
Terdengah riuh suara para santri yang sedang menderas mushafnya di mushola,aku dan aruna sahabatku yang kini berada di depan mushola bersama dengan santri santri yang lain, yang sudah selesai melakukan tugas rutin kami yaitu setoran hafalan qur'an. Saat akan meninggalkan mushola aku yang baru satu langkah menuruni anak tangga di kagetkan oleh mas Abhi yang ternyata sudah menungguku di halaman depan mushola.
" Nduk, bisa bicara sebentar?"
Aku yang bingung tidak menjawab pertanyaannya justru malah menoleh pada aruna sahabarku yang berdiri tepat di sampingku seolah minta persetujuan darinya.
" Iyo ... Iyo, Ndang sana tapi inget jangan lama-lama ya Al. Nanti aku di gigitin nyamuk nungguin kamu pacaran." Godanya sambil tertawa cekikikan.
" Ada apa Mas? Tumben kok sampai nunggu di depan mushola?" tanyaku sambil diam-diam melirik wajah lelaki yang berdiri tepat di depanku. Sedangkan mas abhi yang berada di depanku hanya terdiam sambil terus menatapku datar membuatku gugup dan salah tingkah.
" Mas, Sampeyan ndak papa toh? Jangan bikin aku takut." Tanyaku yang kali ini memberanikan diri untuk menatap lelaki yang masih berdiri tegap di depanku.
" Nduk, kamu mau nunggu kan?"
Aku yang di todong pertanyaan seperti itu hanya bisa diam tanpa mampu menjawab, aku terlampau bingung karena tiba tiba saja di hadapkan dengan pertanyaan seperti itu. "Nunggu apa mas?" Tanyaku dengan begitu polos, sambil terus menatap wajah lelaki di depanku mencoba membaca siratan yang terpancar dari raut wajahnya.
__ADS_1
" Nunggu aku sampai pulang." mas abhi menghentikan kata katanya sejenak, seolah tengah mencari kata apa yang tepat untuk melanjutkan kalimat berikutnya. " Abah nyuruh aku untuk ngelanjutin sekolah di Al Azhar Kairo." Terang mas abhi.
" Berapa lama mas?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku, aku yang masih tidak percaya atas apa yang barusan ku dengar. Entah kenapa dadaku terasa sesak sekali seperti ada sebuah pisau menghuncam tepat di dada meninggalkan luka yang begitu perih. Sekuat tenaga ku coba untuk tetap tegar dan tidak menangis di hadapan lelaki di depanku ini, namun sekuat apapun aku mencoba kabut di mataku perlahan datang menutup penuh pengelihatanku tanpa terasa air mata mulai jatuh membasahi kedua pipiku meluncur deras tak terbendung. Aku juga tak mengerti apa yang membuatku begitu sedih mengetahuinya akan pergi jauh dariku, harusnya aku ikut senang akan kegigihannya menuntut ilmu sampai jauh disana. Tapi mengetahui dirinya tak lagi berada di sini membuat hatiku merasa sepi.
" Al, Jangan nangis gak enak kalau di liat santri yang lain nanti di kira Mas apa apain kamu?" Terlihat Abhi yang mulai panik dan bingung karena air mata alma yang memang mengucur semakin deras. Ingin rasanya abhi memeluk wanita di depannya dan mendekapnya erat tapi rasa takut yang mendalam membuatnya mengurungkan niatnya, ia hanya bisa menenangkan alma dengan kata-katanya. Perlahan perasaan alma sudah mulai bisa terkontrol dia mulai menghapus air mata di pipinya dan menunduk karena malu.
" Kenapa nunduk al?? Mas gak bisa liat kamu."
" Aku malu mas." Jawab alma lirih.
"Malu karena cengeng." Jawabnya sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.
Melihat tingkah alma yang seperti itu membuat abhi semakin gemas dan berat rasanya kalau harus meninggalkan alma dalam waktu yang begitu lama.
****
__ADS_1
Pagi itu alma sengaja bangun lebih awal dari biasanya tujuannya hanya untuk melihat abhi jauh lebih lama karena mungkin ini kesempatan terakhirnya mengingat hari hari kedepan sosok itu tidak akan dapat di lihatnya lagi.
Tapi alma hanya berani melihat abhi dari jarak pandang yang jauh tidak seperti santri yang lain, yang mengiringi keberangkatan abhi dengan kedua orang tuanya sampai di depan gerbang pondok.
Sampai saat Abhi akan berangkat dirinya tetap melihat dari jauh dan tak berani memperlihatkan batang hidungnya. Alma takut kalau dirinya akan menangis di hadapan santri santri yang lain, terlebih ada Bu Nyai dan Kyai Jabar disana.
Sedangkan di lain sisi abhi yang di buat gelisah kerena dirinya yang sudah akan berangkat namun masih belum bisa melihat alma. Perasaan kecewa menyelimuti hati abhi dirinya berharap dapat melihat alma untuk yang terakhir kalinya, membingkai wajah alma dalam pigora hatinya. Namun sampai saat mobil akan melaju meninggalkan halaman pondok pesantren pun dirinya masih belum bisa menemukan sosok yang dia cari.
Bu Nyai yang melihat gelagat aneh putranya di buat penasaran.
" Kamu nyari apa toh Le? Kok celingukan gitu? Apa ada barang yang tertinggal?" Tanya bu nyai pada putranya yang dari tadi gelisah entah sedang mencari apa.
" Mboten Ummi." Jawab abhi singkat.
Mobil rombongan yang mengantar abhi ke bandara pun melesat melaju membela arus kota jogja. Abhi meninggalkan kota jogja dengan hati gelisah.
__ADS_1