Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Kepulangan Abhi


__ADS_3

4 Tahun kemudian.


Alma gadis yang ceria dan penuh semangat dengan sejuta talenta bersiap untuk memulai harinya.


Empat tahun sudah berlalu, hari ini adalah hari kepulangan abhi dari kuliahnya di mesir. Sudah dari seminggu yang lalu para santri menggibah soal kabar bahwa abhi akan segera pulang, tapi tadi malam bukan hanya kabar saja melainkan benar adanya bahwa abhi memang sudah kembali pulang. Banyak santri yang melihat sendiri abhi berada di teras rumahnya sedang bercengkrama dengan Kyai Jabar ayahnya.


Jelas sekali kalau para santri bisa tau karena memang rumah Kyai jabar dan pondok pesantren bersebelahan hanya terpisah dinding setinggi dada orang dewasa, bukan tanpa alasan kenapa tembok hanya di buat setinggi itu. Itu karena Kyai Jabar yang memang sudah agak sepuh jadi banyak di rumah njagongi kalau kalau ada tamu datang berkunjung.


Bila sudah di rumah Kyai tetap ingin bisa sedikit sedikit ngawasi para santri dari rumah maka dari itu tembok hanya di bangun setinggi dada. Meskipun banyak guru pengajar di pondok namun beliau memang tidak pernah melepas tanggung jawabnya ngurusi santri santri. Buat beliau semua anak santri adalah anaknya yang harus di didik, di jaga, di emong, dan di sayang selayaknya anak sendiri.


.


.


.


" Al." Sapa Aruna sahabatnya.


" Hmm..." Sahutnya lirih sambil terus melangkahkan kakinya menuju aula yang berada di ujung lorong dekat dengan mushola.


" Al, tungguin." teriak Aruna yang berlari kecil untuk menyamai langkah kaki Alma.


"Al, wes ngerti opo urung? Mas Abhi wes muleh, mau dalu jarene tekone."

__ADS_1


" Lha terus opo'o nek wes muleh?"


" Kok iso opo'o sih Al. Lha kan aku wes ngomong bola bali nek Mas Abhi kuwi seneng karo awakmu Al."


" Huss.... Jangan ngawur kalau ngomong, gak enak kalau sampai di dengar santri yang lain, apa lagi kalau sampai Bu Nyai yang dengar bisa malu aku karna kata-katamu."


Aruna yang sadar akan kata-katanya menganggukkan kepala sambil memberi isyarat mengunci mulutnya. Dalam hati Alma yang juga ada rasa bahagia saat mendengar ucapan sahabatnya itu tentang Mas Abhi. Meskipun abhi tidak pernah secara langsung mengungkapkan perasaannya pada alma namun gadis itu tau bahwa mereka terikat rasa yang sama. Hanya keduanya saja yang memang belum berani memberi arti kedekatan mereka berdua.


Tidak bisa di pungkiri jika semua santri mengidolakan sosok Abhi, lelaki yang sholeh,baik dan lembut tutur katanya. Pembawaan abhi yang setenang yudhistira tokoh pewayangan jawa itu membuat semua santri termasuk alma mengaguminya. Di tambah lagi dengan badan tinggi dan wajah yang sangat tampan membuat abhi menjadi daya magnet di dalam pondok.


****


Hari berganti hari dan berjalan dengan semestinya tanpa ada keributan berarti selain tingkah aruna yang memang suka menjodoh jodohkan alma dengan anak pemilik pondok. Hari itu untuk pertama kalinya alma bertatap muka dengan Abhi secara langsung setelah kepulangan Abhi dari kuliahnya di mesir.


" Walaikumsalam, Mas." Balas alma sembari tersenyum manis dan sedikit menundukan pandangannya.


Alma menang gadis yang sedikit pemalu dibanding santri yang lain, dia juga lebih banyak diam, tapi justru sikap pemalunya itu yang menjadikan dirinya terlihat berbeda dari santri yang lain. Sehingga dirinya terlihat seperti gadis yang tidak mudah untuk di dekati oleh sembarang lelaki, membuat siapapun yang melihatnya segan bila ingin menggodanya. Banyak di antara kang kang santri yang mengaggumi kecantikan alma, apalagi dengan keanggunan yang selalu terpancar darinya. Sikap dan sifatnya yang baik menjadikan nilai tambah untuk gadis itu.


" Bagaimana kabarmu Nduk? Lama gak ketemu, gimana hafalanmu lancar?" Tanya Abhi.


" Alhamdulillah kabarku baik Mas dan hafalanku juga lancar." Jawabnya tak lupa di akhiri senyum. "Mas Abhi sendiri gimana kabarnya?"


" Alhamdulliah baik Nduk, berkat doa dari kamu, aku sehat wal'afiat." Candanya yang membuat alma kembali mengukir senyum di wajah cantiknya.

__ADS_1


" Jangan putus setoran ke Ummi ya Nduk."


" Nggeh Mas, Alhamdulillah setiap hari masih setoran hafalan ke Bu Nyai."


" Alhamdulillah, tingkatkan terus belajarmu ambil semua ilmu Ummi yang baik. Belajar terus biar besok bisa gantiin Ummi ngajar anak-anak."


Aku hanya terdiam mendengar ucapan Mas abhi barusan sambil menimang nimang apa maksud dari perkataannya, belum sempat aku mengartikan maksud dari ucapan Mas abhi suara cempreng aruna itu membuyarkan suasana.


" Al... Lha kamu di sini toh? Tak cariin kemana mana gak taunya mojok disini." Sambil senyum senyum aruna menggodaku, aku yang hanya bisa tertunduk malu karena sikap aruna yang gak ada akhlak itu.


" Eh, ada Mas abhi juga toh di sini? Ngapunten nggeh Mas, aruna gak liat kalau ada Mas abhi." Alasan aruna yang hanya ngeles padahal dia sengaja memergoki keduanya karna merasa sebal saat mengintip di balik tembok dan mendengar percakapan mereka yang sangat datar bahkan tergolong basa basi untuk ukuran orang yang sedang melakukan pendekatan.


Terlihat abhi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman alma itu. Karena kedatangan aruna sahabat alma, Abhi memutuskan menyudahi percakapannya dengan mengucap salam pada keduanya dan berlalu pergi meningalkan kedua gadis itu yang hanya bisa melihat punggung abhi perlahan menjauh. Sambil membalas ucapan salam dari laki laki tersebut.


" Ganteng yo Al, kyok arjuno."


" Halah, kayak kamu ngerti ae rupane arjuna kayak apa?"


" Ckk, kamu ini gak ngerti peribahasa Al. Wong lanang nek ganteng iku mesti di ibaratne koyok arjuno, mosok yo koyok slamet mas mas sing dodol tahu bulat nek sore kuwi."


" Kok iso bawa bawa mas slamet iku lo?"


" Lha piye, di arani arjuno yo gak oleh." Gerutu aruna sambil memanyunkan mulutnya. " Ah, aku ero gantenge koyok Lee min ho,artis korea kuwi lo al. Piye Al masuk gak?"

__ADS_1


" Omo... Omo..." Balas alma tak mau kalah.


__ADS_2