pangkuan tanpa bisa ku bendung. Disinilah aku berada saat ini, aku yang baru saja di persunting oleh seorang pria yang sama sekali tidak menginginkanku, dia yang mengucap janji sehidup semati denganku justru mencampakkanku di malam pertama kami. Sekarang lihatlah aku disini yang seperti bunga layu di terbangkan angin, dia yang baru beberapa jam lalu meminta ijin kepada kedua orang tuaku untuk memintaku tinggal bersamanya malah memberi kenyataan pahit yang menamparku keras hingga membuatku tersadar bahwa aku bukanlah istri yang sesungguhnya, aku hanyalah istri di atas kertas yang ia gunakan sebagai tameng pelindung dari murka orang tuanya. Aku bukanlah wanitanya, bukan pula labuhan hatinya. Aku hanyalah pajangan di rumahnya yang ia gunakan sebagai penenang orang tuanya.


Aku merasa sangat kecil dan tak ada harganya saat ini, aku seperti bunga mawar yang layu sebelum berkembang karena kumbang menjauhiku. Aku hanya bisa diam menerima sikap dinginnya padaku meskipun hatiku sakit saat mendengarnya berkata seperti itu. Tapi apa boleh buat aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mas el karna memang pernikahan ini bukan dia yang mau. Mungkin dia juga korban disini karena perjodohan ini membuatnya tak bisa bersama dengan kekasihnya. Tapi haruskah aku merasa sesakit ini karenanya, haruskah ia mengatakan hal yang menyakitkan itu padaku? Apa salahku padanya hingga dirinya tega memperlakukanku seperti ini.


__ADS_2