
Sore itu el menjemput alma di apartemen tepat waktu kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke mansion utama keluarga bramasta yang tidak lain adalah papa dari suaminya yang arrogant, selama perjalanan suasana canggung kembali terjadi di antara keduanya tanpa ada yang berani memecah keheningan. Namun kali ini alma terlihat lebih tenang dirinya sangat menikmati pemandangan sore hari di kota jakarta lewat jendela kaca mobil. Maklum selama hampir tiga bulan lebih mengarungi bahtera rumah tangga bersama dengan el belum pernah sekalipun dirinya di ajak pergi keluar, el justru sering meninggalkan alma sendiri di apartemen yang luas. Baru kali ini mereka berada dalam satu mobil dan sedang melakukan perjalanan bersama, sungguh alma sangat menikmati waktunya bersama el meskipun tanpa kata kata.
Sementar itu mobil yang mereka tumpangi kini telah sampai di sebuah Mansion mewah, yang pastinya sebuah mansion milik keluarga besar bramasta. Alma yang baru pertama kali di ajak berkunjung ke dalam mansion tersebut di buat terkejut sekaligus takjub, saat melihat begitu megah dan mewahnya sebuah hunian rumah yang di beri nama mansion utama tersebut.
Bila biasanya alma hanya melewati depan komplek rumah-rumah orang kaya di surabaya atau melihat di tayangan televisi bagaimana rumah orang kaya tinggal, tapi kali ini dirinya benar-benar berada di dalam rumah orang kaya yang bangunan rumahnya sangat tinggi dan megah lebih mirip istana di negeri dongeng.
Kedatangan keduanya di sambut hangat oleh mama elma yang langsung memeluk alma dan membawanya masuk ke hunian mewahnya.
" Aduh kalian berdua ini kalau bukan mama yang telfon minta kalian datang mana mungkin kalian berdua sekarang ada disini di rumah mama."
" Iya ma, el masih sibuk di kantor."
" Kamu juga el, selalu saja kantor sebagai alasannya. Kalau nunggu kamu gak sibuk, ya mana mungkin? Mama belum pernah lihat bos gak sibuk dengan urusan kantor." Sindir mamanya.
Alma hanya diam mendengar kedua ibu dan anak itu berbicara dengan sesekali menyinggung senyum manis di bibirnya.
" Papa mana ma?"
" Papa sedang main golf sama temannya. Mangkannya mama nyuruh kalian kesini nemenin mama, malam ini kalian menginap ya."
__ADS_1
" Tapi ma, besok el ada metting pagi."
" Kamu kan bisa berangkat dari sini, pokoknya malam ini mama mau kalian menginap disini." Ucapnya tak terbantahkan.
" Alma mau kan menginap di rumah mama." Tanyanya beralih pada mantunya yang dari tadi hanya diam saja.
" Kalau alma, terserah apa kata mas el aja ma."
Mau tidak mau kini el hanya bisa menuruti permintaan mamanya, keduanya kini masuk kedalam kamar yang dulunya adalah kamar el.
Kecanggungan kembali terjadi saat keduanya memasuki kamar yang sama. Terlihat alma yang salah tingkah dan el yang kikuk.
" Baik, mas."
El masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, ia yang baru pulang dari kantor langsung menjemput alma dan membawanya ke mansion utama sehingga belum sempat mandi.
Sedangkan alma yang memilih untuk duduk di atas kasur karena bingung harus melakukan apa, jujur saja suasana seperti ini membuat jantungnya berdegup kencang, alma memang sudah lama menjatuhkan hatinya pada el. Dirinya benar-benar mencintai suaminya sepenuh hatinya hanya saja rasanya tak terbalas sehingga alma memilih menyimpan dalam-dalam perasaannya.
Dr... Dr... Dr...
__ADS_1
Ponsel el bergetar di atas sofa panjang yang berada di dalam kamar tersebut, sedangkan el masih di dalam kamar mandi dan suara gemercik air masih terdengar jelas dari kamar, pertanda bahwa el belum selesai melakukan aktifitas mandinya. Awalnya alma hanya diam karena merasa el bisa melakukan panggilan ulang nanti bila di kira penting, namun telfon itu kembali berdering bahkan ketika panggilan tidak terjawab telfon akan kembali berdering.
Alma yang merasa penasaran dengan siapa penelfon yang menghubungi suaminya berulang kali tanpa jedah seperti itu, perlahan alma memberanikan diri untuk melangkahkan kaki melihat siapa nama yang tertera di layar ponsel suaminya.
Di lihatnya nama Cassandra dengan emoticon hati terlihat di layar ponsel yang tengah berdering itu. Tak lama panggilan pun berhenti, berganti dengan beberapa pesan wa yang masuk. Alma dapat membaca pesan wa yang tertera di layar tanpa membukanya, di bacanya satu demi satu pesan yang masuk ke handphone suaminya.
" Sayang."
" Sayang, kenapa gak di angkat."
" Masih di kantor? Sudah pulang?"
" Sayang, kangen."
Membaca pesan itu membuat alma tidak kuat, dirinya buru-buru berlari dan meringkuk di atas kasur dengan memakai selimut yang membungkus hampir seluruh badannya, bahkan alma membenamkan separuh wajahnya pada guling yang kini berada dipelukannya.
Alma mematikan lampu utama kamar tersebut dan menggantinya dengan menyalakan lampu tidur yang ada di atas nakas, tujuannya supaya el tidak melihatnya yang kini berderai air mata. Membaca pesan demi pesan yang masuk di ponsel el, yang membuat hatinya seolah teriris belati tajam yang menyayat, apalagi mengetahui siapa pengirim pesan-pesan yang bernada mesra dan manja itu.
Tak lama el yang keluar dari kamar mandi dan sekarang tengah duduk di sofa panjang sambil sibuk membalas pesan yang masuk di ponselnya, membuat air mata alma semakin mengucur deras. Alma teringat ketika dirinya mengirim pesan pada el yang tak di balas sama sekali sedangkan sekarang dia melihat el begitu bersemangat membalas pesan demi pesan yang dikirim wanita lain.
__ADS_1