Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Malam Kelabu


__ADS_3

Kamar yang sebelumnya di gunakan mas el menginap kini sudah di sulap menjadi kamar pengantin oleh mama elma dan semua persiapan itu di lakukan beliu dengan bantuan dari pegawai hotel sewaktu mereka semua berangkat untuk acara ijab kabul tadi pagi, terlihat jelas dari raut wajah mas el yang nampak keheranan namun sudah bisa ia tebak bahwa semua ini adalah ulah mamanya yang ingin malam ini menjadi malam pengantin yang menggelora layaknya pasangan lain pada umumnya.


Kami berdua memasuki kamar yang seharusnya jadi kamar istimewa bagi semua pasangan yang baru menikah. Kamar yang harusnya menjadi awal hari hari kami yang indah penuh dengan gelora. Hasrat, keringat, desah kenikmatan, kecupaan, pelukan,serta cumbuan mesra itu.


Baru saja kami melangkahkan kaki ke arah pintu aroma wangi kelopak bunga mawar menyeruak ke seluruh penjuru ruang, aroma yang datangnya dari rajang tidur yang kini di sulap bak lautan bunga mawar, warnanya yang merah merona begitu menggoda mataku ingin segera merebahkan diri disana. Semakin kami melangkahkan kaki masuk aroma mawar semakin menusuk hidung kami berdua, Mas el yang menatapku dengan ekspresi wajah datar entah apa yang ada di pikirannya kali ini tak sanggup ku artikan lewat pikirku, tatapan yang tanpa ekspresi itu membuatku menjadi salah tingkah bingung harus melakukan apa.


Meskipun kami sudah menikah dan menjadi sepasang suami istri, tetap saja tidak ada yang berubah di antara kami berdua selain status kami yang sudah sah menjadi suami istri di mata orang dan agama,namun sejatinya kami tetaplah dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain.


Mas el terlihat biasa saja tidak ada kecanggungan yang nampak dari sikapnya, dirinya seolah menganggapku tidak ada disana. Mas el memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi setelah menanggalkan jas dan kemeja yang ia kenakan saat resepsi, semua baju itu kini di biarkan begitu saja berserakan di lantai. Sedangkan aku yang masih sibuk melepas segala pernak pernik bekas acara resepsi yang masih utuh menempel di badanku, gaun yang ku gunakan saat ini begitu indah. Ini membuatku tampak seperti putri putri di negeri dongeng tapi bedanya semua putri di negeri dongeng itu menikah dan hidup bahagia dengan pangeran yang mereka cintai dan mencintai mereka lain halnya denganku aku menikahi pangeran yang tidak ku cintai dan mencintaiku. Lalu cerita dongeng apa yang sesuai dengan kisah hidupku ini.


Mas el yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya itu kini terlihat jauh lebih tampan, aroma sabun yang wangi menyeruak dari tubuhnya, rambutnya yang basah bekas keramas itu membuat hatiku bergejolak. Sedangkan aku yang masih menggunakan gaun pengantin sedari tadi karena kesusahan membuka resleting di bagian punggungku. Berulang kali ku coba menggapainya supaya terbuka tapi gaun yang melekat sempurna di tubuhku ini menyulitkan gerakku. Perlahan mas el berjalan ke arahku, sepertinya dia tau aku butuh bantuan.


" Hadap sana biar ku bantu." kata kata dingin itu keluar dari mulutnya dengan ekspresi wajah yang tak kalah gaharnya.


Tangannya menyentuh punggungku untuk membuka resleting, entah kenapa ada yang aneh pada diriku seoalah darah di tubuhku mendidih. mungkinkah aku ingin? Kenapa aku seperti ini dia hanya membantuku membuka resleting bukan yang lain lalu kenapa aku merasa seperti ini, aku menggelengkan kepalaku pelan mencoba menyadarkan kembali diriku yang mulai oleng. Setelah selesai membantuku membuka resleting, mas el lantas membalikan badannya seolah tak ingin melihat tubuhku sedikitpun, ia bergegas mengambil jaket yang di simpannya di lemari dan tak mengatakan sepatah katapun padaku. Ia hanya menoleh sebentar ke arahku dan berlalu pergi keluar kamar meninggalkan aku sendiri disana, bahkan aku pun belum sempat mengucapkan terima kasih padanya karena sudah membantuku.


Aku tak mau ambil pusing dengan sikapnya padaku, dia memang seperti itu. Kami memang bukan sepasang kekasih yang melabuhkan cinta kami di sebuah altar pernikahan. Kami bisa sampai sana karena tiket express kedua orang tua kami yang mengatur perjodohan ini, jadi wajar saja bila sikapnya padaku tak semanis sikap para laki laki terhadap kekasihnya belahan jiwanya. Aku juga tak pernah menuntut dirinya harus bersikap seperti apa padaku.

__ADS_1


Aku yang baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang namun sosok yang ku cari tak dapatku temukan di sana, ranjang yang penuh dengan kelopak bunga mawar itu pun kosong tak berpenghuni.


Kemanakah dia sekarang? Kenapa belum pulang?


Ku lihat jam di ponsel menunjukan pukul sebelas malam tapi mas el belum juga kembali. Aku yang bingung antara harus menunggu atau tidur terlebih dahulu, jujur saja aku yang memang sudah capek dan mengantuk karena kurang tidur dari kemarin.


Tapi aku tidak boleh melupakan tugasku sebagai seorang istri kepada suami, akhirnya aku memutuskan untuk menunggu hingga jam menujukkan pukul satu dini hari tapi tetap saja yang di tunggu tunggu pun belom menampakkan batang hidungnya, tanpa ku sadari aku tertidur karena lelah menunggunya semalaman.


.


.


El melirik jam yang melingkar di tangannya, jam menunjukan pukul sebelas malam namun el yang enggan kembali ke kamar karena dirinya tak ingin satu kamar dengan alma. Akhirnya memutuskan membuka satu lagi kamar hotel untuknya tidur sendiri malam itu.


Alma yang terbangun saat subuh pun di buat kelabakan dia takut kalau kalau dirinya lalai akan tugasnya sebagai seorang istri tapi setelah ia menyadari bahwa el belom kembali dirinya lega setidaknya bukan dirinya yang lalai tapi memang suaminya yang belom pulang.


Alma mengambil air wudhu lalu sholat setelah selesai dia melanjutkan untuk menderas kembali mushaf'nya.

__ADS_1


Jam menunjukan pukul setengah enam saat el memutuskan untuk kembali ke kamar dimana ada alma disana, dia tidak ingin mama dan papanya tau kalau semalam pengantin yang baru menikah itu tidur terpisah. Setibanya el di kamar dirinya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur di liatnya sekilas alma yang sedang sibuk dengan bacaannya.


Jam menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit saat mereka keluar dari kamar hotel menuju ke resto, di sana sudah ada papa dan mama el yang menikmati breakfast, mereka berencana akan makan terlebih dahulu sebelum nantinya akan pergi ke rumah alma.


" Gimana sayang istirahatnya?? Nyaman kamarnya." Tanya ibu mertuaku yang tidak tau bahwa beliau sia sia menyiapkan kamar yang begitu istimewa itu untuk kami berdua.


" Kamarnya nyaman Ma, Terima kasih."


Tiba tiba saja Mas el yang mendekatkan badannya dan berbisik kepadaku.


" Jangan sampai mama dan papa tau kalau semalam kita tidur terpisah." Mendengar itu membuatku kesal seolah dia sedang mengancamku agar tidak mengadu pada kedua orang tuanya. " Kalau takut ketahuan kenapa melakukan itu semalam." gerutuku dalam hati. Namun apa boleh buat aku hanya bisa pasrah dan menganggukan kepala.


Mama elma yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum, dia pikir anaknya melakukan hal itu karena sedang bersikap manis padaku. Padahal jauh dari itu, anaknya justru mencampakkan ku di malam pertama kami. Andai saja beliau tau apa yang dibisikan putra tunggalnya itu pada mantunya.


Setelah makan dan beres beres sudah selesai kami semua melanjutkan perjalanan menuju ke rumah abah dan ummi. Jarak dari hotel tempat resepsi ke rumah abah memang tidak terlalu jauh, kami sengaja memilih hotel yang dekat dari rumah agar memudahkan kami kembali pulang jika ada sesuatu barang yang tertinggal.


Sesampainya di rumah abah kami semua di sambut hangat, ummi yang tersenyum bahagia saat melihatku pulang bersama keluarga baruku. Terlihat juga aruna sahabatku yang tersenyum jail menggodaku.

__ADS_1


Tujuan papa dan mama kesini adalah untuk meminta ijin kepada kedua orang tuaku untuk membawaku serta bersama mereka ke jakarta, dan tinggal bersama mengikuti suamiku.


__ADS_2