Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Bagai Di Sambar Petir


__ADS_3

Pagi itu semua sudah berkumpul di ruang keluarga setelah menyelesaikan aktifitas sarapan bersama di meja makan. Semua yang hadir tampak begitu tegang seperti ada hal serius yang akan di bahas.


Om Bram memulai pembicaraan yang awalnya terdengar santai, tapi saat di tengah pembicaraan suasana menjadi jauh lebih tegang.


" El kamu sudah tau kalau keluarga kita sangat dekat dengan keluarga Om Abu kan. Papa sudah bersahabat lama dengan Om Abu bahkan kita seperti saudara maka dari itu Papa memutuskan akan menikahkan kamu dengan anak dari Om Abu yaitu Alma."


PRAAAANGGGG !!!!


Seperti di sambar petir ketika mendengar kata menikahkan dengan anak Om Abu yaitu Alma.


" Aku menikah...???" Pekik Alma dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


" Whatt... ???" El yang tampak sangat terkejut sama sepertiku.


Sekilas kami saling beradu pandang dengan tatapan heran. Kami berdua nampak seperti anak kecil yang tidak tau apa apa, dengan apa yang barusan kami dengar. Penjelasan yang di sampaikan Om Bram seperti tidak masuk akal untuk di mengerti, kenapa harus menikah untuk menjalin tali silaturahmi di antara keluarga kami bukankah masih banyak cara yang bisa di lakukan.


El menolak dengan halus perjodohan yang sudah di atur oleh para orang tua, dia beralasan bahwa kami tidak saling kenal dan tidak ada rasa suka di antara kami berdua. El juga menambahkan bahwa dirinya belum siap untuk berumah tangga.


Aku pun juga sama, aku beralasan bahwa aku baru saja lulus dari sekolah dan masih ingin menemani Abah dan juga Ummi.


Sedangkan di kamar Ummi yang berbicara halus padaku dan memberikan pengertian yang tidak bisa untuk aku bantah. Entah kenapa aku selalu luluh jika Ummi sudah berbicara. Aku tidak ingin menyakiti hati Ummi dengan menolak setiap permintaan Ummi padaku.


" Tapi ummi, menikah itu bukan perkara yang mudah, bagaimana bisa Alma menjadi istri dari seorang laki-laki yang bahkan namanya saja alma belum tau ummi."


" Nanti Ummi kenalkan." Jawab Ummi sambil tersenyum menggoda Alma.

__ADS_1


" Belom lagi Alma ini gak cinta sama dia Ummi, bagaimana Alma bisa menjalani rumah tangga Alma. Bagaimana Alma bisa menjadikan pria itu sebagai ladang pahala untuk alma?"


" Belom lagi kalau pria itu sudah punya kekasih? Bagaimana perasaan wanita yang menjadi kekasihnya Ummi pasti tidak adil bukan."


Yang ada di pikiran Alma bukan kekasih pria itu melainkan bayangan Abhi. Entah kenapa Alma tiba tiba merasa bersalah pada Abhi.


" Nduk kamu bisa mengenalnya setelah kamu menikah dengannya dan kamu juga bisa belajar mencintainya saat dia sudah jadi suamimu nanti. Kalau untuk dia punya kekasih atau tidak Ummi sudah tanyakan hal itu kepada orang tuanya bahwa nak El masih single tidak pernah memperkenalkan wanita manapun kepada kedua orang tuanya. Wes ya nduk, manut titah abahmu ojo di bantah terus ra apik."


Alma hanya bisa menghela nafas tanpa berani membantah lagi kata kata umminya. Ya begitulah alma dia tidak pernah mau membuat kedua orang tuanya kecewa mestipun terkadang bersebrangan dengan apa yang dia harapkan. Ummi kembali mengajak Alma ke ruang keluarga. Disana sudah ada El dan mama Elma yang kembali setelah berdiskusi di luar.


" Bagaimana nak el, apa nak el bersedia menikah dengan anak Abah?"


" Bersedia Bah."


Pertanyaan serupa juga di tujukan kepada Alma dan di jawab. " Alma bersedia Abah." Alhamdulillah sahut Abah dan Ummi di iringi senyum dari Bram dan istri.

__ADS_1


Malam itu juga mereka berdua melangsungkan acara pertunangan sederhana yang hanya di hadiri oleh keluarga inti dan tetangga kanan kiri juga perangkat kampung. Acara pertunangan hanya beragendakan bertukar cincin, elma sudah menyiapkan sepasang cincin berlian untuk keduannya. Setelah acara pertukaran cincin selesai di laksanakan, kedua keluarga itu lantas menentukan tanggal pernikahan untuk keduannya.


__ADS_2