
Alma yang sudah berada di apartemen setelah setengah hari berputar-putar mengelilingi toko buku yang ada di salah satu mall terbesar di jakarta, Alma yang tak melihat tanda-tanda suaminya berada di rumah karena saat dirinya sampai semua lampu di apartemen dalam keadaan mati, itu menandakan bahwa El keluar rumah sudah sejak tadi siang. Alma memang sengaja pergi ke toko buku untuk membeli beberapa buku yang bisa menemaninya mengusir kebosanan selama di apartemen terlebih suaminya itu selalu tidak ada waktu untuk bersamanya.
Selama di toko buku pikirannya tak henti-hentinya memikirkan suaminya yang tengah asyik bertukar pesan bersama wanita lain. Bahkan saking sibuknya bertukar pesan suaminya bahkan tak mengantarnya saat iya hendak pergi, padahal hari ini adalah weekend.
Apa yang sedang mereka lakukan, obrolan seperti apa yang mereka bicarakan, kenapa suaminya terlihat begitu bahagia ketika mendapat pesan dari wanitanya?apa saja yang mereka lakukan di belakangku selama ini??? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu begitu mengganggunya karena terus terngiang-ngiang dan berputar di kepalanya.
Perasaan takut di tinggalkan,sedih dan kecewa memenuhinya. Alma begitu rapuh saat memikirkan bahwa bukan dirinya yang menjadi alasan suaminya tersenyum, bahwa bukan hadirnya yang menjadi penyejuk hati suaminya, dan bahwa bukan dirinya yang menjadi alasan suaminya berjuang selama ini.
Alma masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan sholat. Setelah itu dirinya pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Alma melakukan aktifitasnya sendiri karena memang El tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. El tidak ingin orang lain tau keadaan rumah tangga mereka yang sebenarnya.
Setelah masak-memasak selesai alma duduk di ruang televisi sambil membawa buku-buku yang tadi di belinya di mall, alma mulai membaca satu persatu lembar buku itu, sekarang alma menemukan kesibukan baru untuk membunuh waktunya yang terasa sepi.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam el yang baru pulang entah dari mana memutuskan untuk langsung membersihkan diri.
Sembari menunggu suaminya yang sedang mandi alma merapikan buku-bukunya dan menunggu suaminya di meja makan.
__ADS_1
El keluar kamar dengan wajahnya yang terlihat segar, rambutnya yang setengah basah karena habis keramas membuatnya terlihat sangat tampan. jantung alma berdegup kencang seoalah ingin meloncat keluar dari tubuhnya. Suaminya begitu tampan ingin sekali alma berlari dan menghambur ke dalam pelukan sang suami tapi apalah daya alma hanya bisa mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Dari pada dia harus malu karena akan mendapat penolakan jika dirinya memaksa melakukan keinginan konyolnya itu.
El berjalan menuju meja makan. Alma dengan sigap mengambilkan makanan untuk el. Keduanya pun mulai makan tanpa ada seorang pun yang bertanya aktifitas dan kesibukan masing-masing selama seharian ini.
Suasana makan malam yang keduannya lakukan begitu tenang dan sepi bahkan nyaris membosankan. Seperti tidak ada aktifitas disana karena satu sama lain yang tak saling bicara. Sebenarnya Alma sangat ingin bercerita dan bertanya tentang banyak hal pada suaminya namun jarak di antara keduanya seolah menjadi dinding pemisah yang sulit untuk alma lalui.
Setelah makan malam selesai alma mencuci piring dan gelas bekas makan malam. Sementara el merapikan meja makan. Entah kenapa hari ini el berbeda biasanya setelah selesai makan el akan kembali ke kamarnya dan tidak keluar lagi tapi kali ini el membantu alma menata meja makan, sungguh pemandangan langka bagi alma.
El duduk di sofa panjang yang ada di depan televisi, el melihat beberapa tumpukan buku yang bukan miliknya dan dia baru melihatnya karena kemarin-kemarin buku itu tidak ada di sana.
Sementara alma menyiapkan cemilan dan juga membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Alma bingung apa yang membuat pria beku itu duduk disana setahu alma suaminya itu hampir tidak pernah melihat acara televisi. Perlahan alma berjalan ke arah suaminya sambil membawa nampan yang di atasnya ada sepiring cemilan dan secangkir kopi untuk suaminya sedangkan untuk dirinya dia hanya membuat segelas teh hangat. Alma meletakkan nampan perlahan agar tidak tumpah.
Sampai saat el mulai memecah kecanggungan di antara keduannya dengan menanyakan buku yang kini bertumpuk di atas meja.
Dr.... Dr... Dr...
__ADS_1
ponsel alma berdering tanda panggilan masuk dari umminya yang tertera di layar ponsel.
" Assalamualaikum, ummi." Sahut alma saat sudah memastikan panggilan telepon sudah terhubung.
" Walaikumsalam nduk." Jawaban lembut terdengar dari seberang. "Gimana kabarnya nduk??Lama kamu gak telpon ummi, ummi sampai kangen sama kamu?" Protes ummi
" Ah... Iya, maaf ya ummi alma sampai lupa?" Jawab alma sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ummi sama abah bagaimana kabarnya? Sehat??" Tanya alma yang juga sangat merindukan kedua orang tuanya.
" Alhamdulillah, ummi dan abah disini sehat. Suamimu kemana nduk?" Tanya ummi yang juga merindukan mantunya.
" Alhamdulillah kalau ummi sama abah sehat, alma seneng dengernya?! Mas el? Ada ummi di sebelah alma." Jelas alma kepada umminya.
" Boleh ummi bicara sebentar sama suamimu nduk?"
" Boleh ummi, sebentar alma kasih telfinnya nya ke mas el."
__ADS_1
Dengan spontan el mendekat ke arah alma satu lengan el berada di bahu sofa di belakang pundak alma dan tangan yang satu lagi dia taruh di atas lututnya. Lalu mendekatkan daun telinganya hingga nyaris menempel pada ponsel yang berada di telinga alma. Sedangkan alma yang ngatur nafasnya untuk tidak terlihat gugup di depan suaminya, siapa yang tidak jantungan bila tiba-tiba saja mendapatkan serangan dadakan seperti itu. Kedua tangannya alma tetap memegang ponselnya agar tetap stabil. El menyuruh alma untuk mengubah panggilan telpon menjadi mode loudspeaker agar bisa di dengar oleh keduanya. Kini mereka duduk berdekatan hampir tak berjarak sama sekali terkadang bahu alma menempel pada dada bidang suaminya membuat jantung alma kembali berdegup tidak beraturan.
Alma takut bila dekat-dekat seperti ini suaminya bisa mendengar detak jantungnya yang seperti ada konser musik di dalamnya.