Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Bagai Tertancap Sembilu


__ADS_3

Setelah acara pertunangan dadakan semalam selesai di adakan, keluarga Bram bersiap untuk kembali ke jakarta pagi ini dengan menggunakan jetpri. Kedua sahabat yang sebentar lagi jadi besan itu pun saling berpelukan. Tak lupa elma yang juga memeluk dan mencium kening alma calon menantunya itu.


" Mama pulang dulu ya sayang sampai jumpa lagi nanti di hari pernikahan kalian. Jaga diri kamu baik baik."


Alma hanya menganggukan kepalanya. Tanpa membalas perkataan calon mertuanya itu.


Sedangkan El yang sedari tadi menatap Alma dengan tatapan tajam penuh dengan kebencian yang seolah ingin menelan Alma hidup hidup. Membuat Alma menundukkan kembali kepalanya tak berani melihat ke arahnya.


Kini semua keluarga besar Bram sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka menuju bandara. Salam perpisahan pun menjadi penutup perjumpaan calon keluarga tersebut.


.


.


.


Dr... Dr.... Dr...


ponsel Alma bergetar notif pesan masuk.


" Assalamualikum, Nduk."


" Walaikumsalam, Mas."


" Gimana kabarnya Nduk? Ummi bilang kalau kapan hari kamu ke pondok ya. Kok gak kasih kabar tau gitu Mas gak akan ikut nganter anak santri lomba hadrah."


" Alhamdulillah, Baik mas. Iya Alma kesana buat nganter anak panti mondok. Oh iya Mas, njenengan ada waktu gak?"


" Kalau buat kamu selalu ada Nduk, Kenapa?"


" Bisa ketemu gak Mas, minggu ini."


" Bisa, Kalau gitu besok Mas akan ke surabaya. Sekalian ada yang mas mau sampaikan ke kamu sama keluarga."


" Ya udah Mas, Kalau sudah sampai di surabaya Mas kabari aja. Nanti kita ketemunya di luar aja."


****


Alma menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin yang mengikatnya dengan seorang lelaki yang baru dia temui. Lelaki yang di pilih oleh Abah untuk menjadi pendampingnya kelak, menjadi imam dalam rumah tangganya. Alma begitu bingung dalam hati kecilnya sebenarnya ia mengharapkan orang lain untuk menjadi suaminya kelak. Namun sepertinya takdir berkata lain, itulah kenapa ada istilah manusia bisa berencana tapi Allah yang menentukan.

__ADS_1


Sementara di tempat yang lain, El sedang berdebat dengan mama dan papanya yang seperti menjebaknya dalam perjodohan sialan ini.


Namun apapun yang di katakan El tetap tidak bisa merubah keadaan bahwa dirinya kini sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Dirinya benar-benar terjebak dalam situasi yang sulit, El bingung harus memberi penjelasan apa kepada sandra nanti dan bagaimana dia harus bersikap kepada wanita yang nantinya akan menjadi istrinya.


.


.


.


Siang ini alma bercana untuk pergi ke panti, ada beberapa berkas yang harus dia periksa.


Dr... Dr... Dr...


Alma mengambil ponselnya yang bergetar di atas nakas, dilihatnya pesan singkat dari Abhi.


" Assalamualikum Nduk."


" Walaikumsalam Mas."


" Aku sudah sampai di surabaya, sedang dalam perjalanan ke rumahmu Nduk."


" Jangan Mas, kita ketemuan di luar aja. Mas ke jalan tunjungan nanti disana ada pasar tunjungan kita ketemu di sana."


" Pasar Nduk? Kamu nyuru Mas jauh jauh ke sini cuma mau ngajak Mas ke pasar?"


" Bukan Mas, yang ini pasarnya beda sama pasar kebanyakan. Pasar yang ini tempatnya muda mudi nongkrong kalau di surabaya, tunjungan itu malioboro versi surabaya."


" Oh.. Ya sudah kalau maunya begitu?!"


*****


Seperti yang sudah di sepakati kami bertemu di pasar tunjungan, tepatnya di salah satu cafe yang ada di sana, entah kenapa mulutku terasa seperti di bungkam. Nyaliku yang tadinya menggebu gebu ingin menceritakan semuanya kini menciut setelah melihat Mas Abhi. Perasaan bersalah kini bersarang di benakku, aku tau pasti ini akan sangat menyakitkan untuk Mas Abhi bahkan mungkin dirinya akan membenciku setelah ini, tapi apapun itu aku harus jujur. Gak adil kalau aku sembunyiin ini dari Mas Abhi karena cepat atau lambat beliau akan tau juga.


Abhi memecah kecanggungan diantara keduanya. Dengan menanyakan kabar yang sebenarnya pertanyaan itu sungguh terlalu klise.


" Ada apa Nduk? Tumben ngajak ketemu disini."


" Ada yang mau alma sampaikan Mas." Jawabku ragu, bingung harus ku mulai dari mana cerita ini.

__ADS_1


" Ada apa nduk?? Sepertinya ada hal yang serius yang ingin di sampaikan?? Katakan jangan ragu."


Alma takut, tapi dia harus bicara yang sejujurnya meskipun tidak ada hubungan apapun di antara keduanya tapi Alma merasa harus menyampaikan berita ini kepada Abhi, mengingat kedekatan mereka akan sangat keterlaluan kalau nantinya Abhi akan tau dari orang lain bukan dari Alma.


" Kemarin Abah kedatangan tamu dari jakarta. Beliau teman Abah sewaktu Abah masih kecil, Beliau datang bersama dengan anak dan istrinya. Kedatangan beliau kesini adalah untuk. Alma menghentikan kata-katanya ragu untuk meneruskan kembali ceritanya.


" Untuk apa Nduk?"


" Untuk..." Alma kembali terdiam.


" Untuk apa? Jangan bikin Mas gemes ya, cerita kok setengah-setengah."


" Untuk... Melamar Alma dan di jadikan calon istri untuk anak beliau nantinya."


" Apaaa... Abhi yang tadinya kalem jadi tersentak karena mendengar penjelasan Alma."


" Alma akan menikah Mas, Abah dan Ummi mengatur perjodohan Alma dengan anak salah satu teman Abah."


" Lalu bagaimana dengan kamu Nduk? Apa kamu setuju."


" Alma ndak iso nolak Mas. Gak mungkin Alma nolak titah Abah."


" Lalu bagaimana dengan kita Nduk? Mas rasa kamu juga tau kalau Mas ada perasaan sama kamu, Mas akan meminangmu kelak. Mas hanya menunggu waktu yang tepat untuk sowan ke rumah kamu menemui Abah."


" Maafin Alma Mas. Alma benar-benar gak bisa nolak Abah."


" Ndak papa, setelah ini ayo Mas antar kamu pulang sekalian Mas akan menemui Abah dan Ummi. Ada yang mau Mas sampaikan sama beliau."


Aku hanya diam dan menunduk, terlihat Mas Abhi yang menatapku tajam membuatku semakin menundukkan lagi wajahku.


" Mas tau kamu gak mau Mas nemuin keluargamu kan!! Apa kamu yakin dengan apa yang kamu pilih nduk? Jika tidak Mas akan datang menemui keluargamu untuk meminangmu sekarang juga, tapi kalau ini memang sudah menjadi pilihanmu, Mas yang akan mundur." Abhi berusaha tetap tenang meskipun didalam hatinya sedang berlangsung badai dahsyat yang kapan saja bisa meledak menghancurkan apa saja yang menghalanginya, bagaimana tidak seseorang yang dia sayangi yang dia jaga selama ini akan pergi meninggalkannya dan menikah dengan pria lain.


" Maaf... Maaf... Maafkan alma Mas."


" Tidak Nduk... Apapun akan Mas lakukan asal kamu bahagia termasuk merelakanmu menikah dengan laki laki lain. Tapi berjanjilah bahwa kamu akan baik baik saja dan tidak terluka." Ucapnya sambil tersenyum kepada alma.


" Mas pamit dulu ya Nduk, Jaga diri kamu baik baik. Salam buat Abah sama Ummi." Abhi melangkah pergi tanpa menoleh sedikitpun meninggalkan alma yang masih duduk di tempatnya.


Sepeninggal Abhi dari sana entah kenapa air mata alma mengalir begitu saja tanpa bisa di bendung. Perasaan bersalah dan kehilangan bersarang di hatinya, dirinya tau pasti ada sesuatu di hatinya yang mengikatnya dengan Abhi namun dia juga sadar sesuatu di jarinya mengikatnya dengan orang lain. Ketidak berdayaan itu membuatnya semakin sakit kenapa dia harus merasakan hal seperti ini, kenapa Tuhan memilihkan jalan hidupnya seperti ini. Air mata semakin deras mengalir, Alma tak memperdulikan lagi sekitarnya yang sedari tadi menatap memperhatikannya.

__ADS_1


Lama alma diposisi itu untuk menata kembali perasaannya yang berkecamuk sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali pulang, dirinya lupa kalau masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan di panti.


__ADS_2