Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Antara Aku , Kamu , dan Dia


__ADS_3

Sementara el yang masih sibuk dengan gawainya di ruang kerja, dirinya sama sekali tak memperdulikan alma sedang apa dan bagaimana, yang el pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar supaya sandra tak lagi marah padanya dan mau membalas semua pesan darinya.


Semalaman el mencoba menghubungi sandra berulang kali namun kekasihnya itu masih saja tak mau membalas pesan atau mengangkat telfon dari el, bahkan sebelumnya sandra mengirim semua barang barang yang dulu pernah di berikan el untuknya. Karena lelah menunggu kabar dari sandra el bahkan sampai tak sadar kalau dirinya tertidur di ruang kerjanya semalaman.


Dr .... Dr .... Dr....


El terbangun dari tidurnya dan mengambil ponsel yang berdering di atas meja kerjanya, di lihatnya ada notif pesan dari sandra. Dengan penuh semangat el membaca pesan yang di kirim oleh kekasihnya itu. Sudah dari beberapa hari lalu sandra susah di hubungi dan tidak pernah membalas pesan darinya. Sandra juga tidak pernah mau menemuin el ketika dirinya berkunjung ke apartement ataupun rumah sakit tempat sandra bekerja.


" El, bisa kita bertemu di cafe biasanya satu jam lagi??"


Tanpa berfikir panjang el langsung mengiyakan ajakan bertemu kekasihnya itu, el memang sudah lama menunggu kabar dari sandra kekasihnya. Dia tau kekasihnya itu sedang marah padanya karena perjodohan yang di atur kedua orang tuanya. Di liriknya jam yang melingkar di tangannya, jam menunjukkan pukul delapan pagi. El bergegas untuk mandi dan bersiap guna menemui sandra di tempat yang sudah di sepakati oleh keduanya.


.


.


.


Pagi pagi sekali alma sudah bangun dan menyiapkan kopi untuk suaminya, di taruhnya kopi itu di ruang keluarga seperti biasanya karna suaminya akan duduk di situ sambil membaca koran dan meminum kopi yang ia siapkan, semalaman el berada di ruang kerjanya tidak keluar keluar hingga pagi.


Sambil menunggu suaminya keluar dari ruang kerjanya, alma memasak makanan kesukaan suaminya yaitu nasi goreng dengan telur mata sapi yang di masak setengah matang. Tak lama kemudian el keluar dari ruang kerjanya tepat saat alma selesai menaruh dua piring nasi goreng di atas meja makan.


" Pagi Mas, makan dulu mas. Alma sudah masakin nasi goreng kesukaan mas mumpung baru matang jadi masih panas." Aku menawarkan masakanku dengan senyum termanis di dunia berharap suamiku akan senang dengan apa yang ku lakukan.


Namun di luar dugaan, mas el sedikitpun tidak melirik makanan yang sudah ku sajikan dengan susah payah di atas meja makan, dia hanya bergegas menuju ke dalam kamarnya dan seperti sedang di buru waktu.


Setelah beberapa waktu berada di kamarnya akhirnya mas el keluar juga, kembali ku tawarkan nasi goreng yang tadi sudah ku masak dengan semangat dan harapan bahwa mas el akan dengan lahap memankannya. Namun lagi lagi hanya kekecewaan yang ku dapat dari sikapnya, dirinya benar benar tidak memperdulikan ucapanku sama sekali.

__ADS_1


Dia bahkan tak sedikitpun menyentuh kopi yang sudah ku siapkan sejak pagi yang mungkin kini sudah mulai dingin karena suhu ruang yang memang menggunakan AC. Padahal biasanya Mas el selalu menghabiskan kopinya saat aku membuatkannya, dia akan duduk santai di sofanya menghabiskan kopi sambil memakan cemilan yang ku siapkan untuk temannya membaca koran atau sekedar memeriksa kerjaannya di kantor.


" Kamu aja yang makan. Aku mau keluar, gak usah nunggu aku karna aku akan terlambat pulang."


Lagi lagi Mas el melewatiku begitu saja dan memakai sepatunya, setelah itu ia bergegas mengambil kunci mobilnya yang biasa ia taruh di sebuah gantungan kecil yang terpasang di dinding dekat saklar lampu.


Kemanakah dia akan pergi? Kenapa terburu buru? Apakah dia akan menemui wanita itu, wanita yang ia cintai?


Menerka nerka segala kemungkinan seperti ini membuat hatiku sakit. Apalagi saat membayangkan suamiku menemui perempuan lain, aku tau dia menikahiku karena perjodohan yang di atur kedua orang tua kami, tapi tidak taukah dia bahwa karena ijab kabulnya waktu itu hatiku terpaut padanya. Karena janjinya itulah aku menjatuhkan hatiku padanya.


Mas el berjalan ke arah pintu dengan langkah tegas dan mantap. Dengan buru buru aku kembali meraih tangan Mas el saat dirinya hendak sampai ke pintu. Ku cium punggung tangan kanan suamiku karena di sanalah ridhoNya berasal.


" Hati hati di jalan mas?! Jangan lupa makan." Meskipun hatiku terasa sangat nyeri karena sikapnya namun aku tetap menyayanginya.


Mas el hanya diam dengan wajah datarnya, Sejurus kemudian melangkahkan kembali kakinya pergi tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.


Duh gusti, aku seperti malam kelabu yang tak berbintang. Aku bagai rembulan yang sinarnya meredup tertutup mendung. Kemanakah aku harus mengadu jika kekasih pun aku tak punya. Sampai kapan rasaku ini akan sampai padanya, akan kah suatu saat nanti aku bisa memenangkan hatinya. Bisakah aku bertahan di sampingnya sampai saat itu tiba.


Merasai hati yang sedih seperti ini membuatku ingin menghambur ke pelukan ummi, karena hanya ummi lah tempat yang paling nyaman di dunia. Tapi mana mungkin aku bisa ke tempat ummi dengan situasi seperti ini mengingat ummi pernah memberi wejangan padaku dahulu bahwa aku tidak boleh membawa keluar masalah rumah tanggaku, bahkan ummi melarangku mengunjungi beliau bila bukan mas el yang mengantarku pulang.


Sendiri di rumah tanpa ada kesibukan seperti ini membuatku merasa waktu berjalan sangat lambat bahkan seperti berhenti berjalan.


.


.


.

__ADS_1


Di lain tempat terlihat El yang sudah sampai di tempat dimana dirinya akan bertemu dengan kekasihnya. Dan kini terlihat sudah ada sandra yang tengah duduk menunggunya di sebuah cafe yang menjadi tempat favorit keduanya saat ingin bertemu dulu. Sandra hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, sandra hanya menatap el dengan penuh kemarahan. Emosi dan rasa kecewa menguasai sandra saat ini.


Fikiran jernih sudah tak ada lagi, yang tersisa hanyalah murka dan amarahnya. Karena lelaki yang ada di depannya ini telah menduakannya dengan menikahi perempuan lain, Tanpa banyak bicara sandra memutuskan hubungannya dengan el, sandra berasa semuanya sudah berakhir saat el mengucap ijab kabul untuk wanita lain.


" Sayang, aku tau kamu marah. Tapi aku mohon denger penjelasan aku dulu." el mencoba memberi pengertian pada kekasihnya itu tentang situasi yang sebenarnya.


" Aku memang menikah dengannya tapi dia hanya istri di atas kertas tidak lebih, aku juga tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Bahkan kita berdua tidur di kamar yang terpisah selama ini, aku dan dia tidak terikat apapun kecuali pernikahan sialan ini." Terang el dengan nada sedikit tinggi karena merasa lelah dengan posisinya sekarang.


" Apapun itu el, kamu sudah menikah dengannya. Lalu bagaimana denganku, sudah tidak ada lagi harapan untuk hubungan kita kedepannya el."


" Sayang, tolong kasih aku waktu. Aku akan menceraikan dia tapi aku butuh waktu." Jelas el.


" Waktu apa lagi."


Banyak percakapan dan juga perdebatan yang terjadi di antara keduanya. Terkadang saling meninggikan nada masing masing, terkadang sandra yang terlihat emosi, teradang el yang terlihat banyak mengucapkan kata maaf dan berulang kali sandra meneteskan air mata.


" Aku gak mungkin ceraikan dia gitu aja tanpa alasan, papa dan mama pasti gak akan ngijinin. Aku perlu alasan yang kuat untuk menceraikan dia agar papa dan mama tidak menentang keputusanku." Tambahnya lagi.


" Lalu? Apa yang akan kamu lakuin."


" Aku akan buat dia gak betah berada di sampingku sehingga dia sendiri yang meminta pisah dariku."


" Kamu yakin, dia kan minta cerai."


" Aku akan buat dia minta cerai dariku."


Sandra yang mendengar penjelasan el seolah mendapatkan kembali harapannya untuk bisa bersanding bersama lelaki yang dia cintai, Mereka berdua seperti menemukan titik terang untuk masalah mereka, tiba tiba saja sandra menyetujui semua permintaan el dengan satu syarat yang ia ajukan, sandra meminta el untuk tidak terlalu dekat dan menjaga jarak dengan alma, dirinya juga meminta el untuk meluangkan lebih banyak waktunya untuk menemani sandra dan sering berkunjung ke tempat sandra. Mau tidak mau el hanya bisa menuruti permintaan kekasihnya itu, sebelum sandra berubah pikiran dan marah lagi.

__ADS_1


__ADS_2