
Pagi ini alma meminta ijin kepada el untuk berbelanja kebutuhan bulanan karena banyak bahan makanan yang sudah mulai habis di tambah lagi besok ummi dan abahnya akan datang jadi mereka perlu banyak stok bahan makanan guna menjamu abah dan ummi alma.
El tidak bisa menemani alma karena pagi ini dirinya ada metting penting dengan perusahaan yang akan mengadakan kerja sama baru dengannya. El hanya bisa mengantar alma ke super market sembari berangkat ke kantor yang kebetulan jalannya searah dengannya.
" Makasih ya mas, sudah mau nganterin alma padahal alma bisa naik taksi online lo tadi." Ucapnya sembari mengecup punggung tangan suaminya lalu beranjak turun dari mobil dan berjalan masuk ke supermarket. Sedangkan El diam saja dengan wajah datarnya yang menatap alma sekilas lalu kembali menatap pada kemudinya.
El yang melihat alma sudah masuk kedalam supermarket kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dalam perjalanan el menghubungi asistennya tito untuk segera menyiapkan berkas metting pagi ini karena dirinya akan segera sampai di kantor. Tito sang asisten pun langsung bergegas menyiapkan semua data-data yang di minta bosnya itu.
Di lain tempat, tepatnya di sebuah apartemen berukuran cukup besar terlihat sandra yang tengah terbaring lemah di kamarnya. Pagi ini sandra yang tidak enak badan memutuskan untuk beristirahat di apartemen dan tidak pergi bekerja, dia menghubungi el agar supaya el bisa menemaninya yang sedang sakit.
Tut...tut...tut...
Sandra melakukan panggilan telpon, tapi tidak ada jawaban.
Sandra mencoba mengulangi panggilannya dan pada dering kedua panggilan telepon tersambung.
" Sayang, kenapa lama sekali sih ngangkat telfonnya? Sayang, Aku sakit. Kamu kesini ya temenin aku." Suara manja sandra langsung terdengar ketika telpon tersambung.
" Sayang, maaf. Aku gak bisa, aku ada metting penting dengan klien pagi ini." jelas el.
" Metting apa metting???bilang aja kamu gak mau ninggalin istri kamu iya kan." Gerutu sandra sebal dengan alasan el.
" Gak sayang, aku beneran gak bisa kalau pagi ini. Ini aku lagi ada di jalan menuju ke kantor tito sudah menunggu." Jawab el memberi pengertian agar sandra tidak lagi marah.
" Ya udah kalau gitu, tapi nanti jam makan siang kamu harus kesini, aku gak mau tau pokoknya kamu harus kesini titik aku gak mau terima alasan apapun dari kamu." Ucap Sandra sambil memberi penekanan pada setiap kata-katanya.
El sedikit berfikir, bagaimana dengan alma?? Tapi el tidak ingin membuat sandra kembali marah. Akhirnya mau tidak mau El hanya bisa menyanggupi keinginan sandra, untuk alma nanti aku akan cari cara atau aku suruh dia untuk pesan taksi online saja saat sudah selesai belanja.
Sandra yang mendengar permintaannya di kabulkan pun tersenyum penuh kemenangan. " Makasih ya sayang, kamu emang paling the best my lovely, Emmuach."
Sambungan telpon di matikan tepat saat el sudah sampai di depan gedung kantornya.
El bergegas masuk ke dalam gedung kantor yang sangat mewah dan menjulang tinggi itu, terlihat beberapa karyawan membungkukan badan saat el melewati mereka tak lupa kedua resepsionis yang berdiri di tempatnya pun memberi salam saat melihat bosnya itu berjalan kearah mereka.
El masuk ke dalam lift khusus untuk direktur utama, lift menuju ke lantai teratas gedung.
Saat lift terbuka sudah ada tito sang asisten yang menunggunya sambil membawa tablet dan membacakan laporan sekilas sebagai bahan mettingnya. Tak lupa juga tito menyertakan beberapa poin-poin penting yang mungkin nanti di butuhkan saat metting.
Metting yang membahas kerja sama itu berjalan lebih lama dari jadwal yang di perkirakan itu karena banyak poin-poin yang harus di ulas satu persatu mengingat ini adalah kerja sama baru jadi setiap poin harus sesuai agar tidak terjadi kesalahan dan permasalahan ke depannya.
Setelah semua poin selesai di bahas dan di sepakati oleh kedua belah pihak maka terciptalah kerja sama yang bernilai cukup fantastis. Dan bisa membuat perusahaan el semakin di kenal oleh investor dari luar. Metting dengan perusahaan asing sudah selesai.
El melanjutkan dengan metting bersama pihak direksi untuk pengembangan dan sepak terjang perusahaan. Apa-apa saja yang perlu di kembangkan dan di koreksi, metting memakan waktu cukup lama karena belom menemukan titik temu yang di rasa pas, el meminta metting di tunda beberapa saat. Assisten tito menyampaikan agar metting di tunda untuk coffe break.
Di sela-sela waktu break el gunakan untuk menghubungi alma mengabarkan bahwa dirinya tidak bisa menjemput alma karena harus menemani sandra yang sedang sakit.
Sementara alma yang sedang di sibukkan dengan aktifitas berbelanjanya untuk membeli kebutuhan rumah tangga itu terlihat sangat menikmati kegiatannya pagi ini.
Alma memilih bayak sayuran segar dari mulai sawi,wortel,kentang,gubis,brokoli dan masih banyak lagi sayur yang dia beli. Setelah puas memilih sayuran alma berpindah memilih ikan segar yang sedari tadi sudah menyita perhatiaannya, alma memutuskan untuk membeli udang,salmon,tuna,ayam,daging,kepiting,kerang dan ikan-ikan lain.
Alma melihat buah-buahan yang tertata rapi awalnya dia hanya melihat-liat tapi setelahnya dia kembali mengambil banyak sekali buah buahan ada apel,jeruk,pisang,strawbery,anggur dan entah buah apalagi, tak lupa alma membeli beberapa bumbu dapur. Puas dengan kebutuhan perdapuran alma menuju ke tempat yang bisa memanjakan kulksanya, alma membeli beberapa minuman berkemasan botol dengan rasa dan warna yang berbeda-beda. Alma juga membeli beberapa cemilan untuk persediaan. Puas dengan berbagai makanan kini alma beralih menuju ke keperluan mandi.
Mata alma seperti di manjakan di sana, maklum selama di jakarta alma memang tidak pernah pergi keluar kemana pun dia hanya duduk di rumah sepanjang hari. Untuk kegiatan di luar rumah hanya bisa di hitung dengan jari itupun tujuannya adalah rumah mertuannya selain itu alma cuma pergi saat bertemu dengan sandra waktu itu. Mengingat itu alma jadi berfikir ulang untuk kelangsungan rumah tangganya. Bisakah dia terus bertahan dengan rumah tangga yang seperti ini, akankah dia bisa melukuhkan hati suaminya.
Alma kembali memilih beberapa keperluan mandinya, karena alma yang sedikit melamun dan tidak konsentrasi sehingga menyebabkan dirinya menabrak seseorang pria yang berdiri di depannya tengah memilih-milih barang alhasil barang-barang yang di pilih pria itupun jatuh ke lantai, alma yang tersadar dan langsung bergegas mendekati orang tersebut berniat untuk membantu merapikan barang-barang yang berserakan karena ulahnya.
" Maaf mas, maaf saya gak sengaja??" Terang alma yang panik karena kecerobohannya.
Pria itu hanya diam tanpa memberi tanggapan, hanya sekilas melihat alma.
" Maaf ya mas, saya gak sengaja. Biar saya bantu merapikan belanjaannya." Terlihat raut wajah alma yang merasa tidak enak.
Pria itu hanya tersenyum manis, sembari membalas perkataan alma. " Gak papa kok, Saya juga kurang hati-hati bawanya?!" Jelas pria itu
" Kamu gak papa kan??gak ada yang terluka kan??" Tanya pria itu sembari memastikan keadaan alma dengan pengelihatannya.
" Oh, gak saya gak papa. Sekali lagi saya minta maaf , saya permisi dulu ." ucap alma sembari berjalan meninggalkan pria yang tadi di tabraknya.
" Tunggu??" Ucap pria itu menghentikan langkah kaki alma. " Saya baru di indonesia, apa kamu bisa membantu saya?" Ucap pria tersebut pada alma yang kini terlihat heran dan sedikit menjaga jarak.
" Maaf, tapi saya sedang buru-buru." jawabnya halus agar tidak menyinggung lawan bicaranya.
" Belanjaan kamu banyak sekali biar saya bantu dorongkan trolinya." pria itu menawarkan bantuan.
" Emm... Gak usah repot-repot saya bisa sendiri kok." jawab alma sembari mendorong trolinya pelan.
" Gak papa... Gak usah gak enakan gitu. Tenang aja aku gak akan macam-macam atau bertindak tidak sopan, aku serius hanya ingin membantu itu saja gak ada niat lebih?!" Terang pria itu sambil mengangkat kedua tangannya seolah di todong, memberi alma isyarat bahwa pria itu aman tidak berbahaya.
Alma hanya tersenyum tipis di sudut bibirnya melihat tingkah pria di depannya, namun alma lekas menghapus senyummnya sebelum lawan bicaranya itu menyadarinya. Tapi tanpa alma sadari senyumnya itu tertangkap oleh pria di depannya.
" Tersenyum?? Oke , senyummu ku artikan boleh, Ayo jalan." pria itu bicara sambil mendorong troli alma.
" Maaf mas, tapi saya bisa sendiri. Terima kasih atas tawarannya tapi saya benar-benar bisa sendiri."
" Oke, sepertinya kamu kurang nyaman. Aku minta maaf,tapi aku benar-benar hanya ingin membantu." Ucap pria itu tulus meyakinkan alma.
__ADS_1
" Tapi??" belum sempat alma melanjutkan kata-katanya pria itu sudah lebih dulu memberikan ekspresi wajah tulusnya yang membuat alma serba salah, akhirnya alma membiarkan pria itu membantunya karena memang alma yang sebebarnya juga sedikit lelah dengan banyaknya barang yang harus dia beli.
" Kenapa kamu belanja banyak sekali tapi tidak ada yang menemani??"
" Karena?? Belum sempat alma melanjutkan kata-katanya ponselnya berdering, ummi mengabarkan bahwa beliau sudah berangkat menuju bandara.
" Belanjaan'mu ini apa tidak terlalu berlebihan untuk wanita mungil sepertimu?"
" Itu, belanjaan untuk satu bulan."
" Banyak juga makannya." Ucap pria itu lirih.
" Mau bantu apa hanya mau mengejek???" Jawab alma ketus.
" Oke...oke... Aku hanya mau membantu." terang si pria.
" Kita belum kenalan. Aq alex." Pria itu mengulurkan tangannya.
" Dasar modus." jawab alma tanpa menjabat tangan alex.
Alex terkekeh meliat alma yang melewatinya tanpa menjabat tangannya.
" Aku sudah membantu mendorong trolimu tapi kamu mengabaikan'ku???"
" Aku tidak menyuruhmu mendorongnya, kamu sendiri yang mau." jawab alma asal.
" Oke... Kenapa kamu belanja sebanyak ini tapi tidak ada yang menemani??" Tanya alex penasaran.
" Karena?? Karena yang harusnya menemani sedang sibuk." Jawab alma asal-asalan.
" Sibuk? siapa orang itu, orang tua??saudara??sahabat??pacar??suami???." alex yang mulai kepo.
" Apa kamu sedang mengintrogasi??" Alma malas menjawab.
" Ya anggap saja begitu, asal kamu mau menjawab??" Alex menaikan satu alis matanya.
Alma hanya diam tidak merespon.
" Hmm... Diam lagi??? Oke boleh aku tebak???" alex tetap membuat alma meresponnya.
" Terserah." celetuk alma.
" Oke." coba aku tebak ya.
" Orang tua? sepertinya bukan. Saudara?? Tidak juga.
Pacar??? mana ada yang mau sama cewek jutek sepertimu.
Suami??? Lebih tidak mungkin?? Hmm, lalu siapa orang yang sibuk sehingga tidak bisa mengantarmu belanja?".
" Kenapa suami menurutmu tidak mungkin?." Alma merespon kata-kata alex.
" Karena kamu tidak mungkin punya suami??." Jawab alex.
" Kenapa tidak mungkin???." sahut alma.
" Karena kamu jutek, mana ada laki-laki yang mau sama kamu??." Jawab alex menggoda alma.
" Jawabanmu benar dan salah." alma menanggapi.
" Benar??salah??bagian mana yang benar dan di bagian mana yang salah??." Tanya alex penasaran sambil bersedekap.
" Bagian...???." alma menghentikan kata-katanya sambil mengambil alih trolinya dan mengarahkan ke kasir.
" Heii... Kamu belum menjawab pertanyaanku??." Kata alex sambil mengikuti alma.
" Buat apa?? Toh kita gak akan bertemu lagi,." sahut alma.
" Kalau kita bertemu lagi bagaimana??." Tanyak alex.
" Tidak mungkin." Tepis alma.
" Tidak ada yang tidak mungkin, kalau sudah takdir." Jawab alex.
" Iya, tapi takdir tidak akan mempertemukan kita untuk yang kedua kalinya." Jawab alma tidak mau kalah.
Alex hanya tersenyum mendengar jawaban alma. " Aku yakin takdir akan mempertemukan kita kembali." Alex pun berlalu pergi meninggalkan alma yang masih di kasir menunggu pembayaran belanjanya.
" Dasar pria aneh." gerutu alma.
Sambil menunggu belanjaannya di input alma mengambil ponselnya untuk mengabari suaminya kalau dirinya sudah selesai berbelanja. Betapa kecewanya alma setelah membaca pesan masuk yang di kirim el kepadanya. Lagi dan lagi sandralah alasannya mengabaikan alma yang berstatus istrinya. Tapi mau bagaimana lagi alma tidak yang memang tidak berani untuk menyuarakan isi hatinya pada pria yang menjadi suaminya itu.
Alma mengacuhkan pesan dari el, dengan tidak membalas pesan dari suaminya itu.
Alma memesan taksi online untuknya pulang, setelah semua belanjanya sudah di bayar alma berjalan keluar dan melihat apa taksi online yang dia pesan sudah tiba?? Sesaat kemudian ada mobil yang berhenti tepat di depannya, mobil berjenis sport berwarna merah menyala berhenti tepat di depan alma.
__ADS_1
Alex turun dari mobil dan berjalan menghampiri alma. Dengan tatapan yang tajam dan dalam.
" Takdir mempertemukan kita untuk yang kedua kalinya itu artinya kita berjodoh." alex mengambil ponsel dari tangan alma dan menghubungi ponselnya sendiri menggunakan ponsel alma.
" Itu nomerku jangan lupa di save."
alex berlalu dan kembali masuk ke mobilnya,kali ini ia benar-benar pergi meninggalkan alma.
Sementara itu taksi online yang di pesan alma pun tiba, sopir membantu menaikan barang belanjaan alma ke dalam mobil. Akhirnya alma masuk dan mobil pun berjalan menuju apartemen suaminya.
Sesampainya di apartemen alma mengeluarkan semua belanjaannya dan mulai memilah-milah serta menata semua ke tempatnya. Di liatnya jam sudah menunjukan pukul satu siang, alma menghentikan kegiatannya dan masuk ke dalam kamarnya.
Alma memilih untuk membersihkan badannya di kamar mandi dan menjalankan kewajibannya. Selesai dengan ibadahnya alma pun kembali ke dapur melanjutkan pekerjaan yang tadi di tinggalkannya.
Sementara el yang berada di apartemen sandra sedang menyuapi sandra makan siang, biasanya el akan senang bila menemani sandra seperti ini tapi tidak untuk hari ini entah kenapa el merasa tidak nyaman hanya berdua saja dengan sandra.
" Apa kamu mau aku antar ke dokter??" Tanya el.
" Gak usah sayang, cukup kamu disini nemenin aku ngerawat aku itu sudah cukup." Jawab sandra dengan nada manja.
El menghubungi asistennya tito agar mengecek keberadaan alma di supermarket karena alma tidak membalas pesannya,sedangkan el tidak mungkin menghubungi alma sendiri karena dirinya sedang bersama dengan sandra.
Tito yang mendapat perintah dari bosnya segera menuju ke supermarket yang di maksud, sesampainya di sana tito tidak menemukan alma. Menurut penjaga kasir alma sudah pergi sekitar 30 menit yang lalu. Tito melaporan kepada bosnya kalau kemungkinan alma sudah pulang seperti yang di ceritakan penjaga kasih di supermarket tersebut.
" Huftt.... Akhirnya selesai juga menatanya." Alma merebahkan tubuhnya di sofa panjang depan televisi tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ada panggilan masuk dari nomer yang tidak di kenal. Alma ragu antara harus di jawab atau tidak, dan pada Akhirnya alma mengabaikan panggilan tersebut.
Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi lagi. Tetap dengan nomer yang tidak di kenal dan nomer yang sama yang tadi menghubunginya. Apa mungkin penting ya, Karena seingat alma dia tidak pernah memberikan nomer ponselnya ke sembarang orang, hanya orang-orang tertentu yang iya beritahu nomer ponselnya seperti sahabat, guru-guru di pesantren, mbak-mbak dalem yang ngurus anak panti abah, mas abhi, selain itu hanya keluarganya dan keluarga suaminya yang tau. Apa mungkin ummi ya??Panggilan kedua pun terlewatkan.
Tak lama ponselnya kembali berdering, kali ini alma mengangkatnya.
"Assalamualaikum." Jawab alma.
Tapi tak ada jawaban dari sisi seberang.
" Walaikumsalam." Suara bariton mengejutkan alma.
Alma yang tidak mengenali suara itu pun mulai kebingungan, siapa yang sebenarnya menghubunginya. " Maaf ini siapa ya?? Kenapa menghubungi saya??." Tanya alma polos dan bingung.
" Jadi kamu belom menyimpan nomerku??." Suara di seberang mengingatkannya pada seseorang.
"Alex???." Tanya alma.
" Yups,, kamu ingat aku??." Tanya alex menggoda alma.
Alma menghela nafas. " Tidak, sama sekali tidak. Jangan pernah menghubungiku lagi." Jawab alma ketus.
" Heii... Tunggu!!." Suara alex menghentikan alma yang akan memutus sambungan teleponnya.
" Jawab pertanyaanku dulu, baru aku akan menutup telfonnya." Ucap alex.
" Aku tidak mau dan aku punya hak untuk tidak menjawab apapun, jadi tolong jangan ganggu aku." Tanpa menunggu jawaban dari alex alma langsung memutus sambungan telfonnya dan memblokir nomer alex.
Tut....... Sambungan telpon terputus.
"Ckk... di matiin." Alex berdecak geram.
Dia mencoba menghubungi alma kembali namun tidak bisa, di cobanya berulang kali namum sama saja tetap tidak bisa.
" Shtt..." Alex mengumpat kesal karena nomernya di blokir oleh alma.
Tidak lama alex tersenyum simpul, baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik padanya. menolaknya terang-terangan. Biasanya wanita akan berebut untuk dekat dengannya terlebih kalau manita itu tau latar belakang alex pasti wanita itu tidak segan melakukan cara kotor dan licik hanya demi bisa dekat dengan alex. Tapi alma dia lain... Alma sama sekali tidak silau dengan apa yang alex punya dan itu membuat alex tertarik kepada alma.
Alex menghubungi seseorang, yang sepertinya adalah bawahannya.
Cepat cari tau data apa saja tentang pemilik nomer yang itu, data sekecil apapun jangan ada yang terlewatkan. Mengerti. Alex memberi tekannya di kalimat terakhirnya.
.
.
.
Sementara El yang dari tadi di sibukkan dengan aktifitasnya yang tengah menemani sandra hingga tertidur, akhirnya bisa kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya.
Tok...tok...tok...
Pintu ruangan el di ketuk dari luar. Terlihat Asisten tito memasuki ruang kerjanya setelah dirinya memberi aba-aba untuk masuk. Tito memberi laporan kepada atasannya itu bahwa alma kini sedang berada di apartemen.
" Ya sudah keluarlah?!" Ucap el setelah mendengarkan penjelasan yang di berikan asistennya tersebut.
El kembali menyibukkan dirinya dengan aktifitas kantor yang seperti tidak ada habisnya itu.
Sedangkan Alma yang berada di apartemen tengah memasak hidangan makan malam kesukaan el, semenjak menikah alma menang suka mencoba beberapa resep baru yang dulunya belum pernah ia masak dan semua resep itu adalah menu kesukaan el. Entah kenapa alma begitu mencintai suaminya itu yang bahkan tak memiliki perasaan padanya. Bahkan suaminya itu mencintai wanita lain dan dengan terang-terangan mengakuinya di depannya.
__ADS_1
Entah bodoh atau sudah di butakan oleh cinta, alma seperti menutup mata dan telinganya akan semua kesalahan dan kekurangan suaminya itu. Alma hanya berusaha untuk membuka hati suaminya agar mau menerimanya dan bersabar hingga nanti tiba saatnya suaminya akan sadar betapa besar rasa cintanya ini pada suaminya.
Tapi entah kapan suaminya akan sadar??dan apakah dirinya akan sabar menunggu hingga saat itu tiba?? Bagaimana kalau dirinya kalah dan menyerah?? Bagaimana kalau hatinya hancur dan memilih untuk mundur??? memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu membuat bulu kuduk alma berdiri ngeri. Alma begitu takut akan memungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada kelangsungan rumah tangganya.