
Dr... Dr... Dr...
Ponsel alma berdering tanda panggilan masuk dari mama elma tertera di layar ponselnya, buru buru alma mengangkatnya karena takut ada sesuatu yang terjadi, maklum saja tidak biasanya mama mertuanya itu menghubunginya seperti itu. Biasanya mama mertuannya itu akan menelpon melalui putranya baru berbicara dengannya tapi entah kenapa kali ini berbeda dengan biasanya, mama mertuannya itu menghubunginya sendiri tidak melalui putra semata wayangnya.
" Assalamuallaikum Ma?" Sapa alma saat panggilan telpon sudah terhubung.
" Walaikumsalam sayang." suara balasan dari seberang.
" Sayang besok datang ke rumah mama ya mama tunggu." Perintah elma yang seperti tak terbantahkan.
" Iya ma, nanti alma sampaikan ke mas el?!" Alma hanya bisa mengiyakan undangan ibu mertuanya itu.
" Lho memang sekarang kamu gak lagi sama el?" Tanya mamanya menyelidik.
" Emm... Mas el sedang keluar ma mungkin sebentar lagi pulang?!" Alma hanya bisa menutupi tingkah laku suaminya, bagaimana pun dia tidak ingin orang luar tau bagaimana rumah tangganya yang sebenarnya.
" Oh.. yaudah kalau gitu hati hati di rumah ya sayang." elma mengakhiri panggilan telponnya.
__ADS_1
Alma merasa kembali sepi saat telfon di matikan oleh mama mertuanya itu, Hari ini sama dengan hari hari biasanya tidak ada yang istimewa baginya. Alma hanya menghabiskan waktunya untuk bersih bersih apartemen selebihnya ia gunakan untuk kembali menderas mushafnya.
****
Sedangkan di lain tempat terlihat el dan sandra yang sudah tak lagi bertengkar, sepertinya hubungan mereka sudah kembali baik, sandra yang terlihat seperti sudah bisa menerima penjelasan yang di berikan oleh el.
Berbeda dari keduanya yang terlihat bahagia, alma justru merasakan kesedihan dan sunyi di hatinya. Setiap harinya selalu dia lewati dengan derai air mata, tak sehari pun ia lalui tanpa air mata mengucur dari wajah cantiknya. Setelah selesai menderas mushafnya, alma mengambil ponselnya berniat untuk memberi kabar kepada el prihal mamanya yang meminta mereka berdua untuk berkunjung ke mansion utama.
Alma mencoba untuk mengirimkan pesan singkat pada el berharap suaminya itu membalasnya.
" Mas, barusan mama telpon bilang kalau besok kita di suruh ke rumah mama." Tulisnya dalam pesan singkat yang ia kirimkan pada el.
.
.
.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi el belum juga pulang entah apa yang di lakukannya di luar sana dengan sandra, tanpa sedikitpun memberi kabar kepada alma.
Meskipun el menyuruh alma untuk tidak menunggu tapi nyatanya alma tetap menunggunya. Alma menunggu kepulangan el di depan televisi sambil menonton random acara yang di siarkan, dirinya tidak benar benar memperhatikan acara televisi tersebut dirinya hanya memanfaatkan televisi sebagai alat pengusir sepi, sembari berharap suaminya akan segera pulang tidak lama lagi. Jam terus berputar yang di tunggu tunggu belum juga pulang entah sudah berapa kali alma menguap karena lelah sampai akhirnya alma tertidur di sofa panjang di depan televisi sambil memeluk remot dalam dekapannya.
Jam menunjukan pukul satu dini hari, saat el pulang dan melihat televisi yang masih menyala tapi alma sudah tertidur pulas di depannya.
El mendekat untuk memastikan apakah alma benar benar sudah terlelap. Dilihatnya wajah wanita di yang tertidur di depannya. Terbersit rasa bersalah pada dirinya karena bagaimana pun dirinya memang sudah berlaku jahat pada wanita di depannya ini tapi mau bagaimana lagi, el memang tidak mengharapkan kehadiran alma dalam hidupnya.
El menepuk pelan bahu alma untuk membangunkan alma dari tidurnya, perlahan alma membuka matanya dan terkejut mendapati el sudah di depan matanya.
" Mas, mas sudah pulang? Maaf alma ketiduran mas." Ucapnya sambil terhuyung huyung berusaha bangun saat nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
" Hmm." el hanya membalas seadanya.
" Tunggu sebentar Mas, alma akan panaskan sayurnya."
" Gak perlu, aku sudah makan."
__ADS_1
" Pergilah tidur di kamar." El mengatakan hal tersebut lalu beranjak pergi masuk ke dalam kamarnya.
Alma hanya bisa menyaksikan punggung el dari belakang yang perlahan pergi menjauh darinya. Padahal alma menahan perutnya yang lapar karena menunggu suaminya pulang untuk makan bersama, tapi siapa sangka el justru sudah makan entah dimana dan dengan siapa. El bahkan sama sekali tidak perduli dengan alma yang saat itu sudah makan atau belum.