Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Hati Yang Terluka


__ADS_3

.


.


.


Malam ini mas el benar benar tidak pulang entah apa yang sedang dia kerjakan dan dimana dia sekarang? aku bahkan tidak tau keberadaan suamiku sendiri. Sebagai istrinya aku bahkan tak memiliki nomer ponselnya, entahlah bagaimana aku akan menjalani hari hariku kedepannya dengan suami yang sama sekali tidak mencintaiku.

__ADS_1


Aku memutuskan mengambil wudhu, menggelar sajadah menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Ya memang hanya inilah senjata yang paling ampuh yang aku punya, hanya dengan bermunajat dan menderas mushaf maka hatiku akan tenang mesti rasa sakitnya belum hilang karena ucapannya yang menggores luka. Namun hanya dengan berserah padaNya aku menemukan sandaran yang harusnya bisa ku temukan di pundak lelakiku. Lamanya aku mengadu sambil berderai air mata membuatku lelah dan mengantuk tak terasa aku pun tertidur setelah puas mencurahkan rasaku pada sang penguasa.


Sedangkan di lain tempat tampak el yang mengunjungi apartemen sandra namun sandra enggan membukakan pintu untuknya. Berulang kali el mencoba membunyikan bel yang ada di pintu namun sandra tak juga membukanya sampai akhirnya el memutuskan untuk kembali pulang.


****


Pagi pun datang cahaya matahari menembus dari balik kaca yang terbuhung ke balkon kamarku.

__ADS_1


Aku sadar sekarang kenapa sikap mas el akan sangat dingin kepadaku saat kami hanya berdua, tapi mas el akan berubah menjadi suami yang sangat hangat dan penyayang saat berada di depan keluarga kami. Itu karena ada wanita lain di hatinya, wanita yang bertahta di singgah sana hatinya, wanita yang menjadi ratu di kerajaan cintanya. Itu juga yang menjadi penyebab kenapa dia tak bisa menerimaku sebagai istrinya.


Mas el berangkat ke kantor setelah menyelesaikan sarapan dan menyesap sedikit kopinya, dia melewatiku begitu saja tanpa berpamitan denganku seolah aku tak ada dalam pandangan matanya.


Tapi aku tak bisa membiarkannya meninggalkan rumah begitu saja, ummi mengajarkan banyak petuah padamu yang tidak bisa ku abaikan begitu saja mesti aku mau. Dengan gerakan cepat aku menyusul mas el yang belum sepenuhnya sampai ke pintu buru buru ku gapai lengannya, ku ambil tangan mas el dan mencium punggung tangannya.


" Aku tau mas gak pernah anggap aku sebagai istri mas, tapi ijinkan aku untuk melakukan tugasku sebagai seorang istri dengan menyiapkan semua kebutuhan mas dan hanya sekedar mencium tangan mas ketika aku akan pergi atau setiap mas mau pergi. Cuma itu gak lebih." Jelasku padanya karena tak ingin dia berfikir terlalu jauh, dan aku juga harus menjaga marwahku sebagai seorang wanita agar tidak jatuh di hadapannya.

__ADS_1


" Terserah kamu aja, yang pasti jangan berharap aku akan memberikan hatiku untukmu." Tegas mas el sebelum dia kembali melangkahkan kakinya keluar.


Begitulah sikap dinginnya padaku yang tak pernah sedikitpun terlihat manis saat kami hanya berdua.


__ADS_2