
Tok... Tok... Tok...
Berulang kali ku mencoba untuk mengetuk dan memanggil manggil mas el dari depan pintu kamarnya namun sama sekali tak ada jawaban dari dalam. Sebenarnya apa uang sedang mas el lakukan didalam, kenapa tidak merespon saat ku panggil.
Sejujurnya aku sendiri juga enggan untuk membuka kamarnya apalagi kalau harus masuk dan memeriksanya tapi apa boleh buat aku terpaksa melakukannya karena tidak biasanya mas el bangun terlambat apalagi di jam kerja seperti ini.
Perlahan ku beranikan diri untuk mengambil langkah, ku pegang gagang pintu kamar Mas el, dengan hati hati ku buka perlahan agar tak menimbulkan suara yang berlebih. Tujuannya adalah agar aku bisa langsung menutupnya kembali saat melihat sesuatu yang tidak pantas untuk ku lihat.
Kriekkkk....
__ADS_1
Pintu perlahan terbuka, ku dlusupkan sedikit kepalaku ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan sekitar, ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruang mencari sosok lelaki yang paling arogan yaitu suamiku. Benar saja, mas el yang masih tertidur dengan lelapnya di kasurnya, perlahan ku langkahkan kakiku hingga sampai tepat di samping tempat tidurnya. Bila sedang tertidur seperti ini mas el sama sekali tak terlihat gahar, justru Mas el terlihat amat lembut.
" Mas... Mas el bangun, sudah pagi Mas." Alma menepuk nepuk pelan bahu suaminya. El yang merasa bahunya di sentuh seseorang pun terbangun.
" Al.. Ngapain kamu disini??" Tanya el dengan nada bingung, sambil melihat sekitarnya memastikan ia berada di kamarnya sendiri.
" Alma cuma mau bangunin mas el karena sudah pagi takut mas terlambat ke kantor." Terang alma.
Alma yang merasa dirinya di tolak pun hanya bisa keluar dari kamar suaminya dan menutup pintu kamar. Segera alma berlari masuk kedalam kamarnya sendiri menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi alma menyalakan keran air dan menangis tanpa suara ia merasakan dadanya begitu sesak hingga dirinya sulit untuk bernafas. Tiga bulan berlalu setelah pernikahannya tidak merubah apa pun bahkan semua usahanya untuk mendapatkan hati suaminya pun seperti sia sia. Hati suaminya seperti tak terjangkau oleh alma entah alma yang tidak pantas untuk di cintai atau memang hati itu sudah penuh oleh bayang bayang wanita lain.
__ADS_1
Setelah alma merasa sudah lebih tenang, dirinya kembali keluar dari kamar dan menunggu el di meja makan, tak lama pintu kamar el terbuka. Alma bergegas menawarkan sarapan untuk suaminya itu, namun el menolak dengan beralasan bahwa dirinya sudah kesiangan. Dalam hati alma yang merasa kembali kecewa oleh sikap suaminya memilih untuk diam.
" Nanti sore aku jemput, kita ke rumah mama."
" Iya mas, alma akan siap siap."
" Inget, jangan pernah buka mulut tentang apapun ke mama. Termasuk tentang hubungan aku selama ini dengan sandra."
" Mas tenang aja, mas itu suami alma. Alma gak mungkin jelek jelekin suami alma sendiri."
__ADS_1
el hanya diam tanpa memberi tanggapan, dirinya memilih pergi begitu saja tanpa menghiraukan alma. Sedangkan alma memilih untuk tidak mengambil hati atas perilaku suaminya, alma sudah mulai terbiasa sekarang dengan semua perlakuan kasar yang dia terima dari suaminya bahkan alma sudah terbiasa bila el tidak menganggapnya sebagai istri.