Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Sandiwara Cinta


__ADS_3

Pagi itu alma dan juga el bersiap untuk menjemput abah dan ummi di bandara.


Setelah bertemu dengan ummi dan abah mereka segera menuju ke rumah besar atau yang biasa di sebut manson utama. Kedatangan mereka kesana bukan tanpa sebab, itu semua karena mama elma yang sudah heboh dari kemaren saat tau besannya akan datang ke jakarta.


Mama elma sengaja menunggu kedatangan ummi dan abah dari pagi, bahkan beliau sudah mempersiapkan hidangan istimewa untuk menyambut kedua besannya itu.


Acara temu kangen pun tak terhindarkan, mereka melepas rindu dengan mengobrol sana sini banyak sekali topik yang mereka bahas, sementara alma dan el hanya ikut menemani saja sebagai pelengkap dan pendengar yang baik.


El yang duduk di sebelah alma dengan satu lengan berada di bahu kursi tepat di belakang pundak alma lagi-lagi membuat alma seperti mendapat serangan jantung mendadak. Bagaimana tidak suami kutubnya itu bahkan tak pernah duduk sedekat ini dengannya selama mereka menikah, jangankan duduk bersebelahan dengannya membayangkannya saja alma tidak pernah.


Dua keluarga besar itu berkumpul di salah satu ruang khusus keluarga, ruangan yang sangat luas dengan sofa-sofa yang berukuran besar dan empuk pastinya. Ruangan yang di lengkapi dengan televisi berukuran besar lengkap dengan audio mewah yang mampu memanjakan mata siapa pun yang melihat.


Semua anggota keluarga itu saling bicara panjang lebar sambil makan cemilan yang sudah di siapkan oleh bibik. Sesekali el menyuapkan cemilan ke mulut alma tanpa memberi kode terlebih dahulu, membuat alma seperti mendapatkan shock therapy.


Dirinya seperti tengah menaiki wahana yang siap memacu detak jantungnya.


" Orang ini bener-bner bikin aku jantungan, kenapa harus jadi ceo?? Padahal lebih pantas jadi aktris papan triplek, aktingnya sudah tidak perlu di ragukan lagi." Gerutu alma sebal dalam hati melihat perubahan sikap el yang se'enaknya saja padanya tanpa memikirkan perasaannya yang campur aduk menerima perubahan sikap manisnya.


Baik mama elma dan juga ummi hanya tersenyum melihat tingkah keduanya, mereka tidak tau bahwa sikap manis itu hanya sandiwara yang sengaja di lakukan el di depan mereka agar kedua keluarga besar itu tidak curiga dengan status pernikahan yang keduanya jalani selama ini.


Bagaimana pun el tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa, namun el juga tidak bisa begitu saja menerima alma sebagai istrinya mengingat ada sandra dalam hidupnya. Jadi cara seperti inilah yang keduanya lakukan untuk menutupi pernikahan yang hanya status itu. El juga tidak pernah menanyakan tentang perasaan alma selama ini dirinya hanya tau alma tidak pernah menentang semua keputusannya, mungkin karena wanita itu juga sama dengannya yang tak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya.


Tapi entah mengapa sesuatu yang lain seperti berjalan tidak semestinya, entah kenapa ada yang lain yang el rasa pada dirinya yang selama ini tidak pernah ia rasa sebelumnya.


El merasakan ada yang lain dalam dirinya entah kenapa akhir-akhir ini dirinya seperti menikmati setiap saat yang dia lewati bersama dengan alma, seperti saat ini misalnya ketika dirinya tengah berada dekat dengan alma dan melakukan sandiwara manis di hadapan keluarganya.


Bertingkah mesra seolah seperti pasangan suami dan istri yang bahagia dan saling menyanyangi, entah kenapa seolah el dengan senang hati melakukannya dan ia dengan sadar memperhatikan alma seolah bukan sandiwara. el sadar dirinya menikmati setiap apa yang dia lakukan untuk alma.


Dr...dr...dr...


Ponsel alma berdering bunyi panggilan masuk dari nomer baru yang tidak di kenal, alma sedikit ragu saat akan menerima panggilan tersebut. Namun alma yang sadar ummi dan mama elma memperhatikannya pun membuat gerakan yang biasa saja saat menerima panggilan tersebut, agar kedua orang tuanya itu tak berfikiran yang bukan-bukan terhadap dirinya.


Alma meminta ijin kepada semuanya untuk mengangkat telfon sebentar, el memberi isyarat dengan menganggukan lirih kepalanya tanda bahwa dirinya mengijinkan alma mengangkat telpon tersebut.


Dalam hati El bertanya-tanya siapa yang menghubungi alma?? Kenapa tidak terdaftar di kontaknya?? Biasanya el tidak pernah ambil pusing saat ponsel alma berdering, bahkan dirinya tidak perduli siapapun yang menghubungi alma tapi kenapa sekarang berbeda. Dirinya seperti ingin tau siapa penelfon yang nomernya tidak terdaftar di kontak alma??


Sementara alma yang menerima telfon agak menjauh dari posisi keluarganya berkumpul pun penasaran siapa yang kali ini menelfonnya.


" Assalamualaikum??."


" Walaikumsalam." Suara bariton kembali terdengar, dengan cepat alma bisa mengenali siapa pemilik suara bernada tinggi tersebut.


" Kamu lagi???." Nada kesal terlihat jelas dari ucapan alma.


" Iya... Semakin kamu berusaha menghindari dan menolakku maka aku akan semakin nekat." Tegas pria yang menelponnya.


" Sebenarnya mau kamu apa sih??? Kenapa gangguin aku terus???." Alma mulai jengkel.


" Aku hanya mau kamu jawab setiap aku tanya, angkat telfon setiap aku menghubungimu dan..." Belum selesai alex bicara, alma lebih dulu memotong kata-kata alex.


" Aku gak bisa, aku gak bisa nuruti semua mau kamu. Aku ini sudah..?."


" Married??" Alex dengan lantang menyela kata-kata alma.


" Dari mana kamu tau???" Tanya alma bingung.


" Aku tau semua tentang kamu dan mungkin yang tidak kamu tau sekalipun aku juga tau." Jelas alex.


" Maksud kamu apa???." Tanya alma penasaran dengan ucapan alex.


" Jadi kamu ingin tau???." tanya alex memancing.


" Tidak." Jawab alma tegas.


" Tapi baguslah kamu sudah tau kalau aku sudah menikah jadi aku tidak perlu menjelaskan lagi kenapa kamu tidak bisa menggangguku." Ucapnya.


" Ini terakhir kalinya kamu ganggu aku lewat telfon seperti ini. Jangan di ulangi lagi." Alma mematikan sambungan telfonnya.


El yang dari tadi memperhatikan alma secara diam-diam pun menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres tentang siapa yang baru saja menghubungi alma.


Setelah menutup telfonnya Alma pun kembali berjalan menuju ruangan dimana semua keluarga besarnya berkumpul dan kembali duduk di samping el yang saat itu tengah memperhatikannya dengan tatapan tajam. El dengan cepat mengganti posisi duduknya sehingga kali ini lebih dekat dengan alma, membuat alma menjadi salah tingkah.


" Kamu ngapain sih mas??" Bisik alma lirih di telinga el membuatnya geli.


" Sandiwara." Jawab el terus terang tanpa basa basi, dengan balik berbisik ke telinga alma.


" Siapa yang telfon??" El kembali berbisik.


" Bukan siapa-siapa." Jawab alma lirih.


" Kalau bukan siapa-siapa kenapa lama sekali??" Bisik el kembali pada telinga alma.


" Bukan siapa-siapa dan gak penting." Bisik alma.


" Pacar kamu???" Balas el.


Mendengar el berbisik demikian membuat alma sedikit muak, bagaimana bisa el berkata demikian sedangkan mereka sama-sama tau siapa di sini yang memiliki kekasih bahkan tidak memperdulikan perasaan pasangannya. Benar-benar manusia egois kamu mas, bisa-bisa kamu dengan entengnya bicara seperti itu. Kalau saja aku tidak ingat dengan semua petuah ummi mungkin saat ini kita sudah bukan siapa-siapa lagi.

__ADS_1


Perlahan alma mengatur nafasnya agar tenang dan tidak terbawa emosi mendengar kata-kata suaminya tersebut.


" Mas lupa ingatan ya?" Jawab alma.


" Maksud kamu?"


" Mas yang punya pacar bukan alma." Bisiknya kembali ke telinga el.


Merasa kesal dengan jawaban alma, El sengaja menyuapi alma dengan kue yang ukurannya besar membuat alma susah mengunyah.


Alma yang hanya bisa protes dengan memberi isyarat lewat matanya yang melotot dan sesekali di gerak-gerakan ke kanan dan ke kiri itu merasa sebal dengan tingkah el yang ke kanak-kanakan. Namun el sama sekali tidak menggublis protesan alma, itu membuat alma semakin jengkel dan akhirnya mencubit pinggang el sedikit keras. Secara spontan el teriak mengaduh karena merasakan sakit akibat cubitan yang di berikan alma padanya.


Sontak reaksinya itu mengundang perhatian semua anggota keluarganya, dengan cepat alma mengelus pinggang el yang tadi di cubitnya, gak papa kok mas cuma semut kecil katanya mengalihkan perhatian semua keluarganya yang saat ini menatapnya dan el penuh tanda tanya.


" Apa-apa'an sih al? Sakit tau gak." Ucap el lirih.


" Abisnya mas duluan, ngapain nyuapin alma kue yang ukurannya sebesar gajah gitu?"


" Mangkannya jangan cerewet." Bisik el kembali ke telinga alma sambil mengusap-usah pangkal kepala alma.


Alma hanya bisa diam menerima semua perlakuan el padanya dan terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya dengan sesekali melihat ke arah el dengan tatapan sebal namun juga bahagia. Di dalam dirinya alma merasa hatinya sangat hangat dengan sikap el yang seperti ini padanya.


Andai saja semua sikap manis el padanya tulus bukan sekedar sandiwara, pasti dia akan menjadi wanita paling bahagia di dunia.


Alma akan selalu berusaha sabar sampai mas bener-bener bisa nerima alma jadi istri mas yang seutuhnya. Tapi jika memang sampai akhir nanti bukan alma yang jadi pilihan mas, alma akan ikhlas asalkan mas bahagia. Ucapnya dalam hati.


.


.


.


Hari sudah menunjukan pukul 12 siang dan semua anggota keluarga pun sudah mulai lelah.


Ummi dan abah memutuskan untuk istirahat di kamar tamu yang sudah di siapkan.


Mama dan papa pun memutuskan untuk masuk ke kamar dan beristirahat.


Sedangkan el menghubungi asisten tito untuk memastikan kantor baik-baik saja dan menyuruh tito agar menghandel semua urusan kantor selama beberapa hari kedepan karena el tidak akan pergi ke kantor selama kedua mertuannya itu berada di jakarta.


El ingin menemani alma mengantar kedua orang tuannya untuk berkunjung ke beberapa panti yang menjadi rekanan abah.


Alma yang tinggal sendiri di ruang keluarga pun memilih masuk ke kamar untuk merebahkan tubuhnya yang sudah terasa kaku karena seharian ini terlalu lama duduk diam tanpa melakukan aktifitas. Sesampainnya di dalam kamar alma langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk berukuran king size tersebut, kasur yang sangat nyaman sekali sampai membuatnya lama berlama-lama disana.


Alma menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur yang empuk.Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Di lihatnya el masuk ke kamar dan berbaring tepat di sebelah alma. Alma yang bingung dengan tingkah laku el pun mengubah posisinya dan duduk di atas tempat tidur.


" Mas, Kamu ngapain disini??" Tanya alma.


" Mas tidur di sini?"


" Hem."


" Di kasur."


" Hem."


" Mas gak tidur di sofa?."


" Gak... Males capek?! enakan tidur di sini empuk."


Mendengar jawaban seperti itu alma berinisiatif untuk bertukar posisi dengan dirinya yang kini memilih tidur di sofa karena melihat el yang sepertinya enggan untuk tidur di sofa.


El yang melihat alma berjalan ke arah sofa pun di buat bingung olehnya.


" Kamu mau ngapain al??" El balik bertanya.


" Ya tidur mas. Emang mau ngapain lagi??"


" Kenapa tidur di sofa??" Tanya el.


" Yaa... Karna mas tidur di tempat tidur mangkannya alma tidur di sofa??mas mau tukeran tempat tidur kan?? Bilang dong mas. Kan alma bisa pindah, gak usah langsung ngerebut gitu??" Jawab alma dengan polosnya.


El menggelengkan lirih kepalanya dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


" Kamu tidur di tempat tidur aja, aku gak jadi tuker!!!" Jawab el sebal dengan tingkah alma yang malah berjalan pindah ke sofa.


" Lho kenapa mas??? Alma gak papa kok tidur di sofa."


" Gak usah. Aku udah gak minat tidur di kasur." Jawab El mulai sewot.


Alma yang merasa bingung dengan perubahan mood el pun hanya bisa menurutinya tanpa banyak protes, karena dirinya pun yang cukup lelah seharian ini. Akhirnya mereka pun tertidur di tempat masing-masing sesuai dengan kesepakatan awal saat pertama kali mereka menginap di mansion utama.


Bahwa mereka akan tidur satu kamar dengan alma yang tidur di tempat tidur dan el tidur di sofa panjang yang ada di kamar.


Tak terasa malam pun datang, waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam.


Mereka sudah berkumpul di meja makan.menyantap berbagai hidangan yang sudah di sediakan. Alma melayani el selama di meja makan selayaknya seorang istri yang sesungguhnya.

__ADS_1


El pun mulai menggoda alma dengan menyuapinya makanan ini dan itu membuat alma kewalahan saat akan mengunyah makanan karena mulutnya terlalu penuh. El tau alma tidak akan menolak el saat berada di depan kedua orang tuanya.


Alma yang semakin di buat kesal dengan tingkah suaminya itu, membuat dirinya menjadi ingin membalas perbuatan suaminya dengan menyuapkan makanan satu sendok penuh dan masih di tambah dengan alma yang kembali menyuapinya dengan kerupuk. Melihat El kesusahan saat mengunyah makanan yang ia berikan membuat Alma tersenyum sambil bertanya kepada el.


" Gimana sayang enak makanannya??" Alma bertanya dengan senyuman iblis.


El yang geram hanya bisa mengangguk sambil mengunyah makanan yang penuh di dalam mulutnya.


Lagi-lagi tingkah mereka memancing tawa kedua orang tua masing-masing.


Setelah selesai makan malam para pria berkumpul di teras belakang sibuk dengan permainan catur, sementara para wanita tengah duduk di ruang keluarga sambil ngobrol-ngobrol santai.


Elma mengambil album kenangan di mana di dalamnya penuh dengan foto masa kecil el, alma begitu bahagia mendapat kesempatan melihat album kenangan yang mengisahkan masa kecil sang suami. Wajah imut dan menggemaskan itu membuat alma berfikir andai dirinya hamil anak laki-laki dari benih suaminya pasti anak itu akan lucu dan tampannya akan sama seperti foto yang sedang iya tatap itu.


" Mama boleh gak kalau alma minta satu foto mas el waktu masih kecil??" Tanya alma.


" Boleh dong sayang. Orang yang asli aja sudah mama kasih buat kamu masak cuma foto gak mama kasih?? Ayo ambil aja yang mana kamu mau?? Bawa semua kalau kamu mau. Mama masih ada banyak album masa kecil el."


Alma tersenyum bahagia karena mendapat hadiah istimewa, meskipun orangnya dingin setidaknya foto-foto ini akan menguatkanku nanti.


Tak terasa malam semakin larut mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


.


.


.


Alma yang berbaring di tempat tidur namun belum bisa memejamkan matanya begitupun dengan el. Mereka tetap di tempat masing-masing, Alma di tempat tidur sedangkan el masih tetap di sofanya.


" Al??"


" Iya, mas."


" Apa aku boleh tanya sesuatu al?"


" Tanya apa Mas?"


" Apa kamu menyesal dengan perjodohan ini al?"


" Alma percaya semua yang terjadi dalam hidup alma ini sudah takdir dari Allah mas, jadi tidak pernah sekalipun alma menyesal dengan perjodohan ini."


" Tapi bukankah kamu tidak mencintaiku al? Bagimana bisa kamu menerima semua ini."


" Pernikahan adalah ibadah, menuruti perkataan orang tua adalah bakti anak yang itu juga bisa menjadi pahala, menerima Mas menjadi suami alma adalah ibadah dan pahala. Bagian mana yang harus alma sesali? Alma hanya perlu menjalani semuanya dengan ihklas."


" Maafin aku ya al."


" Maaf untuk apa mas??"


" Karena kamu harus terjebak dengan pernikahan seperti ini dengan ku."


" Ini bukan salah mas."


" Iya, ini juga bukan salah kamu al."


Sejenak keduanya terdiam seolah sama-sama berfikir dan menyelami hati masing-masing.


" Gimana keadaan mbak sandra, mas??"


" Sudah agak baikan al, terima kasih karena kamu gak membuka masalahku dengan sandra kepada keluarga kita."


" Hmm." Alma hanya berdeham.


" Al, boleh aku tanya sesuatu?"


" Silahkan mas."


" Kenapa kamu tidak pernah mengadukan tentang hubunganku dengan sandra kepada keluarga besar kita??"


" Apa mas berharap aku mengadukaknnya??"


" Semua terserah kamu al."


" Kamu adalah suamiku mas. Mau atau tidak mau,suka atau tidak suka, kamu tetap suamiku. Baik dan buruknya kamu aku harus siap menerimanya. Jikalah ada yang harus orang luar tau tentang kamu biarlah mereka cuma tau sisi baikmu saja sementara sisi gelapmu cukup aku yang simpan mereka jangan sampai tau. Itulah gunanya suami istri saling melengkapi dan menutupi kekurangan pasangannya."


" Apa kamu membenciku al?"


" Tidak, Mas."


" Apa aku menyakitimu al??"


" Tanyakan itu pada dirimu sendiri mas, hatimu akan bisa merasakan apa kamu menyakiti seseorang atau tidak."


" Al??"


" Iya, mas."

__ADS_1


" Tidurlah."


...----------------...


__ADS_2